Archive for September, 2006

THE HOURS

Tuesday, September 26th, 2006

“Mbaknya bau balsem”, seorang anak kecil dengan nada polos mengatakan itu padaku. Posisinya tepat di belakangku, 2 tangannya merangkulku, tubuhnya nggelendot di punggungku. Sempat geli juga sama kepekaan hidung dan celetukan polosnya. “Iya, aku sering pake balsem, lagi sakit sich,” jawabku tak kalah polosnya. Sehari sebelumnya, dia minta tanda tangan padaku untuk mengisi buku control tarawihnya. Saat itu aku cuma mengatakan bahwa aku akan menemaninya menemui ustadz yang memberi khotbah sholat tarawih di masjid Takhobbar milik Telkom Ketintang.
Akhir-akhir ini tubuhku emang kurang fit, tapi tetap kupaksakan beraktivitas seperti biasa. Sambil menunggu waktu buka puasa di teras Masjid Takhobbar jemariku tak berhenti menekan tuts-tuts lapotp yang sengaja kubawa kemana-mana agar bisa kubuat tulisan kapan saja dan dimana saja. Sesekali kuoleskan balsem ke tengkuk dan bahuku biar rada mendingan. Sebenarnya agak tersiksa juga sich bawa laptop kemana-mana. Berat serta ukuran laptopku lumayan gede. Punggung dan bahuku jadi korban, nyeri semua. Kadang kalau lagi jenuh, laptop hanya kugunakan buat nyetel lagu-2 yang ada dalam koleksi MP3-ku, sambil baca buku tentu.
Sudah 2 hari ini sebagian besar waktu kuhabiskan di sekitar masjid Takhobbar. Selain karna persis di sebelahnya ada Rumah Baca Az-Zahra, markasnya teman-teman FLP Jatim, fasilitas di lingkungan itu sangat lengkap : banyak warnet, toko, fotokopian, dan warung makan, semuanya dengan harga yang tergolong murah. Daripada riwa-riwi habiskan waktu di jalan, sholat Tarawih sekalian kulakukan di masjid Takhobbar. Ramadhan sebelumnya banyak kuhabiskan di masjid Manarul ‘Ilmi ITS. Alasannya praktis aja : masjid UNAIR sedang ditutup untuk renovasi. Di sana malah sekalian ketemu sama teman-teman lama.
Banyak peristiwa yang tidak terduga:-)

Batu Karang Mungil-Sehari Bersama Teh Pipiet

Saturday, September 23rd, 2006

Sosok perempuan mungil itu sepintas tampak ringkih, sama seperti manula pada umumnya. Tapi tidak, sungguh tidak! Thalasemia (penyakit kesulitan memproduksi sel darah merah) yang diidapnya sejak usia 11 tahun, ditambah perjalanan hidup yang bak film atau sinetron balada, teh Pipiet Senja, begitu beliau biasa dipanggil, adalah perempuan paling tegar yang pernah saya kenal. Beliau tidak pernah berhenti menulis dalam situasi apapun, termasuk ketika  badai cobaan mendera, menghempaskan tubuh mungilnya dalam sujud panjang penuh kepasrahan sekaligus memohon kekuatan pada ALLOH SWT. Tidak, sekali-sekali tidak! Jiwanya tetap tegar. “Saya menulis otobiografi itu dengan cucuran air mata. Ada kepedihan yang amat sangat. Tapi saya harus tetap menulis sebab menulis adalah terapi,” tuturnya.

        Beruntung sekali saya berkesempatan menemani beliau seharian sambil menunggu kepastian tiket pesawat yang akan membawa beliau pulang ke Depok. Awalnya saya deg-degan juga bertemu dengan beliau yang sudah menulis ratusan cerpen, puluhan novel, dan artikel di media-media Bandung dan Jakarta. Sebagai peminat karya sastra, belum satu pun karya yang pernah saya keluarkan kecuali sekedar tulisan biasa diblog dan media tempat saya bekerja.

        Teh Pipiet Senja yang hangat dan senang bercerita membuat saya terpana, tak bisa berkata apa-apa selain butir-butir air asin di pelupuk mata yang sekuat tenaga saya tahan agar tidak jatuh. Tegar sekali orang ini, produktif pula, batin saya. Batu karang mungil, itu sebutan saya pada beliau. Tubuh beliau memang mungil. Saat melihat-lihat abaya (baju gamis hitam khas Arab Saudi) di Ampel, beliau dengan berkelakar mengeluh soal besarnya ukuran abaya yang ada di sana. Saya sempat naksir juga pada abaya pilihan beliau yang penuh payet cantik. Teh Pipiet terlanjur jatuh cinta pada abaya berpayet emas itu meskipun ukurannya kebesaran. Soal harga, kami sempat agak lama nego dengan penjual, diselingi dengan guyon dengan penjual yang agak jengkel juga dengan kengototan kami. Namun pembawaan teh Pipiet yang akrab dan hangat akhirnya meluluhkan hati penjual abaya.

Saat saya bawa ke Ampel, teh Pipiet mengaku bahwa ini adalah kali pertama beliau berkunjung ke daerah yang dijuluki kampong Arab tersebut. “Unik sekali ya Ampel ini (beliau mengucapkan Ampel dengan “e” yang keluar dari kata “pelan”). Lain daripada yang lain. Pasarnya mirip seperti Pasar Seng di Mekkah sono,” dengan sorot mata takjub dan mimik lucu teh Pipiet sibuk melihat-lihat pemandangan sekitar pasar yang menjual aneka barang dan makanan khas Arab. Berkali-kali beliau melirik ke baju-baju Muslim warna-warni yang dipajang di toko-toko. Hari itu pengunjung Masjid Ampel sedang banyak-banyaknyanya. Riuh-rendah keramaian terasa sekali. Maklum, menjelang Romadhon, orang-orang dari daerah sekitar Jatim, utamanya Madura, berkunjung ke Makam Sunan Ampel. Tradisi menjelang Romadhon ini disebut nyekar. Teh Pipiet saya ajak berkeliling kompleks masjid legendaris ini. Tiba di depan kompleks makam, lagi-lagi beliau takjub. “Wah, beruntung saya ajak kamu ke sini. Ini menarik sekali. Lagi pada berdoa di makam ya? Orang-orang ini dari mana ya? Itu kayaknya ibu-ibu pengajian ya?,” berondongan pertanyaan teh Pipiet sempat membuat saya gelagapan juga. Sebagai seorang pemandu, boleh dikatakan saya ini agak payah. Alhamdulillah, seorang bapak yang berdiri di sebelah kami langsung menjelaskan info seputar ritual nyekar di Ampel.

        Intensnya tutur teh Pipiet bercerita tentang keharuannya saat mendapat tiket Umroh gratis dari Travel Cordova, sebuah agen Haji&Umroh milik Bapak Faisal Sukmawinata. Istri pak Faisal adalah penggemar berat karya-karya teh Pipiet. “Apa aku pantas menerima semua kenikmatan ini Ya ALLOH. Sudah banyak sekali nikmat yang Kau Berikan pada hamba,” isaknya dalam sujud syukur.  Pengalaman hidup yang pahit telah menjadikan hati teh Pipiet mudah tersentuh.   Selama menunaikan ibadah haji, teh Pipiet mendapat banyak hikmah. Ada banyak peristiwa yang makin membuatnya tenggelam dalam sujud panjang. Kumpulan hikmah di tanah suci InsyaALLOH akan dibuat buku. Duh, penulis tegar yang satu ini memang sangat produktif. Salut saya. “Saya tuh kalo nulis ga mau rumit-rumit, agar semua orang bisa mengerti apa yang saya tulis,” ujarnya saat dimintai pendapat soal karya sastra rumit yang pernah saya baca dengan kening berkerut. Teh Pipiet juga banyak bercerita tentang sisi lain beberapa penulis dan sastrawan Indonesia. “Kalau ditanya siapa penulis yang saya sukai karya-karyanya, NH.Dini itu luar biasa. Dia bagus di detail, bisa gambarkan suasana dengan sangat bagus, terperinci. Remy Silado itu guru saya. Beliaulah yang selalu memberi motivasi kepada saya untuk menulis. Waktu itu saya tergabung dalam bengkel sastra di Bandung dan Remy Silado ada di sana sebagai pemandu. Bisa dikatakan beliau itu guru saya,” kenang teh Pipiet soal penulis-penulis yang telah menginspirasi dirinya. Beliau juga kenal dengan WS. Rendra (rencananya teh Pipiet akan menerima Bakrie Award bersama Rendra tapi teh Pipiet tolak karena tidak respek kepada Aburizal Bakrie atas kasus Lapindo-nya), Putu Wijaya (teh Pipiet salut sama tulisan-tulisannya. Putu Wiaya juga-lah yang telah merekomendasikan Mbak Helvy Tiana Rosa untuk berangkat ke Amerika jadi dosen tamu di sana),  Helvy Tiana Rosa (tempat teh Pipiet mengadu soal terror yang pernah diterimanya dari salah satu parpol gara-gara teh Pipiet menolak membuatkan biografi tokoh-tokoh parpol tersebut sebab beliau amat tidak respek terhadap parpol yang terkenal anarkhis itu),  Adian Husaini (selain menulis dan menjadi dosen, beliau juga kerja di penerbit Gema Insani. Di sanalah teh Pipiet sering bertemu pak Adian Husaini yang banyak menulis buku di bawah payung penerbit Gema Insani), Arswendo Atmowiloto (yang menawari teh Pipiet menulis di bawah payung penerbit Gramedia tapi beliau tolak mentah-mentah), Ustadz Fauzil Adhim (seorang penulis yang menurut teh Pipiet sangat low profile dan santun. Memanggil teh Pipiet dengan “mbak teteh” dan teh Pipiet membalasnya dengan memanggil Ustadz Fauzil dengan “mas ustadz”) dan lain-lain seperti Ayu Utami, yang hasil karyanya (novel Saman dan Larung) disebut-sebut sebagai “sastra lendir”, yang artinya sastra yang menjadikan tema sex sebagai panglima. Djenar Mahesa Ayu yang merupakan anak sasrawan Sumandjaya juga disebut-sebut sebagai penulis aliran “sastra lendir.”

        Sebagai seorang penulis senior, teh Pipiet yang dikarunia 2 anak dari pernikahannya yang “ajaib” sering mendapat tawaran dari penerbit ternama di tanah air untuk menjadi penulis tetap. “Gramedia, lewat Arswendo Atmowiloto pernah menawari saya menerbitkan tulisan saya di bawah payung Gramedia. Saya tolak mentah-mentah. Gramedia itu kan penerbit yang ga peduli moral dalam buku-bukunya, pokoknya asal laku lah. Terus Arswendo ngomong gini ke saya, ‘kalo kamu ga mau nulis di Gramedia, kamu ga bakal jadi penulis’. Enak aja, emang yang menentukan jalan hidup dan rezeki kita siapa? Emang Gramedia? Terakhir kali saya bertemu Arswendo, saya bilang ke dia, ‘Mas Arswendo, aku dah nulis 76 buku loh,” sambil tersenyum teh Pipiet  bercerita tentang teman-teman sesama penulis.

“Saya sebenarnya ingin sekali menemani NH.Dini melalui masa tuanya. Kasihan dia, sekarang di panti jompo, ga ada yang ngurus. Sebagai sesama penulis yang sudah tua, saya sangat memahami perasaannya yang sekarang hidup seorang diri,” kata teh Pipiet sambil menerawang. Teh Pipiet sendiri sekarang tinggal berdua dengan Butet (Adzimattinur Siregar) anak bungsunya yang berusia 15 tahun. Anak pertamanya, Haekal Siregar (24 tahun) tinggal bersama istrinya. Sedangkan suaminya tinggal sendiri. Hubungan antara teh Pipiet dan suaminya memang tidak harmonis. Kenyataan pahit ini pulalah yang menginspirasi teh Pipiet untuk menulis banyak buku, termasuk otobiografi terbarunya, “Bagaimana Aku Bertahan” (Khairul Bayan, Jakarta, 2006). ALLOH SWT rupanya sangat sayang pada teh Pipiet. ALLOH Mengkaruniakan Haekal dan Butet untuk menjadi bintang dalam langit kehidupan teh Pipiet. Sebagai seorang ibu, teh Pipiet sangat bangga memiliki anak seperti mereka. “Anak ajariku cinta,” adalah salah satu bab dalam otobiografi “Bagaimana Aku Bertahan.”  Saat kami berdua minum-minum di salah satu warung dekat kampus (seribu maaf saya haturkan buat teh Pipiet yang cuma bisa menikmati suguhan dan pelayanan apa adanya. Saat itu saya tidak punya cukup uang untuk mentraktir teh Pipiet di tempat makan yang lebih mewah. Malu sekali rasanya memperlakukan tamu seperti itu), teh Pipiet, dengan mimik bahagia campur haru (teh Pipiet tampak sering berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Dalam biografinya, teh Pipiet mengaku bahwa beliau hanya ingin terlihat tegar. Sudah kering air mata diperas oleh kehidupan rumah tangga yang menjadi cobaan terberat bagi beliau. Saya yang  melihat aura kebahagiaan teh Pipiet saat bercengkerama bersama anak-anak dan menantunya turut merasakan kebahagiaan juga. Sambil memperlihatkan rekaman video singkat di HP-nya, teh Pipiet berkata, “menantu saya, Seli, beserta keluarganya sangat baik sama saya. Besan saya menganggap Haekal seperti anak sendiri. Sebelumnya Haekal memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bersyukur sekali saya. Setelah ALLOH Memberi banyak cobaan dan kesulitan, Dia Melimpahkan kenikmatan yang begitu besar, sampai-sampai saya merasa malu.”

        Siang yang panas tidak menyurutkan keinginan saya untuk membawa teh Pipiet keliling ke Pesantren Hidayatullah dan kampus ITS. Sebenarnya saat itu kami sudah mau pulang ke tempat teh Pipiet menginap, di daerah Jalan Arif Rahman Hakim, kos-kosan Mbak Novi, salah satu anggota FLP Surabaya. Berhubung kami melewati daerah ITS, jadi sekalian saja saya bawa teh Pipiet ke sana. Tadinya saya juga ingin membawa teh Pipiet ke kantor majalah Hidayatullah di Rewwin, Sidoarjo. Tapi saya kasihan sama teh Pipiet yang nampak kelelahan dan kepanasan. Mungkin kalau saat itu yang kami tumpangi adalah mobil full AC tidak menjadi masalah mau keliling sampai Porong sekalipun. Tapi, sekali lagi beribu maaf saya haturkan pada teh Pipiet karena hanya motor-lah yang tersedia. Lucunya, di sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya teh Pipiet bercerita tentang kehidupannya. Semuanya beliau ceritakan, dengan lugas. Saya yang baru mengenal dan baru pertama kali ini bertemu dengan teh Pipiet merasa seolah-olah sudah kenal lama sekali. Teh Pipiet ini egaliter sekali. Beliau tidak mau mentang-mentang, meskipun beliau seorang penulis senior. “Saya sama anak-anak saya aja kayak teman. Saya berusaha untuk dekat dengan mereka,” tukasnya. “Teh Pipiet orangnya enak kok, gaul dan gampangan,” terngiang perkataan Pak Haikal menjawab kekhawatiranku bertemu penulis senior yang tidak mengenal mood ketika menulis ini. “Latihan dek, semua butuh proses. Saya juga ga langsung bisa. Saya sudah menulis puluhan tahun jadi sudah ga tergantung lagi sama mood,”  rendah hati teh Pipiet menanggapi kekagumanku atas produktivitas dan kekonsistenan beliau menghasilkan karya. Beberapa novel beliau yang diterbitkan Gema Insani berhasil menjadi best seller.

Saat ini teh Pipiet dikontrak eksklusif oleh penerbit Khairul Bayan Jakarta, dan bulan Desember nanti InsyaALLOH kembali mendapat kesempatan naik haji gratis, dengan semua biaya ditanggung oleh Travel Cordova milik Pak Faisal Sukmawinata yang menurut teh Pipie adalah sosok yang baik hati dan tawadhu’.

        Dalam sebuah pengajian yang dikelola Ustadzah Yoyoh Yusroh, teh Pipiet mengaku kaget dengan jamaahnya yang kebanyakan ibu-ibu dari kalangan berduit. “Wah, bingung saya. Masa’ ada seorang ibu yang rumahnya cuman beda 3 rumah dari tempat pengajian, eh dianya bawa mobil! Kan deket banget tuh. Kenapa ya? Terus saya nanya ke ibu-ibu yang lain. Ternyata ibu tadi punya penyakit psikologis, dia ga bisa meninggalkan rumah barang sebentar. Ketakutannya akan keselamatan anak-anak dan rumahnya terlalu berlebihan. Dia rajin pergi ke psikiater. Wah kalo gitu saya nih jauh lebih beruntung ya. Harta ga punya tapi masih bisa ketawa-ketiwi hahaha,” gaya bertutur teh Pipiet yang ceplas-ceplos berhasil menghapus gap antar generasi. Di depan beliau, saya merasa berhadapan dengan seorang teman karib.

        Awalnya teh Pipiet keberatan ikut pengajian bersama ibu-ibu dair kalangan berduit. “Saya nanya ke Ustadzah Yoyoh Yusroh, ‘kenapa saya digabung ama mereka? Saya malu. Mereka kaya, bawa mobil semua, sedang saya miskin’. Tapi ustadzah Yoyoh meyakinkan saya. Katanya ini untuk pembelajaran. Eh, ternyata bener juga ya. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah hidup ibu-ibu itu. Saya nih ternyata jauh lebih beruntung,” jelas teh Pipiet. Dalam pengajian tersebut teh Pipiet didapuk sebagai editor naskah kultum semua peserta pengajian. Selama mengedit naskah-naskah tersebut, teh Pipiet sering menangis, mensyukuri hidupnya yang lebih beruntung. Banyak yang harus disyukuri.

Bed Room, menjelang siang

Islam, Jepang dan Budaya Literasi

Wednesday, September 20th, 2006

Sebelum zaman Renaissance, Islam pernah berjaya menguasai dunia. Budaya literasi (baca & tulis) umat Muslim pada saat itu sangat tinggi. Bayangkan saja, Ibnu Taimiyyah, salah seorang ilmuwan Muslim termasyhur setidaknya telah membaca 20.000 buku dan menghasilkan karya besar. Belum lagi ilmuwan Muslim seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Haytam, Al-Farabi, Ibnu Khaldun dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di sini, saking banyaknya. Kontribusi mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar. Mereka tidak sekedar seorang ilmuwan tapi juga ahli agama. Ini tidak mengherankan karena tidak ada pertentangan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan sehingga tidak ada alasan untuk melakukan pemisahan antara keduanya.
Kualitas sebuah peradaban tentu tidak bisa dilepaskan dari seberapa tinggi budaya literasi yang dimiliki peradaban tersebut. Kita masih ingat tentang peristiwa tragis yang melanda peradaban Islam ketika air sungai Eufrat menghitam kena lunturan tinta dari ribuan, bahkan mungkin jutaan buku yang dibuang ke sungai oleh pasukan Khubilai Khan. Saat itu Mongolia maish primitive, belum mengerti arti penting buku bagi peradaban. Sampaisekarang pun Mongolia masih primitive. Seandainya mereka tidak membuang buku-buku itu dan membacanya, mungkin sekarang mereka sudah muncul sebagai peradaban terbesar.
Sinar peradaban Islam menerangi dunia, termasuk Barat. Saat itu Cordova masih bersinar dengan cahaya pengetahuan. Jalanannya ramai dipenuhi para sarjana dari berbagai negara yang sedang mencari literature. Kita tidak bisa memungkiri bahwa buku karangan Ibnu Sina, Canon of Medicine sampai sekarang masih menjadi literature paling penting dalam ilmu kedokteran Jerman. Namun saudara, cahaya pengetahuan yang pernah dimiliki umat Islam kini memudar. Perabadan sedang mengalami pergiliran. Kita sedang mati suri, untuk kemudian bangkit kembali merajai dunia. Pertanyaan yang muncul adalah : bagaimana cara mengembalikan cahaya itu?
Malik bin Nabi (1905-1973), pemikir gaya Ibnu Khaldun, dari Aljazair, pernah mengajukan formula “kebangkitan Islam” yang sederhana : “Kaum muslim kembali ke sumber utamanya, Al-Qur’an dan Hadits, sambil mengambil berbagai unsur yang baik dari luar”, bak “memasukkan unsur lain ke dalam pohon yang kita tanam, agar unggul, tanpa ia sendiri kehilangan aroma dan rasa aslinya”. Dengan manusia, tanah, dan waktu yang dimiliki dunia Islam sekarang,
ia optimis, kejayaan Islam sebentar lagi akan tiba, malah fajarnya pun mulai menyembur. Sepanjang syaratnya terpenuhi, sikapnya itu bukanlah sesuatu yang berlebihan. Prof.Dr.Mohammad Nor Wan Daud, seorang guru besar di International Institut of Islamic Thought and Civilization—International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), kaum Muslim tidak usah apriori terhadap ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban di luar Islam. Prof. Dr. Wan Mohammad Nor Wan Daud mengajak kaum Muslim untuk mengakui, bahwa banyak ilmuwan di luar Islam yang gigih dan bersungguh-sungguh dalam mengejar ilmu, dan banyak kebaikan dapat diperoleh dari mereka.
Dalam buku yang ditulis Prof.Dr. Wan Mohammad Nor Wan Daud yang berjudul Budaya Ilmu (Pustaka Nasional Pte-Ltd, Singapura, 2003) disebutkan bahwa yang menarik untuk dicermati adalah Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa yang terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu peradaban cemerlang. Kita bisa bercermin dari keberhasilan Jepang menyaingi Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada seorang pemuda bernama Kinjiro Ninomiya yang hidup pada awal abad ke-20. Kegigihannya dalam memburu ilmu menjadi inspirasi masyarakat Jepang. Oleh pemerintah Jepang, semangat Kinjiro itu kemudian disebarkan dalam bentuk buku teks moral, tugu peringatan, dan lagu-lagu. Semangat inilah yang banyak memberi inspirasi masyarakat Jepang untuk mengejar ilmu pengetahuan dan kemudian tampil sebagai salah satu peradaban besar.
Pada abad-abad ke-19, masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat “haus ilmu”. Budaya itu telah membangkitkan Jepang menjadi kekuatan dunia dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi yang mengagumkan pada masa-masa berikutnya. Banyak ilmuwan Barat heran, bagaimana bangsa yang dikalahkan dan dihancurkan dalam Perang Dunia II itu kini mampu mengalahkan Barat dalam berbagai bidang. Profesor Ezra Vogel dari Harvard University, merumuskan, bahwa kejayaan Jepang ialah berkat kepekaan pemimpin, institusi, dan rakyat Jepang terhadap ilmu dan informasi dan kesungguhan mereka menghimpun dan menggunakan ilmu untuk faedah mereka.
Jepang telah menempatkan ilmu dalam posisi penting sejak Zaman Meiji (1860-an-1880-an). Pada akhir 1888, dikatakan, terdapat sekitar 30.000 pelajar yang belajar di 90 buah sekolah swasta di Tokyo. Sekitar 80 persennya berasal dari luar kota. Pelajar miskin diberi beasiswa. Sebagian mereka bekerja paroh waktu sebagai pembantu rumah tangga. Namun mereka bangga dan memegang slogan: “Jangan menghina kami, kelak kami mungkin menjadi menteri!” Para pelajar disajikan kisah-kisah kejayaan individu di Barat dan Timur. Contohnya, buku Yukichi Fukuzawa, berjudul Galakkan Pelajaran pada tahun 1882 terjual 600.000 naskah. Buku ini antara lain menyatakan: “Manusia tidak dilahirkan mulia atau hina, kaya atau miskin, tetapi dilahirkan sama dengan yang lain. Siapa yang gigih belajar dan menguasai ilmu dengan baik akan menjadi mulia dan kaya, tetapi mereka yang bodoh akan menjadi papa dan hina.” Sampai saat ini, Jepang adalah satu-satunya negara di Asia yang mempunyai kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti Amerika.
Sifat dasar orang Jepang memang tekun dan pekerja keras. Selain itu rata-rata dari mereka mempunyai keinginan untuk selalu belajar dan selalu memperbaiki hasil kerja mereka. Mungkin sifat-sifat dasar ini menjadi salah satu pendukung kehebatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca dan tulis masyarakat Jepang.
Semua itu ditunjung oleh banyak hal. Perpustakaan umum (yang umumnya dikelola oleh pemerintah daerah/pusat) juga sangat memanjakan pengunjungnya. Keberadaanya bukan hanya terletak di pusat kota, namun juga menjangkau hingga ke pelosok. Jika buku yang hendak dipinjam tidak ada pada perpustakaan dekat tempat tinggal, pengguna bisa memesan ke perpustakaan lain lewat pustaka lokalnya. Inilah yang menyebabkan, akses buku masyarakat di desa tidak kalah dengan masyarakat kota.
Jaringan perpustakaan publik disinergikan dengan pengembangan bentuk-bentuk aplikasi model perpustakaan modern yang berbasis digital, seperti pembentukan e-library yang menyediakan bacaan, artikel populer, buku hingga jurnal dalam bentuk online yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Menggandeng University of Tokyo, pemerintah Jepang pada tahun 2002 telah sukses meluncurkan e-library for community, ini adalah sebuah program pemberdayaan perpustakaan digital dengan basis pengembangan masyarakat, dimana selain pengguna bisa mengakses, mereka juga dilibatkan sebagai kontributor untuk mengisi naskah/tulisan dalam program tersebut. Yang perlu dicatat, semua bentuk layanan baca tulis ini disedikan secara gratis, kalaupun ada beberapa item yang harus dibayar, umumnya dengan harga yang terjangkau oleh pengguna kelas bawah sekalipun.
Menurut data dari Berdasar sebuah data statistik dari NIPONIA (majalah bulanan tentang kejepangan) jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Wilayah Amerika Serikat dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Karena itu, data ini menunjukkan bahwa toko buku sangat banyak di Jepang, mudah dijangkau, dan berada sangat dekat dengan masyarakat Jepang. Sebuah kelebihan yang membuat bahagia para konsumen buku dan penerbit tentunya. Juga menunjukkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap budaya membaca. Berdasarkan catatan dari Japan Economic Monthly Vol. 4 tahun 2004, mengutip data dari Research Institute of Publications disebutkan bahwa tahun 2003 terdapat sekitar 72.608 judul buku yang dihasilkan dengan dukungan sekitar 4.300 penerbit aktif. Jumlah toko bukunya mencapai 23.000 buah dengan standar harga yang hampir seragam. Tingginya jumlah penulis, pemula maupun profesional membuat pemerintah beserta masyarakat Jepang menggelar 380 penghargaan dalam bidang penulisan. Berbagai macam penghargaan ini juga ditujukan untuk memotivasi munculnya penulis baru yang berbakat.
Toko buku yang ada tak melulu toko buku baru. Menurut bunkanews (situs khusus tentang media massa Jepang), toko buku bekas atau toko buku tua menempati presentase sepertiga jumlah toko buku. Artinya, jumlah toko buku bekas adalah separuh jumlah toko buku baru. Keberadaan toko buku bekas ini sangat menolong konsumen buku, karena mereka bisa mendapatkan buku yang mereka inginkan dengan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau. Bahkan terkadang, kita bisa mendapatkan buku-buku tua yang sangat bernilai namun sudah tak lagi diterbitkan. Toko-toko buku ini berani untuk buka sampai larut malam, lebih malam dari departemen store maupun supermarket. Mengapa demikian? Karena kaki para konsumen buku terus mengalir sampai malam. Banyak di antara mereka yang datang hanya untuk sekedar “tachi yomi” (artinya membaca sambil berdiri di toko buku tanpa membeli) melepas kebosanan di malam hari. Tachiyomi sekilas tampaknya hanya merusak pemandangan toko. Namun ternyata oplah penjualan berbanding lurus dengan jumlah orang yang tachiyomi. Artinya, ada kencenderungan sehabis tachiyomi orang tergerak untuk membeli bacaan lainnya. Menurut Yoshiko Mizuno, seorang pembicara dalam seminar “Reading for All” yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI bersama dengan Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) 3-5 Agustus 2006, kebiasaan membaca di Jepang sekarang, bukanlah datang dengan sendirinya, tetapi dengan usaha yang keras, sekolah-sekolah di Jepang mewajibkan murid-muridnya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Pola pendidikannya juga dibuat untuk mendorong siswa agar aktif membaca. Masih menurut Mizuno yang bergerak dalam pemenuhan bahan bacaan masyarakat, anak-anak telah dibiasakan dengan bahan bacaan meskipun anak itu sendiri belum bisa membaca.
Seorang teman yang tinggal di Jepang mengatakan bahwa di wilayah Ikebukuro, salah satu distrik perdagangan tersibuk di Tokyo telah dibangun toko buku terbesar di dunia. Dengan bangunan megah bertingkat sembilan, luas lantai 6.500 meter persegi, dan koleksi buku sebanyak 1,5 juta judul, toko buku Junkudo merupakan surga bagi para pembaca. Toko baru ini mempunyai keunikan tersendiri. Masuk ke dalamnya tak terasa seperti berada di dalam sebuah toko buku. Anda akan menemukan atmosfer seperti di dalam sebuah perpustakaan besar. Ada suasana hening, dan sedikit akademis. Buku-buku disusun dalam rak-rak tinggi yang berjejer teratur dan rapi. Berkunjung ke toko ini seperti menyaksikan ketangguhan budaya literasi masyarakat Jepang.

Wallahu’alam bishshawwab

JUST THE WAY WE ARE

Wednesday, September 20th, 2006

Just The Way We Are. Ceritanya sich cukup simple, tapi variabel-variabel yang mengisi kesimpelan kisah dorama Jepang ini amat signifikan. Yuna dan Kaori (sebut saja begitu) adalah 2 orang wanita yang bertemu dengan cara yang tidak terduga. Karakter mereka pun sangat berlawanan. Yuna seorang wanita lembut, rapuh dan pasif; sedang Kaori cenderung lebih agresif, tomboy dan dinamis. Jika Yuna bekerja sebagai pustakawan yang hanya berkutat dengan buku, Kaori adalah seorang penari latar yang ingin mengembangkan sayap selebar-lebarnya. Persaingan keras dan kotor sering Kaori alami. Itu sudha menjaid hal biasa dalam dunia hiburan. Kaori yang berapi-api dan emosional bisa diredam oleh Yuna yang lembut dan hangat, termasuk ketika Kaori frustasi atas kegagalannya meniti karier di dunia tari. Yuna selalu terpesona oleh tarian Kaori, hingga suatu hari Yuna meminta Kaori menari di hadapannya. “Kau tampak bersinar ketika menari,” puji Yuna besarkan hati Kaori. Dari kekagumannya atas tarian Kaori, Yuna kemudian membuat sebuah buku cerita anak tentang dua orang sahabat. Cerita ini diadaptasi dari kisah persahabatannya dengan Kaori. Dalam bukunya terdapat ilustrasi Kaori yang sedang menari, indah sekali, penuh warna. Naaahhhh…bagian ini-lah yang paling saya suka : Yuna membuat sebuah buku cerita anak berdasarkan kisah persahabatannya dengan Kaori. Dari sisi logika, dorama Jepang ini sama sekali tidak berkhayal atau ahistoris. Menulis, bagi orang Jepang, mungkin sama penting dan mudahnya dengan menonton TV bagi orang Indonesia. Perhatikan data di bawah ini :
8 dari 10 orang Jepang punya skill menulis. Angka itu lebih tinggi dari AS dan Jerman. Kenapa orang Jepang bisa begitu? Karena budaya literasinya sudah sedemikian tinggi. Sejak kecil mereka sudah dikenalkan dengan budaya baca dan tulis. Ada program di sekolah yg namanya ‘sakubun’ yakni mengarang. Tiap siswa diminta menuliskan apa cita-citanya kelak jika sudah besar. Kemudian ‘sakubun’ ini akan dibacakan di depan kelas setelah itu disimpan sebagai kenang-kenangan. Kelak akan dibuka lagi. Hanya itu? Tidak. Sebelum dimulai pelajaran, siswa diminta untuk membaca buku selama 10 menit. Pemerintah membangun banyak perpustakaan yang bisa diakses sampai ke desa-desa. Tidak hanya itu. Toko buku didirikan dimana-mana. Sekrang setidaknya ada 23.000 toko buku dengan 47.000 penerbit aktif. Dan pemerintah serta masyarakat Jepang sangat menghargai pengarang. Setidaknya ada 380 penghargaan dalam bidang penulisan. Jauh sekali dibanding negara kita yang lebih menghargai dunia hiburan dibanding pendidikan. Sampai kapan mau begini? Kapan-kapan^_^
Junbunko adalah nama toko buku terbesar di Jepang, bahkan mungkin di dunia. Dengan luas 6.500 meter persegi dan 1,5 juta koleksi buku tidak heran jika di sini adalah surga bagi pembaca. Rak-rak tersusun rapi dan suasana dibuat senyaman mungkin. Kemegahan toko buku ini menunjukkan tangguhnya budaya literasi Jepang. Hal yang unik lainnya adalah tradisi “tachiyomi”. Apa itu? Sering kan dalam kartun-kartun Jepang diperlihatkan bagaimana Nobita dan Sinchan berlama-lama berdiri di depan rak dalam toko buku sambil mambaca tapi ga pernah beli? Mereka sedang melakukan tachiyomi. Yap benar. Tachiyomi adalah kebiasaan membaca tanpa membeli. Yang kayak gini nih cuman ada di Jepang^_^
Manga dan anime Jepang merajai pasaran global. Lihat saja di Indonesia. Sebagian komik yang beredar di sini buatan Jepang. Mungkin sekitar 90%, yang 10%-nya dari AS dan local. Sungguh pencapaian yg ruaar biasa. Kenapa produksi komik Jepang berlimpah? Komik merupakan bentuk ekspresi kehidupan yang menyenangkan sebab dikemas dalam bentuk gambar yang menarik. Tiap pengarang punya cirri khas guratan tersendiri. Komik Jepang sendiri isinya lebih kepada aktivitas keseharian mereka, meskipun tidak semua. Dalam soal isi mungkin tidak ada yang terlalu istimewa memang. Namun kalo diliat dari semangat mereka menuliskan aktivitas sehari-hari itulah yang patut kita puji. Industri komik di Jepang mirip seperti industri film Hollywood. Sebuah industri manufaktur raksasa. Selera pasar sangat diperhitungkan. Dan bisa dikatakan bahwa komik sudah sangat menyatu dalam kehidupan masyarakat Jepang. Seorang tokoh dalam komik bisa ditiru habis-habisan oleh penggemarnya. Bagaimana dengan anime? Amazing, anime menjadi alat diplomasi Jepang di dunia internasional. Limp Bizkit tanpa ragu menggunakan anime dalam video klipnya. Dengan kedua sarana budaya kini, kemudian terbentuklah komunitas ‘otaku’, yakni para penggila komik dan anime Jepang.Salah satu komunitas ‘otaku’ adalah rofes team.

ABUYA

Friday, September 8th, 2006

“Abuya, saya sudah selesaikan semua tugas,” terdengar jelas suaraku menggema dalam ruangan serba putih itu. Kueedarkan pandangan ke sekeliling. Sosok-sosok berjubah putih tampak khidmat. Tak dapat kulihat wajah mereka. Suasana amat syahdu. Takjub kumelihat lantai pualam yang berkilau. Sosok yang kupanggil Abuya duduk di sbeuah singgasana indah. Sorban yang dikenakannya putih bersih. Pun dengan jubah yang dikenakannya. Pandangan matanya lurus ke depan. Rambut dan jenggotnya hitam legam. Hibah (wibawa) terpancar di wajahnya.

“Bagus. Sekarang kau harus coba masakan buatanku. Rasanya enak sekali.” Setelah mengucapkan itu, Abuya mengambil sejenis makanan yang aku tidka pernah melihat sebelumnya. Warnanya putih. “Apa ini Abuya?”, dengan keheranan campur senang kumasukkan makanan itu ke mulutku. Heemm…rasanya luar biasa enak!!! Aku tersenyum pada Abuya dan beliau tersenyum senang.

Aku masih ternganga meskipun semua yang kualami cuma mimpi. Bertemu ulama sekaliber Sayyid Al-Maliki Rahimahullah….

Getuk Pisang Tengah Malam^_^

Friday, September 8th, 2006

Perut lagi laper tengah malam, tau-tau si Rima tetangga kosq mbawain getuk pisang hihihi. Alhamdulillah deh. Perut segera terisi. Pas laper pas ada getuk pisang. Kemaren-2 juga gitu. Pas laper, pas Bu Karman, pengurus kos ngasih makan siang ke aq. Dan hari ini, aq dapet bakso gratis dari mbak Maulida pas aq lagi bokek^_^. Enak sekali ya kalo dalam hidup kita selalu ada peristiwa serba pas. Pas butuh, pas ada. Alhamdulillah^_^

ABUYA

Monday, September 4th, 2006

“Abuya, saya sudah selesaikan semua tugas,” terdengar jelas suaraku menggema dalam ruangan serba putih itu. Kueedarkan pandangan ke sekeliling. Sosok-sosok berjubah putih tampak khidmat. Tak dapat kulihat wajah mereka. Suasana amat syahdu. Takjub kumelihat lantai pualam yang berkilau. Sosok yang kupanggil Abuya duduk di sbeuah singgasana indah. Sorban yang dikenakannya putih bersih. Pun dengan jubah yang dikenakannya. Pandangan matanya lurus ke depan. Rambut dan jenggotnya hitam legam. Hibah (wibawa) terpancar di wajahnya.

“Bagus. Sekarang kau harus coba masakan buatanku. Rasanya enak sekali.” Setelah mengucapkan itu, Abuya mengambil sejenis makanan yang aku tidka pernah melihat sebelumnya. Warnanya putih. “Apa ini Abuya?”, dengan keheranan campur senang kumasukkan makanan itu ke mulutku. Heemm…rasanya luar biasa enak!!! Aku tersenyum pada Abuya dan beliau tersenyum senang.

Aku masih ternganga meskipun semua yang kualami cuma mimpi. Bertemu ulama sekaliber Sayyid Al-Maliki Rahimahullah….

Yang Pake Bendera Indonesia dan Persebaya Ada Ga?

Monday, September 4th, 2006

“Bi, beliin boneka yang itu,” rengek Muhammad. Abinya (ayahnya) melihat telunjuk Muhammad mengarah pada boneka yang dipajang dekat counter baju anak-anak. Di sana terdapat beraneka boneka dengan bentuk dan warna yang lucu-lucu. Harganya cukup mahal. Muhammad berlari ke arah boneka idamannya. “Yang ini lho bi,” katanya dengan wajah harap-harap cemas. Rupanya yang diinginkan Muhammad adalah boneka singa yang di dadanya terdapat bendera negara-negara yang bertanding dalam Piala Dunia 2006. Muhammad terus merengek. Abinya segera menuju counter boneka itu. “Mbak, kalo boneka yang kayak gini ada yang pake bendera Indonesia ga?,”. Si pelayan segera mencarikan. Dengan penuh semangat dia memeriksa boneka-boneka yang serupa dengan bendera yang berbeda-beda. Pencarian diakhiri dengan gelengan. Tidak ada pak,” kata si pelayan. “Kalo yang pake bendera Persebaya ada ga?,” kembali abinya bertanya. Raut wajahnya terlihat serius. Muhammad tampak sumringah menanti bonekanya. Setelah kembali ke rutinitas awal, si pelayan kembali menggeleng. Kali ini dnegan pasrah.

“Tuh kan, boneka yang kamu minta ga ada nak. Kita pulang saja ya?,” bujuk abinya lembut. Akhirnya mereka pun pulang.
“Meskipun saya ga gibol (gila bola), tapi minimal saya tau kalo kesebelasan dari Indonesia dan Persebaya ga masuk Piala Dunia. Lha wong saya kesana cuman mau mbelikan baju buat Muhammad, tidak berencana beli yang lain. Saya memang menolak permintaan Muhammad, tapi dengan cara yang cerdas dong,” jelas Ustadz menutup kajian pada malam itu.

“Saya suka nonton bola, tapi yang jam 8 malam. Kalo yang jam 11 ato jam 2 ya…Al-Nganthuki wal Tiduri.” Wekekekekekeke…ustadz bisa aja^_^.

Vonis Terakhir, Alhamdulillah^_^

Monday, September 4th, 2006

“Mbak, kantornya dah tutup e,” kata pak supir membuyarkan tidurku. Tuing, sesaat terasa pening. “Sebentar saya tanya travel lain,” peningq sembuh. Sesaat kami berputar-2. Kulirik Jogya yg menarik.Masih seperti dulu…”Penuh mbak,” bukan jawaban yg bagus. “Kalo gitu apa rencana mbak sekarang?” “Ga tau pak, pasrah kujawab. Dalam hati kusebut kereta api. “Masih ada 1 mbak,” ini vonis terakhir, Alhamdulillah, Segala Puji bagi ALLOH Tuhan seru sekalian alam

Jogya, 20:27
Dalam sebuah perjalanan Jogya-Surabaya

Getuk Pisang Tengah Malam^_^

Monday, September 4th, 2006

Perut lagi laper tengah malam, tau-tau si Rima tetangga kosq mbawain getuk pisang hihihi. Alhamdulillah deh. Perut segera terisi. Pas laper pas ada getuk pisang. Kemaren-2 juga gitu. Pas laper, pas Bu Karman, pengurus kos ngasih makan siang ke aq. Dan hari ini, aq dapet bakso gratis dari mbak Maulida pas aq lagi bokek^_^. Enak sekali ya kalo dalam hidup kita selalu ada peristiwa serba pas. Pas butuh, pas ada. Alhamdulillah^_^