Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat telah mengubah dunia. Informasi-informasi itu sarat muatan kebudayaan yang ingin ditransfer oleh komunikator (pihak penyampai) kepada komunikan (pihak yang dituju). Sehingga terjadilah penyebaran budaya global (baca : Amerikanisasi). Media massa berperan sebagai kekuatan trend setter untuk isu-isu global, baik isu (persoalan) politik seperti terorisme, hak asasi manusia, lingkungan hidup,sampai kepada isu-isu budaya dan gaya hidup. Amerika Serikat sebagai negara maju yang menguasai teknologi informasi dapat dengan mudah mempengeruhi cara pandang bangsa lain terhadap dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, yang salah satunya adalah melalui film.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kini kemajuan teknologi informasi memiliki peran yang sangat signifikan dalam menyampaikan pesan, tapi problemnya adalah bahwa tidak semua warga dunia mampu mengikuti perkembangan kemajuan ini apalagi memanfaatkannya. Sebagian besar warga dunia malah sering menjadi objek negara-negara yang teknologi informasinya sudah maju. Yang terjadi adalah ketimpangan dalam kesempatan menyebarkan informasi dari negara-negara yang memiliki kemajuan teknologi informasi dengan negara-negara yang belum memiliki kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, hegemoni pun tidak bisa dihindari. Arus informasi yang masih didominasi negara-negara maju, terutama Amerika Serikat menyebabkan negara-negara lain, terutama negara berkembang dan terbelakang (baca : Timur) lebih banyak menjadi penerima tanpa mampu mengirimkan informasi mengenai negaranya. Bahkan kalaupun ada informasi dari negara berkembang, informasi tersebut berada dalam bingkai persepsi negara-negara maju. Akhirnya yang tampil di media internasional lebih banyak sisi negative. Inilah yang kemudian memunculkan konsepsi imperialisme budaya. Imperialisme budaya diartikan bahwa negara Barat, khususnya Amerika, melalui penyebaran infromasi tadi telah menyebarkan budaya mereka ke dalam kehidupan negara dan bangsa lain di dunia. Dari infromasi pemberitaan film, lagu-lagu, hingga gaya hidup orang Amerika. Barat menjadi trend di berbagai negara termasuk Indonesia. Kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari, apa yang di Amerika menjadi trend, maka tidak lama kemudian orang-orang di Indonesia pun segera menirunya. Mulai dari model baju, model sepatu, aksesoris, potongan rambut, sampai tingkatan yang paling signifikan, yakni cara berpikir.
Menurut Althusser, tidak ada budaya yang bisa eksis tanpa ideologi, dimana ideologi ikut menyokong lahir dan berkembangnya budaya dengan kemampuannya memahami dunia. Term ideology diartikan sebagai artikulasi basis politik, ekonomi dan nilai-nilai social dalam sebuah wahana ide yang berfungsi sebagai landasan bagi sebuah system social panutan atau “ways of life”. Sebuah ideology memiliki keterkaitan erat dengan sifat system politik, pelaksanaan menjalankan kekuasaan, peran individu, sifat sisem ekonomi dan system social, serta tujuan masyarakat. Sebagai sebuah system keyakinan yang mendasar, sebuah ideology tidak hanya menggabungkan nilai-nilai dasar mesyarakat tetapi ideology sendiri menjadi nilai utama yang harus dipertahankan dan, ideology harus disebarluaskan kepada masyarakat lain.
Hollywood sebagai perusahaan manufacture terbesar dalam industri hiburan telah menjalankan perannya untuk mendorong agenda ke depan, dapat dikatakan sebagai dominasi hegemoni dunia. Gelombang baru sentiment patriotic yang tidak dipertanyakan, melihat Amerika sebagai “dunia”.
Sejak awal telah diketahui bahwa Hollywood sebagai salah satu institusi dimana dalam institusi yang bernama Hollywood ini film menjadi media yang paling powerful, film diciptakan dengan desain emosional penonton dengan tujuan untuk mengontrol pikiran mereka. Hollywood adalah institusi yang selalu beroperasi hanya untuk keuntungan, tahu benar bagaimana membuat sesuatu menjadi komoditas. Hollywood mencetak, membentuk dan menjualnya. Jika perang dapat menuliskan kembali hukum sipil dan criminal maka Hollywood yang menuliskan kembali sejarah. Dalam the age of information ini media merupakan power, dan Hollywood menjadi salah satu institusi yang tahu bagaimana memanipulasi informasi. Dalam budaya Amerika, film merupakan representasi dari kegagahan militer yang tidak dapat dipisahkan dari national self esteem (harga diri bangsa).
Dalam kaitannya dengan upaya Barat menghegemoni Timur, Edward W. Said, dalam Orientalism, mengatakan bahwa sejak zaman kuno, Timur sudah menjadi tempat yang penuh romansa, pemandangan eksotik, pengalaman-pengalaman yang mengesankan, tradisi yang mistik. Itulah yang pada awalnya mengundang orang Eropa untuk mengkaji, memahami dan mengagumi Timur. Tapi dalam perkembangannya, kajian terhadap Timur kemudian berubah menjadi upaya memahami Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dibanding dengan pengalaman manusia Eropa dan Barat secara umum.
Dari kajian itulah kemudian ditemukan juga mengenai kekayaan alam yang luar biasa. Dan itulah yang mengundang orang-orang Eropa untuk menjajah Timur yang dianggap masih polos, primitif, terbelakang dan mistis-irrasional. Ini masih diperkuat oleh keyakinan diri orang Eropa yang sangat kuat bahwa mereka adalah kaum yang secara geneologis lebih unggul dibanding Timur. Sehingga penjajahan menjadi lebih mudah dilakukan. Timur juga membantu Eropa mendefinisikan dirinya sebagai bangsa yang – berlawanan dengan Timur – unggul, sempurna, cerdas dan beradab. karena itu, orientalisme kemudian menjadi setali tiga uang dengan penjajahan.
Sejak pertengahan abad ke-20, citra Arab mengalami transformasi: “Dari stereotip yang samar-samar sebagai nomad pengendara unta, menjadi karikatur yang mencerminkan kelemahan dan kekalahan.” Contoh : film Hollywood yang selalu menggambarkan orang Arab sebagai tokoh antagonis: intrik-intrik culas, berwatak sadis, pengkhianat, mengalami kejanggalan seksual, licik, kejam, dsb.
Namun, setelah perang 1973, bangsa Arab di mana-mana muncul sebagai sesuatu yang mengancam. Arab dianggap sebagai ancaman. Jika Arab memperoleh perhatian, maka perhatian itu sifatnya negatif. Di film sebagai tokoh jahat, di media dan buku-buku digambarkan sebagai pengganggu eksistensi Israel dan Barat.
Dalam kasus Israel Palestina: Yahudi dianggap pahlawan, sementara Arab dianggap sebagai bayangan misterius yang menakutkan. Coba cermati kontroversi film Munich yang disutradarai olah Steven Spielberg. Film ini bercerita tentang kisah nyata pembunuhan 11 atlet Israel pada tahun 1972 oleh orang-orang Palestina. Dalam film ini Spielberg terkesan membesar-besarkan masalah, menganggap pembunuhan 11 atlet tersebut merupakan dosa politik Palestina yang sangat besar. Spielberg sengaja melupakan ribuan orang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel. Dosa-dosa politik maupun kemanusiaan Israel terhadap bangsa Palestina yang merupakan bangsa yang menjadi korban ambisi Israel untuk mendirikan Israel Raya tentu jauh lebih besar dibandingkan hanya sekedar pembunuhan 11 atlet Yahudi. Dari segi kualitas dan kuantitas tentu orang-orang Palestina yang dibunuh oleh tentara Israel lebih layak dibela, dipermasalahkan serta dibuat film untuk disebarkan ke seluruh dunia agar masyarakat internasional tahu realita yang sebenarnya serta peduli kepada masalah Palestina. Media massa di Amerika Serikat dikuasai oleh taipan-taipan Yahudi. Mereka memiliki kekuatan lobby yang amat kuat di Kongres AS, salah satunya adalah American Jewish Lobby. Dan mereka sangat powerful dalam membentuk serta menyebarkan opini public, dimana di AS opini public merupakan salah satu kiblat peta politik, ekonomi maupun budaya AS. Di AS ada stasiun berita yang bernama Fox News Channel yang menilai Islam sangat negatif. Di belakang itu (Fox News, red) ada Rupert Murdoch yang juga punya Fox Century. Studio film terbesar ini membawa nilai-nilai konservatif. Nilai-nilai konservatif di AS sama dengan Evangelis dan juga konsen untuk Yahudi. Bangsa Yahudi yang memiliki media massa dan Holywood (seperti Steven Spielberg) juga mengontrol pemerintah AS dan Eropa (terutama Jerman) dan mengindoktrinasi pelajar bangsa Arya (kulit putih) bahwa mereka bersalah membantai 6 juta orang Yahudi lewat buku-buku dan video (di TV Indonesia sendiri pernah diputar film seri “Winds of War” yang melukiskan penderitaan bangsa Yahudi). Untuk membayar kesalahan mereka harus selalu baik dan mendukung bangsa Yahudi.
Kita bisa menemukan ribuan film Holywood tentang Holocaust atau para jagoan membantai “teroris” Arab (seperti film Chuck Norris atau Arnold Schwarzenegger). Tapi tak ada satu pun film Holywood tentang pembantaian bangsa Palestina oleh pemerintah Israel.
Tak ada satu pun presiden AS yang bisa berkuasa tanpa dukungan Lobby Yahudi. Contohnya presiden Bill Clinton ketika kurang berpihak ke Yahudi akhirnya dicemarkan namanya dengan perselingkuhan dengan gadis Yahudi, Monica Lewinsky.
Sebelum Munich, Spielberg juga sudah melakukan manipulasi fakta dan mencoba mempengaruhi opini dunia dengan membuat film Schindler List, yang bercerita seputar mitos Holocaust. Film itu sangat tidak proporsional dalam menggambarkan peristiwa Holocaust, terlalu subjektif, bahkan untuk sebuah peristiwa yang diyakini kalangan peneliti Holocaust sebagai mitos sekalipun. Lewat film ini Spielberg ingin menyampaikan kepada dunia bahwa bangsa Yahudi merupakan bangsa yang istimewa dan terhormat, dan tidak punya salah terhadap bangsa lain. Apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina merupakan konsekuensi logis bagi sebuah bangsa yang pernah mengalami “penderitaan”, kendati “penderitaan” itu hanya mitos yang digunakan untuk menutupi fakta penderitaan yang dialami Palestina.
Tak ada satu pun presiden AS yang bisa berkuasa tanpa dukungan Lobby Yahudi. Contohnya presiden Bill Clinton ketika kurang berpihak ke Yahudi akhirnya dicemarkan namanya dengan perselingkuhan dengan gadis Yahudi, Monica Lewinsky.
Panduan kuliah 1975 tingkat pra-sarjana, Columbia College, setiap kata dari bahasa Arab berkaitan dengan kekerasan. Dalam artikel Emmet Tyrrel di majalah Harper’s digambarkan bahwa orang-orang Arab adalah pembunuh; kekerasan dan kelicikan terkandung dalam gen-gen orang Arab. Artinya secara geneologis, mereka memang berwatak seperti itu. Hampir secara keseluruhan menggambarkan Arab khususnya dan Timur pada umumnya sebagai sesuatu yang kasar. Gagasan-gagasan kasar itu oleh kalangan intelektual, bukannya disanggah, tetapi justru didukung.
Di dunia Barat, para pengikut aliran romantis memasukkan unsur-unsur timur dan tokoh-tokoh timur dalam karya-karya mereka, serta menentang rasionalisme ekstrim yang berkembang pada abad ke-18. Dengan demikian, pada saat itulah masuk tradisi sufistik ke dalam sastra Barat. Namun, setelah berlalu beberapa waktu, kecenderungan untuk mengagumi hasil karya Timur mulai menghilang. Dalam tahap ini, Barat dengan berbagai penemuan baru berupaya untuk menjadikan Timur sebagai pengikut mereka. Selanjutnya pada abad ke-20, Barat menemukan fasilitas baru untuk mengenalkan dunia Timur, yaitu melalui sinema. Dewasa ini masyarakat Barat lebih banyak mengenal dunia Timur melalui sinema, bukan lagi melalui penelahaan buku-buku.
Dalam sinema AS, pandangan terhadap Timur umumnya hampir seragam, yaitu sebagaimana orang AS juga memandang kaum kulit hitam, kulit merah, atau orang-orang Cina. Selama bertahun-tahun, kaum kulit hitam dalam sinema AS digambarkan sebagai orang bertubuh besar yang biasa mengganggu kaum perempuan dan membunuhi para tuan tanah kulit putih. Kaum kulit merah juga selalu digambarkan sebagai suku primitif yang kejam dan kaum etnis Cina yang tinggal di AS digambarkan sebagai para pelaku kriminal.
Dewasa ini, dalam film-film Hollywood, dunia Timur digambarkan sesuai dengan kepentingan politik Gedung Putih. Jepang dijadikan model negara Timur yang maju, yang dengan meniru sistem kapitalisme AS berhasil mencapai kemajuan pesat dalam bidang ekonomi. Orang-orang Jepang dengan kerja keras, ketekunan, dan gaya hidupnya, termasuk cara berpakaian, digambarkan sebagai murid dan anak didik Amerika.
Atau, ada juga film-film yang menjadikan negeri-negeri Timur sebagai setting dan jagoan-jagoan dari AS akan datang ke negeri-negeri itu untuk menyelesaikan masalah atau melawan penjahat. Meskipun di satu sisi, penggunaan negeri-negeri Timur sebagai setting memberikan daya tarik tersendiri karena alamnya yang indah, namun poin penting yang bisa diamati di sini adalah pertentangan antara baik dan buruk. Dalam film-film seperti ini, keburukan dan kejahatan diidentikkan dengan Timur dan jagoan-jagoan Amerika diidentikkan dengan kebaikan dan pembela kebenaran.
Sebagai contoh kasus marilah kita bahas film Deer Hunter yang disutradarai oleh Michael Chimino. Dalam film ini diperlihatkan tentara Vietnam melemparkan granat ke dalam sebuah gua yang di dalamnya ada sebuah keluarga sedang berlindung. Tentara AS yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat marah dan langsung menembak si tentara Vietnam. Adegan ini memberikan sebuah pesan mengenai sikap pasukan Vietnam, bahwa mereka tidak setia kepada negara dan juga tidak berperikemanusiaan. Sebaliknya, tentara AS digambarkan sebagai tentara yang manusiawi. Dengan cara ini, Hollywood berusaha menjustifikasi perang Vietnam dan menciptakan opini bahwa kedatangan tentara AS ke Vietnam adalah untuk menegakkan keadilan.
Kini marilah kita menelaah film Alexander karya sutradara Oliver Stone. Dalam sebuah adegan diperlihatkan ketika Alxander memimpin pasukannya untuk berperang melawan pasukan Iran. Saat itu, Alexander berseru, “Berperanglah demi kebebasan dan kemuliaan Yunani!” Pertanyaan yang muncul di sini, apa yang dimaksud dengan kata kebebasan yang diucapkan Alexander itu? Bukankah waktu itu, Yunani sama sekali tidak berada di bawah penjajahan Iran?
Bila dilihat bahwa masa peluncuran film Alexander bertepatan dengan invasi AS ke Irak dan Afganistan, yang juga menggunakan slogan-slogan kebebasan, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kebebasan oleh Alexander adalah penaklukan berbagai bangsa di dunia. Persis seperti Gedung Putih yang ingin menaklukkan berbagai negara di dunia serta menghegemoni dunia.
Sebagian besar pengamat film menilai bahwa memuncaknya produksi film-film fiksi ilmiah pada era Perang Dingin, terkait dengan hegemoni Soviet di negara-negara komunis di Timur. Dalam film-film fiksi ilmiah buatan Hollywood itu, musuh digambarkan sebagai makhluk asing atau alien dari planet lain. Makhluk asing itu merupakan simbol dari orang-orang komunis. Dalam menumpas makhluk asing itu, makhluk bumi melakukan serangan meluas, sehingga semua makhluk asing itu musnah total, termasuk perempuan dan anak-anak.
Namun setelah keruntuhan Uni Soviet, Hollywood menjadikan Islam sebagai musuh terbesar ideologi Barat. Oleh karena itu, penggambaran kaum muslimin sebagai teroris semakin hari semakin gencar dilakukan oleh Hollywood. Peristiwa teror 11 September merupakan momentum dari meningkatnya produksi film-film anti Islam oleh Hollywood. Melalui film-film seperti ini, AS berusaha menunjukkan bahwa Islam adalah musuh bagi dunia Barat. Ambil contoh film True Lies yang sempat mendapat kecaman dari kaum Muslimin. Dalam film tersebut orang-orang Islam digambarkan sebagai fundamentalis dan teroris kejam yang ingin menggugat tatanan dunia yang dikuasai oleh Amerika.
Sebagai kesimpulan, dalam sinema Barat, negeri-negeri Timur yang maju adalah negeri yang mau meniru Barat, seperti Jepang. Sebaliknya, negeri-negeri Timur yang ingin menjaga identitas kebangsaan, agama, dan kemerdekaannya, selalu digambarkan sebagai negara yang primitif, pelaku teror, dan musuh dari dunia Barat. Dan peta politik luar negeri AS, terutama pasca Perang Dingin dan Tragedi WTC mempengaruhi Grand Design film-film produksi Hollywood. Islam telah menjadi tema besar film-film Hollywood dengan konotasi negative sebagai sebuah agama teror, kejam, serta pengganggu eksistensi tatanan dunia yang dibangun oleh AS dan Israel.
Wallahu’alam