Archive for July, 2006

My ‘blue’ One…

Saturday, July 29th, 2006

"Isa skrg opname RS Haji Paviliun Lt2, 206.tlg mhn dido’akn spy cpt smbuh&bisa bribadh srt brjuang dg qt lg. BAAROKALLOHUFIIK".

Sebuah SMS singkat namun menghentak. Isa- my lilttle bro-sakit. ..Ingin sekali menengoknya, tapi aku sedang berada pada radius 600 km dari tempatnya berada. Semoga diberi kesabaran. "Sakit bisa menghapus dosa jika kita sabar".

De Isa, aku kengen kritikan dan omelanmu….

PERTANDA DI GURUN

Sunday, July 23rd, 2006

Chu Mo Yen terpaku. Tangan kanannya yang menghunus pedang tampak kaku. Matanya tajam menatap sosok misterius yang berdiri tegak di depannya. Pemilik wajah cantik yang terus ditutupi kain hitam itu terus menunggu, sosok misterius di depannya juga menunggu, siapa diantara mereka yang akan memulai. “Senang sekali bisa bertemu seorang kawan di gurun yang luas dan sunyi ini. Patut kiranya tuan memperkenalkan diri terlebih dahul”, sebuah basa-basi khas seorang Chu Mo Yen yang lama dididik dalam keluarga bangsawan memecah kebekuan. Suara hembusa angin gurun yang dingin terdengar pilu. “Di gurun yang luas dan tua ini kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan”, sebuah suara berat keluar dari bibir sosok misterius itu. Pedang di tangannya terhunus. Gerakannya pelan dan tenang. Tanpa menunggu lagi, dua pedang segera beradu. Bukan untuk saling melukai, hanya ingin saling menjajagi.
     Namun seiring hembusa angin gurun, sosok yang membuat Chu Mo Yen penasaran ini pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hanya sebuah tatapan penuh arti. Kelak Chu Mo Yen akan mengerti seluruh tanda yang diberikan olehnya, bukanlah sekedar tanda tanpa makna. Malam itu ribuan bintang menari di langit gurun. Chu Mo Yen memandangnya dengan takjub. “Huai An, yang mana bintangmu…”.

KEMELUT DI ISTANA

Sunday, July 23rd, 2006

   

   Sebuah kepala mungil keluar dari
atas keranjang bambu berbentuk silinder. Tinggi dan diameter
keranjang bambu itu cukup besar untuk memuat seorang bocah
kecil berusia 5 tahun. Dengan gerakan yang cepat sebuah tangan kecil
mengambil bakpau dari tangan Chu Mo Yen. “Kau suka bakpau yang
kuberikan? Makanlah secara perlahan”, dengan wajah yang berusaha
tersenyum Chu Moyen terus memandang keranjang bambu yang selalu dia
bawa kemana-mana itu. Hari ini Chu Mo Yen dan A Ting berhasil
menemukan sebuah desa kecil yang cukup ramai, setelah sebelumnya
mereka harus berjalan di atas gurun, tidur di bawah taburan bintang
dan sengatan matahari yang terik, dengan hawa yang sangat dingin.
Seetiap saat mereka dituntut waspada terhadap semua kemungkinan
bahaya yang mengancam. Badai pasir dan perubahan cuaca yang sontak
hanya sebagian kecil saja yang harus mereka hadapi. Orang-orang
dsuruhan Kasim Li terus saja mengawasi dan mengincar kepala mereka
berdua, yang dianggap sebagai pemberontak kerajaan dan mengancam
kelancaran kudeta yang akan dilakukan oleh Kasim Li. Kini pengaruh
Kasim Li sangat kuat. Beberapa pejabat kerajaan, khususnya militer
sudah berada di pihaknya. Situasi politik dalam intern kerajaan
memang sedang genting. Kasim Li yang membentuk konspirasi dengan Ibu
Suri berencana menggulingkan Kaisar serta mengambilalih kekuasaan.
Pangeran Muda yang diharapkan dapat mengatasi kemelut ini ternyata
hanyalah seorang pangeran manja yang tiap hari kerjanya cuma
mabuk-mabukan dan berjudi. Sudah untung dia belum berhasil
dipengaruhi oleh Kasim Li. Tapi tetap saja dia tidak berguna.

      Chow Huei An dan Chu Mo Yen
ditugaskan oleh salah seorang pejabat tinggi keraajaan yang masih
setia pada Kaisar untuk menangani kasus Kasim Li ini. Mereka berdua
yang merupakan sepasang pendekar harus berhasil menemui Pangeran Muda
untuk melaporkan apa yang sedang dan telah terjadi dalam kerajaan.
Hanya pangeran-lah satu-satunya pewaris tahta sekaligus satu-satunya
orang dalam kerajaan yang punya pengaruh dan belum “disentuh”
oleh Kasim Li.

AND THE STORY BEGINS…

Friday, July 21st, 2006

Sosok bertudung hitam itu tampak waspada. Bakpao yang ada di genggamannya sedikit hancur. Kegelisahan membayang di wajahnya. ”Bakpaomu enak sekali. Kau pandai membuatnya”, pemilik suara tegas namun ringan itu menyunggingkan senyum yang lebih mirip seringai kepada penjual bakpao di depannya. Dari nada suaranya, kalimat ini terlalu dini untuk disebut pujian. Lelaki bermata tajam di depannya mencoba untuk tersenyum sambil terus mengawasi sosok berpakaian serba hitam yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik tudung yang ditutupi kain hitam. Dari bahasa tubuhnya jelas sosok di depannya ini bukan orang biasa. Lelaki itu bisa membedakan antara orang biasa dan pendekar, hanya dari bahasa tubuhnya. Suasana pasar di daerah gurun itu cukup ramai. Para pedagang dan pembeli melakukan aktivitas seperti biasa, seolah tidak terpengaruh oleh insiden berdarah di salah satu rumah besar tak jauh dari situ. Seorang pejabat istana dihukum mati dengan tuduhan melakukan makar yang tidak pernah dia lakukan. Semuanya berada dalam intrik politik yang dilakukan oleh Kasim Li.
Sesaat setelah sosok bertudung hitam itu meninggalkan pasar, lelaki penjual bakpao segera membuntutinya. Yang dibuntuti berusaha santai, tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Dia bukan tidak tahu bahwa ada orang yang mengincar keselamatannya, dia hanya menunggu moment yang tepat saja. Tiba di persimpangan jalan yang sepi, dia berbalik. Dengan kecepatan tinggi, pedang yang sejak tadi berada di balik pakaiannya segera pindah ke leher lelaki penjual bakpao. Angin kering yang dingin sempat menerbangkan kain hitam penutup wajahnya. Mata lelaki penjual bakpao sempat terbelalak menyaksikan wajah cantik yang menyembul dari balik kain hitam. ”Bakpao yang biasa dijual di pasar itu biasanya selalu hangat, tidak dingin seperti bakao yang kau jual. Kau orang yang diutus oleh Kasim Li untuk mengawasiku bukan?”, pertanyaan itu membuat lelaki penjual bakpao yang ternyata mata-mata Kasim Li itu memasukkan tangan kanannya ke balik pakainnya. Sesuatu yang berkilat tampak menyembul. Sadar bahwa dirinya dalam bahaya, Chu Mo Yen, sosok bertudung hitam dan berpakaian laki-laki itu segera mengakhiri semuanya. Dengan sedikit gerakan saja, terhempaslah tubuh orang suruhan Kasim Li ke tanah kering dengan leher nyaris putus. ”Kalau kau tidak nekad, aku tak akan melakukannya”, gumam gadis itu sambil menyarungkan pedangnya. Berbagai latihan yang dijalaninya di Pulau Persik menjadikan gadis bermata indah ini mampu mengatasi situasi yang berbahaya. Insting seorang pendekar memang sangat tajam.
Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan, Chu Mo Yen berlari menuju kudanya. Sebuah keranjang besar ditambatkan di sisi kuda. ”Bibi, kita mau kemana?”, sebuah suara kecil dan manja membuyarkan konsentrasi Chu Mo Yen. Pandangannya langsung beralih ke arah keranjang. Sebuah kepala kecil menyembul dari dalam keranjang. ”Kita akan berjalan melintasi gurun, melintasi perbatasan menemui pamanmu. Bersiap-siaplah. Jangan keluar dari tempatmu sebelum aku perintahkan dan jangan menimbulkan suara berisik. Turuti semua perintah Bibi”, tegas Chu Mo Yen pada seorang bocah kecil berpakaian putih itu. ”Kita akan segera bertemu dengan pamanmu, bersabarlah…”, gumaman Chu Mo Yen ini lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. Disentuhnya sebuah seruling bambu berwarna coklat penuh ukiran indah. Sebuah wajah lembut yang tegas melintas di matanya. Wajah itu sangat dicintainya. Untuk sesat kesedihannya hilang. ”Chow Huai An, tunggu aku di perbatasan….”.

Budaya Baca..Jepang lagi, Jepang lagi…

Wednesday, July 12th, 2006

”Saya juga tidak mengerti, mengapa bangsa Jepang begitu suka membaca,” kata Yamamoto Hiroko, asisten khusus bidang informasi dan kebudayaan Kedubes Jepang di Jakarta, suatu ketika. Di negerinya, 65 ribu judul buku terbit setiap tahun, puluhan juta eksemplar koran lahir setiap hari.

Di negeri itu, orang-orang selalu memasukkan buku ke dalam tas sebelum meninggalkan rumah. Mereka kemudian membacanya saat menanti di stasiun, di dalam kereta, atau dalam kendaraan umum lainnya.

Jepang melampaui negara mana pun di dunia dalam hal kebiasaan membaca. Dibandingkan dengan Amerika Serikat, misalnya, Jepang pun unggul. Jumlah penduduk di negeri sakura ini hanya setengah warga negeri paman sam, tapi jumlah toko buku di kedua negara ini sama.

Toko-toko buku dan perpustakaan di negeri ini menyaingi supermarket dalam banyak hal. Mereka ada di mana-mana, termasuk di stasiun-stasiun dan mal, juga buka hingga larut malam. Tachiyomi, membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli, adalah aktivitas lumrah di Jepang.
***

Restorasi Meiji memicu Jepang untuk menjadi bangsa pembaca. Mereka meraup sebanyak mungkin informasi lewat buku untuk mengejar kemodernan Barat. Setelah Perang Dunia II, dorongan kian kuat. Pemerintah membangun perpustakaan di mana-mana. Lalu pembangunan jaringan rel kereta api kian melecut kebiasaan membaca. Warga Jepang menghabiskan waktu di kereta dan stasiun dengan melahap bacaan.

Namun, sebuah kegelisahan melanda negeri itu kini. Nilai penjualan buku, menurut sebuah lembaga penelitian penerbitan, ternyata merosot sejak 1997. Penurunan paling tajam terjadi pada buku-buku sastra kontemporer, sastra klasik, dan karya-karya nonfiksi di bidang kemanusiaan dan ilmu sosial.

Angka penurunan memang tidak begitu besar, sekitar tiga persen. Namun tetap mencemaskan. Hasil sigi Yomiuri Shinbun menunjukkan bahwa ”orang yang tidak membaca satu buku pun bulan lalu” melonjak hampir tiga kali lipat dari jumlah pada 1980-an dan 1970-an.

Pemandangan di atas kereta dan stasiun pun menunjukkan perubahan. Dulu, hanya ada tiga pilihan saat berada di atas kereta: tidur, mengobrol, atau membaca. Kini, banyak aktivitas baru: bermain game, mengirim dan membaca SMS, mengirim dan membaca e-mail, menelepon, atau berselancar di internet.
***

Kegelisahan menyangkut budaya baca terjadi di mana-mana. Penerbit Mizan menulis bahwa kegelisahan serupa juga menimpa Bill Clinton saat menjadi presiden AS. Perasaan Clinton terganggu setelah data statistik menunjukkan bahwa 40 persen anak Amerika umur delapan tahun tidak bisa membaca sendiri.

Maka, sang presiden meluncurkan program ambisius, America Reads Challenge. Tujuannya, ”Untuk membentuk sejuta warga negara sukarelawan sebagai tutor, dan menjamin bahwa setiap anak bisa membaca sendiri di kelas tiga.”

Kegelisahan juga terjadi di Belanda. Wartawan Hilversum, L Murbandono Hs, mengungkapkan polemik tentang berkurangnya minat baca di negeri kincir angin itu. Lahir tudingan bahwa televisi telah merenggut hasrat anak-anak untuk membaca, sekaligus berarti memicu pemiskinan intelektualitas.

Menurut laporan mutakhir Biro Perencanaan Sosial Budaya, SCP, anak-anak Belanda membaca buku, termasuk komik, rata-rata cuma empat menit tiap hari. Sedangkan untuk menonton televisi, mereka meluangkan waktu paling kurang 1,5 jam setiap hari. Dengan begitu, waktu untuk televisi sekitar 20 kali waktu untuk membaca.

Bagaimana dengan Indonesia? Kegelisahan serupa cukup tua di negeri ini. Goenawan Mohammad mengibaratkan bangsa ini hanya melangkahi dunia pustaka. Setelah lama menikmati dunia visual, antara lain lewat pewayangan, bangsa kita langsung melompat menuju dunia visual baru: televisi. Dunia baca terlewatkan.

Tak aneh, pada 2002, akses masyarakat kita terhadap surat kabar hanya 2,8 persen. Sekolah dasar yang memiliki perpustakaan cuma 1 persen (SLTP 16 persen, SLTA 54 persen).

Jangan-jangan, kita perlu membangun jaringan kereta api yang luas dulu, untuk memicu budaya baca.

MELONGOK BUDAYA BACA DAN TULIS MASYARAKAT JEPANG

Wednesday, July 12th, 2006

Sampai saat ini, Jepang adalah satu-satunya negara di

Asia

yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti Amerika. Tak heran, jika perdana mentri Malaysia Mahatir Muhammad, menjadikan Jepang sebagai kiblat pengembangan iptek ketimbang barat. Cerita mengenai kehebatan Jepang dapat bangkit dengan cepat dari puing-puing kekalahan perang dunia kedua, menginspirasi banyak negara di

Asia

seperti Cina dan Korea Selatan untuk dapat menjadi seperti Jepang.

Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaiki hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.

SURGA MEMBACA

Menurut data dari bunkanews (situs khusus tentang media

massa

berbahasa Jepang), jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca.

Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Masih menurut bunkanews, toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buku yang mereka inginkan dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau. Bahkan terkadang, kita bisa mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar "tachi yomi" (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplag penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk membeli bacaan lainnya.

Selain toko buku, perpustakan pun sangat mudah kita temui di sekitar kita. Di daerah pedesaan, biasanya, perpustakaan ini dikelola oleh pemerintah daerah setingkat kecamatan di

Indonesia

. Keberadaannya mudah dijangkau oleh masyarakat pedesaan. Sebab itu, meskipun di pedesaan buku bukanlah barang mahal yang sulit di dapat.

Rata-rata orang Jepang gemar membaca, atau paling tidak, gemar mencari informasi -yang tampak remeh sekalipun- dari orang lain. Bahkan banyak para artis yang mempunyai hobi membaca. Kecenderungan ini dipakai oleh para penerbit sebagai ajang promosi buku-buku mereka di televisi.Di salah satu televisi swasta ada acara yang disebut acara "toko buku Sekiguchi".

Dalam acara ini para artis atau pelawak mempresentasikan referensi suatu buku, sedangkan artis lain yang hadir diminta untuk membeli berdasarkan kesan mereka terhadap presentasi tersebut dari kocek mereka sendiri. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lama di toko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah "televisi shopping", namun yang dipromosikan adalah buku.

Ketika kita masuk ke sebuah toko buku, biasanya ada beberapa hal khas yang kita jumpai. Pertama, biasanya buku-buku bacaan di Jepang, seperti novel, kumpulan essai, ataupun ilmiah populer didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Sehingga kita tidak enggan membawa buku tersebut baik ketika dalam perjalanan ke kantor ataupun berbelanja. Orang yang membaca buku (tentu juga komik ataupun majalah) akan sangat mudah kita temui di bis-bis

kota

ataupun di kereta-kereta listrik. Kedua, kita akan susah mendapatkan buku-buku berbahasa Inggris di toko-toko buku Jepang pada umumnya. Ini karena, para penerbit Jepang sangat memperhatikan penerjemahan buku-buku hasil karya penulis dari negara-negara lain. Bahkan banyak kasus buku best seller yang diterbitkan di negara lain diterbitkan pula terjemahannya di Jepang dalam waktu yang hampir berbarengan, seperti buku Harry Potter yang ngetop di Amerika itu. Ini tentu saja karunia bagi masyarakat Jepang khususnya para penggemar buku. Mereka bisa menikmati hasil karya penulis-penulis beken negara lain dalam bahasa mereka sendiri. Suatu karunia yang kita pikir hanya dipunyai oleh negara-negara berbahasa Inggris, seperti Amerika atau sebagian negara Eropa. Hanya toko-toko besar tertentu (dan biasanya di daerah perkotaan) yang menyediakan buku-buku impor berbahasa Inggris dan bukan terjemahannya.

MENGARANG SEJAK KANAK-KANAK

Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka.

Ada

konsumen karena ada produsen, ada produsen karena ada konsumen. Budaya tulis Jepang sudah ditekankan sejak mereka sekolah dasar.

Anak-anak

 

SD

biasaya selalu mempunyai tugas "sakubun" (artinya mengarang) dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya, ketika mereka libur musim panas, musim dingin, atau libur kenaikan kelas, selalu ada tugas sakubun tentang apa yang mereka kerjakan, rasakan, dan alami selama liburan. Atau, ketika hari-hari tertentu, hari ayah atau hari ibu, murid-murid SD ditugaskan untuk membuat sakubun tentang ayah dan ibu mereka. Kesan mereka terhadap ayah dan ibu mereka masing-masing ditulis dalam bentuk sakubun, lalu hasil karangan tersebut mereka presentasikan di depan kelas. Ketika mereka akan lulus SD, mereka ditugaskan untuk mengarang tentang impian (cita-cita) mereka ketika mereka dewasa kelak. Tentu saja tulisan mereka ini didokumetasikan dalam bentuk buku dan disimpan dengan baik oleh pihak sekolah. Sehingga mereka bisa bernostalgia dengan impian masa kanak-kanak mereka, ketika mereka bereuni setelah dewasa dan membaca sakubun mereka ketika sekolah dasar.

Maka tak heran, jika rata-rata anak Jepang pandai mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan lewat rangkaian kata-kata. Ditambah lagi, karena bahasa Jepang adalah bahasa yang dibangun bukan berdasarkan huruf melainkan karakter gambar (yaitu kanji). Ini menjadikannya sangat kaya dengan ungkapan dan nuansa dan sangat ekspresif untuk bahasa sastra tulis. Sebagai contoh, kata "berpikir". Biasanya, orang Jepang menggunakan karakter atau kanji yang berbeda untuk berpikir yang menggunakan akal seperti dalam kalimat: "Berpikir tentang kejadian alam semesta", dengan berpikir yang menggunakan perasaan seperti dalam kalimat "Berpikir tentang mu membuat saya terkenang-kenang masa lalu". Masih banyak lagi contoh lainnya.

SIAPA SAJA BISA JADI PENULIS

Tingginya budaya tulis masyarakat Jepang juga dikarenakan mereka adalah "learning society", yaitu masyarakat yang senang belajar dan ingin well informed. Rata-rata dari orang Jepang senang untuk mencoba mensistemasikan segala informasi yang mereka dapatkan dan mendokumentasikannya menjadi pengetahuan praktis yang bermanfaat buat diri sendiri maupun orang lain. Siapapun, apapun profesinya dapat menjadi penulis amatiran dan menerbitkan buku yang dapat menjadi informasi untuk orang lain. Dari ibu rumah tangga biasa sampai kalangan artis sangat mudah membuat buku ataupun tulisan.

Tidak berlebihan jika banyak dari orang Jepang yang punya keinginan untuk menulis buku tentang diri mereka sendiri (otobiografi) sebelum mereka meninggal, sebagai "jejak" atau "tanda" mereka pernah hidup di dunia ini.

Ada

seorang ibu rumah tangga yang mengalami pindah rumah beberapa kali, dan dari pengalamannya tersebut dia menulis sebuah buku tentang pindah rumah yang efisien sekaligus menyenangkan. Juga dari pengalaman, ada ibu rumah tangga yang menulis satu buku tentang kiat-kiat untuk memutuskan membuang atau menyimpan suatu barang. Hal-hal yang mereka tulis memang tampak sepele, tapi hal-hal tersebut terkadang menjadi penting dan bermanfaat pada saat-saat tertentu. Sehingga penerbit berani menerbitkan tulisan mereka dan dilirik oleh konsumen di toko buku. Contoh lain adalah seorang artis yang terkena kanker rahim di saat hamil, sehingga dia harus menggugurkan kandungannya untuk penyembuhan kankernya dan kelangsungan hidupnya. Sang artis menulis perjuangannya melawan kanker, menyampaikan tentang apa yang dia rasakan, pikirkan, dan alami dalam satu buku. Buku ini memang buku seorang penulis "amatiran" namun sarat dengan pesan-pesan untuk para ibu dan penyemangat wanita-wanita yang mempunyai penderitaan yang sama.

Masih banyak lagi contoh lain yang menggambarkan betapa menulis dan menerbitkan buku bukanlah hak khusus penulis profesional belaka dalam masyarakat Jepang. Tetapi adalah hak semua orang yang ingin menyampaikan pengetahuannya, pesannya, dan keberadaannya kepada orang lain.

Budaya baca dan tulis masyarakat Jepang nampaknya juga tak bisa dipisahkan dari keberadaan komik, yaitu buku cerita fiksi bergambar. Bisa dikatakan Jepang adalah masyarakat yang kaya akan komik. Berbagai jenis komik akan mudah kita dapatkan di toko-toko buku bahkan convinient store 24 jam.

Ada

komik humor, komik cerita imajinasi, atau komik yang erat dengan pendidikan. Bahkan film-film kartun Jepang hampir seluruhnya (juga yang diputar di

Indonesia

sekarang ini) adalah berasal dari karya komik.

Ada

seorang sosiologi yang mengatakan, bahwa orang asing bisa belajar tentang representatif masyarakat Jepang lewat salah satu komik Jepang yang telah dianimasikan seperti "Keluarga Sazae". Komik filem ini sudah diproduksi sampai puluhan ribu seri sejak puluhan tahun lalu dan menggambarkan sebuah keluarga Jepang dua abad keturunan, abad, orang tua, dan kakek nenek. Tokoh-tokoh kartun ini berkembang dari tokoh utama (Sazae) kecil sampai dia menikah dan mempunyai anak. Sayang, pertumbuhan sang tokoh berhenti sampai di situ. Walaupun demikian, pembuat komik "Keluarga Sazae" pun dimasukkan dalam daftar sastrawan Jepang yang memberikan kontribusi besar pada pendidikan masyarakat Jepang. Karena itu, imej komik di Jepang tidaklah melulu buruk, bahkan dihargai keberadaannya dalam budaya tulis dan baca di masyarakat Jepang.

Begitulah masyarakat negara matahari terbit ini. Kita dapat melihat bahwa budaya tulis dan baca mereka yang tinggi didorong oleh besarnya apresiasi mereka terhadap hasil karya orang lain, hasil proses kreatif orang lain, juga besarnya keinginan mereka untuk berbagi informasi dengan orang lain dan mengekspresikan diri. Mudah-mudahan beberapa tahun kedepan, suatu masyarakat dengan kecenderungan yang sama akan kita jumpai di tanah air. Semoga.

PS : Kapan ya kita bisa begini..? Aku aja masih males baca buku. Perlu introspeksi diri nih…

Tragedi Gurun

Monday, July 10th, 2006

Kapan ini akan berakhir?, dengan lelah

Chu

Mo Yen bertanya pada Chow Huai An, yang berada di sampingnya, melidunginya dari serangan beratus anak panah. Gurat kerinduan akan berakhirnya peperangan tergambar jelas di wajah gadis itu. Bergerilya di gurun yang panas dan ganas telah menempa fisik dan mental orang-orang semacam ini. Misi khusus tidak lantas enyahkan segala macam perasaan,romantisme dan kedamaian Pulau Persik senantiasa membayang di pelupuk mata keduanya. Setelah ini semua berakhir, kita akan kembali ke Pulau Persik,seperti janjiku padamu, bisik Chow Huai An pada gadis yang sangat dicintainya.Seruling bambu yang selalu dibunyikan Chu Mo Yen dalam kesendiriannya adalah pemberian Chow Huai An. Chu Mo Yen tahu, bahkan teramat tahu bahwa semua kesulitan di gurun merupakan bagian dari perasaannya terhadap Chow Huai An. Dia bisa bersua dengan pemuda itu di sini, di Penginapan Pintu Naga, setelah sekian lama tercekam dalam ketegangan, bertanggung jawab terhadap keselamatan anak kecil, putri seorang pejabat Negara, yang sekaligus keponakannya. Nyawa anak kecil ini terancam, sementara ayahnya yang juga kakak laki-laki Chu Mo Yen dihukum mati karena menentang pemerintah yang tiran.

Menjadi satu-satunya penginapan yang berdiri tegak di tengah gurun pasir, Penginapan Pintu Naga selalu menjadi tempat persinggahan bagi para pejalan gurun sekaligus menjadi sumber segala tragedy yang melibatkan mereka semua yang berada dalam Penginapan yang tampak sendu itu. Hidup yang penuh rintangan, tercurah bak derasnya hujan. Mengapa kita harus jumpa bila tak tahu akan kemana., penghuni penginapan berdinding tanah itu telah terbiasa mendengar nyanyi sunyi seorang wanita.Dia terus bernyanyi,bernyanyi dan bernyanyi hingga berhenti pada lirik terakhir, jiwajiwa…” yang dinyanyikannya dengan kesedihan yang luar biasa. Wanita penghuni abadi gurun itu tidak tahu sampai kapan dia bisa terus bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi

Seiring gemuruh deru pasir yang menandai datangnya badai gurun, denting pedang beradu terdengar nyaring. Orang-orang yang tengah beradu pedang ini sudah tidak bisa lagi merasa takut hadapi semua ini. Bagi mereka, di gurun maupun tidak di gurun sama saja, mereka harus selalu siap menghunus pedang. Namun gurun ternyata memberi mereka tragedy darah dan cinta yang lebih, tak termaafkan. Setelah semuanya usai, gurun kembali sunyi….

Weewwwkok jadi mellow-mellow gini yach? Tonight I can write the saddest linecieeeeeJ

Aku dan Komputer…Gaptek Euy^_^

Monday, July 10th, 2006

        Your disk capacity is full, please delete unnecessary files. Dah sebulanan kalimat perintah yang mengganggu itu muncul di layar komputerq. Tiap qnyalakan computer, dia selalu nongol di sudut kanan bawah. Qrasakan kecepatan akses computerq makin lemot dan seringkali aq ga bisa nyimpan file. Wah, ada yag kagak beres nich, masa’ kapasitas disk secepat itu berqrang padahal aq jarang banget masukin file-file berat. Lagian ada beberapa file, terutama gambar yang dah qmasukin ke recycle bin. Tapi dasar virus dari awal emang dirancang untuk mendestroy, akhirnya dengan tanpa ampun dia menghajar system exe komputerq. Mungkin karena berkali-kali kasih perintah tapi aqnya juga berkali-kali nolak untuk tunduk, maka hari Sabtu, 8 Juli 2006 (deuh segitunya) muncullah peringatan terakhir : Bekas Pacar has caused some error in your computer system. Sorry for this inconvient….Dalam menjalankan aksinya, virus yang namanya norak banget ini dibantu virus Dian Sastro. Untuk selanjutnya, beberapa file yang qsimpan ga bisa dibuka dan beberapa system ga bisa difungsikan. Coba qqtak-katik dikit, setidaknya ada usaha meski aq ga ngerti computer sama sekali…wekekekeekeek. Namun entah pada percobaan keberapa, jari-jariq tidak lagi mengqtak-katik computer, tapi tombol HP. “Mas Iwan, VIRUS DI KOMPUTERQ MAKIN MENGGANAS. AQ BUTUH BANTUANMU”.

Yap

, qhubungi Mas Iwan yang biasa nyervis computer.Vibrator HPq bergetar. “Pasti Mas Iwan,” batinq. Dan benar saja. “Malam ini kamu ada waktu? Aq mau kesana periksa komputermu”,suaranya nampak mantap! Dengan riang qiyakan sebab aq memang lagi butuh banget dan MAs Iwan malam ini juga mau datang, ga nunggu sampe besok. Kalau terlalu lama mantengin computer hang, bisa bete aquuwwwJ.Bekas Pacar dan Dian Sastro Must Be Deleted!!!

Sesuai perjanjian, MAs Iwan datang bada Isya. Tanpa basa-basi lagi dia masuk ke kamarq dan segera mendiagnosa komputerq. “Anti virus yang MAs Iwan kasih ke aq ga bisa qcopy ke komputerq soale kapasitas hardisknya dah digerogoti ama virus, jadi ga muat,” kataq ketika dia nanyain masalah anti virus yang tadi siang dicopykannya ke flashdiskq. “Karena komputerq sudah terlanjur terinjeksi virus Bekas Pacar ama Dian Sastro, flashdiskq yang dah Mas Iwan bersihkan terinjeksi virus lagi,” sahutq ga kasih dia kesempatan bertanya soal flashdiskq yang tadi siang dah dia bersihkan. Hehehehe, dia cuman nyengir. Suguhan 10 gorengan yang baru qbeli ga sedikitpun yang Mas Iwan sentuh. Seluruh konsentrasi dia tujukan ke ‘pasiennya. Biar nanti tak bungkusin aja gorengannya,

kan

emang qsuguhkan untuk tamu. Agak geli juga ngeliat tampang Mas Iwan yang imutz di usianya yang ke-27 tampak serius, padahal biasanya ngocol. Dah kenal lama sich sama dia, jadi ga papa

kan

kalo aq tega makan mie instant di depannya. Dah qtawarin tapi dianya ga mau huehehehehehehe. Mas Iwan cuman cengar-cengir liat aq makan sambil ngoceh soal rencana wawancara ulang aktivis 3 zaman yang berhasil tapi gagal. Berhasil dilakukan ga berhasil terekamJ. Seluruh hasil rekaman wawancara pertama hilang ketika flashdisk yang terinjeksi virus discan.

        Namun malam itu Mas Iwan mau lebih berbagi pangalamannya menerima keluhan pengguna IT yang butuh special help. Sesi pertama diisi dengan obrolan seputar computer. Dari penjelasannya aq tahu bahwa sebaiknya kita tidak menyimpan file di C tapi di D sebab kalau ada apa-apa urusannya tidak runyam. Virus biasanya menyerang system C. Dan kalau mau pasang flashdisk, DI SCAN DULU. IMPORTANT HABIT YANG SERING AQ LUPAKAN. Apalagi aq sering download data dari internet. Ouuggh, dasar aqnya teledorL. Dan satu lagi : SERING-SERING NG-UP DATE ANTI VIRUS YAAAA.   Teorinya aq dah tau mas, cuman sering males ngelaksanain.Nanti kalo aq butuh up date-an anti virus, aq minta ke Mas Iwan aja ya, rajukq.Kalo soal computer, aq emang suka nyerah. Dari dulu emang ga begitu suka dan tertarik, cuman karna asas kebutuhan aja. Lagianaq sering kesetrum kalo pas qtak-katik komputerL. Ga usah pake Windows XP, kapasitasnya terlalu besar. Berat ke komputermu yang kapasitas hard disk-nya ga seberapa, Tak ganti dengan Windows 2003 ya. Mudah-mudahan virusnya bisa didelete, jadi ga harus diinstall ulang jelas Mas Iwan.

        Setelah memeriksa beberapa bagian yang aq sendiri sebagai pemiliki komputer ga pernah pegang,Mas Iwan memutuskan untuk melaqkan install ulang. Dia menanyakan kesedianq untuk sementara waktu menampungnya di kamarq. Sebelumnya dia menawarkan untuk kembali lagi besok (yang ternyata emang betul-betul harus kembali)

sebab jam sudah menunjukkan puql 10 malam. Waduh, harus sekarang,aq lagi butuh banget niyyyy.

Ada

kerjaan yang harus qselesaikan secepatnya. Ya udah, akhirnya kita melekan sampe jam 12 malam! Aq dah minta izin sama ibu kos dan penghuni kos yang lain kok, jadi semuanya serba transparan. Lagian ini

kan

darurat.Pintu kamar dan qbuka lebar-lebar biar penghuni kos yang lain bisa ngeliat apa yang sedang kami laqkan (emang lagi ngapain?).
        Lumayan lah, obrolan sesi kedua yang dimulai dari soal riwayat hidup sampe true stories berhasil mengusir rasa kantuk dan jenuh yang aq dan Mas Iwan alami. Mas Iwan kudu melek truzz dan aq juga ga boleh tidur meskipun guling sudah qpeluk dan mata ini dah kiyip-kiyip huehehehehe. Wall papers yang MAs Iwan install lucu-lucu. Ada Da Vinci (yang suaranya kretek
kretek), Ikan (yang gambar dan suaranya imutz), dan Hutan (yang ada suara lolongan anjingnya). Mau ikan warna apa? Biru, orange, qning..?, dia ketawa ngeliatq nampak childish kalo sedang liat yang lucu-lucu. Huehehehehe.

        Besoknya, dengan merajuk aq memintanya kembali karena aq menemukan kalimat : Disk boot failure, please insert disk system and press enterDah ga usah bayar lagi, qgunakan garansi 1 bulanq.

Ada

pameran IT di AJBS. Banyak perangkat computer yang asyik-asyik di

sana

. Hari ini aq mau kesana, kata MAs Iwan memprovokasiq. AaarrrrggghhhPengen iqt sich, cuman tumpukan kerjaan membuatq harus terus mantengin computer, all the time. Pengen milih-milih sendiri. Aq nitip flashdisk aja ya mas. Cariin yang fasilitasnya banyak dan kapasitasnya besar, pintaq. Dia nawarin flashdisk dengan kapasitas 4 kali kapasitas flashdiskq yang lawas plus fasilitas rekaman,dengan harga yang sangat murah. Yeah, lumayan lah. Tadinya dia rekomendasikan flashdisk yang 1 Giga…”Ha??? Gede banget, buat apa???, tanyaq. Dia sendiri bingung. Ah, dasar Mas IwanJ. Lagian aq lagi ga megang uang sebanyak nominal yang dilekatkan pada flashdisk 1 Giga ituJ.

       

Lagi Pengen Menye-Menye^_^

Saturday, July 8th, 2006

Heem, lagi pengen menye-menye nich, pake lagunya Teresa Teng : yue liang dai biao wo de xin. Bagi yang ga tau artinya ya resiko^_^. TAdinya sih mo ambil lagu Hao Xiang HAo Xiang-nya Vicky Zhao^_^

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing ye zhen

wo de ai ye zhen

yue liang dai biao wo de xin

ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

wo de qing bu yi

wo de ai bu bian

yue liang dai biao wo de xin

* qing qing de yi ge wen

yi jin da dong wo de xin

shen shen de yi duan qing

jiao wo si nian dao ru jin

* ni wen wo ai ni you duo shen

wo ai ni you ji fen

*** ni qu xiang yi xiang

ni qu kan yi kan

yue liang dai biao wo de xin

Gemeeeees^_^

Monday, July 3rd, 2006

Pemandangan paling indah saat Tausiyah bulanan adalah…hamparan bayi-bayi mungil dan montok dalam dekapan para ibu yang hadir di sana. Sudah naluri kali kalau wanita punya rasa motherhood (cieee..). Kuhirup dalam-dalam aroma khas bayi, yang pasti sanggup membuatku sumringah:-). Dengan semangat mencari ‘dekapan”, mataku liar memandang sekililing, ingin kutemukan bayi “langganan”ku : UFIYA. Celoteh lucunya seolah memanggilku untuk menciumnya, menjawil pipinya, menggendongnya. Biasanya dia akan menggerakkan tangan dan kakinya…move move and move. Dan…gratak…! sigap bayi cantik ini merebut apa saja yang ada di depannya : bolpoin, kaos kaki yang masih melekat di kaki pemilikinya, dan mukaku..hehehehehe. Sebagai bayi, Ufiya tergolong sensitif. Kalau ’siklus’ tidurnya terganggu (biasanya ketika ada orang cium atau njawil dia) sedikiiit saja, dia pasti mengamuk. Nangis dan tubuhnya akan bergoyang kesana-kemari. Tidak semua bayi mengamuk ketika ’siklus’ tidurnya terganggu. Ada yang menanggapinya dengan cuex dan apatis. Dia hanya konsentrasi pada satu hal : tidur. Dan kalau bicara soal senyum bayi, Ah, mereka selalu membuatku takluk:-).