Archive for June, 2006

ALL ABOUT LOVE

Monday, June 26th, 2006

Assalamu alaikum …bagaimana kabar ustadz

Alhamdulillah baik,

Kebanyakan karya-karya kang abik bertemakan cinta, bisa dijelaskan?

Terus terang itu terinspirasi oleh surat yusuf dalam Al-Qur’an, dalam surat tersebut terdapat kisah nabi yusuf as. Dan dalam kisah beliau terdapat kisah-kisah cinta, tidak sekedar cerita cinta antara lelaki dan perempuan, tetapi juga ada kisah cinta antara ayah dan anaknya, yakni cinta Nabi Ya’kub kepada Yusuf dan saudaranya. Cinta yusuf kepada saudara-saudaranya, walaupun Yusuf telah dibuang oleh saudara-saudaranya, namun Yusuf tetap memaafkan saudara-saudaranya. Cinta penguasa kepada rakyatnya, yakni cinta Yusuf kepada rakyat mesir waktu itu. Dan kalau kita lihat ayat ketiga dalam surat tersebut, kita akan melihat bahwa tema cinta merupakan pilihan yang terbaik, dan jika kita mampu meletakkan tema cinta dalam kerangka syariat dan da’wah, tema cinta menjadi cerita yang terbaik, “Kami akan kisahkan kepadamu (Muhammad) sebaik-baik kisah (yusuf : 3)” dan dalam cerita itu terkandung kisah-kisah cinta. Itulah latar belakang mengapa saya memilih tema-tema cinta.
Dan kedua, tema cinta merupakan tema yang tidak lekang oleh zaman. Dari dulu hingga sekarang, tema cinta adalah tema yang selalu ditulis. Memang kisahnya tidak teramat baru, tetapi masalah bahasa. Dari zaman-ke zaman, bahasa itu selalu berbeda. Dulu juga terdapat kisah-kisah cinta yang menggetarkan, pada zaman sahabat dan salaf, hal itu dapat kita lihat dalam kitab roudlotul muhibbin yang ditulis oleh ibnul qoyyim Al-jauzi. Dan saya mencoba menghadirkan kisah cinta yang sesuai dengan syariat yang bisa memenuhi tujuan penulisan sastra. Dan tujuan penulisan sastra menurut syaikh ramadhan Al-buthi adalah untuk melunakkan hati.

Lalu tujuan kang abik dalam penulisan tema-tema cinta itu apa?
Maksud saya, jelas ingin membawa pembaca untuk mengetahui tentang cinta yang sebenar-benarnya. Jika kita disana melihat sebuah piramida cinta, maka disana ada cinta tertinggi kepada Allah, Rosulullah dan seterusnya. Kalaupun toh ada kisah cinta seorang laki-laki kepada perempuan, maka semestinya cinta itu tetap suci, sesuai rambu-rambu syariat. Jangan sampai cinta itu berubah menjadi syahwat. Karena ada perbedaan antara cinta dengan syahwat. Kalau cinta pasti suci, baik dan mendatangkan pahala, tapi kadang orang merusak cinta menjadi syahwat
Kang abik kan dari fakultas ushuluddin jurusan hadis, kok karya-karyanya berupa sastra:
Mungkin saya termasuk orang yang meneladani sosok abdullah bin mubarok ra. Seorang tabi’in yang terkenal sebagai muhaddits (ahli hadits) juga seorang sastrawan, dan seorang mujahid. tetapi di karya sastra sendiri saya belajar secara otodidak. Karena sejak kecil saya suka kepada sastra. Ketika pulang ke Indonesia, banyak teman-teman yang bertanya “kamu mendalami hadits kok berubah menjadi sastra ? “memang haram?” saya jawab begitu. Kan banyak contoh-contoh ulama islam yang menjadi penulis juga berangkat dari karya sastra. Seperti syeikh yusuf al qordlowi, sebelum menjadi seorang penulis seperti sekarang, pertama kali juga berangkat dari sastra, menulis drama, puisi. Syaikh ahmad al ghozali juga berangkat dari sastra. Imam syafi’I sebelum menjadi ahli fiqh, beliau seorang penyair. Demikian pula Hamka. Tapi memang suatu saat juga saya akan menulis karya-karya nonfiksi. Sudah ada buku hasil penelitian tentang pesantren yang kami tulis bersama dengan teman-teman.

Lha antum sendiri memaknai cinta itu seperti apa?
Saya memaknai cinta, seperti yang dirasakan semua ummat manusia. Sebetulnya semua manusia merasakan cinta. Dan memang menurut ibnul qoyyim cinta kalau didefinisakan itu susah. Masing-masing orang itu punya arti sendiri tentang cinta. Namun masing-masing arti itu saling melengkapi. Khalil Gibran mengatakan cinta itu bunga yang bermekaran di segala musim. Orang yang lain mungkin mengatakan cinta adalah pengorbanan dan lain-lain. Tapi sebenarnya, semua adalah bagian dari definisi-definisi cinta, tapi itu belum seutuhnya. Menurut Ibnul Qoyyim, kadang cinta bermakna al lutf-kelembutan. Terkadang cinta satu makna dengan rahmah-kasih sayang. Kadang cinta bermakna tadhiyah –pengorbanan. Kadang cinta dekat dengan itsar-mendahulukan saudara walaupun ia juga membutuhkan.
Hanya perlu digaris bawahi bahwa cinta berbeda dengan syahwat. Cinta itu mesti baik, suci dan mendapatkan ridlo Allah. Kalau syahwat itu adalah cinta yang ternoda. Bahkan dalam islam, cinta itu sangat diagungkan. Bahkan dalam shohih bukhori, Rosulullah menjelaskan cinta dapat menjadikan syafaat orang untuk masuk ke surga. Kalau orang mencintai dengan benar, itu dapat menjadi syafaat. Ada seorang arobi yang bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, ya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam kapan hari kiamat? Kemudian rosulullah bertanyanya “apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lalu si badui itu menjawab “aku tidak menyiapkan sesuatu untuk menghadapi kiamat kecuali hanya cinta Allah dan RosulNya” lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam menjawab fainnaka ma’a man ahbabta sesungguhnya engkau kelak di hari kiamat berada bersama orang yang engkau cintai” Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits ini, mengatakan “Aku belum mampu beramal seperti Rosulullah, aku juga belum beramal seperti Abu Bakar, Umar, tapi aku mencintai mereka”. Inilah jika kita mencintai dengan benar, ini bukan syahwat tapi inilah cinta. Dan saya belum menemukan hadits yang mampu membuat saya senang sebagaimana senang saya terhadap hadits ini.

Omong-omong bagaimana dengan kisah cinta kang abik sendiri?
Kisah cinta yang seperti apa ?

Dengan istri misalnya!
Alhamdulillah ana dengan istri bertemu secara syar’I, tidak ada pacaran. Bahkan prosesnya sangat singkat. Dari proses bertemu sampai menikah hanya satu bulan. Sebenarnya kami sudah siap dalam satu minggu, hanya keluarga yang belum siap karena harus ada persiapan-persiapan. Alhamdulillah, ternyata itu pertemuan yang sangat berkah. Menurut pengalaman saya sendiri, untuk tahu kualitas calon istrri kita tidak harus dengan pacaran, kita bisa menimba informasi dari banyak pihak yang tahu persis tentang calon istri kita dan terkadang lebih valid, lebih jujur daripada kalau kiga pacaran. Dan alhamdulillah, bagi saya istri saya adalah orang yang paling baik di atas muka bumi ini, he..he..he.
Yang jelas, bagi saya standar saya bukan kecantikan, bukan kekayaan, juga bukan popularitas. Standar saya cuma satu, Din-agama. Dan din itu sendiri bukan sesuatu yang harus muluk, seperti calon istri saya haruslah seorang aktivis yang aktivitas da’wahnya paling hebat. Saya hanya melihat rekomendasi orang yang sangat tahu tentang dia, saya melihat keluarganya seperti apa, buah jatuh tak jauh dari pohon. Lingkungannya dekat masjid, kalau dia dekat dengan masjid dan keluarganya banyak yang kemasjid, ya sudah, silahkan.
Cinta tumbuh setelah menikah, jika cinta tumbuh sebelum menikah dan belum menjadi yang berhak maka itu itu adalah syahwat. Seperti yang dikatakan Fahri kepada Nurul dalam novel ayat-ayat cinta bahwa cinta yang sejati adalah cinta dengan pasangan sah kita, selain itu adalah cinta yang semu dan tidak perlu di agung-agungkan

Pesan antum untuk pembaca?
Mari kita membangun piramida cinta kita dengan benar, letakkan yang paling agung untuk Allah, lalu untuk RosulNya, lalu untuk orang-orang yang sholih, lalu untuk keluarga dan diri kita. Jangan sampai cinta yang mengantarkan kita kesurga ini dinistakan begitu saja. Dalam hadits qudsi Allah berfirman pada hari kiamat “Dimana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKu, pada hari ini akan Aku lindungi mereka pada hari tidak ada perlindungan kecuali perlindunganKu” mari kita arahkan energi cinta kita untuk berprestasi, kalau kita cinta kepada Allah, insyaallah kita akan mudah berprestasi. Mengapa para sahabat memiliki prestasi yang demikian besar dalam penyebaran islam ? karena cintanya yang begitu besar kepada Allah

INTERNATIONAL INSTITUTE OF ISLAMIC THOUGHT AND CIVILIZATION (ISTAC)

Tuesday, June 13th, 2006

ISTAC, IIUM is a research and postgraduate institution offering degrees in Islamic thought, Islamic civilization and Islamic science at the master’s and doctoral levels. Set amidst a wooded and serene residential area in Kuala Lumpur, its present campus consists of a main administration and academic building, a library, a mosque and a conference hall. Its buildings are a strikingly picturesque synthesis of Islamic, Western and Malay architectural styles.
ACADEMIC PROGRAM
The academic program at ISTAC emphasizes the study of all aspects of Islamic thought and civilization, the major world religions and the study of the present day modern, secular world
The international character of the academic staff as well as the student population reflects the institution’s philosophy. The graduate program is intellectually, spiritually and humanly- linked to the sources of Islamic revelation and to fourteen centuries of Islamic scholarship. It seeks to preserve traditional elements of Muslim education with its intimate master-disciple relation.
The teachers and their students come from various academic backgrounds—law, theology, philosophy, political science, library science, psychology, medicine, biology, dentistry, architecture, economics, history, education, business management, literature, engineering and Islamic studies. While the medium of instruction at ISTAC is English, proficiency in the Arabic language is compulsory for all degree-seeking students
ISTAC’s graduate programme emphasizes three specific areas which are not rigidly compartmentalized. These are Islamic Thought, consisting of the major fields of theology (‘ilm al-kalam), philosophy (falsafah-hikmah), and metaphysics (tasawwuf-‘irfan); Islamic Science, its philosophy, methodology, and history; and finally, Islamic Civilization, which encompasses a wide field of study including that of culture, history, and the human and social sciences. At this initial stage courses in the fields of culture, history, politics, economics, law, psychology and education will be offered including that of major Islamic languages. Apart from Arabic, which is compulsory, ISTAC also teaches Persian, Greek, and Latin.
COMPULSORY COURSES
The Religion of Islam
The History and Methodology of the Qura’anic Sciences
The History and Methodology of the Sciences of Hadith
Formal Logic (al-mantiq al-suri)
ISLAMIC THOUGHT
Theology, Philosophy, Sufism
Primary Sources of Islamic Thought
A Survey of Islamic Thought
Topics in Islamic Thought
Early Islamic Theology
Later Islamic Theology
Islamic Theological Schools and Sects (al-firaq)
Readings in Islamic Theology
Early Islamic Philosophy
Later Islamic Philosophy
Readings in Islamic Philosophy
Early Sufism
Later Sufism
Major Schools of Sufism
Readings in Sufi Literature
Readings in Malay Metaphysical Literature
Islamization of Contemporary Knowledge
Major Muslim Thinkers
History of Greek Thought and the Rise of Scholasticism
History of Medieval and Early Modern Western Thought
History of Modern Western Thought
Contemporary Western Thought
Hermeneutics
Post-Modernism
Analytic Philosophy: Introducing Language, Mind and Knowledge
ISLAMIC SCIENCE
Philosophy, Methodology, History
The Qur’anic Foundation
History of Science
History of Islamic Science 1, 11, 111
The Islamic Philosophy of Science
Philosophy and Methodology of the Islamic Sciences
Readings in Islamic Science
Logic and Methodology
Philosophy and Methodology of Islamic Mathematical and Physical Science
Philosophy and Methodology of Islamic Medical and Allied Health Sciences
Islamic Medicine and Allied Life Sciences and Disciplines from the Phophetic Age to al-Biruni (1-443/622-1051)
History of Islamic Medicine
Islamic Medicine and Leading Practitioners and Sages during the Ayyubids and Mamluk Period
Islamic Medicine, Pharmacy and Materia Medica in Andalus (8th century to 1492 C.E.)
Practical Codes and Deontology in the Healing Arts
On Remedial Agents, Drugs and Pharmaceutical Recipes
Bibliographers and Lexicons-Catalogues on the History of Medicine and Pharmacy
Muslim Influence on Scholarship and Learning in Medieval Europe
The Philosophy of Modern Western Science and Technology
Philosophy and Methodology of Life Sciences
The Theory of Evolution
ISLAMIC CIVILIZATION
Culture, History, Human & Social Sciences
The Roots of Islamic Culture
A Survey of Islamic Sources
Muslim Historiography
Studies in Historical Sources
Islamic Theories and Philosophies of History
Islamic History 1 & 11
Intellectual History of India
Islam in Malay History and Culture
A History of Western Civilization
Principles and Methods of Islamic Education
Special Issues in Islamic Education
Philosophy of Western Education1, 11 & 111
Islamic Moral Philosophy: Religious Ethics
Islamic Moral Philosophy: Philosophical Ethics
Topics in Islamic Practical Philosophy
Contributions of Early Muslims Thinkers to Philosophy
Islamic Counseling and Psychotherapy
The History, Philosophy and Methodology of Western Psychology1 & 11
Topics in Contemporary Psychology
History of Islamic Jurisprudence
Legal Methodology in Islamic Jurisprudence
Philosophy of Islamic Law
Islamic Constitutional Law
Islamic Family Law
The Islamic Judicial System
Readings in Islamic Legal Texts
History of Islamic Administration 1 & 11
Topics in Islamic Political Institutions
Modern European Political Thought
Middle Eastern Politics 1 & 11: Contemporary Islamic Revival
Institutions in Islamic Civilization
Sufi Social Institutions
Survey of Islamic Economics
History of Islamic Economic Thought 1 & 2
Readings in Islamic Economic Thought
Selected Topics in Islamic Economics
Selected Topics in Socio-Economic History of Muslim in the 20th Century
History of Islamic Economic Institutions
Comparative History of Business and Finance
The Islamic Financial Institution: A Comparative Approach to Development in the Muslim World
Socio-Economic Development in the Muslim World
Socio-Economic Development in Southeast Asia
Poverty Alleviation in the World of Islam
The Islamic Philosophy of Art
History of Islamic Art 1 & 11
Islamic Art
Musical Theory and the Philosophy of Music
Pre-Islamic Poetry
History of Islamic Arabic Literature
History of Islamic Persian Literature
Islamic Arabic Literature
History of Turkish Literature
Topics in Muslim Literature in Translation

LANGUAGES
Elementary Arabic 1, II, 111
Intermediate Arabic I, 11, 111
High Intermediate Arabic I, II, III
Advanced Arabic 1, 11
Readings in Advanced Arabic Texts
Elementary Persian 1, 11
Intermediate Persian 1, II
Elementary Turkish
Greek 1, 11, 111, 1V
Latin 1, 11, 111
German for Reading 1, 11, 111
Advanced Writing (English)
Thesis Writing (English)
ACADEMIC
Professors
Professor Dr. Malik Badri
M.A. (Beirut), Ph.D. (Leicester)
(Psychology)
ACTING DEAN
Assoc. Professor Dr. Mohamed Ajmal Abdul Razak Al-Aidrus
M.A. (Indiana), Ph.D. (Ball State)
(American Literature; World Literature; Existential and Archetypal Criticisms)
DEPUTY DEAN OF RESEARCH & PUBLICATIONS
Dr Che Amnah Bahari
M.A. (IIUM) Ph.D. (ISTAC)
(Usuluddin)
DEPUTY DEAN OF ISTAC, IIUM
Professor Dr. Cemil Akdogan
M.Sc., Ph.D. (Madison)
(History of Science)
Professor Dr. Ahmad Kazemi Moussavi
M.A., Ph.D. (McGill)
(Islamic Law)
Professor Dr. Hassan El-Nagar
M.A. (Columbus), Ph.D. (Madison)
(Comparative Literature & Arabic Literature)
Professor Dr. Paul Lettinck
M.A., Ph.D. (Amsterdam)
(History of Islamic Science & Philosophy; Greek; Latin)
Professor Dr. Amer Al-Roubaie
M.A. (New Brunswick), Ph.D. (McGill)
(Economics)
Professor Dr. Ala’ Eddin Kharofa
B.A., M.A., Ph.D. (al-Azhar), LL.B. (Baghdad),
(Shariah, Comparative Law; Common Law)
Professor Dr. Muddathir Abdel Rahim
B.A. (London), B.A. Hons. (Nottingham), Ph.D. (Manchester)
(Economics and Social Studies (Political Science))
Professor Dr. Abdul Karim Crow
M.A., Ph.D. (McGill)
(Islamic Studies)
Professor Dr Amir H. Zekrgoo
M.F.A. (Kansas), M.F.A. (Delhi), Ph.D. (Delhi)
(Islamic Science)
Professor Dr Sabri Orman
Ph.D. (Istanbul)
(Economics)
Associate Professors
Assoc. Professor Dr. Baharuddin Ahmad
M.A., Ph.D. (Temple)
(Comparative Religion; Malay Literature)
Assoc. Professor Dr. Muhammad Ismail Marcinkowski
M.A. (Berlin), Ph.D. (ISTAC)
(Islamic History)
Distinguished Visiting Scholar
(Dr) Uthman El-Muhammady
M.A. (UM), Doctor of Letters (D. Lett) (honorary degree) (USM)
LIBRARY
The multilingual library of ISTAC is known to reputable scholars in the world as one of the largest and most authoritative on Islamic studies, comparative thought and civilization. It is unquestionably the best of its kind in the Southeast Asian region and consists of a special collection containing many rare manuscripts and books meant for scholars.
PUBLICATIONS
ISTAC has published close to 50 works in diverse areas of academic research, such as religion, psychology, Islamic science, law, philosophy, theology, history, and education, including translations of historically important manuscripts. It also publishes a scholarly bi-annual journal, Al-Shajarah. ISTAC’s books are published in English, Arabic, Persian, and Malay.

International Islamic University
ISTAC
IIUM
Jalan Gombak
53100 Kuala Lumpur
Malaysia
Tel. (603)20564447
Fax (603)20564853
E Mail
istcssa@po.jaring.my
Web
www.ortho-iium.edu.my

Informasi awal….

Friday, June 9th, 2006

"Dalam Fi Zhilalil Quran, tidak ada wasilah pembelajaran yang bisa menggantikan membaca dan menulis. Maju mundurnya sebuah negara diukur, salah satunya dari minat baca warganya".

Kata-kata penggugah kesadaran fisik dan non-fisik itu meluncur dari Habiburahman El-Shirazy, penulis novel fenomenal AYAT-AYAT CINTA yang pada malam ini, 9 Juni 2006, berkenan hadir dalam dialog yang diselengarakan oleh Pesantren Mahasiswa Mambaul Hikmah. Sejumlah mahasiswa berkumpul di Musholla Nurul Khotimah, sebelah Pesama yang digunakan sebagai tempat dialog.

"

Para

ulama zaman dulu punya kebiasaan yang biasa terkait dengan kebiasaan membaca dan menulis. Ibnu Hajar Al-Atsqolani menulis 14 jilid Fathul Bari dalam 25 tahun, Imam Bukhari menulis Shahih Bukhari dengan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lainnya demi memperoleh sumber yang valid bagi kitab haditsnya. Ibnu Jauzy mewariskan bekas cacahan pena dalam jumlah yang sangat besar," jelas penulis yang juga mengajar kitab kuning ini.”

Seorang peserta dialog bertanya : darimana tokoh Fahri ini diperoleh? Bagaimana cara ustadz mengangkat atau menciptakan tokoh Fahri ini?

Dengan senyum simpul Ustadz Habiburahman menjawab, "Jawabannya BESOK DI WTC SURABAYA, 10 JUNI JAM 10 PAGI PADA ACARA BARENG PENULIS…,". 

Durasi waktu yang hanya 1 jam dirasa tidak cukup untuk mengorek semua hal yang berkaitan dengan sastra relijius.

Tidak banyak penulis semacam Ustadz Habiburahman El-Shirazy. Dengan pengalamannyatinggal di Mesir sejak remaja, beliau mampu memnggambarkan setting negeri Mesir dengan Sungai Nil-nya nan elok dengan sangat hidup. Bukan itu saja, pembaca juga akan diajak menelusuri khazanah Islam khususnya hadits.

Wallahu’alam

MEMBACA ‘ROAD MAP’ LEWAT FILM -Sebuah tinjauan terhadap McWorld-

Friday, June 9th, 2006

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah mengubah dunia. Informasi-informasi itu sarat muatan kebudayaan yang ingin ditransfer oleh komunikator (pihak penyampai) kepada komunikan (pihak yang dituju). Sehingga terjadilah penyebaran budaya global (baca : Amerikanisasi). Media massa berperan sebagai kekuatan trend setter untuk isu-isu global, baik isu (persoalan) politik seperti terorisme, hak asasi manusia, lingkungan hidup,sampai kepada isu-isu budaya dan gaya hidup. Amerika Serikat sebagai negara maju yang menguasai teknologi informasi dapat dengan mudah mempengeruhi cara pandang bangsa lain terhadap dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, yang salah satunya adalah melalui film.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kini kemajuan teknologi informasi memiliki peran yang sangat signifikan dalam menyampaikan pesan, tapi problemnya adalah bahwa tidak semua warga dunia mampu mengikuti perkembangan kemajuan ini apalagi memanfaatkannya. Sebagian besar warga dunia malah sering menjadi objek negara-negara yang teknologi informasinya sudah maju. Yang terjadi adalah ketimpangan dalam kesempatan menyebarkan informasi dari negara-negara yang memiliki kemajuan teknologi informasi dengan negara-negara yang belum memiliki kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, hegemoni pun tidak bisa dihindari. Arus informasi yang masih didominasi negara-negara maju, terutama Amerika Serikat menyebabkan negara-negara lain, terutama negara berkembang dan terbelakang (baca : Timur) lebih banyak menjadi penerima tanpa mampu mengirimkan informasi mengenai negaranya. Bahkan kalaupun ada informasi dari negara berkembang, informasi tersebut berada dalam bingkai persepsi negara-negara maju. Akhirnya yang tampil di media internasional lebih banyak sisi negative. Inilah yang kemudian memunculkan konsepsi imperialisme budaya. Imperialisme budaya diartikan bahwa negara Barat, khususnya Amerika, melalui penyebaran infromasi tadi telah menyebarkan budaya mereka ke dalam kehidupan negara dan bangsa lain di dunia. Dari infromasi pemberitaan film, lagu-lagu, hingga gaya hidup orang Amerika. Barat menjadi trend di berbagai negara termasuk Indonesia. Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari, apa yang di Amerika menjadi trend, maka tidak lama kemudian orang-orang di Indonesia pun segera menirunya. Mulai dari model baju, model sepatu, aksesoris, potongan rambut, sampai tingkatan yang paling signifikan, yakni cara berpikir.
Menurut Althusser, tidak ada budaya yang bisa eksis tanpa ideologi, dimana ideologi ikut menyokong lahir dan berkembangnya budaya dengan kemampuannya memahami dunia. Term ideology diartikan sebagai artikulasi basis politik, ekonomi dan nilai-nilai social dalam sebuah wahana ide yang berfungsi sebagai landasan bagi sebuah system social panutan atau “ways of life”. Sebuah ideology memiliki keterkaitan erat dengan sifat system politik, pelaksanaan menjalankan kekuasaan, peran individu, sifat sisem ekonomi dan system social, serta tujuan masyarakat. Sebagai sebuah system keyakinan yang mendasar, sebuah ideology tidak hanya menggabungkan nilai-nilai dasar mesyarakat tetapi ideology sendiri menjadi nilai utama yang harus dipertahankan dan, ideology harus disebarluaskan kepada masyarakat lain.
Hollywood sebagai perusahaan manufacture terbesar dalam industri hiburan telah menjalankan perannya untuk mendorong agenda ke depan, dapat dikatakan sebagai dominasi hegemoni dunia. Gelombang baru sentiment patriotic yang tidak dipertanyakan, melihat Amerika sebagai “dunia”.
Sejak awal telah diketahui bahwa Hollywood sebagai salah satu institusi dimana dalam institusi yang bernama Hollywood ini film menjadi media yang paling powerful, film diciptakan dengan desain emosional penonton dengan tujuan untuk mengontrol pikiran mereka. Hollywood adalah institusi yang selalu beroperasi hanya untuk keuntungan, tahu benar bagaimana membuat sesuatu menjadi komoditas. Hollywood mencetak, membentuk dan menjualnya. Jika perang dapat menuliskan kembali hukum sipil dan criminal maka Hollywood yang menuliskan kembali sejarah. Dalam the age of information ini media merupakan power, dan Hollywood menjadi salah satu institusi yang tahu bagaimana memanipulasi informasi. Dalam budaya Amerika, film merupakan representasi dari kegagahan militer yang tidak dapat dipisahkan dari national self esteem (harga diri bangsa).
Dalam kaitannya dengan upaya Barat menghegemoni Timur, Edward W. Said, dalam Orientalism, mengatakan bahwa sejak zaman kuno, Timur sudah menjadi tempat yang penuh romansa, pemandangan eksotik, pengalaman-pengalaman yang mengesankan, tradisi yang mistik. Itulah yang pada awalnya mengundang orang Eropa untuk mengkaji, memahami dan mengagumi Timur. Tapi dalam perkembangannya, kajian terhadap Timur kemudian berubah menjadi upaya memahami Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dibanding dengan pengalaman manusia Eropa dan Barat secara umum.
Dari kajian itulah kemudian ditemukan juga mengenai kekayaan alam yang luar biasa. Dan itulah yang mengundang orang-orang Eropa untuk menjajah Timur yang dianggap masih polos, primitif, terbelakang dan mistis-irrasional. Ini masih diperkuat oleh keyakinan diri orang Eropa yang sangat kuat bahwa mereka adalah kaum yang secara geneologis lebih unggul dibanding Timur. Sehingga penjajahan menjadi lebih mudah dilakukan. Timur juga membantu Eropa mendefinisikan dirinya sebagai bangsa yang – berlawanan dengan Timur – unggul, sempurna, cerdas dan beradab. karena itu, orientalisme kemudian menjadi setali tiga uang dengan penjajahan.
Sejak pertengahan abad ke-20, citra Arab mengalami transformasi: “Dari stereotip yang samar-samar sebagai nomad pengendara unta, menjadi karikatur yang mencerminkan kelemahan dan kekalahan.” Contoh : film Hollywood yang selalu menggambarkan orang Arab sebagai tokoh antagonis: intrik-intrik culas, berwatak sadis, pengkhianat, mengalami kejanggalan seksual, licik, kejam, dsb.
Namun, setelah perang 1973, bangsa Arab di mana-mana muncul sebagai sesuatu yang mengancam. Arab dianggap sebagai ancaman. Jika Arab memperoleh perhatian, maka perhatian itu sifatnya negatif. Di film sebagai tokoh jahat, di media dan buku-buku digambarkan sebagai pengganggu eksistensi Israel dan Barat.
Dalam kasus Israel Palestina: Yahudi dianggap pahlawan, sementara Arab dianggap sebagai bayangan misterius yang menakutkan. Coba cermati kontroversi film Munich yang disutradarai olah Steven Spielberg. Film ini bercerita tentang kisah nyata pembunuhan 11 atlet Israel pada tahun 1972 oleh orang-orang Palestina. Dalam film ini Spielberg terkesan membesar-besarkan masalah, menganggap pembunuhan 11 atlet tersebut merupakan dosa politik Palestina yang sangat besar. Spielberg sengaja melupakan ribuan orang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel. Dosa-dosa politik maupun kemanusiaan Israel terhadap bangsa Palestina yang merupakan bangsa yang menjadi korban ambisi Israel untuk mendirikan Israel Raya tentu jauh lebih besar dibandingkan hanya sekedar pembunuhan 11 atlet Yahudi. Dari segi kualitas dan kuantitas tentu orang-orang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel lebih layak dibela, dipermasalahkan serta dibuat film untuk disebarkan ke seluruh dunia agar masyarakat internasional tahu realita yang sebenarnya serta peduli kepada masalah Palestina. Media massa di Amerika Serikat dikuasai oleh taipan-taipan Yahudi. Mereka memiliki kekuatan lobby yang amat kuat di Kongres AS, salah satunya adalah American Jewish Lobby. Dan mereka sangat powerful dalam membentuk serta menyebarkan opini public, dimana di AS opini public merupakan salah satu kiblat peta politik, ekonomi maupun budaya AS. Di AS ada stasiun berita yang bernama Fox News Channel yang menilai Islam sangat negatif. Di belakang itu (Fox News, red) ada Rupert Murdoch yang juga punya Fox Century. Studio film terbesar ini membawa nilai-nilai konservatif. Nilai-nilai konservatif di AS sama dengan Evangelis dan juga konsen untuk Yahudi. Bangsa Yahudi yang memiliki media massa dan Holywood (seperti Steven Spielberg) juga mengontrol pemerintah AS dan Eropa (terutama Jerman) dan mengindoktrinasi pelajar bangsa Arya (kulit putih) bahwa mereka bersalah membantai 6 juta orang Yahudi lewat buku-buku dan video (di TV Indonesia sendiri pernah diputar film seri “Winds of War” yang melukiskan penderitaan bangsa Yahudi). Untuk membayar kesalahan mereka harus selalu baik dan mendukung bangsa Yahudi.

Kita bisa menemukan ribuan film Holywood tentang Holocaust atau para jagoan membantai “teroris” Arab (seperti film Chuck Norris atau Arnold Schwarzenegger). Tapi tak ada satu pun film Holywood tentang pembantaian bangsa Palestina oleh pemerintah Israel.

Tak ada satu pun presiden AS yang bisa berkuasa tanpa dukungan Lobby Yahudi. Contohnya presiden Bill Clinton ketika kurang berpihak ke Yahudi akhirnya dicemarkan namanya dengan perselingkuhan dengan gadis Yahudi, Monica Lewinsky.

Sebelum Munich, Spielberg juga sudah melakukan manipulasi fakta dan mencoba mempengaruhi opini dunia dengan membuat film Schindler List, yang bercerita seputar mitos Holocaust. Film itu sangat tidak proporsional dalam menggambarkan peristiwa Holocaust, terlalu subjektif, bahkan untuk sebuah peristiwa yang diyakini kalangan peneliti Holocaust sebagai mitos sekalipun. Lewat film ini Spielberg ingin menyampaikan kepada dunia bahwa bangsa Yahudi merupakan bangsa yang istimewa dan terhormat, dan tidak punya salah terhadap bangsa lain. Apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina merupakan konsekuensi logis bagi sebuah bangsa yang pernah mengalami “penderitaan”, kendati “penderitaan” itu hanya mitos yang digunakan untuk menutupi fakta penderitaan yang dialami Palestina.

Tak ada satu pun presiden AS yang bisa berkuasa tanpa dukungan Lobby Yahudi. Contohnya presiden Bill Clinton ketika kurang berpihak ke Yahudi akhirnya dicemarkan namanya dengan perselingkuhan dengan gadis Yahudi, Monica Lewinsky.

Panduan kuliah 1975 tingkat pra-sarjana, Columbia College, setiap kata dari bahasa Arab berkaitan dengan kekerasan. Dalam artikel Emmet Tyrrel di majalah Harper’s digambarkan bahwa orang-orang Arab adalah pembunuh; kekerasan dan kelicikan terkandung dalam gen-gen orang Arab. Artinya secara geneologis, mereka memang berwatak seperti itu. Hampir secara keseluruhan menggambarkan Arab khususnya dan Timur pada umumnya sebagai sesuatu yang kasar. Gagasan-gagasan kasar itu oleh kalangan intelektual, bukannya disanggah, tetapi justru didukung.
Di dunia Barat, para pengikut aliran romantis memasukkan unsur-unsur timur dan tokoh-tokoh timur dalam karya-karya mereka, serta menentang rasionalisme ekstrim yang berkembang pada abad ke-18. Dengan demikian, pada saat itulah masuk tradisi sufistik ke dalam sastra Barat. Namun, setelah berlalu beberapa waktu, kecenderungan untuk mengagumi hasil karya Timur mulai menghilang. Dalam tahap ini, Barat dengan berbagai penemuan baru berupaya untuk menjadikan Timur sebagai pengikut mereka. Selanjutnya pada abad ke-20, Barat menemukan fasilitas baru untuk mengenalkan dunia Timur, yaitu melalui sinema. Dewasa ini masyarakat Barat lebih banyak mengenal dunia Timur melalui sinema, bukan lagi melalui penelahaan buku-buku.
Dalam sinema AS, pandangan terhadap Timur umumnya hampir seragam, yaitu sebagaimana orang AS juga memandang kaum kulit hitam, kulit merah, atau orang-orang Cina. Selama bertahun-tahun, kaum kulit hitam dalam sinema AS digambarkan sebagai orang bertubuh besar yang biasa mengganggu kaum perempuan dan membunuhi para tuan tanah kulit putih. Kaum kulit merah juga selalu digambarkan sebagai suku primitif yang kejam dan kaum etnis Cina yang tinggal di AS digambarkan sebagai para pelaku kriminal.
Dewasa ini, dalam film-film Hollywood, dunia Timur digambarkan sesuai dengan kepentingan politik Gedung Putih. Jepang dijadikan model negara Timur yang maju, yang dengan meniru sistem kapitalisme AS berhasil mencapai kemajuan pesat dalam bidang ekonomi. Orang-orang Jepang dengan kerja keras, ketekunan, dan gaya hidupnya, termasuk cara berpakaian, digambarkan sebagai murid dan anak didik Amerika.
Atau, ada juga film-film yang menjadikan negeri-negeri Timur sebagai setting dan jagoan-jagoan dari AS akan datang ke negeri-negeri itu untuk menyelesaikan masalah atau melawan penjahat. Meskipun di satu sisi, penggunaan negeri-negeri Timur sebagai setting memberikan daya tarik tersendiri karena alamnya yang indah, namun poin penting yang bisa diamati di sini adalah pertentangan antara baik dan buruk. Dalam film-film seperti ini, keburukan dan kejahatan diidentikkan dengan Timur dan jagoan-jagoan Amerika diidentikkan dengan kebaikan dan pembela kebenaran.
Sebagai contoh kasus marilah kita bahas film Deer Hunter yang disutradarai oleh Michael Chimino. Dalam film ini diperlihatkan tentara Vietnam melemparkan granat ke dalam sebuah gua yang di dalamnya ada sebuah keluarga sedang berlindung. Tentara AS yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat marah dan langsung menembak si tentara Vietnam. Adegan ini memberikan sebuah pesan mengenai sikap pasukan Vietnam, bahwa mereka tidak setia kepada negara dan juga tidak berperikemanusiaan. Sebaliknya, tentara AS digambarkan sebagai tentara yang manusiawi. Dengan cara ini, Hollywood berusaha menjustifikasi perang Vietnam dan menciptakan opini bahwa kedatangan tentara AS ke Vietnam adalah untuk menegakkan keadilan.
Kini marilah kita menelaah film Alexander karya sutradara Oliver Stone. Dalam sebuah adegan diperlihatkan ketika Alxander memimpin pasukannya untuk berperang melawan pasukan Iran. Saat itu, Alexander berseru, “Berperanglah demi kebebasan dan kemuliaan Yunani!” Pertanyaan yang muncul di sini, apa yang dimaksud dengan kata kebebasan yang diucapkan Alexander itu? Bukankah waktu itu, Yunani sama sekali tidak berada di bawah penjajahan Iran?
Bila dilihat bahwa masa peluncuran film Alexander bertepatan dengan invasi AS ke Irak dan Afganistan, yang juga menggunakan slogan-slogan kebebasan, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kebebasan oleh Alexander adalah penaklukan berbagai bangsa di dunia. Persis seperti Gedung Putih yang ingin menaklukkan berbagai negara di dunia serta menghegemoni dunia.
Sebagian besar pengamat film menilai bahwa memuncaknya produksi film-film fiksi ilmiah pada era Perang Dingin, terkait dengan hegemoni Soviet di negara-negara komunis di Timur. Dalam film-film fiksi ilmiah buatan Hollywood itu, musuh digambarkan sebagai makhluk asing atau alien dari planet lain. Makhluk asing itu merupakan simbol dari orang-orang komunis. Dalam menumpas makhluk asing itu, makhluk bumi melakukan serangan meluas, sehingga semua makhluk asing itu musnah total, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun setelah keruntuhan Uni Soviet, Hollywood menjadikan Islam sebagai musuh terbesar ideologi Barat. Oleh karena itu, penggambaran kaum muslimin sebagai teroris semakin hari semakin gencar dilakukan oleh Hollywood. Peristiwa teror 11 September merupakan momentum dari meningkatnya produksi film-film anti Islam oleh Hollywood. Melalui film-film seperti ini, AS berusaha menunjukkan bahwa Islam adalah musuh bagi dunia Barat. Ambil contoh film True Lies yang sempat mendapat kecaman dari kaum Muslimin. Dalam film tersebut orang-orang Islam digambarkan sebagai fundamentalis dan teroris kejam yang ingin menggugat tatanan dunia yang dikuasai oleh Amerika.

Sebagai kesimpulan, dalam sinema Barat, negeri-negeri Timur yang maju adalah negeri yang mau meniru Barat, seperti Jepang. Sebaliknya, negeri-negeri Timur yang ingin menjaga identitas kebangsaan, agama, dan kemerdekaannya, selalu digambarkan sebagai negara yang primitif, pelaku teror, dan musuh dari dunia Barat. Dan peta politik luar negeri AS, terutama pasca Perang Dingin dan Tragedi WTC mempengaruhi Grand Design film-film produksi Hollywood. Islam telah menjadi tema besar film-film Hollywood dengan konotasi negative sebagai sebuah agama teror, kejam, serta pengganggu eksistensi tatanan dunia yang dibangun oleh AS dan Israel.

Wallahu’alam

Extraordinary

Monday, June 5th, 2006

Jangan remehkan kebaikan sekecil apapun. Ada seorang penjual lombok yang senang memberi tambahan lombok 2 biji kepada para pembelinya. Mungkin ini sepele, tapi tidak bagi ALLOH. Khusnul khotimah menjadi ketetapan ALLOh untuknya. Dia meninggal ketika sedang membaca Al-Quran dan wajahnya tampak bahagia sekali. Subhanalloh. Allohu Akbar. Semua tetangganya terheran-heran dan mencari-cari, amalan apa yang membuatnya jadi seperti ini. Semuanya berpikir, dia kan hanya seorang penjual lombok yang sederhana…
Attention : ini bukan kisah sinetron misteri yang sekarang lagi marak di tv. Kisah ini diceritakan seorang ustadz saat memberikan kajian rutin. Beliau ingin menekankan bahwa jangan remehkan kebaikan sekecil apapun.

Wallahu’alam

Hidup Bagai Garis Lurus

Monday, June 5th, 2006

Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa yang lalu. Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal. Hidup ini melangkah terus, semakin mendekat ke titik terakhir. Setiap langkah hilanglah jarak, menikmati hidup, nikmati dunia. Tiga rahasia Ilahi yang berkaitan dengan hidup manusia…Kesatu kelahiran, kedua pernikahan, ketiga kematian…Penuhi hidup dengan cinta, ingatkan diri saat untuk berpisah…tegakkan sholat 5 waktu dan ingatkan diri saat disholatkan…