Totto-Chan hanyalah seorang
murid kelas 1 sekolah dasar
ketika ia dikeluarkan dari
sekolah. Para guru kewalahan
menghadapi tingkah lakunya. Ia
dianggap mengganggu proses
belajar. Pernah sekali waktu Totto-
Chan memanggil para pemusik
jalanan dari jendela kelasnya.
Pada saat yang lain, ia berusaha
bercakap-cakap dengan burung
walet yang sedang membuat
sarang. Semuanya ia lakukan tepat
pada saat pelajaran sedang
berlangsung.
Totto-Chan tidak tahu bahwa
ia dikeluarkan dari sekolah. Ibunya
hanya berkata bahwa ada sekolah
yang sangat bagus dan Totto-Chan
sebaiknya pindah dari sekolah
lamanya ke sekolah baru tersebut.
Nama sekolah baru itu Tomoe
Gakuen. Seluruh muridnya
berjumlah 50 orang. Ruang
kelasnya adalah gerbong kereta
bekas. Setiap hari, mereka boleh
memilih pelajaran apa yang ingin
mereka pelajari lebih dahulu. Saat
makan siang, seluruh siswa akan
berkumpul di aula, duduk
melingkar lalu memakan bekalnya
bersama-sama. Sudah bisa
dipastikan, Totto-Chan sangat
menyukai sekolah ini.
Satu hal lagi yang sangat
disukai Totto-Chan adalah sang
kepala sekolah, Mr. Kobayashi.
Orang tua yang bijaksana ini selalu
berusaha memahami setiap anak
muridnya. Ia tidak pernah
memarahi anak muridnya,
sebaliknya, ia selalu berusaha
menumbuhkan rasa percaya diri,
empati, rasa tanggung jawab dan
kasih sayang dalam diri setiap anak
didiknya.
Buku ini adalah kisah nyata
kehidupan sang pengarang,
Tetsuko Kuroyanagi ketika ia
belajar di Tomoe Gakuen. Apa saja
yang ia alami, bagaimana
perasaan-perasaan yang muncul
ketika ia menjalani hari-harinya di
Tomoe Gakuen, semua dituliskan
dengan sangat jelas. Cerita ini
berakhir seiring dengan hancurnya
Tomoe Gakuen akibat bom yang
dijatuhkan pada perang dunia II,
tahun 1945.
Buku ini sangat menarik. Ia
ditulis dengan bahasa yang sangat
sederhana, seperti buku harian.
Meskipun sederhana, buku ini
mampu menggugah emosi-emosi
kita. Kita bisa ikut tertawa ketika
membaca perilaku-perilaku konyol
Totto-Chan. Atau ikut sedih,
bahkan menangis ketika Totto-
Chan kehilangan sahabat-sahabat
terbaiknya.
Kesederhanaan buku ini
membuat anak-anak dapat dengan
mudah membacanya. Mungkin
mereka akan menemukan
beberapa kata sukar, namun
dengan bantuan kamus atau
bimbingan orang dewasa, mereka
akan dapat memahaminya dengan
mudah.
Bila ditelaah lebih lanjut lagi,
buku ini merupakan buku yang
sangat
sederhana
untuk
menggambarkan pengaruh sistem
pendidikan terhadap anak-anak.
Saat membaca, anda dapat melihat
betapa berbedanya kondisi Totto-
Chan saat bersekolah di sekolah
lamanya dan di Tomoe Gakuen.
Sistem pendidikan tidak harus
selalu dibahas melalui analisis atau
esai-esai yang tajam. Suatu kisah
nyata dari seorang anak yang
pernah merasakan sistem
pendidikan yang berbeda juga bisa
memberikan gambaran yang cukup
tajam. Buku inilah salah satu
contohnya.
Totto-Chan: Gadis Cilik di
Jendela telah terjual sebanyak
4.500.000 buku dalam setahun. Di
luar dugaan, ia mencapai best
seller di negaranya. Maka, tidak
rugi jika anda menambah lagi
koleksi buku di rumah anda dengan
kisah Totto-Chan ini