Archive for February, 2006

ROAD TO PERDITION

Sunday, February 26th, 2006

Set in and around 1931 Chicago, “Road To Perdition” is a touching drama action movie with very beautiful pictures (it’s gotten Academy Award 2003 for the Best Cinematography) and has deep meaning. The substance of this film is about the relationship beteween father and son.

Michael Sullivan (Tom Hanks), a hit man, has two son, their name are Michael Sullivan Jr or “Mike” (Tyler Hoechlin) and Peter Sullivan (Liam Aiken). Michael Sullivan feel that “Mike”, in certain parts, has the same character with him, but actually he doesn’t expect his son would be like him (as a hit man, he often use a gun as prolem solving). Therefore, he always cover his job from his son. Untill one night, “Mike” witnesses his father and Connor (Daniel Craig), his father’s colleague kill a man. Connor is also the God Father’s son and he doesn’t want to give tolerance with this incident althought “Mike” promise not to teel anyone about what has happened and Michael Sullivan has asked apologized to Mr. Rooney. Connor decides that the boy can’t be trusted . Then he makes a plan to kill them. Coincidently, only Annie (Jennifer Jason Leigh) and Peter at home. So, they become the victim.

Sullivan plans on revenge. Mr. Rooney wants to protect his son although he feel bad with this murder and as an apology, he offers Sullivan a lot of money and asks Sullivan to leave the country and forget all.

Sullivan refuses the money and goes to Chicago with “Mike” to prepare the revenge. He see Rooney’s boss, Frank Nitti (Stanley Tucci) and asks for a job, but Nitti can’t help him and then hires Harlen Maguire (Jude Law) to kill Sullivan and “Mike”. Maguire is a photographer as well as a hired murder. Father and son start robbing banks and Sullivan starts to kill all of his enemies, especially Connor. There is one dramatical scene when Sullivan decides to kill Rooney. He do that while teardrops fall on his cheek. They have very close relationship like father and son.

This film is directored by Sam Mendes, a specialist of chinematography. He once directored American Beauty (1999), that has beautiful pictures too. In Road To Perdition, he mixes mafia world and close relationship between father and son. This movie has plot and visualization like a comic and rich of beautiful pictures. Brutal acts ala mafia is be able to be “eliminated” and wrapped very well (beautiful) by Sam Mendes, include the the last scene that shows Sullivan is getting almost die (Maguire has shot him with a gun and also a camera), trying to say sorry to his son for all of troubles he has been done. The brackground of the last scene is aunt Sarah’s house in Perdition, a small city that has beautiful beach. I’m still remember what “Mike” says to his father, that has showed “Mike” won’t be like his father: “ I’m sorry Pa, I can’t do that (kills Maguire), and his father says : “ I know……..”.

Tom Hanks, Paul Newman, Jude Law, and the new comer Tyler “Mike” Hoechlin have given their best performance acting. Hanks, who has become popular actor since he starred “Forrest Gump” in 1994, brings a strong and also soft character, as a hit man and also as a father. He almost never smile but can still shows mild face.

Jude Law brings a fascinating, sadistic glee to his small, pivotal role as a hit man who enjoys photographing dead and near dead people. And other actors give their best performance too.

Adding with exciting soundtrack that use Irish Melody in the beginning, this excellent movie should been seen. You will be impress with its beautiful pictures, dramatic story, best performence actors and actresses and also the exciting soundtrack.

OPRAH WINFREY SHOW-AMBIL ALIH PEKERJAAN ISTRI^_^;

Sunday, February 26th, 2006

Dalam sebuah acara talkshow paling terkenal di Amerika, Oprah Winfrey Show, 2 pasangan suami istri diminta menjadi sukarelawan dalam acara tersebut yang sedang mengangkat tema “Bertukar Peran”. Tiap suami dari tiap pasangan disuruh mengerjakan pekerjaan istrinya. Dan ini hanya berlaku untuk para suami. Para istri tidak disuruh untuk menjalankan peran sebagai suaminya. Mereka cukup melihat serta mengamati bagaimana suami-suami mereka mejalankan tugasnya. Tujuan dari diangkatnya tema ini adalah untuk menunjukkan bahwa tugas/pekerjaan seorang istri/wanita tidak kalah berat dibanding dengan tugas/pekerjaan seorang suami/laki-laki. Jadi para suami harus pengertian.

  • Pasangan pertama : pasangan suami istri yang sama-sama bekerja dan belum memiliki anak. Sang istri adalah seorang reporter yang khusus mewawancarai selebritis yang sedang berseliweran di karpet merah dalam ajang Oscar. Sang istri mengeluh bahwa suaminya kerapkali menuntutnya untuk selalu tampil prima dan tidak lusuh di depan suaminya sepulang kerja sekalipun tanpa melihat kondisi bahwa pekerjaannya tidak memungkinkan untuk memenuhi tuntutan suaminya. Sang suami yang belum mengerti bagaimana beratnya pekerjaan sang istri sempat berkomentar : “ Dia kan cuma disuruh berjalan di atas karpet merah sambil menyodorkan mix ke selebritis yang berjalan di karpet merah, apa susahnya?”.

Lalu dimulailah acara bertukar peran itu. Setelah mengambil alih pekerjaan istrinya, anggapan sang suami terhadap pekerjaan istrinya langsung berubah drastic. “Ini sangat berat Oprah. Aku kewalahan,” katanya pada Oprah sambil menyeka peluh yang bercucuran di pelipisnya. Sang suami ternyata tidak sanggup melakukan pekerjaan istrinya dengan baik. Dan sejak saat itulah sang suami tidak pernah terlalu menuntut penampilan istrinya harus selalu prima, bahkan atas kesadarannya sendiri sang suami mulai terbiasa membuatkan secangkir kopi atau makanan untuk istrinya yang kelelahan sepulang kerja dan membiarkan istrinya beristirahat dengan tenang.

  • Pasangan kedua : pasangan suami istri yang samasama bekerja dan sudah memiliki 2 anak yang masih kecil-kecil. Sang istri adalah seorang foto model yang cukup sibuk. Di samping itu dia juga sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Semua itu dia lakukan tanpa pembantu.

Simak keluhan sang istri : “ Kau bisa bayangkan kerepotanku sebagai seorang foto model yang jam terbangnya cukup tinggi. Aku pun harus mengurus segala keperluan suami dan anak-anakku. Sebelum berangkat kerja aku harus menyiapkan sarapan, membereskan rumah dan pekerjaan rumah yang lain. Setelah itu aku mengantar putrid-putriku ke sekolah mereka dan langsung berangkat ke kantor. Pulang dari kantor aku kembali menjadi ibu rumah tangga. Itu kulakukan sendiri, setiap hari, tanpa pembantu.”

Lalu dengan entengnya sang suami berkata : “ Itu kan biasa. Pekerjaanku sebagai pemain baseball kupikir jauh lebih berat.”

Lalu semuanya berbalik 180 derajat ketika sang suami mengambil alih pekerjaan sang istri di rumah, sebagai bapak rumah tangga (tidak mungkin kan kalo sang suami harus mengambil pekerjaan sang istri sebagai foto model, dengan badan seorang pemain baseball yang kekar abis?).

Mereka membuat perjanjian :

  1. Semua pekerjaan, mulai dari mengasuh anak-anak, menyiapkan makanan dan mencuci baju serta piring harus dilakukan sendiri, tidak boleh menyewa pembantu rumah tangga.

  2. Sang suami harus bisa menertibkan anak-anak mereka saat berbelanja di swalayan (bagi sang istri ini tugas yang amat berat). Anak-anak tidak boleh dituruti kemauannya untuk membeli jajan-jajan yang tidak bergizi.

Semua itu harus dipatuhi oleh sang suami. Dan…apa yang terjadi??? Semua perjanjian itu dilanggar oleh sang suami. Karena kewalahan mengasuh anak-anaknya, dia menyewa seorang pembantu rumah tangga untuk menyiapkan makanan serta mencuci baju dan piring. Dan sang suami juga gagal menertibkan anak-anaknya saat berbelanja. Tidak telaten.

I can’t stand it. I give up, Oprah,” kata sang suami sambil tersenyum kecut.

Nah, bapak-bapak, jangan remehkan pekerjaan istri ya, walaupun dia cuma seorang ibu rumah tangga yang kelihatannya terus berada di dalam rumah sebab pekerjaan rumah itu seakan tiada habisnya dan butuh tenaga besar untuk tetap kontinu mengerjakannya.

Rasulullah SAW saja sering membantu istrinya dengan menjahit sendiri pakaiannya yang robek, menambal sendiri sepatunya serta tidak menuntut istrinya untuk selalu menghidangkan makanan. Kalau memang di rumah tidak ada makanan dan istri beliau Saw tidak masak, ya beliau SAW memilih untuk berpuasa, tidak marah-marah. Bahkan beliau Saw pernah tidur di luar rumah sebab ketika mengetuk pintu, ternyata istri beliau SAW sedang tidur dan beliau SAW tidak tega membangunkan. Bahkan saat beliau SAW hendak sholat Tahajjud, beliau SAW meminta kerelaan istrinya, apakah beliau SAW boleh beranjak dari sisi istrinya atau tidak.

MENJADI MINORITAS

Friday, February 24th, 2006

Betapa tidak enaknya menjadi minoritas. Psikologisku tertekan, setidaknya tiulah yang kurasakan ketika menjadi minoritas di IALF (Indonesia Australia Language Foundation), sebuah kursus bahasa Inggris yang cukup kredibel di Surabaya. Aku resmi menjadi murid IALF pada Juli 2003 dan menyelesaikan semuanya pada Juli 2004, tepat setahun. Sebelum memutuskan untuk menjadi murid di IALF, aku survey ke beberapa tempat kursus, seperti YPIA dan EF. Kedua tempat itu kurang cocok dengan karakteristik tempat kursus yang ingin kucari : excellent facility wirh academic atmosphere. Di tempat yang pertama fasilitasnya memprihatinkan dan atmosphere-nya kurang mendukung. Di tempat yang kedua fasilitas-nya excellent, tapi atmosphere-nya bikin aku bete : ABG banget dan front office-nya kakak kelasku yang ketika aku minta informasi soal EF malah diajak ngobrol ngalor-ngidul…ga professional banget. Aku ingin diperlakukan sebagai customer, bukan adik kelasnya. Kemudian aku sampai di IALF atas rekomendasi temanku yang sudah jadi murid di sana. Kesan pertama profesional. Kesan kedua serius. Nah ini dia, cocok dengan karakteristik yang kucari.

Setelah mengisi formulir beberapa hari kemudian aku menjalani Placement Test untuk menentukan di level mana aku pantas masuk. Test terdiri dari 2 sesi : tulis dan interview. Saat membuka lembar soal, aku sempat terkejut sebab soal multiple choice-nya kok mudah banget. Bahasa Inggris tingkat dasar. Tapi..tunggu dulu. Pada saat aku tiba pada soal non-multiple choice…di sana tertulis : buat karangan dalam bahasa Inggris minimal 250 kata, topicnya silakan dipilih. Jreeennggg….it’s surprise. Aku ga pernah mengira bakalan disuruh membuat karangan/tulisan. Kupilih tema Polutions in Surabaya. Dilanjutkan dengan test interview oleh salah seorang native, Aussie. Pengumuman penentuan level dilakukan saat itu juga. Aku masuk SP 3 (Study Preparation 3 atau Intermediate 3). Lumayaaan…ga jelek-jelek amat.

Aku masih penasaran kenapa ada test mengarang sebab metode ini belum pernah kujumpai di tempat kursus yang lain. Aku baru paham setelah memasuki ruang kelas berlantai kayu dengan interior klasik (so beautiful). Beberapa lukisan antik dipasang sebagai pemanis ruangan. Ternyata IALF memang menekankan pada writing. Tiap pertemuan pasti diakhiri dengan tugas mengarang dan aku banyak diajari bagaimana membuat karangan ilmiah, tentunya dengan tema-tema berat. Memang itu sempat membuatku kewalahan, namun tidak ada artinya dibanding dengan kesulitan yang aku hadapi sebagai minoritas : seorang pribumi (non-Chinese), Muslim dan memakai jilbab. Apa pasal? Mr. Phillip, guruku di kelas SP 3 memandangku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan aneh yang kuinterpretasikan sebgai tatapan kurang senang campur ngeri. Waktu itu tahun 2003, tahun yang dekat dengan peristiwa Bali Blast (Bom Bali) yg terjadi pada Oktober 2002. Karena peristiwa itu, kecurigaan terhadap orang-orang Muslim makin signifikan. Kupikir wajar saja kalau (untuk sesaat) Mr. Phillip phobi sama aku. Apalagi waktu itu aku sering sekali memakai baju warna biru gelap. Tanpa ada tendensi apapun, aku memakai baju warna gelap karena memang hanya itu saja yang masih bisa dipakai, yang lainnya masih kotor, belum dicuci.

Kupikir ketidaknyamanan ini hanya berlangsung sesaat. Namun aku terlalu meremehkan hal ini. Di tempat kursus yang sebagian besar muridnya adalah Chinese, bukan hal yang mudah untuk melakukan adaptasi dan memberi kesan yang baik (dan tentunya memberi suasana nyaman) terhadap orang-orang yang amat berbeda dengan kita, apalagi atmosphere perbedaan tersebut makin dipertajam dengan citra Islam yang sedang terpuruk dengan banyaknya peristiwa yang melibatkan aksi terorisme oleh sebagian kecil umat Islam. Mula-mula mereka (guru-guru serta teman-teman Chinese) antipati atas keberadaanku. Aku pun mencoba untuk tetap menampilkan sikap yang wajar dan bersahabat. Berkonsentrasi pada materi yang sedang kudalami lebih kuutamakan daripada energiku harus terkuras karena masalah ini. Pelan-pelan diskriminasi dan penolakan mulai terasa. Guruku, terutama Mr. Phillip, selalu memojokkanku dengan pertanyaan serta pernyataan yang provokatif. Aku bisa rasakan Body language-nya memang kurang bersahabat. Perlakuannya terhadap murid-murid yang lain jauh lebih bersahabat. Tapi waktu itu aku terbantu dengan banyaknya aktivitas di luar kegiatan belajar mengajar, semacam ekstrakulikuler lah. Mulai dari membuat majalah (Word Magazine), Conversation Night, Tour Around Surabaya, Visiting Orphanage, Nonton Film Bareng, and so on. Semua aktivitas itu membuatku lupa akan masalah yang membuatku sangat tidak nyaman.

Namun bukan berarti aku tidak mengalami kesulitan interaksi dan adaptasi dalam menjalani aktivitas di luar proses belajar mengajar. Ketidaknyamanan itu tetap kurasakan. Masih ada ‘gap’ yang terbentuk antara pribumi dan non-pribumi. Pola interaksi kami kurang sehat. Kaku dan kurang bisa akrab. Ada jarak yang sengaja atau tidak sengaja dibuat. Memang tidak semua teman Chinese-ku menjaga jarak denganku. Ada beberapa yang bisa akrab denganku tanpa ‘gap’. Dan kami bisa bekerjasama dengan baik dan menghasilkan karya nyata. Yang terlibat dalam aktivitas ekstrakulikuler ini kebanyakan non-Chinese. Mungkin karena kami minoritas jadi kami ingin lebih mempererat tali ‘ukhuwah’ kali ya. Kami sama-sama senasib sepenanggungan dan ingin agar eksistensi kami diakui…cieee. Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa melebur dengan baik dan tidak terkesan terlalu eksklusif. Hanya mencoba untuk membuat suasana menjadi lebih nyaman. Mencairkan kebekuan sambil terus menegarkan hati, bertahan di tengah alienasi lingkungan sekitar yang keras dan individual…cieee.

Memasuki level demi level, 3 bulan, 6 bulan, dan 9 bulan. Mulai terbiasa dengan karakteristik lingkungan IALF : bule bersliweran dimana-mana, teman-teman Chinese, keras, individual, tugas writing yang menumpuk dan bikin aku stress, ekstrakulikuler yang seabrek , Student Center yang suhunya 18 derajat (brrrrrrr….cold), librarian yang cerewet (ops…), dan lots party (ga semua kuikuti, yang aman-aman kayak Potluck Party aja lah). Memasuki level SP 6 masalah ‘gap’ kembali menerpaku. Kali ini tidak tanggung-tanggung, teman sekelasku, seorang anak SMU, Chinese dan sepertinya seorang Nasrani taat (ayahnya aktivis gereja) memojokanku dengan pertanyaan serta pernyataan yang menyinggung masalah konfikl antara umat Islam dan Nasrani di Ambon. Padahal waktu aku presentsi, tema yang kupilih adalah tentang “Intercultural Communication”, bagaimana membangun komunikasi yang sehat antara orang yang berasal dari agama dan budaya serta nilai-nilai yang berbeda. Kau tidak ingin memperuncing perbedaan dan ingin membangun jembatan komunikasi. Kau angkat tema ini sebab atmosphere di kelas SP 6 sangat tidak sehat. Teman-teman membuat kelompok-kelompok dan sulit sekali untuk melebur dengan kelompok yang berbeda. Aku sempat merasa ‘capek’, apalagi saat itu kegiatan ekstrakulikuler mulai sepi, tidak seramai dulu lagi sebab banyak teman-teman yang sudah tidak mengambil kursus lagi dan memilih untuk melanjutkan sekolah di luar negeri atau luar kota. Dengan adanya kegiatan ekstrakulikuler ini setidaknya aku bisa sharing dengan teman-teman dan membuat kegiatan yang lebih bisa menjembatani komunikasi antar etnis. Tapi tetap saja persoalan ini harus kuhadapi walaupun aku sempat shock juga, tidak pernah menyangka akan ditodong dengan persoalan yang bersifat SARA. Dengan mengendapkan segala emosi akhirnya aku berhasil melalui semuanya dengan lancar. Hubungan dengan teman-teman di kelas SP 6 Alhamdulillah terjalin dengan baik dan berakhir dengan terbentuknya saling pengertian, walaupun masih menyisakan sedikit ganjelan.

Ingin sekali aku kembali ke IALF, melanjutkan ke level advance (Academic Writing, Academic Discussion, IELTS Preparation). Namun untuk sementara ini focus-ku kualihkan ke hal lain. Banyak sekali kenangan indah dan berharga selama setahun aku di IALF. Semua itu menjadi bagian dari my cycle of life. Sebuah perjalanan dan pembelajaran.

TERAS IN HEAVEN- SEBUAH COBAAN BERNAMA ANAK

Friday, February 24th, 2006

Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would you feel the same

If I saw you in heaven?

I must be strong and carry on

cause I know I don’t belong here in heaven…

Would you hold my hand

If I saw you in heaven?

Would you help me stand

If I saw you in heaven?

I’ll find my way through night and day

cause I know I just can’t stay here in heaven…

Time can bring you down, time can bend your knees

Time can break your heart, have you begging please…begging please

Beyond the door there’s peace I’m sure

And I know there’ll be no more tears in heaven…

Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would you feel the same

If I saw you in heaven?

I must be strong and carry on

cause I know I don’t belong here in heaven…

Tears in Heaven, sebuah lagu yang diciptakan sekaligus dinyanyikan oleh Eric Clapton untuk mengenang sekaligus mendeklarasikan kesedihannya atas meninggalnya anak laki-laki satu-satunya, Conor. Hubungan emosional ayah dan anak ini begitu dekat hingga suatu saat Eric Clapton pernah berkata : “Aku jatuh cinta padanya”. Karena rasa cintanya yang begitu besar inilah maka Eric sempat limbung saat Conor meninggalkan gitaris kaliber dunia ini untuk selamanya. Belahan jiwa dan separuh nafasnya serasa hilang. Menghilang untuk sementara, Eric mencoba untuk menenangkan jiwanya yang tergocang hebat.

Anak merupakan amanah yang Allah itipkan pada orangtuanya, anak juga penyejuk mata (qurrota a’yun), belahan jiwa, serta harta yang tidak ternilai bagi orang tua. Namun anak juga bisa menjadi cobaan bagi orangtua. Dunia beserta isinya (harta, anak, kedudukan) adalah menggiurkan bagi siapa saja yang disebut manusia kecuali orang-orang yang diberi iman kuat, dijaga oleh Allah dengan cahaya-Nya. Akan tetapi sedikit sekali orang yang seperti ini, bahkan mayoritas terpedaya oleh dunia. Karena dunia adalah sesuatu yang nampak jelas di depan mata selaras dengan kesenangan-kesenangan nafsu manusia. Faktor seperti ini membuat seseorang tidak mampu untuk menghadapi ujian-ujian yang diberikan oleh Allah. Ketika Allah telah Memberikan ujian berupa harta dan anak, banyak dari kita yang terpedaya dan melakukan penyimpangan-penyimpangan. Kasus yang sering terjadi di lapangan adalah sebagai berikut :

1. Anak bisa menjadikan kita takut untuk berjuang di jalan-Nya

Misalnya ada keraguan dan kekhawatiran dalam pikiran kita kalau mati (dalam berjuang) nanti siapa yang memberi maan anak kita, menanggung hidupnya dll. Pikiran dan rasa khawatir seperti ini yang mayoritas menjangkiti kita semua sehingga kita tidak bisa menjadi orang yang pemberani dalam berjuang.

2. Anak menjadikan diri kita kikir

Keberadaan anak bisa menjadikan diri eseorang berubah. Mungkin sebelum punya anak kita bisa dnegan mudah memberi harta untuk menolong orang lain, infak untuk fisabilillah, dan bersedekah daripada untuk kepentingan diri pribadi. Akan tetapi ketika kita sudah punya anak, masalahnya menjadi lain. Rasanya hal ini sangat ebrat kita lakukan, ada kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan anak. Dari sini kita dapat mengukur diri, mana yang lebih kita cintai, antara mencintai anak atau tetap lurus mencintai perjuangan???

3. Ketika ditinggal mati anak, sulit dan berat rasanya bagi orang tua untuk ridho kepada Allah

Untuk menyiapkan keadaan ini kita seharusnya mempunyai pemahaman yang benar bahwa anak adalah amanah dan titipan sementara dari Allah, bukan milik kita sehingga jika sewaktu-waktu Allah berkehendak Mengambilnya, kita akan siap dan tidak ngeresulo. Perasaan ridho akan kita dapatkan karena kita tidak merasa memiliki anak kita. Dan sebaliknya yang menyebabkan kita sulit dan tidak ridho ketika anak kita diambil Sang Pemilik adalah karena kita merasa memiliki anak kita.

I LOVE YOU JUST THE WAY YOU ARE

Friday, February 24th, 2006

Don’t go changing to try and please me

You never let me down before, mm-mm

Don’t imagine you’re too familiar

And I don’t see you any more

I would not leave you in times of trouble

We never could have come this far, mm-mm

I took the good times, I’ll take the bad times

I’ll take you just the way you are

Don’t go tryin’ some new fashion

Don’t change the color of your hair, mm-mm

You always have my unspoken passion

Although I might not seem to care

I don’t want clever conversation

I never want to work that hard, mm-mm

I just want someone that I can talk to

I want you just the way you are

I need to know that you will always be

The same old someone that I knew

Oh, what will it take till you believe in me

The way that I believe in you

By Billy Joel

Seorang anak yang bertubuh pendek dan bertampang tidak menarik sering merasa minder di depan teman-temannya. Lalu dia mengadu ke ibunya soal rasa mindernya itu. Sang ibu yang bijak mencoba menghiburnya. Bagi sang ibu, fisik sang anak yang banyak kekurangan tidak akan mengurangi rasa cinta sang ibu terhadapnya. "I love you just the way you are," kata sang ibu. Kemudian sang ibu terus mendorong anaknya untuk bermain musik dan mencipta lagu…Maka terciptalah sebuah lagu yg sangat menyentuh dan apik…Just The Way You Are.

Alloh Subhanahu wa ta’ala menciptakan wanita juga sebagai insan yang utama. Dia ciptakan wanita dengan bahu yang mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, meski bahu itu juga lembut untuk menahan bayi dalam buaiannya tertidur, merasakan kasih dan sayangnya.


Seorang wanita diberi kekuatan oleh Alloh untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cercaan dan celaaan dari si bayi itu apabila ia telah menjadi manusia dewasa.


Seorang wanita diberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Diberikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.


Diberikan pada wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak-anak yang mengantuk menahan lelap. Dengan sentuhannya akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya, dengan nasihatnya hilangkan duka anak-anaknya, dengan cinta dan restunya membawa anaknya ke surga.


Diberikan pula pada wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.


Dibekali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.


Dan akhirnya, diberikan pada wanita air mata, agar ia dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat ia gunakan bila masa pun ia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan.

No Woman, No Cry ^_^;

Friday, February 24th, 2006

No Woman, No Cry. Sebuah jargon yang amat pas dalam menggambarkan sifat alami wanita. Allah Menciptakan wanita dengan segala keunikannya. Dengan porsi emosi (perasaan) yang signifikan, wanita menempatkan aktivitas menangis di urutan terdepan sebelum berpikir. Aktivitas berpikir bukan sama sekali ditinggalkan oleh wanita, namun menangis menjadi aktivitas pertama setiap kali mereka tertimpa masalah. Bagi pria, menangis mungkin bukan termasuk solusi, namun bagi wanita, menangis merupakan solusi pertama yang paling ampuh mengingat menangis dapat melegakan dada yang sesak serta pelampiasan emosi sesaat. Menarik sekali ilustrasi yang diberikan oleh majalah TIME edisi 16 april 2001. Dalam sebuah suplemen yang membahas masalah computer, di cover suplemen tersebut terdapat gambar seorang wanita yang sedang menangis dan tampak panic. Si wanita itu berkata : Help! My computer’s broken. Sensitif, sepertinya kata ini juga bisa digunakan untuk merepresentasikan sosok wanita.

Sebagai seorang wanita, aku sendiri sering melakukan aktivitas menangis sebagai solusi pertama dalam pemecahan masalah. Ketika mendapat masalah dengan PC-ku, yang pertama kulakukan adalah menangis, lalu menangis dan menangis lagi. Baru kemudian berpikir untuk memanggil teknisi yang bisa memperbaiki PC-ku. Ketika ada masalah pribadi, sudah bisa dipastikan bahwa aku akan langsung pergi ke tempat tidur untuk kemudian mendekap bantal dan menangis sampai aku merasa lega. Pun dalam menghadapi masalah saat mengerjakan skripsi. Akan kucari solusi yang strategis setelah menangis. Anehnya, aku terkadang menangis tanpa sebab. Ada sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, sehingga aku tiba-tiba saja ingin menangis.

Kaum lelaki mungkin tidak mengerti kenapa wanita mudah sekali menangis (kecuali yang perasaannya peka). Ada sebuah cerita menarik. Ini kisah nyata. Ada seorang lelaki yang bertunangan dengan seorang wanita. Mereka mendeklarasikan pertunangannya itu dengan tukar cincin. Ketika acara tukar cincin berlangsung di rumah si wanita, si wanita tiba-tiba menangis. Dan si lelaki bingung kenapa tunangannya menangis sebab saat itu wajah tunangannya terlihat bahagia. Lalu dia berpikir dan bertanya pada teman-temannya : kenapa wanita mudah sekali menangis? Bahkan dengan alasan yang sama sekali tidak dia mengerti. Seharusnya kalau memang si wanita itu bahagia dengan pertunangan itu, tidak sepatutnya dia menangis. Seharusnya dia tersenyum atau tertawa, pikir si lelaki.

Mungkin aneh bagi kaum lelaki untuk sering menumpahkan air mata, tetapi tidak bagi wanita. Lagipula, menurut pakar psikologi, menangis itu menyehatkan sebab bisa membuang racun yang membahayakan tubuh. Dan menurut kaidah agama, menangis juga bisa menghapus dosa jika dilakukan dalam rangka bertobat atas segala dosa yang pernah dilakukan.

A Beautiful Scene…Unforgerttable

Tuesday, February 21st, 2006

Aku pernah terpaku pada sebuah adegan sederhana : seorang ayah sedang menimang putrinya sambil berdendang kecil…Wajah mungil putrinya tampak bahagia sekali, menikmati curahan kasih sayang sang ayah…Ah, untuk sesaat aku terpana…menikmati tiap adegan…seperti gerak lambat dalam sebuah film. Jika di-shoot pasti akan tampak indah sekali… a beautiful scene….Unforgettable. A beautiful scene ini kutangkap lewat mataku 6 tahun yang lalu ketika aku masih kos di JOGYA (I miss u, JOG…). Berlokasi di jalan Patang Puluhan, di depan sebuah tempat fotokopian. Seorang ayah yang lembut dan penuh cinta, semuanya tampak wajar dan alami. Jarang sekali kujumpai a beautiful scene macam ini di tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Terlalu banyak ku menyaksikan pandangan murka, mencemooh, dan tidak simpatik. Terlalu banyak kudengar hardikan, makian dan suara sumbang yang keluar dari mulut orang tua, ditujukan kepada anaknya. Kertas putih yang sucu itupun kemudian ternoda…Can u take it back people? Heyyy..people. Rasulullah SAW pernah bersabda : sungguh Allah Mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan (HR. Bukhari). Dan satu peristiwa ketika seorang ibu merenggut dengan kasar anaknya yang kencing di baju Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW berkata pada sang ibu: “Noda kencing ini mudah dibersihkan, tapi luka hati anakmu akibat renggutan kasarmu sulit hilang.”

Friday, February 17th, 2006

Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu


Neno Warisman : Ijinkan Aku Bertutur

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada
ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!" Suamiku menjawab:
"Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin
seperti aku." Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya
dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya
ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan
berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak
berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa.
Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad.
Kami berdua Sangay bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika
sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia
kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi
kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba
ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu
berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk
main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah,
Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu,
Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi
suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang
menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu,
katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah,
pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.
Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
"Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu.
Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada
yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong
ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak
menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan
kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini,
segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan
seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah
tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan
Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat?  Kau tolak ia merangkak
di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk
sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia
asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di
punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok
seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata
ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa
kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di
kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam
bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh
berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski  kaku, kubimbing ia mendekat kepada
Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak
merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
"Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu
mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang
akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah
perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan
pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan
sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk
menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan
seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah.
Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:
"Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."

Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama,
bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi
sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut
rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah
menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan
kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur
pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak
buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jira
aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:  Ya, Nabi.
aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, alhamdulillah.


Ada tiga hal yang seandainya ada dalam jiwa kita maka kita akan dibawa
melangkah ke jalan kemuliaan dan kemenangan yang telah terjadi pada generasi
zaman Rosululloh SAW, yaitu keimanan yang sempurna, cinta dan pengorbanan.
–Hasan Al Banna–

Tetsuko Kuroyanagi-Totto chan : the Little Girl at the Window

Tuesday, February 14th, 2006

The renowned actress Tetsuko Kuroyanagi is also one of Japan’s most popular television personalities, a best-selling author, an advisor to the World Wide Fund for Nature, Japan and, since 1984, a Goodwill Ambassador for UNICEF. In announcing her appointment as the first Goodwill Ambassador from Asia, former UNICEF Executive Director James P. Grant cited Kuroyanagi’s love for children and her extensive work on behalf of people with disabilities and for the environment.

Prime objective

Helping children through UNICEF has become Kuroyanagi’s prime objective since her appointment. Each year she has undertaken a field mission, visiting countries all over Asia and Africa, as well as the Balkans. All these missions have been widely reported in Japan as well as in the countries visited. For instance, following her visits to Afghanistan and Somalia in 2002, accompanied by a Japanese media team, two separate 90-minute programmes about the missions were aired nationwide. Kuroyanagi also filed a report on one of Japan’s most popular television news programmes, which reached more than 20 million viewers. Extensive coverage of the mission was also given in other news programmes and in her own daily talk-show Tetsuko’s Room, as well as in numerous newspaper and magazine articles. All this coverage included appeals for funds to aid the children and mothers of Afghanistan and Somalia.

Kuroyanagi’s personal appeals to the Japanese public since 1984 have resulted in donations of more than US$30 million for UNICEF programmes. She has also joined other celebrities in supporting international UNICEF initiatives such as the ‘Say Yes for Children’ campaign, focusing on 10 key principles seeking to improve and protect the lives of children around the world.

In October 2000, Kuroyanagi was presented with UNICEF’s first-ever Leadership for Children Award in appreciation of her outstanding work.

Gift for communication

Born in Tokyo, Tetsuko Kuroyanagi is the daughter of a celebrated violinist. She graduated from the Tokyo College of Music, where she majored in opera. She then trained for the theatrical stage at Tokyo’s Bungakuza Theatre and in New York at the Mary Tarcai Studio. She has since won wide acclaim as an actress.

But her gifts and appeal have a much broader range. Kuroyanagi has been voted Japan’s favourite television personality 14 times and she won the Cultural Broadcasting Award – the highest television honour in Japan – for her daily TV talk show, Tetsuko’s Room, which she has hosted since 1976.  She has also received all the major awards in Japan for performing artists.

Kuroyanagi’s childhood memoir, Totto-chan: The Little Girl at the Window, has sold more than 7 million copies. Her most recent book, Totto-chan’s Children: A goodwill journey to the children of the world, is based on the experience of her UNICEF missions.

Royalties from Totto-chan: The Little Girl at the Window enabled Kuroyanagi to set up the Totto Foundation to train professional actors who are hearing-disabled. In l98l, the International Year of the Disabled Person, she was honoured by the Prime Minister of Japan with a special award for her work with people with disabilities. On 12 May 2003, Kuroyanagi was decorated with The Order of the Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon by the Government of Japan in recognition of her two decades of service for the world’s children.

© UNICEF/HQ 02-0024/ Shehzad Noorani

NASEHAT ORANG BIJAK

Saturday, February 11th, 2006

Seorang bijak mengatakan, “Ingatlah olehmu dua perkara, yaitu kesalahanmu pada

orang lain dan kebaikan orang padamu. Lupakanlah dua perkara, yaitu kebaikanmu

pada orang lain dan kesalahan orang lain pada dirimu.”

Nasihat ahli hikmah ini patut kita jadikan bahan renungan dan introspeksi diri dalam upaya mencapai pribadi yang berakhlak al-karimah. Nilai seseorang bukanlah dari penampilan dirinya, bukan pula dari harta benda yang telah dikumpulkannya. Seseorang dinilai bukan dari jabatan yang didudukinya, bukan pula dari pangkat dan tanda jasa yang disematkan didadanya, tetapi seseorang itu dinilai dari budi pekerti luhur yang menghiasi pribadinya.

Ada empat hal yang dinasehatkan oleh orang bijak tadi. Pertama, mengingat kesalahan yang telah dikerjakan. Seseorang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesalahan dan kekhilafan yang telah terjadi akan muncul dalam dirinya rasa penyesalan. Penyesalan ini akan mendorong dia untuk memperbaiki diri, keadaan ini disebut dengan taubat.

Kedua, mengingat kebaikan orang terhadap dirinya. Dalam kehidupan ini kita memerlukan kehadiran orang lain, kebutuhan akan masyarakat dan lingkungan merupakan suatu keharusan. Pada dasarnya kehidupan ini sangat bergantung kepada orang lain. Dengan mengingat kebaikan orang akan mendorong seseorang untuk berbuat baik pada orang lain. Letak kebahagiaan hakiki adalah dengan membahagiakan orang lain. Rosululloh bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaiman ia mencintai dirinya sendiri” ( H.R Bukhari muslim).

Ketiga, melupakan kebaikan yang telah dilakukan kepada orang lain. Setiap kebaikan yang kita kerjakan hendaklah didasari keiklhlasan, yaitu semata-mata mengharapkan keridhoan Allah SWT. Kebaikan tidak ada nilainya kalau diiringi dengan menyebut-nyebutnya. Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerimanya).”( QS. Al Baqarah : 264).

Keempat, melupakan kesalahan orang lain. Yang dimaksud dengan melupakan kesalahan orang lain adalah membuka pintu maaf atas kesalahan yang telah dilakukan orang itu. Sesungguhnya saling memaafkan kesalahan termasuk akhlakul karimah yang sepantasnya menghiasi kepribadian setiap muslim.

Rosululloh SAW bersabda, carilah kemuliaan disisi Allah dengan memberi maaf terhadap oang yang menjahilimu, dan memberi orang yang kikir kepadamu.” Alangkah tinggi nasehat orang bijaksana yang patut kita renungkan lalu direalisasikan dalam kehidupan. Wallahua’lam bis-shawab