“SUNAN KALIJAGA” DARI GANG MAKAM
Ketika memasuki kawasan padat penduduk tersebut, di kanan-kiri terdapat batu nisan berjejer. Tidak banyak lampu yang menerangi jalan, namun jika kita terus masuk ke dalam, maka terlihat rumah-rumah berdinding tripleks di pinggir makam, memberikan sinyal bahwa yang berdiam di situ bukan hanya orang yang sudah meninggal. Di
sana
tampak sebuah realitas social yang selalu menjadi dilema Pemerintah Kota kaitannya dengan
tata ruang
kota
yang indah dan kesejahteraan warganya, serta PR besar bagi umat Islam, untuk bisa menyelamatkan aqidah umat yang tergadaikan karena himpitan ekonomi.
Seorang pria tua berwajah keras menyapa ramah, mempersilahkan kami meninjau lokasi. Dialah Pak Husyn, koordinator dan pembina pemulung sekaligus Ketua RT di pemukiman yang statusnya belum jelas tersebut. Pria yang pernah menjadi “kepala suku” preman ini berasal dari Bangkalan, Madura. Sudah 40 tahun tinggal di
Surabaya
, mulai umur 12 tahun sudah merantau. Sempat Sekolah Rakyat, terakhir kelas 4, tidak sampai lulus sebab tidak ada biaya. Pak Husyn lalu Ikut orang Tulungagung, jadi anak angkat. Kedua orangtua angkatnya penderita kusta, berprofesi sebagai peminta-minta dan pemulung. Dijadikan anak angkat karena sama-sama merasa senasib sepenanggungan. Sama-sama mbambung (jadi gelandangan, red), tidur di atas makan
China
dengan mendirikan tenda-tenda di atasnya.
Pada tahun 1980-an Pak Husyn sempat terlibat kenakalan remaja dengan menjadi anggota kelompok remaja nakal dan sering membuat kerusuhan. Hal ini terjadi begitu sang ibu yang sangat disayanginya meninggal. “Saat akan meninggal, airmata ibu angkat saya jatuh di bahu saya,” kata Pak Husyn dengan agak terbata. Ibu angkatnya sempat berpesan : “Kamu harus mengurusi orang-orang miskin.” Setelah ibu angkat saya meninggal, ayah angkat saya meninggalkan saya, tidak sanggup mengurusi saya lagi.
Selama 4 tahun lebih menjadi anggota kelompok Dahuri (artinya teman, red) , yang pada era 1980-an terkenal dengan tindakan kriminalitasnya, Pak Husyn sudah berkali-kali keluar masuk penjara, bahkan sempat merasakan sejuknya udara di Nusa Kambangan selama 9,5 tahun. Diberikan remisi karena berkelakuan baik, sering bantu petugas LP mengatur ketertiban. Sama seperti di Dahuri, di LP Nusa Kambangan Pak Husyn juga didapuk jadi “kepala suku”. Saat itu Pak Husyn masih menjadikan kuburan sebagai tempat melepaskan lelah. Kali ini dia bersama teman-temannya pindah ke makam tembok dekat Pasar Turi. Aktivitas kejahatan kelompok yang mayoritas anggotanya mantan napi ini biasanya nyopet dan nodong yang karena intensitasnya tinggi, maka mereka terpaksa dimasukkan ke penjara di Nusa Kambangan.
Tahun 1993, keluar dari LP Nusa Kambangan dan langsung menikah dengan wanita asal Gresik. Empat tahun kemudian bercerai lalu menikah lagi tahun 1997. Dari hasil 2 pernikahannya pak Husyn mendapat 4 anak yang kesemuanya perempuan. Satu peristiwa yang membuatnya harus kembali berurusan dengan pihak penjara adalah saat Pak Husyn mencoba menyelamatkan menantunya yang akan dianiaya oleh sekawanan orang mabuk. Saat melakukan pembelaan terhadap menantunya tersebut, clurit Pak Husyn mengenai leher salah satu orang mabuk tersebut dan membuatnya cacat seumur hidup. Namun karena Pak Husyn di pihak yang benar dan saat itu ada saksi yang meringankan serta ada Surat Kuasa yang secara garis besar isinya Pak Husyn dan menantunya harus sadar, tidak mengulangi perbuatan seperti itu lagi dan perbuatan itu cuma untuk membela diri. Kali ini Pak Husyn di masukkan ke “Hotel Prodeo” Medaeng Sidoarjo. Selama berada di
sana
Pak Husyn sering sholat Hajat agar cepat keluar. Keinginan untuk bertobat pun begitu membuncah Akhirnya keinginannya tercapai. Pak Husyn hanya 7 bulan bertahan di situ. Ini juga tidak lepas dari pertolongan ALLOH (di Rutan Medaeng sempat terjadi kebakaran sehingga para napinya dibebaskan). Kesungguhan untuk bertobat diabadikan oleh Pak Husyn dalam sebuah tato yang dia buat di Rutan Medaeng. Di tato tersebut terdapat tulisan : “Demi anak dan istriku, aku ingin bertobat.”
Sejak remaja Pak Husyn sudah berbakat menjadi pemimpin. Hal ini dikarenakan dedikasinya yang besar terhadap kelompok yang dipimpinnya, ditambah dengan sifat berani yang sangat menonjol. Bahkan sejak tahun 1987 sampai sekarang dia masih dipercaya menjadi koordinator sekaligus pembina pemulung. Mulai tahun 2006 ini dia juga menjadi Ketua RT setelah warga memintanya menggantikan Ketua RT sebelumnya sebab dianggap lebih jujur , berdedikasi tinggi serta lebih memahami keinginan warga. Pak Suwaji ditunjuk sebagai Wakil Pak Husyn. Selama menjabat Ketua RT, Pak Husyn tidak pernah menarik iuran dari anggotanya. Kegiatan kemasyarakatan yang diadakan lebih ditujukan agar ikatan emosional lebih erat (guyub). Ketua RT sebelum Pak Husyn ternyata tidak disukai warga karena bermasalah : main dukun dan tidak pernah mau beberkan laporan keuangan secara transparan, tahu-tahu uang kas habis. Lalu Pak Husyn protes dan dibalas dengan tindakan penggembosan, yakni memobilisasi para pemulung untuk mendemo Pak Husyn.
Sebagai seorang pemulung yang diserahi amanah mengurusi “kaumnya”, Pak Husyn selalu mendahulukan kepentingan warganya yang pemulung daripada yang non-pemulung. Kebijakannya ini menyulut kemarahan dari warga desa sebelah yang non-pemulung. Mekanisme penyaluran bantuan yang datang memang harus melalui Pak Husyn dulu, baru kemudian dibagi-bagikan kepada warga. Dan ada sebagian bantuan yang Pak Husyn usahakan sendiri dengan meminta ke lembaga-lembaga donor. Ini pun larinya lagi-lagi ke Pak Husyn. Pria kelahiran tahun 1954 yang kesehariannya bekerja sebagai pemungut puntung rokok ini memang figur yang amat disegani oleh warganya. “Ini semua barokah ALLOH,” terang Pak Husyn berkali-kali.
Ada
satu yayasan Kristen yakni Yayasan Pondok Kasih yang bermarkas di Kendang Sari yang rajin memberikan sumbangan ke warga pemulung. Ibu Hari Ananda, salah satu pengurus yayasan itu melakukan pendekatan yang sangat intensif kepada sang “kepala suku”. Sebelumnya mereka memang sudah tahu kalau orang yang paling berpengaruh di
sana
adalah Pak Husyn. Mereka berharap bisa “memegang” Pak Husyn untuk memudahkan memobilisasi warga pemulung Rangkah. Melihat gelagat tidak baik ini, Pak Husyn sebelumnya sudah mengingatkan Ibu Hari Ananda: “Maaf bu, bendera kami hijau (Islam). Kalau bendera ibu putih (Kristen), ya maaf saja bu, kami tidak bisa,” tegasnya.
Para
misionaris itu juga “dikerjai” oleh Pak Husyn. Mereka diminta membayar rekening listrik seluruh warga selama 3 bulan. Setelah itu, para misionaris itu ingin menyewakan rumah untuk Pak Husyn. Namun Pak Husyn menolak dengan alasan tidak patut kiranya dia bisa hidup enak sedang warganya sengsara. “Saya tidak akan tidur di lantai sebelum warga saya tidur di lantai,” tekad Pak Husyn.
Yayasan Pondok Kasih milik Nasrani terus mengadakan baksos tiap minggu selama 1 tahun (tahun 2000). Pendetanya bahkan langsung turun ke lapangan. Tiap warga dikasih Rp.100 ribu. Yayasan ini melibatkan 7 negara donor : AS,
Canada
,
Australia
, Singapura, Turki, Soviet, dan Jepang. Dalam segala aktivitasnya, para misionaris ini tidak pernah berceramah, cuma ngobrol-ngobrol bareng warga. Sebuah pendekatan yang sangat efektif. Yayasan Pondok Kasih juga memberi bantuan 50 sak semen untuk pembangunan mushola yang merupakan satu-satunya mushola di wilayah tersebut. Tidak besar memang, namun cukup untuk menampung jamaah di situ. Lalu hubungan antara warga desa tersebut dengan Yayasan Pondok Kasih terputus karena ketahuan salah satu pendetanya yang berasal dari
Manado
, Yustumiwa, korupsi dana MCK Rp. 4.200.000,-. Pak Husyn berkata pada pendeta tersebut : “saya ga takut sama sampeyan. Sampeyan pendeta kok korupsi. Sampeyan ga bagus jadi pendeta. Tak laporkan polisi sampeyan,”. Meski hubungan mereka sudah putus, Pak Husyn sampai sekarang masih sering terima uang dri Yayasan Pondok Kasih. Pak Husyn masih sering diundang oleh Yayasan Pondok Kasih yang bermarkas di Jalan Kendang Sari ini. Biasanya Pak Husyn diaundang untuk mengikuti misa. Di
sana
Pak Husyn mengaku cuma merokok sambil duduk-duduk. “Mereka semua nyanyi-nyanyi,” jelas Pak Husyn. Mereka memang mendekati Pak Husyn untuk bisa mendekati warga di situ. Sebab Pak Husyn memang seorang public figure yang sangat disegani. Tiap Rabu Pak Husyn pergi ke gedung Go Skate untuk menerima sembako. Para pemulung yang ikut ke
sana
malah jualan, padahal dilarang, sementara para misionaris mengadakan misa. “Lha wong saya ga minta kok, mereka yang kasih. Ya saya terima. Tapi itu tidak akan mengubah keyakinan saya,” tegas Pak Husyn. Pak Husyn juga dijadikan Kepala Keamanan di Gelora Pancasila, setiap kali para misionaris tersebut mengadakan misa. Tiap kali jaga dibayar Rp. 70 ribu. Di
sana
Pak Husyn dan security yang lain diberi training oleh Polda. Dan yang Muslim cuma Pak Husyn. Di Gelora Pancasila Pak Husyn sempat bertemu dengan Gus Sholeh, seorang Kyai dari Krembangan. Rupanya Gus Sholeh ini kenal baik dengan Ibu Hari Ananda dari Yayasan Pondok Kasih.
Di kampungnya, Pak Husyn berinisiatif mengadakan Pengajian Tombo Ati. “Katanya orang Muslim tapi kok ga pernah beribadah. Akhirnya saya adakan pengajian Tombo Ati ini. Saya namakan Tombo Ati karena saya berharap pengajian ini bisa sembuhkan orang-orang yang sakit,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa Tombo Ati dipilih sebagai nama pengajian yang jamaahnya mencapai lebih dari 80 orang ini.
Karena keaktifan Pak Husyn meminta pertolongan lembaga, perusahaan serta instansi yang ada di
Surabaya
, setiap ada PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) semacam Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, dan peringatan 1 Muharrom warga di
sana
tidak pernah mengeluarkan biaya. Semuanya sudah ditanggung oleh lembaga-lembaga Islam, terutama PPAS Hidayatulah dan perusahaan yang peduli terhadap orang-orang lemah ini, seperti Perusahaan Peti Kemas. Dalam menjaga harta dalam bentuk apapun yang dititipkan kepadanya, Pak Husyn sangat amanah. Beliau memang meminta tolong kepada banyak pihak, namun semua hasil meminta-minta itu Pak Husyn kembalikan kepada warga. Kalau ada sisa, baru dia ambil untuk diri dan keluarganya. “Saya harus takut kepada ALLOH, sebab dosa-dosa saya sudah terlalu banyak,” jelas Pak Husyn.
Selain peduli pada kesejahteraan warganya yang pemulung, kini Pak Husyn juga sudah mulai melakukan pendekatan kepada orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. Pak Husyn ingin merengkuh orang-orang ini.
Harapan Pak Husyn : anak-anak pemulung harus berpendidikan, ngaji dsb. Jangan jadi pemulung dan pengemis. PPAS Hidayatullah tiap bulan menyantuni 40 anak @ 25 ribu.
Pemerintah jarang sekali kasih bantuan kecuali Raskin (beras miskin) yg dijual Rp.1000/kg. Pak Gandhi, dari Dinas Sosial Pemkot Surabaya pernah berkunjung ke perkampungan pemulung. Namun sampai saat ini tidak ada bantuan riil dari mereka kecuali Raskin dan penyemprotan demam berdarah yang harus menunggu jatuhnya korban jiwa. “Saya juga manusia. Saya punya KTP dan KSK. Kalau bapak betul-betul pejabat pemerintah, tolong sampaikan ke pemerintah tingkat atas, jangan gusur orang-orang miskin seperti kami ini. Jangan janji-janji thok,” tuntut Pak Husyn kepada pejabat pemeirntah tersebut. Isu penggusuran akhir-akhir ini memang menjadi isu yang sensitive. Pemkot seringkali mengundang para pegiat social termasuk dari PPAS Hidayatullah untuk mencari solusi terhadap masalah ini. Namun dalam implementasinya Pemkot tidak mau melibatkan para pegiat social ini.
Warga di pemukiman pemulung Rangkah tidak memiliki kamar mandi. Maka dibangunlah kamar mandi umum yang bisa dipakai oleh seluruh warga. Bu Mustika, istri Pak Husyn, menjadi pengurus kamar mandi umum tersebut. Dulu, sebelum ada bantuan dari Hidayatullah, mereka tinggal di atas got. Ketika berkunjung ke rumahnya yang berukuran tidak lebih dari 3×4 meter, sebuah lukisan Sunan Kalijaga terpampang di dinding rumahnya. “Saya suka Sunan Kalijaga. Dia mantan pencuri yang sudah bertobat,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa suka Sunan Kalijaga. Pak Husyn rupanya mengidentikkan sosoknya dengan sosok Sunan Kalijaga yang seorang mantan pencuri yang bertobat serta sangat amanah menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang. Semoga Pak Husyn bisa menjadi “Sunan Kalijaga” bagi warga pemulung Rangkah Gang Makam.
Ketika berkunjung ke rumahnya yang berukuran tidak lebih dari 3×4 meter, sebuah lukisan Sunan Kalijaga terpampang di dinding rumahnya. “Saya suka Sunan Kalijaga. Dia mantan pencuri yang sudah bertobat,” jelas Pak Husyn ketika ditanya kenapa suka Sunan Kalijaga. Pak Husyn rupanya mengidentikkan sosoknya dengan sosok Sunan Kalijaga yang seorang mantan pencuri yang bertobat serta sangat amanah menjaga tongkat gurunya, Sunan Bonang. Semoga Pak Husyn bisa menjadi “Sunan Kalijaga” bagi warga pemulung Rangkah Gang Makam. Amiin.
Surabaya, malam penuh bintang:)