Archive for May, 2006

Bete Gua…….

Monday, May 29th, 2006

Bete gua….ngadepin ikhwan yang rodo rese dan mau tau urusan orang. Ngatur sana, ngatur sini, sementara aku punya keputusan sendiri atas semua hal yang kulakukan, terlepas dari urusan pekerjaan. Mungkin maksudnya kasih wawasan tapi kok seolah-olah aku ini istrinya.. Dah kukatakan keberatanku..eh, dianya malah ngamuk. Egonya sebagai lelaki yang jalan, akalnya hilang sesaat. Akhirnya aku cuman bisa ngadepin dia pake polling kecil-kecilan. Kutanyain orang-orang yang punya keluhan terhadap si ikhwan ini. MAnjur sich, tapi dianya masih sulit nerima. Malah ‘nyerang’ balik. Katanya aku terlalu keras kepala dan ga pake perasaan. Apa yang dia inginkan? Apa aku juga harus nanggepin pake perasaan mendalam, sementara dia bukan suamiku. Apa aku harus mesra dan berlembut-lembut di hadapannya? Kagak bisa dunk! Dia minta diperhatikan. Kalo aku disuruh melakukan sesuatu hal yang aku ga sreg, aku bakalan ‘sakit’, dan kalo dah kambuh ya aku bakalan main akal. Kalo dah gini…agak repot memang. Sikapku bakalan ‘cowok’ banget, kadang lupa kalo aku nich perempuan (manis lagi..wueks, Narsis!).
Dianya jadi pendiam. KAlao aku sich biasa aja, walau rada dingin. Komunikasi kita sedang ‘shutdown’. Ga tau kapan mau di’restart’. GA bisa dibilang musuhan sich, masih tetep kerja bareng, cuman rada canggung aja. Dia tuh enak diajak diskusi soal rasa, soale sabar, penuh rasa cinta dan pinter ngemong. Tapi kalo aku dah bicara hal-hal yang mengeksplor akal….rada ga nyambung. Dan kalo udah ga nyambung, biasanya terjadi ‘konslet’ dan mati lah tuh listrik. Dalam gelap kami berusaha menggapai-gapai secercah cahaya, biar ga nabrak-nabrak. Aku menabraknya dengan menganggapnya ga bisa mikir dan dia menabrakku dengan berkata bahwa yang paling penting adalah perasaan. Sanggahku : Bagaimana dengan proporsinya??? Bukan berarti aku ga pake rasa, tapi akal ga bisa dinafikan sebab ALLOH juga Memberi akal pada manusia, termasuk wanita.
Yang paling membuatku kesal adalah ketika dia menganggap dunia wanita itu dunia rasa. Di satu sisi itu ada benarnya, tapi kita ga boleh berada di titik ekstrim. Semua ada porsinya, termasuk dalam penggunaan akal. Terlalu memberikan ruang yang luas pada akal dan kurang memberi ruang pada rasa akan menciptakan manusia-manusia mekanis yang hanya tahu bergerak dan kurang bisa menghayati. Padahal semua menjadi berarti jika dihayati. That’s why ada konsep ‘hikmah’ yg merupakan hasil perenungan, sebagai penuntun untuk bisa bergerak selaras dengan law and order dari Sang Pencipta.
Ini bukan soal bias gender atau apapun yg diusung oleh para feminis. Ini hanya masalah bagaimana menempatkan sesuatu hal sehingga tidak timpang.
Aku akui aku memang keras kepala. Tapi aku punya alasan kuat untuk melakukan itu. Sementara dia mengeneralisir semua perempuan ga boleh menjadi keras kepala. Semua perempuan harus nrimoan, ga usah banyak mikir. Dalam hati aku cuman bisa bilang : nek aku ga mikir, gimana bisa jadi wartawan? Aku yo iso ae dadi wong wedhok sing manis, kalem lan manutan. Nanging saiki ga iso koyok ngono. Aku kudu dinamis. Lha wong kon dudu bojoku kok. Ndelok konteks po’o….mangkel aku. Aku yo nduwe rasa, tesih seneng nggendong bayi lan arek cilik, tesih seneng ngambek, tesih seneng ngomel, tesih sering nangis nek ono masalah. Tapi kan ga iso tak duduhno nang ngarepmu. Moso’ aku kudu nangis-nangis nang ngarepmu??! Padahal awakmu ki dominan nganggo rasa, la’ yo gawat sih nek aku tumpahkan rasaku nang ngarepmu??!
Ada seorang teman yang bilang padaku : Laki-laki ingin dihormati dan perempuan ingin dimengerti. Menurutku keduanya sama-sama ingin dihormati dan dimengerti. Ada juga yg bilang : laki-laki ga suka dibantah. Aku bilang : perempuan ga suka didikte (khususnya aku). Sebab seolah-olah menyepelekan perempuan. Jalan tengah : keduanya tidak suka dibantah dan didikte (aku kalo lagi males mikir suka diarahkan juga ding! Tapi buntutnya…aku bikin keputusan sendiri…wekekekeke).
Pimredku, yang menjadi wasit perdebatan kami sampe nanya gini ke aku :
Trus kalo modelmu kayak gini, pengen dapet suami yang kayak apa?! Yaaa…yang bisa ngatur aku dan bisa ngerti akuuuwww…
Lah, kalo ga pake otoritas, ya dia ga bakalan bisa ngatur kamu. Yg bakalan menang ya kamu, lha wong karaktermu kuat.
Tapi aku ga suka diatur pake otoritas…Terserah ALLOH saja lah mau kasih aku suami yg bagaimana, BiYADIHIL KHOIR (Semua itu baik menurut ALLOH)…Lho kok tiba-tiba ngomongin suami..??? Tau dah, pusyiing …bete gua…

Wallahu’alam

KITA DAN SEJARAH

Saturday, May 20th, 2006

Sebuah pameo terkenal mengatakan, “bangsa yang baik adalah bangsa yang mengenal sejarah bangsanya”, sebab hal itulah yang mendorong sebuah bangsa untuk maju. Dengan sejarah, sebuah bangsa bisa mengetahui kekurangan-kekurangannya, tentu saja hal itu digunakan untuk evaluasi terhadap perbaikan masa depan bangsa itu sendiri, lantas dari mana sebuah bangsa bisa maju jika tidak karena mempelajari masa lalunya?
Itu jika mempelajari sejarah perjalanan bangsa, bagaimana jika mempelajari sejarah perkembangan sebuah agama, dalam hal ini Islam? Tentu lebih diharuskan lagi, demi kelancaran perputaran roda dakwah dan penyebaran Islam itu sendiri, yang lebih penting lagi, adalah mengembalikan kejayaan masa lampau yang pernah dinikmati oleh umat ini.
Dari sini kita juga bisa memahami, bahwa salah satu penyebab kemunduran sebuah umat atau bangsa, adalah karena keengganan mereka memahami dan mempelajari masa lalunya, seyogyanya sebuah bangsa yang mengalami kemunduran, harus segera mempelajari kembali kejayaan yang pernah diperoleh dan menapak tilasi jalan yang ditempuh oleh pendahulunya.
Sayangnya, keengganan mempelajari masa lalu, saat ini benar-benar telah dialami oleh bangsa kita khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Tentu saja sebuah kekeliruan besar jika kita hanya membanggakan masa lalu kita tetapi tak ada usaha untuk meneladani lebih baik lagi, mengembalikan masa lalu itu sendiri untuk merubah keadaan yang sedang menukik tajam ini. Lebih parah lagi ketidakmauan mempelajari perjalanan masa lalu umat ini yang telah tertoreh oleh tinta emas. Jadi, sudah bisa dipastikan, satu-satunya sarana untuk mengetahui masa lalu adalah dengan membaca sejarah itu sendiri, tanpa membaca maka yang kita alami selama ini adalah hanya mimpi di siang bolong, dan bagi yang membaca tapi tak ada usaha mewujudkan kembali kejayaan itu sama saja dengan membual.
Ironis memang, kebanyakan dari kita lebih hafal nama-nama artis plus seputar gossip kehidupan mereka, daripada nama keluarga Rosululloh SAW juga perjalanan hidupnya. Kita pun masih kerap bingung ditanya kapan Perang Muraisi’ terjadi, lebih tahu saat kita ditanya, kapan acara miss universe digelar atau final akademi fantasi. Yang gila bola, sejarah mulai piala dunia digelar sejak tahun 1930 hafal diluar kepala. Nama-nama sahabat pun kita banyak yang buta, lebih tahu nama Giuseppe Meazza, Lev Yasin, Berti Vogts, Franz Backenbauer, Peter Shilton, dan seterusnya. Nama-nama kholifah saja kita hanya tahu sebatas 4 nama, padahal Islam punya lebih dari 100 kholifah (amirul mu’minin). Apalagi peristiwa-peristiwa seperti Huruub Arriddah, Yarmuk, Ajnadin, Nahawand, Hittin, Ain Jalut, perang Salib, atau nama-nama seperti Nuruddin Zanky, Sholahuddin Yusuf, Syajaruddur, Ruknuddin Baybars, Mudhoffar Saifuddin Qutz, Asad bin Furot, Salim Awwal, Muhammad Al-Fatih, Abu Amir.
Kita juga hanya samar-samar mendengar tentang dinasti Umawiyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Mamalik, Alu Zanky, Baramikah, Salajiqoh, Ustmaniah. Lebih jelas di telinga kita nama seperti Dewa, Peterpan, Sheila on 7, U2, The Beatles, Metalica, Red Hot Chili Paper, dan lain-lain. Begitu pula perjalanan mereka dalam membesarkan Islam, belum lagi ulama-ulama yang jumlahnya jutaan semisal Annawawi, Al-Isnawi, At-Thobari, Al-Ghozali, Ibn Atsir, Ibn Katsir, Ibn Sayyidin Nas, serta biografi mereka, kesemangatan mereka dalam mencari Ilmu, berjihad, berdakwah, perang dan sebagainya, kita sama sekali tidak mengetahuinya. Bisa jadi malah lebih mengenal Karl Max, Sigmund Freud, Machiavelli, Jean-Jacques Rosseau, Theodore Hertzl, Voltaire, dan seabreg tokoh-tokoh gila penghancur aqidah.
Jangan jauh-jauh, apakah kita sudah paham betul kisah Walisongo saat menyebarkan Islam di Jawa, tidak hanya sekedar menziarahinya saja? Mungkin juga kita tidak tahu bahwa Perang Jawa yang dikomandani Pangeran Diponegoro adalah dalam rangka jihad membela Islam, atau lebih heran lagi saat kita tahu bahwa Diponegoro adalah seorang Sayyid bermarga Bin Syihab, atau juga kemerdekaan negara ini yang banyak mendapat bantuan besar dari kalangan Pesantren, yang pada masa itu merekalah aktivis gerakan Islam, juga penggerak utama tsauroh (pemberontak) atas penjajah, meskipun pada akhirnya harus mengalami manipulasi sejarah, dan lain sebagainya.
Harus kita akui, tsaqofah (kepahaman) kita tentang sejarah sangat minus sekali, padahal sejaralah yang memiliki peran sangat penting untuk membangunkan umat dari tidur pulasnya. Mungkin kita beragumen, tidak ada buku sejarah yang bisa kita baca, karena ketiadaan (tidak mau mencari) buku-buku sejarah itu di perpustakaan. Namun alasan itu terlalu dingin, kitanya saja yang memang kurang punya keinginan atau niat kuat untuk mencari tahu. Sebab andai kita punya keinginan kuat, himmah (cita-cita) dan azm (tekad) yang tinggi terhadap sesuatu, maka sarana untuk menuju itu akan ada dengan sendirinya dan tanpa sadar kita akan tertuntun ke sana. Meskipun tentu saja di sana ada pengecualian sebagaimana lazimnya sebuah kaidah.
Idza sohha-l qosdu, wadliha-s sabiil, dimana ada kemauan disitu ada jalan, itu saja yang selama ini kendor dalam diri kita. Karena sebenarnya hal ini sudah jadi sunnatulloh fil kaun, hukum alam. Sebab sejarah itu sendiri terbentuk dari himmah dan azm yang kuat itu, tanpa kedua hal ini maka nama-nama para Nabi itu tak akan pernah tertoreh manis dalam Al Qur’an atau kitab-kitab agama lainnya. Lebih sederhana lagi para pelaku sejarah itu sendiri. Atau lebih mengena dibenak kita lagi para artis yang kita hafal selama ini. Mereka bisa mencipta sejarah karena ada himmah.
Sudah saatnya kita banyak menelaah sejarah tidak hanya menghafalkan tahun-tahun kejadian saja, karena yang dituntut dari kita pada dasarnya bukan itu, tetapi apa yang telah terjadi dalam sejarah tersebut sebagai spion kita untuk melangkah ke depan, juga sebagai peta penuntun, dus rambu agar kita tidak tersesat di jalan peradaban juga demi membangun peradaban itu sendiri.
Paling tidak, jika kita enggan mempelajari atau membaca sejarah, kita sebagai ummat Islam harus tahu sejarah Rosululloh, dengan lingkup yang lebih luas tidak sekedar ngalap cukup di Khulasoh Nurul Yaqin saja, tapi melebar ke Fiqh Siroh, Arrohiq Al-Makhtum, Hadaiq Al-Anwar, Uyun Al-Atsar, Mawahib Saniyyah, sampai Subulul Huda wa Rosyad. Cukup bagi kita (sejarah Rosul tersebut, bahr laa saahila lah, laut tak berpantai itu) untuk bekal penting kita menempuh perjalanan kehidupan dalam menempuh liku-liku perjuangan. Lainnya, tentu saja akan lebih sempurna saat kita mau membaca sejarah setelahnya ataupun sebelumnya.
Perintah di Al Qura’an cukup jelas, Iqro’ (bacalah), tinggal kita saja umat Islam atau bangsa ini mau apa tidak mengaplikasikannya karena semua tahu bahwa “banyak baca banyak tahu” dan “buku adalah jendela dunia”. Faktor penting umat Islam dulu berjaya adalah karena kegemaran membaca dan mempelajari apapun, khususnya sejarah (yang kini kebiasaan itu justru diambil alih oleh orang-orang Barat). Perlu kita ketahui umat Islamlah pencipta perpustakaan pertama kali di dunia. Jangan dikira juga tentara jaman dulu hanya bisa memegang pedang dan panah saja, mereka pun lihai memainkan pena dan haus akan pengetahuan. Mu’allif-mu’allif yang kita kenal sekarang ini dalam biografinya mereka juga sebagian ada yang menjadi tentara. Sekarang semuanya kembali kepada kita semua

Wallohu A’lam.

Vegetarian Is Just Al Life Style..

Thursday, May 18th, 2006

“Kenapa jadi vegetarian?”, tanyaku pada gadis sebelah kamarku. Wajahnya yang banyak polesan kelihatan bingung.
“ Yaa pengen aja”, jawabnya dengan kegamangan yang coba disembunyikan dengan rapi.
Kurasakan defence mechanism mulai muncul dalam dirinya. Ghorizatul Baqo’, orang Arab bilang.
Tak usah dia jelaskan pun aku sudah mengerti. Dia malu kalo ketahuan bahwa dia ingin ikuti life style. Dan ternyata itu pilihan yang salah. Tubuh langsing untuk penuhi life style dan ingin kelihatan keren di hadapan para pemuja life style. Krauk-krauk makan apel di tengah jalan atau makan salad yang terdiri dari sayuran mentah pagi, siang, sore dan malam. It’s all for life style, no more. Alasan kesehatan terpatahkan ketika pada suatu hari perut gadis labil ini tidak kuat hadapi gempuran bakteri yang masuk bersama sayuran mentah yang diolahnya menjadi salad. Dan kebiasaannya makan apel langsung, ga dikupas dan ga dicuci sambil shopping yang mirip adegan di opera sabun Hollywood turut menyumbangkan bakteri perusak pencernaan masuk ke tubuhnya.
“Wis ga gelem dadi vegetarian maneh aku, kapok. Waktu itu aku nekad kabur dari RS soalnya besok ada ujian,” akunya.
“Gejalanya perutku sakit banget, ga sembuh-sembuh. Setelah diperiksa ke dokter, ternyata di perutku banyak bakteri yang asalnya dari sayuran mentah dan buah yang sering kumakan”, sambil menunduk dia mencoba berbagi rasa.
Potongan gadis ini memang gaul, namun ada satu hal yang mengganjal dalam benakku ketika pertama kali melihatnya. Pakaian dan aksesoris yang dia kenakan terkesan terlalu dipaksakan untuk masuk ke tubuhnya yang berbeda dengan anak-anak gaul yang sering kulihat. Semua yang dia kenakan mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut memang sedang jadi trend, tapi tetap tidak bisa membuatnya kelihatan trendy. Media dan lingkungan pergaulan menjadi guide yang selama ini menuntunnya. Jika trendy menjadi obsesinya selama ini, maka vegetarian is just a life style, no more. Mehong-meminjam istilah Seno Gumi

Read A Sign…

Thursday, May 18th, 2006

Terdengar dering Arabesque dari HP Samsungku. Terlalu dini untuk mendengar kicau burung….
“Duh, siapa sih subuh-subuh begini..?”, omelku dalam hati.
Aku yang masih ada di kamar mandi dengan tergopoh berlari ke kamar. Langsung kusambar HP hadiah dari omku. Mataku sempat membeliak. Baru 10 menit sejak bangun jam 04.00 subuh.
“Nomor yg tidak kukenal, siapa sich!? Kok deg-degan…,” benakku masih sibuk mengomel.
“Assalamu’alaykum, udah bangun?”, sebuah logat yang amat kukenal menyapaku dengan pertanyaan yang bagiku sangat pribadi.
“Wa’alaykumussalam warahmatullaah, udah”.
“Emang kamu tau siapa saya?”, tanyanya sok yakin.
“Kalo kamu mau nyamar, rubah dulu logat Kalimantanmu itu”.
Terdengar tawa renyah di seberang. Tampak mulai menikmati percakapan.
“Kok sempet-sempetnya guyon di pagi buta begini. Bikin deg-degan lagi,” tak tega aku ungkapkan padanya, walau ingin sekali. Alam bawah sadarku telah terbiasa memahami bahwa dia adalah seorang teman yang butuh penyeimbang bagi akal dan batinnya yang sedang mencoba mencerna hantaman globalisasi yang kian agresif. Hutan dan tembok pesantren tidak lagi bisa melindungi sisi kemanusiaannya yang harus dipenuhi. Kucoba hayati semuanya.
“ Puasa kan?”, selidiknya.
“InsyaALLOH, ini barusan sahur”.
“Gimana kegiatannya di Gempol kemarin?”, kucoba alihkan perhatian.
“Alhamdulillah, sukses. Aku baru pulang jam 12 malem”
“Kok sampe jam 12 malem? Emang kegiatannya apa aja?’
“Ya wisuda plus pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu. Aku cuman bagian pegang handycam kok”, nada suaranya kedengaran sedang tersenyum. Aku yakin bukan hanya itu amanahnya. Bukan tanpa alasan ustadz sangat mempercayainya. Totalitas dalam setiap pekerjaan yg dia lakukan membuat sosoknya menjadi “the most wanted”. Amanah-amanah penting seperti coordinator relawan, coordinator wilayah dan Ketua Bagian Pemberdayaan Orang Tua ustadz percayakan ke dia. “Kadang kalo ustadz minta tolong aku tolak dengan halus. Capek,” ujarnya melankolis saat kami mengobrol di depan pesantren, beberapa minggu yang lalu.
“Pengajiannya tentang apa? Yang ngisi ustadz ta?”
“Duh ga ngerti, ceramahnya pake bahasa Jawa sih. Ustadznya dari Jombang”. Logat Kalimantan-nya yang kental seolah mencoba meyakinkan diriku bahwa meskipun 3 tahun tinggal di Jawa, bahasa Jawa masih belum bisa menguasai lidah dan pendengarannya. Aku mafhum, lingkungan di pesantren penuh dengan orang-orang luar Jawa dan para santri tidak dibolehkan bercakap-cakap kecuali dengan bahasa Arab dan Inggris. Mata pelajaran yang full hingga mencapai angka 35 untuk SKS sangatlah menguras energi. Dan tugas mentransfer apa yang sudah didapat di pesantren sudah menunggu sesasat setelah kelulusan. Pesantren akan “melempar”nya ke pelosok negeri, tunaikan tugas suci. Sementara sisi lain dirinya harus mampu bertahan dari hantaman arus pasang globalisasi. Laa khawla walaa quwwata illaa billaah.
“ Tadi juga ada pertunjukkan drum band anak-anak SMP, terus aku shoot dengan handycam,” dia mulai bercerita.
“Wah asyik dong, ngeliat drum band…lucu-lucu ya?”
“Enggak juga, kan anak SMP, bukan anak-anak kecil”.
Sempat geli juga aku mendengar jawaban polosnya. Ternyata gempuran globalisasi belum sanggup menghilangkan sisi polos seorang yang lama tinggal di hutan dan di balik tembok pesantren. Sebenarnya kasihan juga melihatnya harus tertatih-tatih mencerna manuver globalisasi yang kian lama kian liar. Kota tidak sama dengan hutan. Mall tidak sama dengan pesantren.
“Kegiatan baksosmu sendiri gimana?”
“Lho, aku kan dah bilang kalo aku ga bisa dateng.”
“Oooh, jadi gitu ya. Kamu ga bisa dateng, trus nyuruh aku dateng nggantiin kamu?”, nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang ngambek. Tentunya dia tidak benar-benar ngambek. Hanya ingin memberi warna pada percakapan kami.
“Ya iya. Aku kan ga enak, jadi kamu tak suruh dateng. Eh, pulsamu ga habis banyak ta?”, kuingin akhiri percakapan. Beberapa menit lagi adzan Subuh berkumandang.
“Enggak, aku kan pake Mentari, gratis 5 menit. Tapi ini HP temanku”.
………………………………
“Udah ya. “Wassalamu’alaykum”.
“Wa’alaykumussalam”.
Sesaat sebelum dia memutuskan percakapan, aku masih sempat mendengar riuh-rendah para santri yang bersiap-siap pergi ke masjid tunaikan sholat Subuh.
Ah, globalisasi tidak hanya mampu meruntuhkan batas-batas negara, tembok pesantren yang orisinil dan syahdu pun mampu ditembusnya.

ILUSI KENANGAN

Thursday, May 18th, 2006

Kuterpaku. Aku merasa mengenalnya.. Wajah dan suara itu.. “apa kabar? Lama tak bersua…”. Bisa kulihat tatapannya, sambil tersenyum diantara gugur bunga kecil, serupa senyum Takako di antara gugur sakura. Ketika ku membuka mata, kusadar ini hanya sebuah ilusi kenangan. Yang selalu mencoba mencuri-curi sedikit memori di alam bawah sadar, dan seolah ingin bisikkan kata : Aku rindu …
Musim terus berganti, tapi aku masih di sini. Bergerak dalam diam. mengalun sunyi merangkai memory. Semua peristiwa hanya ada di rongga dada… engkau kini semakin jauh…
Inginnya ku berjalan diantara kenangan, mendengarkan kau bercerita kisah lama. Menghitung titik hujan dan bintang di matamu…

RUANG KOSONG

Thursday, May 18th, 2006

Aku masih bisa melihatmu duduk di sana, dengan senyum matahari menceritakan teori-teori besar dunia. Entah sudah berapa lama….aku tak pernah tahu, hingga saat aku menengok ke tempat yang sama…hanya ada bangku kosong, dan orang-orang yang tidak pernah ada dalam memoriku. Lantai yang kupijak terasa janggal di kakiku. Dimana aku sekarang..? Tak kudengar lagi riuh-rendah kesibukan di sekeliling bangku itu…Belum lagi ku selesai menghitung bias sinar di matamu… ketika perasaan asing tiba-tiba menyelimutiku. Tanpa bisa kubendung, segenggam rindu yang tersimpan di kantong hati menyeruak keluar. Kutengokkan kepalaku, sekali lagi…untuk yakinkan diriku, bahwa sosokmu masih di sana….namun semakin sering ku menengok, semakin sering kau menghilang….kini kau hanya bayangan beku…Punahlah sudah. Perubahan selalu menyisakan ruang kosong di hatiku….

Ego Wanita..?

Friday, May 12th, 2006

Aku ga tau ini namanya apa, ego wanita mungkin. Tapi kupikir ini cuma berlaku pada diriku. Merupakan hal yang lumrah jika wanita ingin dilindungi dan diperhatikan. Namun kenapa ego ini muncul ke permukaan ketika diriku sendiri menerima perlakuan itu. "KAmu pikir aku ga bisa jaga diriku sendiri? Kamu pikir aku suka diperlakukan semanis itu? Jangan terlalu perasa," kuungkapkan semuanya dengan nada dongkol kepada seorang rekan kerja, seorang lelaki yang terus-menerus memantauku. "Saya ga suka lelaki yang cerewet dan terlalu perasa. Wajar-wajar aja lah," cecarku.

Ego wanita..? Wanita yang bagaimana…

Saturday, May 6th, 2006

“SUNAN KALIJAGA” DARI GANG MAKAM

Ketika memasuki kawasan padat penduduk tersebut, di kanan-kiri terdapat batu nisan berjejer. Tidak banyak lampu yang menerangi jalan, namun jika kita terus masuk ke dalam, maka terlihat rumah-rumah berdinding tripleks di pinggir makam, memberikan sinyal bahwa yang berdiam di situ bukan hanya orang yang sudah meninggal.  Di

sana

tampak sebuah realitas social yang selalu menjadi dilema Pemerintah Kota kaitannya dengan tata ruang

kota

yang indah dan kesejahteraan warganya, serta PR besar bagi umat Islam, untuk bisa menyelamatkan aqidah umat yang tergadaikan karena himpitan ekonomi.

Seorang pria tua berwajah keras menyapa ramah, mempersilahkan kami meninjau lokasi. Dialah Pak Husyn, koordinator dan pembina pemulung sekaligus Ketua RT di pemukiman yang statusnya belum jelas tersebut. Pria yang pernah menjadi “kepala suku” preman ini berasal dari Bangkalan, Madura. Sudah 40 tahun tinggal di

Surabaya

, mulai umur 12 tahun sudah merantau. Sempat Sekolah Rakyat, terakhir kelas 4, tidak sampai lulus sebab tidak ada biaya. Pak Husyn lalu Ikut orang Tulungagung, jadi anak angkat. Kedua orangtua angkatnya penderita kusta, berprofesi sebagai peminta-minta dan pemulung. Dijadikan anak angkat karena sama-sama merasa senasib sepenanggungan. Sama-sama mbambung (jadi gelandangan, red), tidur di atas makan

China

dengan mendirikan tenda-tenda di atasnya.

Pada tahun 1980-an Pak Husyn sempat terlibat kenakalan remaja dengan menjadi anggota kelompok remaja nakal dan sering membuat kerusuhan. Hal ini terjadi begitu sang ibu yang sangat disayanginya meninggal. “Saat akan meninggal, airmata ibu angkat saya jatuh di bahu saya,” kata Pak Husyn dengan agak terbata. Ibu angkatnya sempat berpesan : “Kamu harus mengurusi orang-orang miskin.” Setelah ibu angkat saya meninggal,  ayah angkat saya meninggalkan saya, tidak sanggup mengurusi saya lagi.

Selama 4 tahun lebih menjadi anggota kelompok Dahuri (artinya teman, red) , yang pada era 1980-an terkenal dengan tindakan kriminalitasnya, Pak Husyn sudah berkali-kali keluar masuk penjara, bahkan sempat merasakan sejuknya udara di Nusa Kambangan selama 9,5 tahun. Diberikan remisi karena berkelakuan baik, sering bantu petugas LP mengatur ketertiban. Sama seperti di Dahuri, di LP Nusa Kambangan Pak Husyn juga didapuk jadi “kepala suku”. Saat itu Pak Husyn masih menjadikan kuburan sebagai tempat melepaskan lelah. Kali ini dia bersama teman-temannya pindah ke makam tembok dekat Pasar Turi. Aktivitas kejahatan kelompok yang mayoritas anggotanya mantan napi ini biasanya nyopet dan nodong yang karena intensitasnya tinggi, maka mereka terpaksa dimasukkan ke penjara di Nusa Kambangan.

Tahun 1993, keluar dari LP Nusa Kambangan dan langsung menikah dengan wanita asal Gresik. Empat tahun kemudian bercerai lalu menikah lagi tahun 1997. Dari hasil 2 pernikahannya pak Husyn mendapat 4 anak yang kesemuanya perempuan. Satu peristiwa yang membuatnya harus kembali berurusan dengan pihak penjara adalah saat Pak Husyn mencoba menyelamatkan menantunya yang akan dianiaya oleh sekawanan orang mabuk. Saat melakukan pembelaan terhadap menantunya tersebut, clurit Pak Husyn mengenai leher salah satu orang mabuk tersebut dan membuatnya cacat seumur hidup. Namun karena Pak Husyn di pihak yang benar dan saat itu ada saksi yang meringankan serta ada Surat Kuasa yang secara garis besar isinya Pak Husyn dan menantunya harus sadar, tidak mengulangi perbuatan seperti itu lagi dan perbuatan itu cuma untuk membela diri. Kali ini Pak Husyn di masukkan ke “Hotel Prodeo” Medaeng Sidoarjo. Selama berada di

sana

Pak Husyn sering sholat Hajat agar cepat keluar. Keinginan untuk bertobat pun begitu membuncah  Akhirnya keinginannya tercapai. Pak Husyn hanya 7 bulan bertahan di situ. Ini juga tidak lepas dari pertolongan ALLOH (di Rutan Medaeng sempat terjadi kebakaran sehingga para napinya dibebaskan). Kesungguhan untuk bertobat diabadikan oleh Pak Husyn dalam sebuah tato yang dia buat di Rutan Medaeng. Di tato tersebut terdapat tulisan : “Demi anak dan istriku, aku ingin bertobat.”

Sejak remaja Pak Husyn sudah berbakat menjadi pemimpin. Hal ini dikarenakan dedikasinya yang besar terhadap kelompok yang dipimpinnya, ditambah dengan sifat berani yang sangat menonjol. Bahkan sejak tahun 1987 sampai sekarang dia masih dipercaya menjadi koordinator sekaligus pembina pemulung. Mulai tahun 2006 ini dia juga menjadi Ketua RT setelah warga memintanya menggantikan Ketua RT sebelumnya sebab dianggap lebih jujur , berdedikasi tinggi serta lebih memahami keinginan warga. Pak Suwaji ditunjuk sebagai Wakil Pak Husyn. Selama menjabat Ketua RT, Pak Husyn tidak pernah menarik iuran dari anggotanya. Kegiatan kemasyarakatan yang diadakan lebih ditujukan agar ikatan emosional lebih erat (guyub). Ketua RT sebelum Pak Husyn ternyata tidak disukai warga karena bermasalah : main dukun dan  tidak pernah mau beberkan laporan keuangan secara transparan, tahu-tahu uang kas habis. Lalu Pak Husyn protes dan dibalas dengan tindakan penggembosan, yakni memobilisasi para pemulung untuk mendemo Pak Husyn.

Sebagai seorang pemulung yang diserahi amanah mengurusi “kaumnya”, Pak Husyn selalu mendahulukan kepentingan warganya yang pemulung daripada yang non-pemulung. Kebijakannya ini menyulut kemarahan dari warga desa sebelah yang non-pemulung. Mekanisme penyaluran bantuan yang datang memang harus melalui Pak Husyn dulu, baru kemudian dibagi-bagikan kepada warga. Dan ada sebagian bantuan yang Pak Husyn usahakan sendiri dengan meminta ke lembaga-lembaga donor. Ini pun larinya lagi-lagi ke Pak Husyn. Pria kelahiran tahun 1954 yang kesehariannya bekerja sebagai pemungut puntung rokok ini memang figur yang amat disegani oleh warganya. “Ini semua barokah ALLOH,” terang Pak Husyn berkali-kali.

Ada

satu yayasan Kristen yakni Yayasan Pondok Kasih yang bermarkas di Kendang Sari yang rajin memberikan sumbangan ke warga pemulung. Ibu Hari Ananda, salah satu pengurus yayasan itu melakukan pendekatan yang sangat intensif kepada sang “kepala suku”. Sebelumnya mereka memang sudah tahu kalau orang yang paling berpengaruh di

sana

adalah Pak Husyn. Mereka berharap bisa “memegang” Pak Husyn untuk memudahkan memobilisasi warga pemulung Rangkah. Melihat gelagat tidak baik ini, Pak Husyn sebelumnya sudah mengingatkan Ibu Hari Ananda: “Maaf bu, bendera kami hijau (Islam). Kalau bendera ibu putih (Kristen), ya maaf saja bu, kami tidak bisa,” tegasnya.

Para

misionaris itu juga “dikerjai” oleh Pak Husyn. Mereka diminta membayar rekening listrik seluruh warga selama 3 bulan. Setelah itu, para misionaris itu ingin menyewakan rumah untuk Pak Husyn. Namun Pak Husyn menolak dengan alasan tidak patut kiranya dia bisa hidup enak sedang warganya sengsara. “Saya tidak akan tidur di lantai sebelum warga saya tidur di lantai,” tekad Pak Husyn.

          Yayasan Pondok Kasih milik Nasrani terus mengadakan baksos tiap minggu selama 1 tahun (tahun 2000). Pendetanya bahkan langsung turun ke lapangan. Tiap warga dikasih Rp.100 ribu. Yayasan ini melibatkan 7 negara donor : AS,

Canada

,

Australia

, Singapura, Turki, Soviet, dan Jepang. Dalam segala aktivitasnya, para misionaris ini tidak pernah berceramah, cuma ngobrol-ngobrol bareng warga. Sebuah pendekatan yang sangat efektif. Yayasan Pondok Kasih juga memberi bantuan 50 sak semen untuk pembangunan mushola yang merupakan satu-satunya mushola di wilayah tersebut. Tidak besar memang, namun cukup untuk menampung jamaah di situ. Lalu hubungan antara warga desa tersebut dengan Yayasan Pondok Kasih terputus karena ketahuan salah satu pendetanya yang berasal dari

Manado

, Yustumiwa, korupsi dana MCK Rp. 4.200.000,-. Pak Husyn berkata pada pendeta tersebut : “saya ga takut sama sampeyan. Sampeyan pendeta kok korupsi. Sampeyan ga bagus jadi pendeta. Tak laporkan polisi sampeyan,”. Meski hubungan mereka sudah putus, Pak Husyn sampai sekarang masih sering terima uang dri Yayasan Pondok Kasih. Pak Husyn masih sering diundang oleh Yayasan Pondok Kasih yang bermarkas di Jalan Kendang Sari ini. Biasanya Pak Husyn diaundang untuk mengikuti misa. Di

sana

Pak Husyn mengaku cuma merokok sambil duduk-duduk. “Mereka semua nyanyi-nyanyi,” jelas Pak Husyn. Mereka memang mendekati Pak Husyn untuk bisa mendekati warga di situ. Sebab Pak Husyn memang seorang public figure yang sangat disegani. Tiap Rabu Pak Husyn pergi ke gedung Go Skate untuk menerima sembako. Para pemulung yang ikut ke

sana

malah jualan, padahal dilarang, sementara para misionaris mengadakan misa. “Lha wong saya ga minta kok, mereka yang kasih. Ya saya terima. Tapi itu tidak akan mengubah keyakinan saya,” tegas Pak Husyn. Pak Husyn juga dijadikan Kepala Keamanan di Gelora Pancasila, setiap kali para misionaris tersebut mengadakan misa. Tiap kali jaga dibayar Rp. 70 ribu. Di

sana

Pak Husyn dan security yang lain diberi training oleh Polda. Dan yang Muslim cuma Pak Husyn. Di Gelora Pancasila Pak Husyn sempat bertemu dengan Gus Sholeh, seorang Kyai dari Krembangan. Rupanya Gus Sholeh ini kenal baik dengan Ibu Hari Ananda dari Yayasan Pondok Kasih.

          Di kampungnya, Pak Husyn berinisiatif mengadakan Pengajian Tombo Ati. “Katanya orang Muslim tapi kok ga pernah beribadah. Akhirnya saya adakan pengajian Tombo Ati ini. Saya namakan Tombo Ati karena saya berharap pengajian ini bisa sembuhkan orang-orang yang sakit,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa Tombo Ati dipilih sebagai nama pengajian yang jamaahnya mencapai lebih dari 80 orang ini.

          Karena keaktifan Pak Husyn meminta pertolongan lembaga, perusahaan serta instansi yang ada di

Surabaya

, setiap ada PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) semacam Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, dan peringatan 1 Muharrom warga di

sana

tidak pernah mengeluarkan biaya. Semuanya sudah ditanggung oleh lembaga-lembaga Islam, terutama PPAS Hidayatulah dan perusahaan yang peduli terhadap orang-orang lemah ini, seperti Perusahaan Peti Kemas. Dalam menjaga harta dalam bentuk apapun yang dititipkan kepadanya, Pak Husyn sangat amanah. Beliau memang meminta tolong kepada banyak pihak, namun semua hasil meminta-minta itu Pak Husyn kembalikan kepada warga. Kalau ada sisa, baru dia ambil untuk diri dan keluarganya. “Saya harus takut kepada ALLOH, sebab dosa-dosa saya sudah terlalu banyak,” jelas Pak Husyn.

Selain peduli pada kesejahteraan warganya yang pemulung, kini Pak Husyn juga sudah mulai melakukan pendekatan kepada orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. Pak Husyn ingin merengkuh orang-orang ini.

          Harapan Pak Husyn : anak-anak pemulung harus berpendidikan, ngaji dsb. Jangan jadi pemulung dan pengemis. PPAS Hidayatullah tiap bulan menyantuni 40 anak @ 25 ribu.

          Pemerintah jarang sekali kasih bantuan kecuali Raskin (beras miskin) yg dijual Rp.1000/kg. Pak Gandhi, dari Dinas Sosial Pemkot Surabaya pernah berkunjung ke perkampungan pemulung. Namun sampai saat ini tidak ada bantuan riil dari mereka kecuali Raskin dan penyemprotan demam berdarah yang harus menunggu jatuhnya korban jiwa. “Saya juga manusia. Saya punya KTP dan KSK. Kalau bapak betul-betul pejabat pemerintah, tolong sampaikan ke pemerintah tingkat atas, jangan gusur orang-orang miskin seperti kami ini. Jangan janji-janji thok,” tuntut Pak Husyn kepada pejabat pemeirntah tersebut. Isu penggusuran akhir-akhir ini memang menjadi isu yang sensitive. Pemkot seringkali mengundang para pegiat social termasuk dari PPAS Hidayatullah untuk mencari solusi terhadap masalah ini. Namun dalam implementasinya Pemkot tidak mau melibatkan para pegiat social ini.   

          Warga di pemukiman pemulung Rangkah tidak memiliki kamar mandi. Maka dibangunlah kamar mandi umum yang bisa dipakai oleh seluruh warga. Bu Mustika, istri Pak Husyn, menjadi pengurus kamar mandi umum tersebut. Dulu, sebelum ada bantuan dari Hidayatullah, mereka tinggal di atas got. Ketika berkunjung ke rumahnya yang berukuran tidak lebih dari 3×4 meter, sebuah lukisan Sunan Kalijaga terpampang di dinding rumahnya. “Saya suka Sunan Kalijaga. Dia mantan pencuri yang sudah bertobat,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa suka Sunan Kalijaga. Pak Husyn rupanya mengidentikkan sosoknya dengan sosok Sunan Kalijaga yang seorang mantan pencuri yang bertobat serta sangat amanah menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang. Semoga Pak Husyn bisa menjadi “Sunan Kalijaga” bagi warga pemulung Rangkah Gang Makam.

Ketika berkunjung ke rumahnya yang berukuran tidak lebih dari 3×4 meter, sebuah lukisan Sunan Kalijaga terpampang di dinding rumahnya. “Saya suka Sunan Kalijaga. Dia mantan pencuri yang sudah bertobat,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa suka Sunan Kalijaga. Pak Husyn rupanya mengidentikkan sosoknya dengan sosok Sunan Kalijaga yang seorang mantan pencuri yang bertobat serta sangat amanah menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang. Semoga Pak Husyn bisa menjadi “Sunan Kalijaga” bagi warga pemulung Rangkah Gang Makam. Amiin.

  Surabaya, malam penuh bintang:)