Archive for August, 2006

Duh, Suka Banget ma Artikel ini…Pak Bahtiar Memang Oke^_^

Tuesday, August 29th, 2006

Ia yang Serupa Baja
Oleh Bahtiar HS
8 Agu 06 07:01 WIB
: buat Dik Ida, ibu dari anak-anakku

Pagi telah mengganti gelap. Sinar matahari menghangatkan kaca-kaca yang mengembun. Bis nyaman ini pun sudah berbelok menuju Kangar, ibukota Perlis, setelah semalaman menyusuri jalan tol mulus antara Johorbahru hingga wilayah paling utara Malaysia ini.

Terminal bis Kangar masih sejam lagi. Begitu kata teman Melayu seperjalanan di sebelahku. Dan sedikit waktu itu kumanfaatkan untuk menikmati sawah bertanamkan padi menghampar kekuningan siap panen di sepanjang jalan. Berselang-seling di antaranya ngarai, sungai, pohon-pohon hijau, rumah-rumah penduduk yang jarang-jarang. Juga orang-orang serumpun yang lalu-lalang. Pada kaki langit di kejauhan sana gunung membiru berdiri tegak di balik kabut tipis serupa uap air yang sedikit demi sedikit menghilang. Amboi! Damai yang terasa. Tenang yang kemudian tercipta menjelmakan rindu yang menyesakkan dada.

Seketika aku teringat pemandangan di desa tempat aku dilahirkan. Dulu.

Seketika aku ingat akan wajahmu.

Masih terasa perpisahan di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta sebulan yang lalu. Kau putuskan pergi mengembara ke ujung Malaysia untuk mengejar ilmu. Meski tanpa kawalan diriku.

“Aku berani,” katamu waktu itu. “Toh ada teman-teman seperjalanan dari Indonesia. Akhwatnya juga banyak.”

Bukan karena darah Madura mengalir di tubuhmu. Tetapi sejak mula berjumpamu, aku sudah tahu kalau tekad yang baja mengaliri urat nadimu. Ketika terapi yang kau pelajari di fakultasmu ternyata tidak menentramkan hatimu, kau gigih mencari terapi yang lain. Dan untuk itu, kau memburunya hingga ke Gunung Salak, Puncak Bogor, Jakarta. Juga ke perbatasan Malaysia-Thailand ini.

“Aku ingin menggali metode pengobatan Islam,” katamu suatu kali. “Jika sejarah Islam dulu pernah melahirkan orang sekelas Ibnu Sina, pastilah pengobatan Islam telah pernah mencapai kemajuan yang mengagumkan.”

Dan itulah dirimu. Jika keinginan sudah membulat, resiko apapun akan engkau tempuh. Batam – Pasir Gudang Malaysia pun kau seberangi. Pasir Gudang – Johorbahru – Kangar yang jaraknya lebih jauh dari perjalanan Banyuwangi – Merak pun kau susuri semalaman dengan menumpang bis. Bahkan dalam SMS-mu kau mengatakan, ketika melewati pemeriksaan di imigrasi Pasir Gudang Malaysia, kau dan rombongan harus menunggu diproses selama hampir 3 jam! Kalian dicurigai sebagai Jamaah Islamiyah, karena semua akhwatnya berkerudung dan sebagian besar ikhwannya berjenggot dan berpeci haji!

Lebih dari itu, sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana dirimu mengikuti kegiatan Sijil pengobatan herbal di negeri orang dengan membawa serta anak kita yang masih belum genap sepuluh bulan itu di gendongan.

“ASI adalah haknya, karena itulah makanan utamanya hingga 2 tahun,” katamu memberikan alasan mengapa Maura harus ikut bersamamu. “Jadi, ia harus ikut kemanapun kantong ASI itu pergi.”

Maka, sebulan penuh aku membayangkan bagaimana dirimu mengikuti perkuliahan dengan Maura tertidur di samping kursimu. Mungkin malah sedang menetek di pangkuanmu, sementara dirimu tengah asyik mencatat atau menyalin mutiara ilmu. Ia barangkali justru mengajak bercanda, ketika dirimu tengah menyiapkan paparan atau menikmati gizi sebuah buku. Mungkin dirimu masih harus menemaninya hingga tertidur di suatu malam, sementara tugas untuk esok hari belum sempat tersentuh menumpuk di mejamu. Aku yakin dirimu juga harus bangun paling pagi, karena cucianmu pasti tiga kali lipat lebih banyak dibanding peserta yang lain.

Membayangkan ini semua membuatku merasa tidak ada apa-apanya, meski harus mengurus Ais dan Fia — kakak-kakak Maura di rumah — yang seketika menderita panas-dingin karena stress semenjak lambaian tanganmu di Juanda pada hari pertama kau pergi. Hampir dua minggu panas tubuh mereka naik-turun. Dan hampir tiap saat ia menanyakanmu: kemana ibu pergi dan kapan akan kembali.

Mereka kehilangan bagian dari ibunya yang tak bisa digantikan begitu saja oleh ayahnya.

Ketika tiba di terminal bis Kangar, hatiku dag-dig-dug seperti ketika pertama kali berjumpa dirimu di RS Syaiful Anwar Malang kala itu. Dan rindu yang membuncah ini seketika seperti terobati ketika melihatmu menjemputku di pintu keluar terminal. Dengan Maura di gendongan. Dengan senyummu yang termanis yang pernah kulihat.

Kuperhatikan dirimu tampak gembira. Maura juga sehat-sehat saja, meski ia seperti asing dengan ayahnya setelah berpisah sebulan.

“Aku kerasan tinggal di sini,” katamu singkat, tetapi menjelaskan segalanya. “Daerahnya tenang, orangnya ramah, lingkungannya masih asli dan sehat. Tenang. Hampir tak ada kejahatan. Bahkan ibu-ibu berani menyetir mobil di malam hari tanpa takut celaka.”

Aku manggut-manggut tanda mengerti. Rupanya ia sedang jatuh cinta dengan negeri ini.

“Sungguh berbeza dibandingkan Surabaya,” katamu menggunakan kosa-kata orang Melayu yang kedengarannya geli di telingaku.

“Bagaimana kalau kita tinggal di sini?” tanyaku memancing.

“Mau!” jawabmu seketika seperti anak kecil ditawari jalan-jalan. “Mau sekali! Bahkan sampean sama Tuan Haji Ismail sudah disiapkan pekerjaan, lho Mas!”

“Ha? Yang bener aja?”

***

Ternyata apa yang kubayangkan benar. Lima hari menemanimu mengikut Sijil membuatku tak habis pikir. Bagaimana dirimu bisa mengikuti semua ini?

Pagi sekali sebelum yang lain bangun, dirimu sudah mulai mencuci. Bajumu, baju Maura. Sekarang ditambah bajuku. Kemudian shalat Shubuh berjamaah di mushala Tuan Haji Ismail dan dzikir Al-Ma’tsurat hingga menjelang matahari terbit. Mandi, memandikan Maura, dan kemudian bersiap berangkat ke kolej tempat Sijil diselenggarakan.

Kegiatan Sijil dimulai dengan sarapan pagi bersama-sama. Acara biasa berlangsung sampai malam. Bahkan kadang sampai larut, terutama ketika menyiapkan paparan di setiap hari Sabtu. Kuperhatikan dirimu merupakan peserta paling sibuk di antara yang lain. Betapa tidak? Ada bayi sepuluh bulan berada di sampingmu. Ia sedang aktif-aktifnya bergerak. Bahkan ia sudah bisa merangkak sekarang. (Aha! Dia belajar merangkak di Malaysia!)

Ketika perkuliahan berlangsung, Maura punya agenda sendiri. Ia akan merangkak di sela-sela kursi peserta. Kau tentu harus membagi perhatianmu padanya. Jika ia mulai jauh, mengganggu, atau pada posisi yang mengkhawatirkan, kau akan memindahkannya ke dekat kakimu lagi. Kau juga akan menjangkaunya dan menetekinya jika ia menangis. Kau akan menggendongnya ketika rewel karena mengantuk, sambil tetap mengikuti perkuliahan. Kau akan mengganti popoknya jika ia pipis atau eek. Dan ketika istirahat tiba, sembari makan atau menyantap makanan kecil, kau gunakan kesempatan itu untuk menetekinya, menidurkannya, mengganti bajunya, atau mengajaknya bercanda sebagai bagian dari haknya.

Di situasi yang demikian itu, kau masih sempat menjawab pertanyaan beberapa orang dan memberikan penjelasan. Karena ternyata dirimu di Sijil ini menjadi seperti pepatah lubuk akal tepian ilmu. Tempat bertanya orang. Dan kebetulan memang dirimu adalah satu-satunya peserta dari kalangan medis.

Lima hari aku menemanimu. Lima hari aku memperhatikanmu. Lima hari aku semakin yakin, kalau tidak karena memiliki azam yang kuat dan tekad yang baja, tak akan dirimu sampai ke tempat ini. Tak akan dirimu membawa serta Maura dalam dekapan. Tak akan dirimu bersusah-payah mengkaji berbagai ilmu pengobatan seperti berbagai tanaman berkasiat obat (herbal), berbagai teknik diagnosa (telapak tangan, iridologi, lidah, nadi), berbagai teknik terapi (al-hijamah atau bekam, herbal, chiropraktik, akupunctur). Tak akan dirimu tahan membuka ratusan buku di perpustakaan rumah Tuan Haji maupun perpustakaan Kolej Perubatan Jawi itu (dan tak heran jika oleh-olehmu terbanyak ketika pulang tak lain adalah buku!)

Lima hari itu semakin meneguhkan diriku, bahwa sungguh aku tak salah telah memilihmu menjadi ibu dari anak-anakku.

Tentu saja dirimu memiliki kelemahan dan kekurangan. Tetapi terus terang, jika tentang tekad, aku banyak belajar dari dirimu. Dan aku rela, jika itu kau tularkan pada Ais, Fia, Maura, dan juga jagoan kita, Azril yang Allah menganugerahkannya buat kita kini.

Aku ingin mereka memiliki azam yang kuat dan tekad yang baja.

Seperti ibunya.

***

http://bahtiarhs.multiply.com

Dek Caca & Bukunya

Sunday, August 27th, 2006

Dek Caca, anak pertama Mbak Azma Nadia kreatif juga yach. Dia mampu menyajikan tema horor dengan kocak hahahahaha. Ditambah lagi dengan gaya bahasanya yang "sok dewasa". Liat aja bacaan anak usia 9 tahun ini (pas seumuran dia, bacaanq aja ga setinggi itu) : Lupus, Charlie and the Chocolate Factory, dll. Weeww, sangar amat. Dalam buku Anak Penangkap Hantu ini Caca yang rambutnya kriwil dan pake kacamata tebal (jadi tambah imuutzz) coba ngajarin teman-teman sebayanya untuk tidak takut kepada hantu, jadi dia dalam bukunya dia buat hantu yang lucu-lucu, ada yang bentuknya kayak jempol dan tarzan. Kikikik…lucu banget ya? Kayaknya nama tokoh sentral dalam bukunya ini smaa dengan nama adeknya : Adam. Si Adam suka ngoleksi hantu, ditaruh di perpustakaan hantu (lho, kok ada ya?). Hantu-2 yg berhasil Adam tangkap dia masukin ke dalam botol. Mirip kayak di film Jenny si jin centil itu loh. Uniknya, hantu-2 itu menyusut dulu sebelum dimasukin ke botol. Menyusut setelah kalah tarung sama Adam. Wah wah wah, imajinasi Caca boleh juga ya?

KALIMAT HASBANAH

Sunday, August 27th, 2006

Beberapa hari ini aku sering gelisah dan gundah tanpa sebab. Pikiran kusut, tau-tau nangis. Beginilah wanita. Ada sesuatu yang menyesakkan dada, tapi ga bisa mendifinisikan. Kalau sudah dalam keadaan labil begini, ada satu kebiasaan yang bisa meredakannya. Ucapkan dua kalimat. Ya, hanya dua kalimat but means a lot : Hasbunalloohu wa ni’mal wakill (Cukuplah ALLOH sebagai penolongku dan ALLOH adalah sebaik-baik Pelindung). Maka jernihlah segala pikiran, legalah segala sesak di dada. And I can smile anymoreJ Menurut satu riwayat, kalimat “sakti” ini pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika hendak dilempar ke dalam api, dan api pun dingin seketika. Saat Jibril menawarkan bantuan, Bapak para`Nabi tersebut berkata : Tidak usah, ALLOH Tahu aku. Lalu Nabi Ibrahim as mengucapkan kalimat Hasbanah ini. Rosulullooh SAW juga pernah mengucapkan kalimat ini saat orang-orang musyrik mengganggu beliau SAW. Hasbunalloohu wa ni’mal wakiilJ Manusia dewasa 70% tubuhnya terdiri atas air. Dan air ternyata bisa membawa pesan dan informasi lewat kata-kata, suara dan gambar. Kata-kata yang positif, termasuk doa mampu mengubah kualitas air menjadi lebih baik sehingga jika manusia diberi kata-kata positif, maka kualitas air yang ada dalam tubuhnya pasti lebih baik. Thus, berilah selalu diri kita kata-kata yang positif. (baca : The True Power of Water, MQ Publishing, 2006)

Bertemu dr. Ang Swee Chai

Friday, August 25th, 2006

Bertemu dr. Ang Swee Chai (1)

”Ilmu kedokteran dan sastra menjadikan bukunya,
sebuah kesaksian atas pembantaian Sabra-Shatila,
begitu mengiris.”

Saya teringat menangis ketika membaca buku itu
untuk pertama kalinya, sekitar 15 tahun lalu. Tak
menyangka pekan ini saya bisa bertemu dengan
penulisnya secara langsung: dr. Ang Swee Chai.

Buku “From Beirut to Jerusalem” merupakan
kesaksian dr. Swee tentang Pembantaian
Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut,
Lebanon, pada 1982. Tak ada buku lain yang lebih
otoritatif dan paling detil menceritakan
pembantaian itu selain buku ini; termasuk bahkan
di antara buku yang ditulis oleh orang-orang Arab
maupun Muslim sendiri.

Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu
tonggak paling tragis dalam konflik Israel-Arab;
dan merupakan jejak Israel yang berlumuran darah
dalam konflik yang berumur hampir satu abad ini.

Agresi Israel di Lebanon sebulan lalu yang
membunuh lebih 1.000 orang, sebagian besar sipil,
perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan
infrastruktur sosial-ekonomi sebuah negeri,
hanyalah pengulangan sejarah dari agresi dan teror
sebelumnya. Agresi dan teror yang menemukan
puncaknya antara lain di Sabra-Shatila ini hampir
seperempat abad lalu atau di Qana sepuluh tahun lalu.

”Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada
keadilan,” kata dr. Swee. Dia memang memaksudkan
bukunya sebagai upaya pencarian keadilan itu tidak
hanya bagi korban Sabra-Shatila tapi bagi
Palestina keseluruhan. Dia tak hanya berhenti di
Beirut, tapi berlabuh juga ke Jerusalem,
episentrum dari seluruh konflik yang menahun ini.

Dr. Swee mengabdikan hampir seperempat abad
hidupnya setelah Sabra-Shatila membela Palestina
di forum internasional, termasuk di kalangan
penganut agama Kristen yang dipeluknya, yang
menganggap membela Israel tanpa-syarat merupakan
bagian dari ajaran Injil, tanpa sadar bahwa
sebagian orang Arab Palestina dan Lebanon adalah
Kristen juga.

Itu bukan perjuangan yang mudah terutama dalam
lima tahun terakhir, di tengah genderang ”perang
melawan teror” yang ditabuh Presiden George Bush,
pendukung utama Israel, yang menyebut Ariel
Sharon, arsitek pembantaian Sabra-Shatila, justru
sebagai ”man of peace”. Itu juga perjuangan sulit
di tengah kesan umum yang diciptakan oleh media
massa internasional bahwa Palestina adalah teroris.

Juga bukan perkara mudah bagi seorang yang
sehari-hari dikenal bukan sebagai politisi, analis
politik maupun kolumnis di media massa besar,
melainkan ”hanya” seorang dokter bedah ortopedik.

Bagaimana pun Sabra-Shatila adalah tonggak
pembalikan pikiran bagi dr. Swee. ”Sebagai seorang
Kristen fundamentalis dulu aku mendukung Israel…
Pengalamanku di Sabra-Shatila menyadarkanku bahwa
orang Palestina adalah manusia.”

Mengaku senang mendengar kisah David vs Goliath
ketika kecil, ”aku harus menghadapi kenyataan
pahit” bahwa Israel lah kini Goliath itu.

Dan orang tak bisa meremehkan keteguhan hatinya,
di balik tubuhnya yang mungil (tinggi 150 cm) dan
nampak rapuh pada usia 58 tahun kini.

Lahir di Penang, Malaysia, dr. Swee mengaku
dibesarkan dalam lingkungan yang riang, meski tak
bisa menyembunyikan kepahitan masa silam
orangtuanya. Ayah-ibunya pernah dipenjarakan
karena perjuangan mereka melawan penjajahan Jepang
pada Perang Dunia II. Pengalaman itu terlalu pahit
sehingga keduanya memilih menjadi ateis meski
membiarkan Swee tumbuh dewasa dalam lingkungan
Kristen yang taat.

Swee menyelesaikan sekolah kedokteran di Singapura
berkat dorongan ibunya, yang mengatakan penting
bagi perempuan untuk mencapai gelar yang umumnya
hanya disandang kaum lelaki. Sang ibu juga selalu
mengingatkannya, bahwa ”belum lama lalu, di
Daratan China, bayi perempuan yang baru lahir
ditenggelamkan karena dianggap tak berharga.”

Bertemu dr. Ang Swee Chai (2)

Dia mengambil spesialisasi bedah ortopedik di The
Royal London Hospital, Inggris, dan menjadi warga
negara itu sejak 1977. Bersama Francis Khoo,
seorang pengacara beragama Katolik, Swee kelak
mendirikan Medical Aid for Palestinians (MAP),
selepas Sabra-Shatila.

Di London itulah, pada musim panas 1982, dia
membaca koran dan menonton televisi yang
memberitakan bagaimana pasukan Israel menggempur
Lebanon. Dia nekad mendaftar sebagai sukarelawan
untuk berangkat, mengatasi rasa takutnya sendiri
terhadap kemungkinan mati, dan kemungkinan bertemu
dengan “bangsa teroris” Palestina.

Seperti Khoo, ”yang banyak mempertanyakan perannya
dalam masyarakat”, Swee mengaku keyakinan
Kristiani-nya telah memandunya mempertanyakan
perannya sebagai dokter.

Menurut Swee, ada sesuatu yang lain yang membuat
dokter berbeda dari sekadar seorang teknisi,
sekadar seorang montir tubuh yang rusak. ”Dokter
tinggal di tengah-tengah masyarakat dan semestinya
mengabdi kepada mereka.”

Masyarakat, bagi Swee, adalah umat manusia yang luas.

Di Beirut, khususnya di Sabra-Shatila, Swee tidak
hanya menemukan betapa bergunanya ketrampilan
menjadi dokter dalam menolong manusia lain, tapi
juga tentang betapa terbatasnya profesi ini dalam
situasi segila itu. Berada di tengah pembantaian,
Swee mengaku tidak berdaya: sementara menolong
orang yang sekarat, dia melihat tak jauh darinya
perempuan dibantai dan diperkosa seperti binatang.

Bagaimanapun, ilmu kedokteranlah yang telah
membuat ”From Beirut to Jerusalem” jauh lebih
bermakna ketimbang buku-buku yang bisa ditulis
seorang wartawan perang. Swee bisa secara rinci
melukiskan jenis luka, peluru apa yang merobek
tulang tengkorak korban, dan bahan-bahan kimia apa
yang terkandung dalam amunisi Israel.

Swee juga mengerahkan ketrampilan menulisnya.
Sastra bukanlah dunia asing baginya. Ketika dia
kecil, ibunya suka membacakan untuknya novel dan
cerita pendek klasik karya Guy de Maupassant,
Oscar Wilde, Edmondo de Amicis, Leo Tolstoy, Ivan
Turgenev dan Nikolai Gogol. Dan kombinasi antara
ilmu kedokteran dan ketrampilan sastra itulah yang
telah membuat buku ini berisi kesaksian detil
sekaligus mengiris.

Datang di Jakarta pekan ini dr. Swee tahu keadilan
yang dia perjuangkan untuk Palestina masih jauh
dari harapan. Dan khususnya pekan-pekan ini ketika
sejarah seperti berulang di Lebanon dan kekejaman
masih terjadi di Gaza, sementara dunia cenderung bisu.

Saya mengatakan kepada Swee, bukunya sebenarnya
lebih penting untuk dibaca oleh kalangan Kristen,
oleh orang Eropa dan Amerika yang selama ini getol
membela Israel tanpa-syarat. “Benar,” katanya.
“Tapi, bahkan orang Muslim di bagian dunia lain
juga sering tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi
di Palestina dan Lebanon.” Lebih dari itu, Swee
nampaknya punya problem lain dengan bukunya. >>

Bertemu dr. Ang Swee Chai (3)

Bukunya dalam edisi Bahasa Indonesia diberi judul
agak berbeda oleh Penerbit Mizan (Bandung), ”Tears
of Heaven”, untuk alasan yang pragmatis.

Buku Swee ”From Beirut to Jerusalem” diterbitkan
pertama kali oleh Grafton, London, pada 1989,
hampir bersamaan dengan Penerbit Farrar Straus
Giroux, New York, meluncurkan buku dengan judul
sama, tema yang lain, oleh Thomas L. Friedman,
seorang Yahudi Amerika.

Friedman dan bukunya jauh lebih populer untuk
alasan yang mudah dipahami. Dia kolumnis kondang
dari koran terkemuka di Amerika Serikat, The New
York Times, yang kelak akan menulis buku lebih
terkenal lagi berjudul ”The Lexus and the Olive Tree”.

Dr. Swee menyerahkan hak penerbitan di Amerika
kepada Penerbit HarperCollins pada 1996. ”Banyak
orang Amerika marah, dan Harper menghentikan
pencetakan buku saya,” kata Swee. Hanya dua tahun
setelah itu, HarperCollins menerbitkan ”From
Beirut to Jerusalem” versi Friedman. ”Harper baru
mengembalikan hak cipta saya untuk buku itu tiga
tahun setelah mereka berhenti menerbitkannya.”

”From Beirut to Jerusalem” versi Swee diterbitkan
lagi di Kuala Lumpur, pada 2002, oleh Penerbit The
Other Press.

Edisi terjemahan Indonesia ini diterbitkan sudah
sangat terlambat, 24 tahun setelah Sabra-Shatila,
namun justru sangat aktual: persis ketika Israel
mengulang lagi kekejamannya di Lebanon.

”Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada
keadilan.” Dan keadilan masih jauh dari harapan,
demikian pula perdamaian.*

Bertemu dr. Ang Swee Chai (3)
Message: Bukunya dalam edisi Bahasa Indonesia diberi judul
agak berbeda oleh Penerbit Mizan (Bandung), ”Tears
of Heaven”, untuk alasan yang pragmatis.

Buku Swee ”From Beirut to Jerusalem” diterbitkan
pertama kali oleh Grafton, London, pada 1989,
hampir bersamaan dengan Penerbit Farrar Straus
Giroux, New York, meluncurkan buku dengan judul
sama, tema yang lain, oleh Thomas L. Friedman,
seorang Yahudi Amerika.

Friedman dan bukunya jauh lebih populer untuk
alasan yang mudah dipahami. Dia kolumnis kondang
dari koran terkemuka di Amerika Serikat, The New
York Times, yang kelak akan menulis buku lebih
terkenal lagi berjudul ”The Lexus and the Olive Tree”.

Dr. Swee menyerahkan hak penerbitan di Amerika
kepada Penerbit HarperCollins pada 1996. ”Banyak
orang Amerika marah, dan Harper menghentikan
pencetakan buku saya,” kata Swee. Hanya dua tahun
setelah itu, HarperCollins menerbitkan ”From
Beirut to Jerusalem” versi Friedman. ”Harper baru
mengembalikan hak cipta saya untuk buku itu tiga
tahun setelah mereka berhenti menerbitkannya.”

”From Beirut to Jerusalem” versi Swee diterbitkan
lagi di Kuala Lumpur, pada 2002, oleh Penerbit The
Other Press.

Edisi terjemahan Indonesia ini diterbitkan sudah
sangat terlambat, 24 tahun setelah Sabra-Shatila,
namun justru sangat aktual: persis ketika Israel
mengulang lagi kekejamannya di Lebanon.

”Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada
keadilan.” Dan keadilan masih jauh dari harapan,
demikian pula perdamaian.*

HAIKU BUATANKU^_^

Thursday, August 24th, 2006

Haiku adalah bentuk puisi paling singkat di dunia, terdiri atas tiga baris dengan rima suku kata 5-7-5 per baris. Puisi-puisi haiku biasanya mengungkap pergantian musim dan perasaan yang terkait dengannya. Setiap haiku memuat setidaknya satu kata yang merujuk pada musim atau alam. Keunikan haiku terletak pada bentuknya yang ringkas dan sederhana namun mampu masuk ke dalam inti sebuah pengalaman. Haiku dalam bahasa asing (non-Jepang) tidak dapat mengikuti secara ketat aturan penulisan haiku Jepang dalam soal jumlah suku kata dan perujukan pada alam dan musim. Banyak variasi dalam pendekatan soal suku kata, tergantung pada bahasa dan pemikiran penggubahnya.

Oke, sekarang aku mau coba-coba bikin Haiku.

Haiku buatanku:

Gemerisik daun

Hembusan angin sejuk

Kemarau tiba

Penjelasan : Sekarang kan lagi kemarau tuh. Emang sich pergantian musim di Indonesia tidak terlalu tegas/kentara kayak di Jepang tapi tetep bisa dirasakan bedanya kok. Kalo pas kemarau, udara biasanya lebih dingin dan banyak angin. Wes ewes ewes bablas angineeee….weekekekeek.

Simak lagi :

Segelas susu

Kubuat tengah malam

Ga bisa tidur

Penjelasan : dari artikel yang pernah kubaca, susu bisa membantu orang yang tidak bisa tidur supaya syarafnya tenang sehingga mudah tidur. Hasilnya??? Ga mempan untukku. Buktinya pada saat ini (pukul 12 malam) aku masih nulis Haiku…wekekekekekeke

Lagi-lagi haiku :

Padi menguning

Sebentar lagi panen

Jelajahi pematang

Penjelasan : kalo pas padi menguning pemandangan sekitar sawah indaaah banget. Masa kecilku sempat dihabiskan dengan jalan-jalan di pematang sawah bareng temen-temen.Pulang ke rumah bonyok, baju penuh lumpur^_^.

Yang ini istimewa :

Bau teh di balkon

Memandang ke bawah

Putaran waktu

Penjelasan : kebiasaanku setiap berdiri di balkon lantai 3 fakultasku. adalah menikmati bau teh yang khas. Ini tidak sekedar bau teh. Maknanya lebih dalam dari itu. Dia menjadi bagian dari putaran waktu….

Mie Ayam Pangsit Pertamaku^_^

Thursday, August 24th, 2006

“Tik, ibu baru beli mie nich. Ibu tadi dah makan dikit, rasanya kok aneh ya, Coba dicicipi,” kata ibu sembari menyodorkan sesendok mie plus kuahnya yang bening kecoklatan. Bau segar daun sawi hijau menyeruduk hidungku. Untung saja aku sudah diizinkan makan makanan selain yang disediakan rumah sakit-yang bener2 kagak enak, hoeekkk- meski belum boleh bangun dari tempat tidur barang sedetikpun. Diagnosa geger otak dari dokter tidak menizinkanku terlalu sering memindah posisi kepala. “Heeemmm…enak tapi agak aneh,” sahutku setelah mie berkuah bening itu masuk ke mulutku. “Ibu beli dimana? Aku kok belum pernah makan mie kayak gini ya? Apa namanya?.” Dari cerita ibu aku tahu bahwa itu adalah mie ayam pangsit, ibu membelinya di samping rumah sakit karena penasaran dengan bau yang keluar dari asap yang mengepul. Kata ibu sich unik. Selama ini kami memang cuma tahu mie bakso dan mie goreng, that’s all! Itulah mie pangsit ayam pertamaku, yang kusantap di rumah sakit,. Sebuah perjumpaan yang aneh dalam keadaan yang aneh pula…wekekekekeke. Btw, karena gegar otak, aku harus nginap di RS selama 21 hari. Lumayanlah, dapat teman baru dan bisa tahu…”Oooooo, rasanya diinfus tuh gini tho…sebuah jarum besar dimasukkan ke tangan kita. Awalnya nyeri, lama-lama terbiasa. Namun kalo kelamaan, tangan kita bisa kaku juga.” Dan aku juga bisa tahu gimana rasanya nginap di RS. Itu yang pertama kalinya. Saat itu aku baru mau naik kelas 3 SD. Wekekekkeke. Yang disesalkan dari acara nginap selama 21 hari itu adalah aku harus bolos lama dari sekolah Madrasah Ibtidaiyah yang kujalani pada sore hari. Banyak sekali ilmu yang kudapatkan dari Madrasah, meskipun kau hobby tidur di kelas. Hihihihihihi Kadang ingin merasakan kembali indahnya kenangan masa kecil….

The Power of Water-Dr.Masaru Emoto sang “Ulama” Air

Monday, August 21st, 2006

The Power of Water-Dr.Masaru Emoto sang “Ulama” Air

Orang yang belum mengerti hakikat dan karakteristik air sering mengira bahwa pengobatan alternative dengan cara meminum air yang telah diberi doa sebelumnya merupakan suatu cara yang tidak ilmiah, oleh karena itu maka “layak” disebut sebagai cara yang tidak rasional. Namun, seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya. Subhanallaoh, air yang diberi respon positif, termasuk doa, akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah. Dr. Masaru Emoto melakukan penelitian selama 2 bulan bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ahli sains yang mahir menggunakan mikroskop). Dr. Masaru yang menyelesaikan pendidikannya di Yokohama Municipal University Departemen Kemanusiaan dan Sains jurusan Hubungan Internasional berhasil mendapatkan foto kristal air dengan membekukan air pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Lalu ditelitilah air dengan menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara.

Air yang Diberi Kata-Kata

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal. Jika kata positif yang diberikan, maka kristal yang terbentuk akan merekah luar biasa laksana bunga yang sedang mekar penuh, seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air yang sedang mengekspresikan kenikmatannya. Sebaliknya, jika kata-kata negative yang diberikan, maka akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang. Mungkin juga air dapat merasakan perasaan orang yang menulis kata tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika air diberi kumpulan kata yang merupakan doa? Subhanalloh, kekuatan air yang sudah menerima kata-kata itu, terutama untuk penyembuhan tentu sangat besar. Apalagi kumpulan kata yang merupakan doa tersebut bukan kata-kata biasa, tapi berasal dari Alloh SWT dan diucapkan oleh orang sholeh pilihan Alloh SWT. Dr. Masaru sendiri menggunakan kekuatan air untuk pengobatan dengan menemukan efek gelombang energi yang dia sebut sebagai HADO (energi atau kumpulan getaran yang ada pada sebuah benda). Lalu dengan HADO inilah Dr.Masaru bisa memformat efek energi air untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan dengan HADO ini merupakan salah satu cara pengobatan alternative. Menurut Dr. Masaru, banyak peneliti saat ini mulai mempelajari berbagai pengobatan alternative karena merasakan beberapa kekurangan dalam obat konvensional Barat, yang hanya mampu mencapai level sel yang menyebabkan gejala penyakit. Sedang air HADO mampu mengobati penyakit hingga ke dalam partikel sub atom terkecil. Sudah ada beberapa pasien Dr.Masaru yang sembuh setelah meminum air HADO.

Manusia sebagai Penerima Informasi

Berdasarkan penelitian Dr.Masaru, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat kita yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah air. Konsekuensi logisnya adalah manusia, sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air, sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit. Ambil contoh begini : sebagian orang mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik hanya dengan berbicara kepada dokter. “Efek placebo” ikut berperan saat dokter yang mereka percayai berkata, “ini cuma flu biasa, Anda hanya perlu banyak istirahat. Jangan khawatir, Anda akan segera sembuh.” Dengan mendengarkan kata-kata dokter tersebut, rasa cemas dan takut dalam diri mereka benar-benar hilang. Kata-kata tersebut membangunkan kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri, yang memang sudah ada dalam tubuh manusia. Pada zaman dahulu seorang dokter adalah orang yang juga ahli dalam bidang agama, seperti pendeta atau tabib sehingga dia tidak hanya memberikan solusi secara konvensional, namun sekaligus memberikan “efek placebo” lewat kata-kata positif berupa doa atau motivasi yang sarat nilai spiritual. Hal ini juga berlaku bagi konselor yang harus mempunyai kemampuan untuk mengirim gelombang yang baik agar bentuk gelombang abnormal pada pasien dapat diperbaiki.
Efek kata-kata juga bisa menimbulkan perilaku negative. Orang acapkali melakukan bunuh diri setelah membaca informasi tentang materi bunuh diri. Sekitar dua puluh tahun lalu seorang idola remaja di Jepang melakukan bunuh diri. Dengan cepat berita tersebut menyebar, banyak remaja-remaja lain mengikuti jejaknya. Kejadian tentang hantu pembunuh di Jepang juga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Mari kita ingat kembali bahwa air yang diberikan kata-kata positif akan menyusun kristal-kristal yang indah. Air mempersembahkan kepada kita makna yang mengagumkan bahwa kita seharusnya menjalani hidup dengan cara yang baik, serta tetap menjaga kesehatan pikiran dan tubuh kita serta berikankata-kata yang positif (informasi) yang baik kepada manusia, yang 70% tubuhnya adalah air.
Sungguh kita tidak akan mampu menghitung nikmat Alloh SWT yang diwujudkan-Nya berupa air. “Alloh-lah yang telah Menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia Mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu supaya behtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah Menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS. Ibrahim : 32).

Wallahu’alam bishshawwab

PS : sedikit analisa tentang ilmuwan Jepang. Sekarang ini mereka sebenarnya tidak terlalu respek dengan obat maupun pengobatan konvensional Barat sebab mereka melihat hasil yg tidak terlalu bagus. Namun karena kiblat science itu ke Barat ya otomatis penemu dan penemuan Barat-lah yang banyak dirujuk. Ini pun sempat disesalkan oleh Dr.Masaru. Namun sekarang sudah banyak penemu dan penemuan di Jepang (termasuk penemuan Dr.Masaru Emoto) yang mencoba melakukan harmonisasi dengan alam dan nilai-nilai spiritual. Contoh, ada sebuah tulisan dalam jurnal akademis yang berjudul “Fajar Kehidupan: Bagaimana Perkembangan Penelitian Ilmiah tentang Kepercayaan akan Bereinkarnasi dapat Mempengaruhi Pandangan Hidup Seseorang?”. Artikel ini ditulis Dr.Fumihiko Iida, Asisten Profesor di Jurusan Ekonomi, Universitas Fukushima, Jepang. Dan penelitian ini telah terbukti berhasil!!! Hasil penelitian Dr.Akiko Sugara dari Jurusan Ilmu Kesehatan Universitas Tokyo tentang HADO dalam makanan sepertinya dapat dijadikan dasar tinjuan tentang efek buruk daging babi pada orang yang memakannya. Dari sini kita dapat memberikan alasan kuat dan ilmiah mengapa babi itu diharamkan.
Ada satu perkataan D.Masaru Emoto yang ruaaaaarrr biasaa (orang Jepang ga bisa ngucap huruf “L” dengan fasih sehingga dalam alphabet Jepang tidak ada huruf “L”) : “Jika tujuan kami saat itu (melakukan penelitian) untuk memperoleh uang, saya kira air tidak akan merespon semangat keteguhan kami untuk kemudian membentuk kristal.”
Dr.Masaru juga pernah berkata bahwa orang yang suka ikut kegiatan keagamaan, HADO-nya cenderung bagus.
Dan tahukan Anda? Dr.Masaru Emoto sebelumnya tidak pernah mengira (tidak pernah berambisi) bahwa hasil penelitiannya ini akan mendapat respon yang ruaaarr biasa dari ilmuwan se-jagad. Awal ketertarikannya pada air adalah saat seorang rekannya memperkenalkan padanya tentang suatu jenis air yang bekerja dengan ruaaaar biasaa pada kaki Dr.Masaru yang sakit. Pengalaman ini sungguh menggugah hati Dr.Masaru yang kini keliling dunia (Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Kanada–àtempat cangkruk para ilmuwan se-jagad) memberikan presentasi soal penemuannya ini. Selain itu, konsentrasinya kini adalah memperkenalkan pengobatan alternative. Kalau yang semacam ini, saya sering lihat saat ustadz memberi doa-doa ke air, lalu diminumkan ke orang yg sedang sakit, terus selang beberapa waktu…..sembuh deh^_^. Bedanya dengan Dr.Masaru, ustadz tidak melakukan penelitian serumit itu. Beliau cukup dengan ainul yaqin bahwa : segala hal yang berhubungan dengan ALLOH itu Besaaaar^_^.

Hacker Israel Berusaha Rusak Situs Presiden Iran

Sunday, August 20th, 2006
Hacker Israel Berusaha Rusak Situs Presiden Iran
Jumat, 18 Agustus 2006 - 09:30:28 WIB
Situs pribadi Presiden Iran, Ahmadinejad berusaha dirusak para hacker Israel dengan cara beramai-ramai mengaksesnya biar macet, demikian dikurip sebuah koran Yahudi
Hidayatullah.com—Koran milik Yahudi, Yedioth Ahronoth melaporkan, pada hari Ahad  lalu, situs orang penting Iran ini telah berusaha dirusak oleh hacker Israel. Caranya, Hacker dari negeri Yahudi itu mengajak pembaca untuk ikut berpartisipasi ramai-ramai berkunjung situsnya agar macet.

Sebagaimana diketahui, Televisi Iran, Ahad lalu mengumumkan peluncuran blog Ahmadinejad  yang beralamat di www.ahmadinejad.ir. Media Iran itu juga mendorong publik agar mengirim pesan tertulis kepada presiden lewat blog nya.

Situs orang penting Iran ini diterjemahkan dalam banyak bahasa. Diantaranya; bahasa Persia, Inggris dan Arab.  Dalam waktu dekat, kabarnya juga akan diterjemahkan dalam bahasa Perancis.

Ahmadinejad, yang tahun lalu memenangkan pemilu Iran. Sejak awal, ia merupakan pemimpin yang paling dihalang-halangi Amerika karena dianggap tidak pro Barat.

Dalam situsnya, Ahmadinejad sempat menceritakan, pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Ruhollah Khomeini memohon kepada Ahmadinejad pada tahun 1960-an dan 1970-an ketika Ayatollah masih di pengasingan.

“Saya menjadi lebih familiar dengan pemikiran dan filosofinya, kasih sayang yang besar saya berikan untuk pemimpin spiritual ini dan perpisahan serta ketidakhadiran beliau bagi saya adalah hal yang amat berat,” tulis Ahmadinejad, dalam bahasa Inggris."

Presiden Iran ini biasa menggunakan blognya pada hari Jum’at. Dan lebih dari 2000 kata dalam bahasa Inggris, renungan tentang Revolusi Islam 1979 dan perang melawan Iraq tahun 1980-1988, ketika dia mengabdi pada Pengawal Revolusioner ditulisnya.

“Arogansi global memutuskan untuk mengalahkan Revolusi Islam Iran dalam segala hal,” kata Ahmadinejad. “Alasannya adalah mereka takut revolusi ini akan menjadi sebuah model dan jalan ideal bagi negara-negara lain di wilayahnya dan di dunia.”

Ia juga menulis soal Israel. Katanya, mMeskipun Israel dikenal sebagai penerima bantuan militer Amerika nomor satu di dunia, termasuk misil nuklir, Israel selalu dongkol dengan terdapatnya fakta bahwa Suriah dan Iran mampu  memberikan dukungan kepada gerakan perlawanan Hizbullah, dengan mengirimkan teknologi misil dan personil militer.

Para blogger Israel mengklaim bahwa situs Ahmadinejad, merupakan sebuah gerakan yang luar biasa, yang dilakukan oleh seorang presiden yang konservatif, yang menyebabkan ribuan orang Israel mengakses situs ini secara serempak. Tujuannya, tak lain untuk merusaknya dan macet.

Ahmadenejad dianggap sebagai salah satu pemimpin di dunia Islam yang cukup berani dan paling dibenci Yahudi. Ia pernah mengeluarkan kata-kata pedas bagi Yahudi pada 26 Oktober 2005 dimana dia meminta agar Israel dihapus dari peta dunia. [iol/kar/cha]

TERRIBLE

Friday, August 18th, 2006

Story based on the true story, but not a theory. Kacau balau balau kacau….terrible…the world I know fade away and you’re fading tooooooooooooo…wekekekekekekekekeke

When my FISIP, when my FISIP, when my FISIP goes marching in. And I want to be in that number, when my FISIP goes marching in…Seorang gadis berdiri di sebuah lapangan yang ga jelas (dibilang lapangan iya, disebut parkiran juga iya) dengan muka kuyu. Dia terus saja memandangi bayangannya. Makin panjang, berarti makin sore. Tapi mengapa acara ini belum juga berakhir? “Aku capek,” keluh si gadis sambil membayangkan dia sedang berbaring di kasur empuk. Kelak si gadis akan tahu, bahwa momen ini tak akan kembali, sampai kapanpun. Dengan masygul dipandanginya kantong plastic besar merah yang ditentengnya. Susah payah mencarinya semalam suntuk, ternyata cuman dibuat menaruh barang yang ga penting sama sekali. Entah kenapa si gadis tiba-tiba merasa sangat marah, bukan hanya pada apa yang sedang dia alami, juga kepada takdir yang melemparnya ke kota panas dan bising ini. Dia ingin menangis dan lari keluar dari semua ini, semuanya terasa berat dan sesak. Saat itu si gadis belum mengerti bahwa jika Sang Pemilik Kehidupan sudah Ketok Palu, setelah melalui berbagai proses sunnatullah, maka itu adalah hal terbaik untuk si penerima takdir. Saat itu si gadis masih terlalu labil untuk melihat semuanya secara jernih. Hari-hari si gadis diisi dengan menangis dalam kamar kos, yang lagi-lagi menjadi sasaran kemarahan si gadis. “Kurang luas dan terlalu banyak barang!,” teriak si gadis dalam tangisnya.

Beberapa langkah kaki terdengar mendekat, terdengar teriakan-teriakan parau beserta sumpah serapah Si gadis tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya ingin mengakhiri semuanya. Kepalanya terus tertunduk, pikirannya melayang, melayang, tak tahu kemana. Terbayang setiap rasa kesal, marah dan lelah selama 2 malam mengerjakan tugas absurd dari para senior yang tak kalah absurd : sok nyuruh yuniornya disiplin padahal mereka hobby lakukan pelanggaran. Masih untung si gadis punya teman berbagi keluhan. Seorang gadis tomboy yang suka berpakaian ketat menawarkan kamarnya dijadikan base-camp pengerjaan tugas absurd. Humor dan gelak tawa khas wanita bisa sedikit mengurangi akumulasi kemarahan yang memicu adrenalin si gadis untuk meremas benda apa yang ada di dekatnya atau menangis. Teman tomboynya yang easy going selalu berhasil membuatnya lebih niat memotong-motong kertas dan menuliskan baris demi baris kalimat essay. Jam 1 malam si gadis dan temannya “tewas” diantara serpihan kertas dan air mata, lagi-lagi si gadis menangis…

Ketika si gadis mencoba mendongakkan sedikit saja kepalanya, sebuah bentakan terdengar di dekat telinganya. Meskipun begitu, si gadis sempat melihat ada seorang lelaki berambut jabrik dan bertampang sangar sedang berjingkrak-jingkrak di depan. Suara yang keluar dari bibirnya yang terus berceracau lebih mirip umpatan dibanding ucapan, ga teratur tapi keras bukan main. Dia memakai baju serba hitam. Pasti senior, batin si gadis. Peduli amat, aku pengen pulaaang, kembali si gadis sibuk dengan pikirannya sendiri, sengaja tidak ingin focus pada acara yang baginya sangat konyol dan menyebalkan. Si gadis tidak pernah menyangka bahwa beberapa detik lagi akan terjadi peristiwa paling “bersejarah” dalam FISIP’s chronicles. Ceracau si senior jabrik makin kacau. Kali ini beberapa teman pria di sebelah si gadis meringsek ke depan, mendekati para senior sok disiplin itu, termasuk mendekati si senior jabrik. Dengan sekali gerakan saja, bisa habis meja di depan dibanting teman-teman yang tampak ingin mengamuk. Tiba-tiba dengan satu teriakan keras, si senior jabrik berhasil mengatasi keadaan. Lebih tepatnya, dialah yang tampak seperti pihak yang mengamuk, yang lainnya sudah aman terkendali, dia masih saja terus berteriak-teriak. Wah, kacau orang ini, omel si gadis. Dan untuk hari-hari selanjutnya, si senior jabrik memang semakin bertambah kacau…balau…kacau…balau.

DILATASI MEMORY

Thursday, August 17th, 2006

Tiket travel sudah dipesan. Untuk 2 orang, berangkat tanggal 25 Maret 2006 jam 5 sore, ke Madiun. Kali ini aku pake agen travel yang bukan langgananku, semata-mata ingin mencoba rasakan suasana yang berbeda. Dan…memang sangat berbeda dari yang sudah-sudah.
Ciiittttt…suara rem yang diinjak mendadak mewarnai setiap perjalanan. Dengan kepala berdenyut dan perut mual masih bisa kurasakan kasarnya supir membanting setir. Deuh, aku ga pernah suka orang kasar. Tubuh aku, Aisyul dan seorang penumpang lain berguncang cukup hebat, oleng sana oleng sini. Hoeeekkk…perutku yang sejak tadi sudah tidak kuat menahan guncangan segera saja memuntahkan segenap isinya. Untung masih sempat bawa plastic walau ga sempat minum Antimo. Sejak awal aku sudah bertekad untuk tidak muntah. Deuh, penyakit ini kok ga sembuh-sembuh ya. Terengah-engah ku membangun kesadaran, hanya demi melihat sudah sampai dimana perjalanan kami. Hemm..baru sampai Jalan Ahmad Yani. Walah, pemecah rekor nich. Masih di dalam wilayah Surabaya kok sudah KO. Aisyul dan penumpang yang satunya tampak menikmati perjalanan. Masih bisa tidur dan ketawa-ketiwi. Dalam keadaan tak berdaya begini, aku kangen ayah…Lho???
Begitu hoeeekkk, ayah biasanya langsung menghentikan mobil dan memijit leherku sambil mengoleskan balsem. Kemudian beliau bertanya apa aku masih kuat meneruskan perjalanan. Lha kalo aku tiba-tiba meminta pak supir menghentikan mobil, bisa-bisa dia mencak-mencak. Jadi kunikmati sendiri saja. Tak tega membangunkan Aisyul yang sedang pulas dalam tidurnya.
Perjalanan kali ini persis seperti ketika aku dan teman-teman UKKI pergi ke Mojokerto hadiri pernikahan Bos Besar Soni Sulaksono, mantan Ketum UKKI. Mobil wagon carteran yang kami tumpangi baru sampai Ngagel ketika…hoeeekkk, keringat dingin sebutir jagung membasahi sekujur tubuhku. Bukan hanya karna aku muntah, tapi….di depanku banyak ikhwan sesama pengurus, Ketum dan Sekum di depan tampak gagah pegang kendali rombongan. Lalu di bagian tengah masih terdapat 1 peleton ikhwan, yang meskipun dipisahkan oleh sandaran kursi, namun kami duduk berhadap-hadapan. Hiks…hiks… Mendingan pingsan saja dech, seandainya bisa. Aku tahu bahwa mereka tahu kalo aku muntah, tapi demi menjaga perasaanku, mereka pura-pura ga tahu. Aku pun pura-pura ga tau kalo mereka tahu dan memilih untuk sibuk menenangkan perutku yang lama-lama kosong karena semua isinya keluar. Tinggal cairan saja. Tubuhku serasa melayang, lemas sekali. “Pak supir, turunkan saya di sini,” pintaku tak bersuara. Sementara teman-teman akhwat lakukan upaya P3K = Pertolongan Pertama Pada KartikaJ.
Melewati serangkaian ‘pertempuran’, akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di Mojokerto. Hyung…hyung…hyung, jika tidak segera dipegang oleh Rica Marbun, mungkin aku sudah ambruk. Sendi-sendiku seperti barusan di-presto, lunak dan layu. Kulihat beberapa panitia berpakaian putih. Kulihat Safari, lalu Toto, lalu Soni…dan Ustadz..lho??? Mana pasangannya? Kok aku liat Soni bersanding sama ustadz??? Apa aku sudah benar-benar nge-fly ya..? “Marbun, endhi bojone Soni..?,” dengan mata yang masih merem-melek kutanyai Rica. Dia langsung menuntunku ke dalam rumah mempelai wanita. Cliiinggg…sesosok wanita anggun berdiri di depanku. Dasar akunya lagi nge-fly, bukan Barakalloohu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoiir yang terucap dari bibirku untuk wanita yang akan menjadi the first woman-nya Soni, tapi….”Maaf mbak, ada kamar buat istirahat ga…?”. Dieeenngggg….wajah cantik itu tampak keheranan, namun dengan sigap dia segera menunjuk sebuah kamar yang…penuh dengan bingkisan warna-warni. Beberapa menit kemudian aku baru tahu kalau bingkisan warna-warni itu bernama Peningset, sebuah hantaran dari keluarga mempelai pria kepada mempelai wanita (kalo salah mohon dikoreksi, maklum aku awam soal beginian). Bruukk..kurebahkan tubuhku ke kasur. Deuh, masih pusing niyyy. “Marbun, kamu di sini aja ya,” pintaku pada teman satu pengurus yang paling sering tengkar sama aku. Heran juga, kalo aku sakit dia kok care banget ya. Hihihi…enak ya berteman sama orang yang ngerti betul makna ukhuwah. Berbagai posisi berbaring sudah kucoba, tapi kepalaku masih pusing. Mual di perut juga belum hilang. Marbun menyodorkan antimo. Aku menolaknya, ga bisa nelen apapun. Aku pengen muntah. Dia lalu menyodorkan es buah. Heee??? yang bener aja. Es tidak menyelesaikan maslaah. Arrrgghhh, aku kesal pada perutku yang sedang mokong. Tidak menyerah begitu saja, kali ini dia menyodorkan teh anget. Kucoba meminum seteguk demi seteguk. Heemm, lumayan juga. Agak mendingan.
Selanjutnya, tubuhku masih nge-fly. Belum ada makanan yang masuk ke tubuh kecuali antimo dan air. Begitu tiba di pelataran masjid kampus, masih dengan posisi yang sama : berbaring dengan sukses:-)