Sosok perempuan mungil itu sepintas tampak ringkih, sama seperti manula pada umumnya. Tapi tidak, sungguh tidak! Thalasemia (penyakit kesulitan memproduksi sel darah merah) yang diidapnya sejak usia 11 tahun, ditambah perjalanan hidup yang bak film atau sinetron balada, teh Pipiet Senja, begitu beliau biasa dipanggil, adalah perempuan paling tegar yang pernah saya kenal. Beliau tidak pernah berhenti menulis dalam situasi apapun, termasuk ketika badai cobaan mendera, menghempaskan tubuh mungilnya dalam sujud panjang penuh kepasrahan sekaligus memohon kekuatan pada ALLOH SWT. Tidak, sekali-sekali tidak! Jiwanya tetap tegar. “Saya menulis otobiografi itu dengan cucuran air mata. Ada kepedihan yang amat sangat. Tapi saya harus tetap menulis sebab menulis adalah terapi,” tuturnya.
Beruntung sekali saya berkesempatan menemani beliau seharian sambil menunggu kepastian tiket pesawat yang akan membawa beliau pulang ke Depok. Awalnya saya deg-degan juga bertemu dengan beliau yang sudah menulis ratusan cerpen, puluhan novel, dan artikel di media-media Bandung dan Jakarta. Sebagai peminat karya sastra, belum satu pun karya yang pernah saya keluarkan kecuali sekedar tulisan biasa diblog dan media tempat saya bekerja.
Teh Pipiet Senja yang hangat dan senang bercerita membuat saya terpana, tak bisa berkata apa-apa selain butir-butir air asin di pelupuk mata yang sekuat tenaga saya tahan agar tidak jatuh. Tegar sekali orang ini, produktif pula, batin saya. Batu karang mungil, itu sebutan saya pada beliau. Tubuh beliau memang mungil. Saat melihat-lihat abaya (baju gamis hitam khas Arab Saudi) di Ampel, beliau dengan berkelakar mengeluh soal besarnya ukuran abaya yang ada di sana. Saya sempat naksir juga pada abaya pilihan beliau yang penuh payet cantik. Teh Pipiet terlanjur jatuh cinta pada abaya berpayet emas itu meskipun ukurannya kebesaran. Soal harga, kami sempat agak lama nego dengan penjual, diselingi dengan guyon dengan penjual yang agak jengkel juga dengan kengototan kami. Namun pembawaan teh Pipiet yang akrab dan hangat akhirnya meluluhkan hati penjual abaya.
Saat saya bawa ke Ampel, teh Pipiet mengaku bahwa ini adalah kali pertama beliau berkunjung ke daerah yang dijuluki kampong Arab tersebut. “Unik sekali ya Ampel ini (beliau mengucapkan Ampel dengan “e” yang keluar dari kata “pelan”). Lain daripada yang lain. Pasarnya mirip seperti Pasar Seng di Mekkah sono,” dengan sorot mata takjub dan mimik lucu teh Pipiet sibuk melihat-lihat pemandangan sekitar pasar yang menjual aneka barang dan makanan khas Arab. Berkali-kali beliau melirik ke baju-baju Muslim warna-warni yang dipajang di toko-toko. Hari itu pengunjung Masjid Ampel sedang banyak-banyaknyanya. Riuh-rendah keramaian terasa sekali. Maklum, menjelang Romadhon, orang-orang dari daerah sekitar Jatim, utamanya Madura, berkunjung ke Makam Sunan Ampel. Tradisi menjelang Romadhon ini disebut nyekar. Teh Pipiet saya ajak berkeliling kompleks masjid legendaris ini. Tiba di depan kompleks makam, lagi-lagi beliau takjub. “Wah, beruntung saya ajak kamu ke sini. Ini menarik sekali. Lagi pada berdoa di makam ya? Orang-orang ini dari mana ya? Itu kayaknya ibu-ibu pengajian ya?,” berondongan pertanyaan teh Pipiet sempat membuat saya gelagapan juga. Sebagai seorang pemandu, boleh dikatakan saya ini agak payah. Alhamdulillah, seorang bapak yang berdiri di sebelah kami langsung menjelaskan info seputar ritual nyekar di Ampel.
Intensnya tutur teh Pipiet bercerita tentang keharuannya saat mendapat tiket Umroh gratis dari Travel Cordova, sebuah agen Haji&Umroh milik Bapak Faisal Sukmawinata. Istri pak Faisal adalah penggemar berat karya-karya teh Pipiet. “Apa aku pantas menerima semua kenikmatan ini Ya ALLOH. Sudah banyak sekali nikmat yang Kau Berikan pada hamba,” isaknya dalam sujud syukur. Pengalaman hidup yang pahit telah menjadikan hati teh Pipiet mudah tersentuh. Selama menunaikan ibadah haji, teh Pipiet mendapat banyak hikmah. Ada banyak peristiwa yang makin membuatnya tenggelam dalam sujud panjang. Kumpulan hikmah di tanah suci InsyaALLOH akan dibuat buku. Duh, penulis tegar yang satu ini memang sangat produktif. Salut saya. “Saya tuh kalo nulis ga mau rumit-rumit, agar semua orang bisa mengerti apa yang saya tulis,” ujarnya saat dimintai pendapat soal karya sastra rumit yang pernah saya baca dengan kening berkerut. Teh Pipiet juga banyak bercerita tentang sisi lain beberapa penulis dan sastrawan Indonesia. “Kalau ditanya siapa penulis yang saya sukai karya-karyanya, NH.Dini itu luar biasa. Dia bagus di detail, bisa gambarkan suasana dengan sangat bagus, terperinci. Remy Silado itu guru saya. Beliaulah yang selalu memberi motivasi kepada saya untuk menulis. Waktu itu saya tergabung dalam bengkel sastra di Bandung dan Remy Silado ada di sana sebagai pemandu. Bisa dikatakan beliau itu guru saya,” kenang teh Pipiet soal penulis-penulis yang telah menginspirasi dirinya. Beliau juga kenal dengan WS. Rendra (rencananya teh Pipiet akan menerima Bakrie Award bersama Rendra tapi teh Pipiet tolak karena tidak respek kepada Aburizal Bakrie atas kasus Lapindo-nya), Putu Wijaya (teh Pipiet salut sama tulisan-tulisannya. Putu Wiaya juga-lah yang telah merekomendasikan Mbak Helvy Tiana Rosa untuk berangkat ke Amerika jadi dosen tamu di sana), Helvy Tiana Rosa (tempat teh Pipiet mengadu soal terror yang pernah diterimanya dari salah satu parpol gara-gara teh Pipiet menolak membuatkan biografi tokoh-tokoh parpol tersebut sebab beliau amat tidak respek terhadap parpol yang terkenal anarkhis itu), Adian Husaini (selain menulis dan menjadi dosen, beliau juga kerja di penerbit Gema Insani. Di sanalah teh Pipiet sering bertemu pak Adian Husaini yang banyak menulis buku di bawah payung penerbit Gema Insani), Arswendo Atmowiloto (yang menawari teh Pipiet menulis di bawah payung penerbit Gramedia tapi beliau tolak mentah-mentah), Ustadz Fauzil Adhim (seorang penulis yang menurut teh Pipiet sangat low profile dan santun. Memanggil teh Pipiet dengan “mbak teteh” dan teh Pipiet membalasnya dengan memanggil Ustadz Fauzil dengan “mas ustadz”) dan lain-lain seperti Ayu Utami, yang hasil karyanya (novel Saman dan Larung) disebut-sebut sebagai “sastra lendir”, yang artinya sastra yang menjadikan tema sex sebagai panglima. Djenar Mahesa Ayu yang merupakan anak sasrawan Sumandjaya juga disebut-sebut sebagai penulis aliran “sastra lendir.”
Sebagai seorang penulis senior, teh Pipiet yang dikarunia 2 anak dari pernikahannya yang “ajaib” sering mendapat tawaran dari penerbit ternama di tanah air untuk menjadi penulis tetap. “Gramedia, lewat Arswendo Atmowiloto pernah menawari saya menerbitkan tulisan saya di bawah payung Gramedia. Saya tolak mentah-mentah. Gramedia itu kan penerbit yang ga peduli moral dalam buku-bukunya, pokoknya asal laku lah. Terus Arswendo ngomong gini ke saya, ‘kalo kamu ga mau nulis di Gramedia, kamu ga bakal jadi penulis’. Enak aja, emang yang menentukan jalan hidup dan rezeki kita siapa? Emang Gramedia? Terakhir kali saya bertemu Arswendo, saya bilang ke dia, ‘Mas Arswendo, aku dah nulis 76 buku loh,” sambil tersenyum teh Pipiet bercerita tentang teman-teman sesama penulis.
“Saya sebenarnya ingin sekali menemani NH.Dini melalui masa tuanya. Kasihan dia, sekarang di panti jompo, ga ada yang ngurus. Sebagai sesama penulis yang sudah tua, saya sangat memahami perasaannya yang sekarang hidup seorang diri,” kata teh Pipiet sambil menerawang. Teh Pipiet sendiri sekarang tinggal berdua dengan Butet (Adzimattinur Siregar) anak bungsunya yang berusia 15 tahun. Anak pertamanya, Haekal Siregar (24 tahun) tinggal bersama istrinya. Sedangkan suaminya tinggal sendiri. Hubungan antara teh Pipiet dan suaminya memang tidak harmonis. Kenyataan pahit ini pulalah yang menginspirasi teh Pipiet untuk menulis banyak buku, termasuk otobiografi terbarunya, “Bagaimana Aku Bertahan” (Khairul Bayan, Jakarta, 2006). ALLOH SWT rupanya sangat sayang pada teh Pipiet. ALLOH Mengkaruniakan Haekal dan Butet untuk menjadi bintang dalam langit kehidupan teh Pipiet. Sebagai seorang ibu, teh Pipiet sangat bangga memiliki anak seperti mereka. “Anak ajariku cinta,” adalah salah satu bab dalam otobiografi “Bagaimana Aku Bertahan.” Saat kami berdua minum-minum di salah satu warung dekat kampus (seribu maaf saya haturkan buat teh Pipiet yang cuma bisa menikmati suguhan dan pelayanan apa adanya. Saat itu saya tidak punya cukup uang untuk mentraktir teh Pipiet di tempat makan yang lebih mewah. Malu sekali rasanya memperlakukan tamu seperti itu), teh Pipiet, dengan mimik bahagia campur haru (teh Pipiet tampak sering berusaha menahan air mata agar tidak tumpah. Dalam biografinya, teh Pipiet mengaku bahwa beliau hanya ingin terlihat tegar. Sudah kering air mata diperas oleh kehidupan rumah tangga yang menjadi cobaan terberat bagi beliau. Saya yang melihat aura kebahagiaan teh Pipiet saat bercengkerama bersama anak-anak dan menantunya turut merasakan kebahagiaan juga. Sambil memperlihatkan rekaman video singkat di HP-nya, teh Pipiet berkata, “menantu saya, Seli, beserta keluarganya sangat baik sama saya. Besan saya menganggap Haekal seperti anak sendiri. Sebelumnya Haekal memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Bersyukur sekali saya. Setelah ALLOH Memberi banyak cobaan dan kesulitan, Dia Melimpahkan kenikmatan yang begitu besar, sampai-sampai saya merasa malu.”
Siang yang panas tidak menyurutkan keinginan saya untuk membawa teh Pipiet keliling ke Pesantren Hidayatullah dan kampus ITS. Sebenarnya saat itu kami sudah mau pulang ke tempat teh Pipiet menginap, di daerah Jalan Arif Rahman Hakim, kos-kosan Mbak Novi, salah satu anggota FLP Surabaya. Berhubung kami melewati daerah ITS, jadi sekalian saja saya bawa teh Pipiet ke sana. Tadinya saya juga ingin membawa teh Pipiet ke kantor majalah Hidayatullah di Rewwin, Sidoarjo. Tapi saya kasihan sama teh Pipiet yang nampak kelelahan dan kepanasan. Mungkin kalau saat itu yang kami tumpangi adalah mobil full AC tidak menjadi masalah mau keliling sampai Porong sekalipun. Tapi, sekali lagi beribu maaf saya haturkan pada teh Pipiet karena hanya motor-lah yang tersedia. Lucunya, di sepanjang perjalanan, tidak henti-hentinya teh Pipiet bercerita tentang kehidupannya. Semuanya beliau ceritakan, dengan lugas. Saya yang baru mengenal dan baru pertama kali ini bertemu dengan teh Pipiet merasa seolah-olah sudah kenal lama sekali. Teh Pipiet ini egaliter sekali. Beliau tidak mau mentang-mentang, meskipun beliau seorang penulis senior. “Saya sama anak-anak saya aja kayak teman. Saya berusaha untuk dekat dengan mereka,” tukasnya. “Teh Pipiet orangnya enak kok, gaul dan gampangan,” terngiang perkataan Pak Haikal menjawab kekhawatiranku bertemu penulis senior yang tidak mengenal mood ketika menulis ini. “Latihan dek, semua butuh proses. Saya juga ga langsung bisa. Saya sudah menulis puluhan tahun jadi sudah ga tergantung lagi sama mood,” rendah hati teh Pipiet menanggapi kekagumanku atas produktivitas dan kekonsistenan beliau menghasilkan karya. Beberapa novel beliau yang diterbitkan Gema Insani berhasil menjadi best seller.
Saat ini teh Pipiet dikontrak eksklusif oleh penerbit Khairul Bayan Jakarta, dan bulan Desember nanti InsyaALLOH kembali mendapat kesempatan naik haji gratis, dengan semua biaya ditanggung oleh Travel Cordova milik Pak Faisal Sukmawinata yang menurut teh Pipie adalah sosok yang baik hati dan tawadhu’.
Dalam sebuah pengajian yang dikelola Ustadzah Yoyoh Yusroh, teh Pipiet mengaku kaget dengan jamaahnya yang kebanyakan ibu-ibu dari kalangan berduit. “Wah, bingung saya. Masa’ ada seorang ibu yang rumahnya cuman beda 3 rumah dari tempat pengajian, eh dianya bawa mobil! Kan deket banget tuh. Kenapa ya? Terus saya nanya ke ibu-ibu yang lain. Ternyata ibu tadi punya penyakit psikologis, dia ga bisa meninggalkan rumah barang sebentar. Ketakutannya akan keselamatan anak-anak dan rumahnya terlalu berlebihan. Dia rajin pergi ke psikiater. Wah kalo gitu saya nih jauh lebih beruntung ya. Harta ga punya tapi masih bisa ketawa-ketiwi hahaha,” gaya bertutur teh Pipiet yang ceplas-ceplos berhasil menghapus gap antar generasi. Di depan beliau, saya merasa berhadapan dengan seorang teman karib.
Awalnya teh Pipiet keberatan ikut pengajian bersama ibu-ibu dair kalangan berduit. “Saya nanya ke Ustadzah Yoyoh Yusroh, ‘kenapa saya digabung ama mereka? Saya malu. Mereka kaya, bawa mobil semua, sedang saya miskin’. Tapi ustadzah Yoyoh meyakinkan saya. Katanya ini untuk pembelajaran. Eh, ternyata bener juga ya. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah hidup ibu-ibu itu. Saya nih ternyata jauh lebih beruntung,” jelas teh Pipiet. Dalam pengajian tersebut teh Pipiet didapuk sebagai editor naskah kultum semua peserta pengajian. Selama mengedit naskah-naskah tersebut, teh Pipiet sering menangis, mensyukuri hidupnya yang lebih beruntung. Banyak yang harus disyukuri.
Bed Room, menjelang siang