Archive for October, 2006

Apa yang Sedang Terjadi Pada NU?

Wednesday, October 18th, 2006

Nama : Ainul Yaqin
Status : Warga dan pemerhati NU, mantan pengurus IPNU Jatim, Sekretaris MUI Jatim, Sekretaris LPPOM MUI Jatim
CP : 08121736003, 031-7921213
Hubungan : Wawancara langsung di kantor LPPOM MUI Jatim, 16 Oktober 2006

Apa yang sedang terjadi pada NU? Mengapa perannya surut?

Sebenarnya di NU sendiri tidak ada bidang yang secara khusus mengurusi kaderisasi. Memang ada Lakpesdam, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia, sebuah lembaga yang resmi mengurusi kaderisasi. Cuman persoalannya, sejak era kepemimpinan Gus Dur di NU, Lekpesdam dipenuhi oleh orang-orang yang berhaluan liberal, itu yang jadi masalah. Dan ketika Lakpesdam dimainkan oleh orang-orang berhaluan liberal, dan walaupun sejak Muktamar di Boyolali sudah ada isu untuk menghilangkan liberalisasi, tetapi tetap aja, arus liberalisasi begitu kuat, sehingga masih tetap mendominasi di level lembaga-lembaga begitu, ditambah secara kebetulan orang-orang NU yang berpendidikan, khususnya di jalur pendidikan agama yang formal, banyak mereka-mereka yang sudah berpikir model-model liberal. Nah itu yang jadi masalah. Sehingga ini bertentangan dengan garis perjuangan NU. NU ini kan kalo dibaca di garis perjuangan otomatis mestinya harus dikembalikan kepada Qanun Asasi (prinsip dasar), sebagai organisasi dakwah. Yang jelas, tujuannya adalah mengupayakan pelaksanaan syariat Islam. Jadi kalo ada yang menuduh NU sebagai anti formalisasi (anti kelembagaan, agama tidak boleh dilembagakan), itu tidak benar. Sekarang kalo kita lihat, anti kelembagaan itu berarti penyelewengan terhadap Qanun Asasi. Sekarang kita perhatikan sejarah NU. Jadi NU berdiri tahun 1926. Kemudian dia terlibat dalam MIAI (Majelis A’la Islam Indonesia). Wachid Hasyim adalah orang yang terlibat dalam MIAI yang merupakan cikal-bakal Masyumi. Jadi sebenarnya cikal-bakal Masyumi ini yang mendirikan sebenarnya orang NU. Walaupun kemudian banyak didominasi orang Muhammadiyah.Justru itu yang menyebabkan orang NU kecewa terhadap keluarga Masyumi. Terus kemudian perjuangan NU dalam Piagam Jakarta. Jelas sekali kan ketika itu keterlibatan Pak Wahid Hasyi, yang ikut menandatangani Piagam Jakarta.
Peran Hasyim Asyari (kakek Gus Dur) dalam pendirian NU hanya sebagai legitimator, sedangkan orang yang berperan dalam pendirian NU kan Wahab Hasbullah, dari Ponpes Tambak Beras yang ikut dalam Komite Hijaz. Komite Hijaz inilah kemudian terbentuk NU atas restu dari Kyai Hasyim Asyari. Dan Kyai Hasyim dinobatkan sebagai Rois Akbar, Rois Pertama, Rois Syuriah. Dikatakan sebagai Rois ‘Am yang terbesar=Rois Akbar. Tetapi jika kita bicara tentang perjuangan NU dalam rangka penegakan syariat Islam jelas sekali kan. Terutama keterlibatan NU dalam Majelis ‘Ala Islam Indonesia, keterlibatan NU dalam Piagam Jakarta, terus keterlibatan NU dalam Majelis Konstituente. Majelis Konstituante yang kemudian dibekukan oleh Sukarno karma tidak mencapai kesepakatan itu karna apa? Karna Partai Islam dengan partai non Islam itu 50:50, akhirnya deadlock. Islam terdiri dari NU dan Masyumi, non Islam terdiri dari PNI, PKI, Parkindo dsb tidak mencapai kata mufakat dalam sidang konstituante untuk menentukan UUD. Akhirnya Sukarno buat Dekrit Presiden 5 JUli 1959. Nah, pada saat Sukarno membuat dekrit itu apa memonya dari Pak Wahid Hasyim. Memonya : Piagam Jakarta harus masuk dalam dekrit. Pak Wahid Hasyim juga salah satu yang menandatangani Piagam Jakarta. Jadi pada waktu dekrit presiden 1959 itu pak Wahid Hasyim adalah salah satu orang yang memberikan rekomendasi mendorong Sukarno. Bahkan ketika Sukarno membubarkan pesantren, yang memprotes adalah Pak Wahid Hasyim. Tetapi karna tidak ada kata mufakat dalam konstituante, tetep aja nama Piagam Jakarta dimasukkan dalam dekrit, tetapi Sukarno tidak mau secara eksplisit,sehingga kalimat dlama Piagam Jakarta itu adalah berlakunya UUD 1945 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta. Jadi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 itu ada jiwa Piagam Jakarta. Ini kan sebenarnya nuansa formalisasi (melembagakan agama). Itu kalo dilihat dari sejarah pada masa era Sukarno.
Kemudian pada masa era Suharto. Perjuangan yang paling kuat dalam formalisasi kan UU Perkawinan. UU Perkawinan itu kan dulu mau dimasukkan dalam catatan sipil kan. Tetapi NU melalui PPP out, menolak itu, di bawah kepemimpinan Kyai Bishri Sansuri, ayahnya ibunya Gus Dur. Kenapa kok UU Perkawinan itu harus jadi UU? Ini kan kepentingannya formalisasi. Terus kemudian penolakan terhadap aliran kepercayaan, juga walk out. Terakhir asas tunggal. Terjadi lobby-lobby yang kuat, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa tidak boleh bertentangan dengan makna syahadat. Jadi tetap ada nuansa formalisasi. Kenapa itu semua terjadi? Karena basis dari garis perjuangan NU adalah untuk kepentingan menegakkan syariat Islam. Jadi tidak benar sama sekali kalau NU menolak formalisasi. Sekarang ini kan dicoba dikotomikan antara dakwah structural/formalis dengan dakwah cultural. Ga ada dikotomi secama ini. Nah dikotomi ini dilakukan oleh orang-orang liberal dalam rangka menjauhkan NU dari penegakan syariat Islam.

Sejak kapan terjadi dikotomi dakwah structural dan cultural di NU?
Baru-baru aja kok, sejak kepemimpinan Gus Dur. Sejak itulah, kran liberalisme dibuka di tubuh NU. Itu yang jadi masalah.

Kenapa Gus Dur membuka kran liberalisme?
Ya karna konsep berpikirnya begitu (liberal). Terus ada juga upaya mengotak-atik konsep Aswaja (Ahlussunnah wal jamaah). Sebenarnya Kyai Hasyim Asyari menulis Qanun Asasi (prinsip dasar) ini kan untuk menyederhanakan konsep Aswaja sehingga bisa diamalkan secara praktis. Aswaja yang kompleks begitu disistematisasi dengan makna yang simple, yaitu secara aqidah ikut pemahamannya Asy’ariyah dan Maturidiyah. Secara fiqih ikut mazhab yang empat khususnya Imam Syafi’i. Secara tasawuf mengikuti pemahamannya Imaam Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Itu formula yang simple dari Aswaja. Nah, konsep ini yang sekarang akan diotak-atik kan? Sebenarnya konsep ini yang akan diotak-atik oleh Said Agil Siroj, oleh orang-orang liberal, dipelencengkan. Implikasi dari konsep Aswaja kan Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh. Yang dimaksud Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh ini bukan berarti kita begitu lunak bersikap terhadap orang kafir. Tidak! Padahal konteksnya adalah konsep teologi Asy’ariyah dimana dia kedudukannya seimbang antara konsep Qodariyyah dan Jabbariyyah. Kalo orang Jabbariyyah menganggap bahwa segala aktivitas kita ini Gusti Pangeran yang bikin, pokonya kita seperti wayang, Qodariyyah bilang kita merdeka 100%, Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bilang kita berada di tengah-tengah, makannya dikatakan Tawazun, kan gitu. Terus seimbang kan, Tawazun seimbang, antara dunia dan akhirat. Sebenarnya tiu konsep tasawuf dari Al-Ghazali. Kalo konsep tasawuf yang ada itu kan tasawuf yang melupakan dunia sama sekali. Tasawuf Al-Ghazali kan tidak. Dunia tempat kalian berpijak, kan gitu. Sehingga harus seimbang dunia akhirat.

Apa implikasinya ketika konsep Aswaja diotak-atik?
Implikasinya, NU tidak memiliki satu kejelasan format sendiri. Gimana sih sebenarnya NU? Kan ga jelas.

Kenapa konsep Aswaja diotak-atik? Apa tujuannya?
Sebenarnya tujuannya adalah untuk menawarkan liberalisme. Melakukan sekularisasi di tubuh NU. Nah ini yang harus disadari oleh kyai-kyai. Makannya saya beberapa datang ke Gus Sholah (Solahudin Wahid) , menyampaikan ini. Ini kita sedang dihancurkan dari dalam lewat gerakan liberalisasi!!! Dan sekarang mudah-mudahan buku yang sedang saya tulis segera terbit. Temanya tentang jati diri NU, semacam buku putih lah. Dan saya sudah sampaikan konsepnya ke Gus Sholah soal ini. Tinggal merelase aja, tapi konsentrasi saya terpecah ke pekerjaan.

Bagaimana liberalisasi bisa masuk ke tubuh NU? Apa yang salah?
Implikasi dari konsep Aswaja di NU yang kemudian ditafsiri oleh para kyai secara kaku berdampak pada kebekuan dalam proses bermazhab. Kenapa? Karena adanya ketakutan yang luar biasa dari kalangan kyai untuk melakukan yang namanya tajdid, ijtihad. Jadi konsep Aswaja yang disederhanakan dalam 3 aspek oleh Kyai Hasyim Asyari dipahami secara tekstual. Artinya apa? Kita ikut menyikapi itu secara tekstual. Kita ikut Imam Syafi’I secara tekstual, kita ikut Imam Ghazali secara tekstual, kita ikut Imam Hasan Asyari secara tekstual. Akibatnya ketika timbul persoalan-persoalan baru, misalnya persoalan masalah fiqih, kita mencari rujukan bukan langsung merujuk Al-Quran, enggak! Tapi adakah Imam Syafi’I berpendapat soal itu? Kalau ada maka masih akan merujuk pada itu. Padahal bisa jadi pendapat tentang masalah itu tidak relevan lagi karena pendapat itu dikemukakan dalam konteks yang dahulu. Saking takutnya melakukan yang namanya ijtihad. Mereka khawatir sekali mengatakan yang namanya ijtihad di NU. Saking takutnya, Khawatir salah. Itu sikap generasi tua dan sampai sekarang masih kuat. Termasuk dalam kasus kemarin di Muktamar NU kemarin di Surabaya. Ketika Ba’shum Masail, kyai-kyai tua tidak mau kembali langsung ke Al-Quran. Mereka berasumsi bahwa ketika kita langsung kembali ke Quran dan hadits langsung, kita jadi orang yang nyombong diri. Ilmu kita seberapa sich sehingga bisa menerjemahkan Quran, bukan bidangnya. Kita harus kembali kepada ulama yang terdahulu. Artinya kita harus memahami Quran lewat perantaraan mereka, kita akan lebih selamat. Kan begitu para kyai. Sehingga kalau ditanya tentang zakat, mereka pasti akan berpikir : adakah Imam Syafi’I berpendapat tentang zakat? Misalnya zakat profesi, ga ada pendapat Imam Syafi’I soal ini. Karna ga ada, ya udah dihentikan pembahasannya. Kan gitu kyai tua. Itu dampaknya kemudian, para generasi muda tidak puas! Kalau begini NU akan stagnan. Nah ketika tidak puas itu kemudian melakukan pencarian, yang difasilitasi oleh Gus Dur ketika mengetuai PB NU. Dan kyai-kyai yang lain tidak curiga karna figure seorang Gus Dur. Ternyata ketika mencari itu yang ditemukan beda-beda. Ketemu yang namanya Hegel, Foucault, Nietsze, para orientalis dll. Akhirnya kan jadi liberal Di situ kan masalahnya.

Kontrolnya bagaimana?
Ketika itu Gus Dur memang tidak melakukan control, perannya kan di sentral.

Bagaimana cara Gus Dur membuka kran liberalisme di NU?
Ya lewat Lakpesdam. Dan Gus Dur selalu memberikan garansi. Ketika ada kyai NU bertanya, “Lho anak-anak kok begitu?”, Gus Dur selalu memberikan jawaban menenangkan pada kyai, “Oh itu tidak apa-apa. Anak-anak kita masih dalam taraf pencarian.Nanti dia akan kembali menemukan kebenaran. Ga usah dirisaukan. Kan begitu Gus Dur. Selalu begitu.” Sekarang…begitu semuanya sudah terlanjur, sudah bablassss…para kyai baru sadar, kita ini sudah masuk begitu jauh, kan begitu. Ini yang jadi masalah. Sehingga di Muktamar NU kemarin tarik-menariknya kan kuat sekali, termasuk Masdar Mas’udi kan sebenarnya ga boleh masuk kepengurusan karena dia liberal. Tetapi karna Gus Dur di Muktamar kemarin itu mboikot, Pak Hasyim akhirnya ga disetujui. Supaya menyatukan biar tidak pecah karna Gus Dur bagaimanapun juga massanya juga masih kuat ya Masdar diakomodasi. Masdar kan orangnya Gus Dur. Kan gitu. Nanti ini jadi masalah di NU ini. Makannya saya pikir harus ada orang NU yang buat buku putih. Mazhab/aliran Sidogiri sekarang yang banyak nulis. Nanti mudah-mudahan lewat Gus Sholah semua bisa terealisasi. Gus Sholah orangnya bagus. Beberapa kali saya cerita masalah (liberalisme di tubuh NU) ini. Jadi sebenarnya NU itu sama sekali tidak liberal. Makannya saya agak sakit ketika baca tulisannya AM Saefudin kemarin soal NU. Ini artinya dia tidak tahu soal NU. Dia nulis kalimat “saya agak bahagia sekaligus heran ketika NU membuat keputusan fatwa tentang haramnya infotainment.” Kan…gitu kalimatnya. Karna selama ini NU dianggap liberal. Artinya apa? Fatwa yang selama ini dibuat NU tidak sampai ke masyarakat, karna ga dimuat/di-blow up media. Sama seperti MUI kasusnya. Ketika berfatwa jarang sekali dimuat oleh media. Lain halnya kalau buat fatwa yang provokatif, pasti dimuat. Kalau orang membaca kumpulan fatwa NU, maka akan menemukan kalau NU itu adalah snagat tradisional, jauh dari nuansa liberal.

Cuma kan yang terlihat di luar adalah NU=Gus Dur. Profile Gus Dur amat populer
Itu yang jadi masalah. Padahal Gus Dur sekarang sudah ga jadi pengurus NU. Orang ga pernah baca AD/ART NU. Yang keluar tulisannya Romadi, padahal dia bukan pengurus NU, dia dari wakil institute, atau yang keluar tulisannya Ulil Abshar Abdala, kan begitu. Tetapi memang pers juga bikin repot. Kapan hari saya nulis “NU dan Strategi Kaum Liberal”, kan ga dimuat. Akhirnya saya tuliskan di sidogiri.com, dan dimuat. Responnya kan besar sekali dari temen-temen liberal. Saya dituduh Hizbut Tahrir, HT-nya NU.

JAdi orang-orang liberal di NU atau orang NU yang liberal itu memang sengaja meng-a historis-kan NU?
Betul. Menyelewengkan pemaknaan. Jadi tulisan saya itu kan gini : strategi kaum liberal itu dalam rangka meliberalkan NU itu, pertama adalah menggeser idiom NU, kembali ke khittah, yang harusnya khittah NU yaitu menjadikan NU sebagai organisasi berbasis dakwah untuk mengembangkan syariat Islam dalam masyarakat Indonesia, digeser maknanya sebagai menjadikan NU kembali kepada dakwah cultural dimana dakwah cultural dikotomikan dengan dakwah structural. Itu kan strategi. Tujuannya apa? Tujuannya agar idiom ini berubah maknanya. Sehingga orang-orang berpikir, kalau begitu khittah NU itu berarti memang NU harus ngurusi masyarakat, ngurusi kaum dhuafa yang tidak ada nuansa sama sekali dengan masalah struktur. Padahal tidak begitu kan. Yang kedua, menggeser idiom Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh. Yang itu maknanya mestinya adalah sikap keagamaan yang menjauhi sikap ekstrim, dalam artian, ekstrim itu ibadah ya ibadah thok, ga mentingkan dunia, atau sifat ekstrim terlampau rasional seperti mu’tazilah, kemudian digeser penafsirannya dengan sikap-sikap yang tengah-tengah dalam artian kita dengan orang Kristen bisa, dengan orang Katholik bisa. Ini kan artinya penggantian makna. Yang ketiga membuat tuduhan stigma kepada kelompok-kelompok yang anti liberal. Orang yang anti liberal dituduh bermazhab Wahabi. Orang NU yang pernah fobi dnegan fundamentalisme. Orang NU sangat fobi dengan Wahabi, betul itu. Semua orang NU fobia dengan Wahabi karna Wahabi memang begitu ganasnya melawan NU. NU lahir merupakan antitesa dari gerakan Wahabi di Indonesia. Komite Hijaz itu kan fungsinya merespon gerakan Wahabi. Jadi ketika orang Wahabi mau menghancurkan Makam Rasulullah SAW di Makkah sana, akhirnya di Indonesia dibentuk Komite Hijaz. Sehingga kalau ada yang sebutkan, “Orang itu Wahabi!”, ya para kyai langsung bereaksi. Mereka melemparkan tuduhan Wahabi ini kepada para kyai yang kritis, agar mereka mundur! Seperti, mereka bikin teori : bahwa kyai-kyai yang kritis itu mondoknya di Makkah, seperti Lutfi Bashori. Di Makkah kan pusatnya Wahabi, padahal di Makkah dia kan muridnya Sayyid Maliki yang justru dikafirkan oleh orang Wahabi (Sayyid al-Maliki adalah ulama besar Al-Haromain yang dikafirkan oleh kaum Wahabi, sampai-sampai Imam ash-Sudaish tidak mau mensholati jenazah beliau almarhum). Terus kemudian kasusnya Habib Rizieq (pimpinan FPI pusat) misalnya atau di Surabaya ada Habib Abdurrahman Assegaf (pimpinan FPI Jatim), yang muridnya Sayyid al-Maliki juga. Ada juga ustadz Najih Maemun yang juga dituduh Wahabi. Karna mereka ini anti liberal. Tujuan semua tuduhan ini agar para kyai curiga sama mereka. Jadi ini strategi kaum liberal dalam rangka mereka bisa memasukkan pikiran-pikiran mereka secara perlahan-lahan

Apakah ini yang menyebabkan NU mengalami degradasi, dibanding NU di masa lalu?
Betul. Jadi NU secara kelembagaan kehilangan identitas. Tetapi di aspek grass root Nu, tetap no problem. Pesantren masih tetap menjalankan kaderisasi sesuai apa adanya.

Jadi pesantren masih menjadi kontributor utama ya?
Iya, pesantren masih menjalankan peran sebagai pembina masyarakat, melakukan kaderisasi dengan khasnya, yang Aswaja (Ahlussunah wal jamaah) itu kan. Aswaja di pesantren masih cukup melekat, semua pesantren saya rasa begitu. Karna memang NU itu sebenarnya berangkat dari tradisi pesantren. NU itu kan organisasinya kaum pesantren.

Degradasinya di tingkat elite-nya?
Di tingkat elite memang mengalami degradasi, dalam artian sudah alami penyimpangan dari khittah NU-nya sendiri.

Akan menuju ke grassroot ga ketika degradasi di tingkat elite sudah sedemikian parah?
Oh enggak. Karna pesantren adalah sebuah kerajaan yang tidak bisa dirubah (disentuh). Bahkan Fatwa NU saja tidak bisa merubah pesantren.

Kenapa bisa begitu?
Karena kyai memiliki otoritas yang kuat. Dia dipercaya oleh masyarakatnya.

Tapi kyai kan juga menjadi pengurus NU?
Tidak semua kyai. Bahkan kyai-kyai yang berpengaruh tidak menjadi pengurus NU, contoh : Kyai Faqih pimpinan ponpes Langitan kan tidak menjadi pengurus NU. Kyai-kyai besar yang punya pesantren besar-besar sama sekali tidak menjadi pengurus. Mereka inilah yang sekarang harus kita sadarkan. Kita gerilya ke mereka, kita sadarkan jangan sampai kader-kader di pesantren ke depan digoda oleh gerakan liberalisasi. Karna apa? Gerakan liberalisasi akan masuk ke pesantren lewat perguruan tinggi yang ada di pesantren. Contoh, pesantren Asem Bagus Situbondo, Darul Ulum, Tambak Beras, Tebu Ireng. MAsuknya lewat perguruan tinggi-nya. Tapi dia tidak bisa masuk ke relung pesantren, karena sistem pesantren dengan system di perguruan tingginya beda. Nanti itu akan terjadi perpecahan kalau tidak disadari. Saya rasa kalau Tebu Ireng di perguruan tingginya sendiri sudah sadar betul bahwa ada gerakan itu. Saya beberapa kali datang baik ke perguruan tingginya maupun ke pesantrennya. Saya rasa ke depannya gerakan liberal ini akan mendapat tantangan dari internal NU sendiri.

Sampai kapan NU bisa bertahan dari gempuran gerakan liberalisme ini?
Ya, Wallhohu’alam. Tapi yang jelas orang NU kan harus berjuang..ha ha ha.

Apakah semua elite NU itu liberal?
Enggak juga. Tapi kalau ali Maschan Moesa (Ketua PWNU Jatim) itu memang agak liberal. Sebenarnya ga semua pengurus di tingkat elite itu liberal. Di NU ka n ada Pak Ma’ruf Amin, Ketua Komisi Fatwa MUI. Lalu Kyai Masduki yang ada di elite Syuriah (Dewan Tertinggi Keagamaan). Elite Syuriah kan beda dengan elite Tanfidziyah (Badan Pelaksana Organisasi). Yang bermasalah (yang jadi liberal) kan di elite Tanfidziyah. Di elite Syuriah beda. Di sini ada kyai Masduki Machfudz kan elite juga, tapi tidak liberal. Aneh kan? Kita kan ga bisa melihat secara di permukaan saja. Jadi begini, elite NU di level kyai ini kan, yang pertama, mereka tidak menulis. Yang kedua, kalau menulispun, tidak di-blow up media. Yang ketiga, kalau ada persoalan demikian (liberalisasi) mereka tidak baca. Kan begitu.

Apa para kyai ini kurang kritis?
Sebenarnya kalau dikatakan kurang kritis juga tidak. Masalahnya adalah para kyai ini kurang informasi. Kalah informasi. Karna sibuk. Sebenarnya SBY itu kan juga ga sempat baca Koran, tapi kan ada yang mbacakan Koran dan kasih informasi. Kyai juga begitu. Ada yang mbacakan koran dan ngasih informasi, tapi yang ngasih informasi menyelewengkan informasi, kan bahaya. Seperti Kyai Sahal Machfudz. Semua orang tahu kyai Sahal bukan seorang liberal. Tetapi…bayangkan, ada seorang orientalis yang menggolongkan kyai Sahal sebagai tokoh liberal. Beliau kaget! “Lho, saya kok dimasukkan dalam daftar tokoh-tokoh liberal??? Apa dasarnya?!”, kata beliau.

Lalu bagaimana dengan jebolan pesantren yang kemudian menempuh pendidikan formal? Mereka jadi agen-agen liberal ya?
Iya, termasuk Masdar kan yang paling kentara. Itu karna ya tadi itu, istilahnya krisis identitas. Mencari aktualisasi diri. Dengan masuk liberal dia bisa berpendapat aneh-aneh, di-blow up oleh media, menjadi orang terkenal, sebenarnya kan itu aja. Yang dicari cuma itu kan sebenarnya. Itu yang menjadi masalah. Tetapi masih ada alumni pesantren yang memang masih teguh mempertahankan prinsip. Ada alumni pesantren termas namanya Yudin Wahyudi, dia sekolah di Mc Gill, Canada, sekarang ngajar di Universitas Negeri Jogyakarta . Tapi dia tidak liberal walaupun dia memang banyak mengadopsi teori-teori Barat tetapi dia mengadopsi terori-terori Barat kritis. Dia mengkritik orang-orang yang mengusung Hermeunetik. Dia bilang , “orang-orang yang mengusung Hermeunetik ke Indonesia ini adalah orang-orang yang pada dasarnya dia ga ngerti Hermeunetik itu apa. Dia ga PeDe dengan pedang yang dia miliki. Bahwa pedang yang dia miliki jauh lebih hebat. Kenapa ga kita gerakkan aja gerakan Ushul Fiqih, gerakan bermazhab bukan secara literal, tapi secara metodologis, secara Manhaji.” Sekarang ini di NU lagi dikembangkan gerakan secara Manhaji, untuk menjawab liberalisasi. Artinya apa? Kita ikut mazhab Syafi’I itu secara metodologis, bukan secara tekstual. Jadi bagaimana Imam Syafi’I merumuskan dan memecahkan serta mengkaji Al-Quran, kita ikuti caranya. Bukan mengambilnya mentah-mentah, tinggal makan. Kalau kyai zaman dulu kan karna saking takutnya, kemudian dia harus mengambil apa adanya, mentah-mentah. Padahal yang mentah itu belum tentu cocok, karna beda zaman. Sekarang dikembangkan bermazhab secara metodologis. Dalam hal ini Kyai Ma’ruf Amin termasuk orang yang banyak mengembangkan itu. Sebenarnya di level perdebatan internal NU, yang begini aja jadi masalah kok, yang bermazhab secara metodologis aja dipermasalahkan kok. Apalagi yang liberal. Artinya apa? Kalau ada orang yang mengatakan NU itu liberal, berarti dia ga tahu soal NU.

Mungkin yang orang-orang tahu yang terlihat di media kan?
Kalau orang tahu yang sebenarnya, lha wong mau bermazhab secara metodologis aja takut,kan gitu. Ikut Imam Syafi’I, dari asas metodologi, kemudian membaca Al-Quran, memahaminya dengan pemahaman model/cara Imam Syafi’I itu aja takut kok. Apalagi liberal, kan jauh sekali. Jadi NU masih jauh dari liberal. Di internal NU kan masih begitu. Nah, sekarang untuk memberi respon arus generasi muda yang begitu, agar dia kembali ke pangkuannya, maka dikembangkanlah bermazhab secara metodologi. Yang kedua, tidak membatasi Syafi’iyah. Dibuka peluangnya untuk mengadopsi Malikiyah, HAnafiyah. Karna apa? Banyak persoalan-persoalan yang tidak bisa dijawab dengan Syafi’iyah, seperti Zakat Profesi. Orang punya profesi. Kalau menurut Mazhab Syafi’i, kita ga kewajiban zakat itu. Dokter, walalupun kaya sekali ga wajib zakat. Menurut mazhab Syafi’I, yang dikeluarkan zakatnya hanya yang disebutkan di situ aja seperti emas, perak, perniagaan, hewan ternak kayak kambing, sapi, onta. Bebek dan ayam enggak. Orang punya ayam 100.000 ekor ga ada zakatnya kan kalau ga dijual, sebab kalau dijual jadi perniagaan. Pertanian kalau kebun mangga sekian hektar juga ga diwajibkan zakat karna yang diwajibkan zakat hanya produk-produk pertanian yang menyangkut beras. Jadi pemahamannya beda. Sekarang ini dikembangkan ke sana. Jadi masih banyak orang-orang NU yang berpendidikan seperti Pak Ali Mustafa Ya’kub. Beliau orang pesantren yang berpendidikan tinggi, Doktor yang Profesor tapi pikirannya jelas non liberal. Cuman orang-orang seperti ini yang jelas ga ada tempat di pers. Masalahnya kan gitu. Ga popular karna ga trendy kan. Pers itu kan ngambil angle yang controversial. Kalau ga controversial ga akan menarik pers. Makannya yang di Jawa Timur yang mencuat Ali Mascan. Tulisan-tulisannya sering muncul. Kalau yang lain jarang sekali dimuat. Seperti Mutawakkil, ga pernah dimuat kan namanya, meskipun dia orang NU. Ya itulah problem-problem NU sebenarnya.

Bisa dijelaskan soal pengembangan metode Manhaji?
Nah, ini sebenarnya program NU yang akan dikembangkan lewat pesantren kan. Makannya di pesantren itu dikembangkan Ma’had Ali. Kalau di pesantren, level ilmu yang diajarkan kan level menengah. Selama ini pesantren kebanyakan menangani level menengah. Level menengah ini kan hanya mengajarkan Mazhab Syafi’i. Fiqih yang diajarkan juga fiqih secara tekstual. Kan begtu.Nah sekarang ini sedang dikembangkan di beberapa pesantren di NU, mazhab level atas, Ma’had Ali. Ini bagian dari proses kaderisasi. Lewat Ma’had Ali, diharapkan akan muncul sosok kyai yang levelnya itu lintas berpikirnya sudah lintas mazhab, sudah ga Syafi’I oriented.

Bisa dijelaskan lagi soal Ma’had Ali?
Ma’had Ali itu pesantren tinggi. Yakni pondok pesantren yang kajiannya sudah multi disiplin ilmu. Kalau bicara fiqih sudah tidak Syafi’I oriented. Mazhab-mazhab dipelajari. Kajiannya sudah level tinggi. Pesantren yang ada kebanyakan masih level menengah. Makannya kalau lulusan pesantren langsung jadi kyai, ilmunya ya baru level menengah, jadi kyai level menengah.

Apakah tidak diajarkan metodologi di level menengah ini?
Diajarkan tetapi belum pada tahap menggunakan metodologi. Dia masih sekedar tahu tentang metodologi. Tahu bahwa itu pisau, tapi bagaimana cara memakai pisau dia belum tahu. Cara mempraktekkannya dia belum bisa. Nah ke depan yang sekarang sedang disiapkan ya itu, mengajarkan bagaimana menggunakan metodologi.

Apa ini bisa mengatasi problem kaderisasi?
Tidak, justru Ma’had Ali menjadi sarang untuk mensosialisasikan liberalisme. Masalahnya kelompok liberal juga bermain, ingin merebut Ma’had Ali. Ini yang jadi tantangan berat.

Sudah ada indikasi kesana?
Iya. Satu contoh, Ma’had Ali Asem Bagus kan dimasuki gerakan liberalisme. Masalahnya kan gini, ketika recruitment dosen, mereka ga jeli sehingga dimasuki liberalisme.

Sesi 2
Liberalisasi cuma terjadi di tubuh NU?
Enggak. Muhammadiyah juga mengalaminya, bahkan lebih parah. Kenapa? Karena Muhammadiyah tidak punya pesantren. Muhammadiyah jauh lebih alami problem serius ketika hadapi liberalisme. NU masih punya pesantren kan. Kader NU yang hakiki sebenarnya ulama kan. Makannya gerakan pesantren ini yang paling penting, yang harus kita gerakkan, membentuk kader ulama.
Gerakan liberalisme di Muhammadiyah malah lebih ngawur. NU masih punya benteng pesantren.

Terus-terang, saya lebih mengenal liberalisme dan tokoh-tokohnya yang ada di NU. Kayaknya Muhammadiyah tidak sepopuler NU ya dari sisi gerakan liberalisme
Padahal Muhammadiyah itu lebih bermasalah kan. Perguruan tingginya aja bermasalah. Tidak ada orang pinter sama sekali. Jadi, ngawur itu Muhammadiyah nantinya. Tajdid dalam pengertian-nya Kyai Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dengan tajdid-nya kaum muda Muhammadiyah beda kan. Tajdid-nya Kyai Achmad Dahlan kan pemurnian ajaran kembali kepada Quran dan Sunnah. Sekarang sudah ganti. Tajdid itu adalah memaknai Quran dengan makna yang menggantikan makna Quran yang lama. Nah orang seperti Amin Abdullah, Sukidi, Abdul Munir Mulkhan, Dawam Rahardjo, Zainudin Maliki, Syafiq Mughni, kan orang-orang liberal. Amien Rais aja berpikirnya liberal. Yang lebih parah lagi masyarakat Muhammadiyah kan bilang tidak taklid, padahal taklidnya pada pimpinan kuat sekali sehingga tidak kritis kan warga Muhammadiyah itu. Mereka kan tidak tahu bahwa Amein Rais itu liberal. Tahunya Amien Rais itu hebat. Iya kan? Amien Rais kan sudah lama berpikirnya liberal. Amien Rais kan menolak pemberlakuan syari’at Islam. Syafi’I Ma’arif sejak dulu, sejak mulai terkenal di Indonesia, sudah liberal. Tapi kenapa dipilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah? Lha wong sejak saya mengenal Syafi’I Ma’arif, dia sudah bilang jilbab itu tidak wajib. Padahal saya mengenal Syafi’I Ma’arif sejak saya kuliah semester 3 (awal 90-an). Sebenarnya kader Muhammadiyah cukup kritis, tapi tidak dibarengi dengan penguatan ilmu yang mapan. Mana ada lembaga keulamaan di Muhammadiyah? Yang mencetak orang yang betul-betul ahli di bidang ilmu agama. Kan ga ada. Akhirnya ex Muhammadiyah yang alim (berilmu) kan masuk PKS. Keluar Muhammadiyah dia. Nanti akan mbentuk lembaga sendiri tuh. Jadi mereka yang mondok di Timur-Tengah dari keluarga Muhammadiyah, ga mau masuk Muhammadiyah lagi nanti. PKS itu nanti akan jadi ormas itu. Dia akan membangun ormas sendiri, menjadi partner-nya PKS. Ke depan nanti Tarbiyah akan besar. Sekarang mungkin Tarbiyah ga tau pake nama atau icon apa. PKS kan partai ya. Ga tau nanti apakah PKS juga sekaligus ormas sekaligus partai. Kayaknya PKS akan menjadi ormas yang perannya akan menggantikan peran Muhammadiyah karena Muhammadiyah sudah tidak dianggap berdaya menghadapi arus liberalisasi. Orang-orang Muhammadiyah yang pinter kayak Daud Rasyid, dulu orang Muhammadiyah. Kok ga kerasan di Muhammadiyah. Lha wong Muhammadiyah tempatya orang-orang ga pinter agama berani ngomong soal agama. Itulah yang bermasalah di Muhammadiyah. Kenapa saya tahu? Karna saya kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah. Betapa naifnya ketika orang-orang Muhammadiyah berdiskusi. Berani sekali kan. Di NU kan masih takut. Orang di pesantren, ketika bicara hadits takut salah, takut kualat. Di Muhammadiyah tidak. Mereka berani sekali. Satu contoh, ketika bicara ayat masalah poligami. Orang NU kan takut menafsirkan ayat soal itu. Orang MUhammdiyah ga ngerti bahasa Arab bisa menerjemahkan hanya berdasarkan terjemahkan. Dia bisa bikin teori tanpa ngerti Asbaul Nuzulnya.

Ini kita bicara konteks orang-orang Muhammadiyah yang non liberal?
Iya, Ini dalam konteks orang-orang Muhammadiyah non liberal. Artinya di luar liberalisme aja sikapnya begitu. Masyakaratnya cirinya memang sok intelek gitu kan, tapi ga nguasai ilmu-ilmu yang mapan sehingga ketika ada gelombang liberalisme datang kepada dia, gampang kena. Yang penting kan rasional sehingga gerakan dan pikiran yang aneh-aneh gampang masuk. Seperti teori kenapa akhirat tidak kekal. Di Muhammadiyah diterima pikiran seperti itu. Kan dalilnya sederhana dia. “Alloh Membuat perumpamaan orang hidup di surga itu sepanjang masa langit dan bumi.” Padahal langit dan bumi tidak kekal, kan begitu. Dia berpikir, kalau langit dan bumi tidak kekal kan, berarti akhirat tidak kekal. Dia nyimpulkannya kan gitu. Padahal jika dimaknai secara ilmu metodologi bahasa Arab itu kan maknanya bahwa kita hidup di akhirat itu lama sekali. Kalau kita hidup di dunia sepanjang hidupnya langit dan bumi aja segitu lama, di akhirat lebih dari itu. Kita disuruh membayangkan panjangnya usia langit dan bumi. Nah Anda hidup di langit dan bumi aja cuman mengenyam sebagian dari eksistensi bumi, padahal di akhirat Anda akan menempuh hidup itu sendiri. Kan tidak mati. Kan gitu makna sebenarnya

Terus orang-orang Muhammadiyah yang sudah terliberalkan, sekarang ini punya link yan gkuat dnegan orang-orang NU yang sudah terliberalkan juga ya?
Iya betul. Ada JIMM=Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

Sejauh mana mereka bergerak?
Kalau JIMM saya kurang tahu. Kayaknya sich mereka menguasai lembaga-lembaga pendidikan tinggi, tempat untuk melahirkan intelektual.

Tapi yang paling popular JIL ya?
Kenapa JIL popular sekali? Karna mereka melakukan lompatan dari tradisonalis ke post tradisionalis, dimana lompatan itu sepadan dengan post modernis. Sonhaji Sholeh bilang, “Ini lompatan dari tradisonalis menjadi post tradisonalis dimana post tradisonalis ini sepadan dengan post modernis.” NU menuju post modernisme tidak melalui modernisme. Dia bilang wajar ketika menimbulkan masalah di internal. Beda dengan Muhammadiyah. Dia untuk menuju post modernisme, melalui modernisme sehingga tidak terlalu kentara . Gitu kan. Orang Muhammadiyah yang kolot akan tahu, ternyata sudah ga begitu lagi sekarang. Kalau dulu Tahlilan ga boleh tetapi kalau berdzikir sambil berjoget boleh kan? Wong acaranya PAN ada ndangdutnya, ada njogetnya, ada sholawatnya sekarang, iya kan? Jangangkan PAN, saat Muktamar Muhammadiyah kemarin di MAlang itu lho, ada pembacaan sholawat yang dulu dikatakan syirik. Tidak sadar kan orang MUhammadiyah. Ternyata mereka tidak kritis juga kan? Saya itu tahu, sebab saya buka pameran di Muktamar itu. Masyarakat Muhammadiyah sekarang jadi tidak kritis. Kenapa? Karena mereka yang terkesan krtitis itu, ternyata memiliki ketaklidan yang luar biasa terhadap orang-orang di level atas. Mereka taklid kepada Amein Rais.

Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Karena factor Ashobiyyah pada kelompok. Dan orang yang ditaklidkan ini, seperti Pak Amien Rais, menjadi orang besar sehingga mereka berkata, “Itu orang saya.” Ketika dikatakan bahwa Pak Amien Rais itu liberal, mereka ga tahu. Ketaklidan ini saya lihat lebih dikarenakan profile, charisma, factor ketokohan. Itu yang jadi masalah.

Apakah degradasi kualitas kader dialami ormas-ormas lain?
Saya kira iya tapi ada ormas yang mengalami penguatan seperti Al-Irsyad yang dikuatkan oleh Salafi yang merupakan kristalisasi dari Al-Irsyad. Di pihak Muhammadiyah muncul PKS. Kalau Masyumi bukan ormas yang concern pada gerakan keagamaan, tapi politis. Sejak awal Masyumi terlepas dari afiliasi dalam keagamaan. Tetapi karna dominasi Muhammadiyah yang sangat kuat dalam tubuh MAsyumi, ada kesan bahwa Masyumi concern ke gerakan keagamaan, padahal tidak Kalau DDII kan dibuat oleh Masyumi ketika Masyumi, secara formal sudah kalah. Tapi DDII kan tidak terlalu besar dan anggotanya semuanya kader, mereka tidak punya grassroot. Kalau NU & Muhammadiyah anggotanya kan mulai dari kalangan masyarakat grassroot sampai di tingkat elit.

Regenerasi ormas jarang yang tertib?
Kalau NU tidak tertib karena terlalu besar, anggota terlalu banyak. Organisasi yagn bisa melakukan regenerasi dan kederisasi yang tertib kan PKS. Kader-kadernya terkontrol. Ukuran kualitas kader-kadernya kan terkontrol. Ketika orang-orang PKS menempatkan sosok kader, kan bisa diukur kualitas kadernya, kadar pengetahuan agamanya dsb. PKS kan benar-benar menyeleksi kader-kadernya. Alam artian seleksinya itu komprehensif, aspek fikrohnya, aspek komitmennya, aspek pengetahuannya, relative aman itu. Kalau NU kan tidak. Siapa yang mau dimasukkan anggota dewan? Orang NU-kah itu? Kan itu saja. Apakah pemikirannya liberal atau enggak, kan ga dilihat. Muhammadiyah juga begitu. PAN apalagi kan. Siapa yang mau jadi pengurus NU? Tidak ada seleksi. Ini yang setiap kali terjadi saat membentuk kepengurusan. Dulu sudah ada batasan tidak boleh terkontaminasi liberal, tapi tidak ada mekanisme seleksi jadi orang liberal mudah masuk. Ali Mascan misalnya, padahal dia seharusnya tidak boleh masuk kepengurusan. Ketika kemudian internal NU bicara, “sebenarnya tolak ukur atau batasan liberal sejauh mana?”, kan ga disebutkan di NU. Akhirnya Ali Mascan masuk juga. Lain dengan PKS, ditinjau. Misalnya, orang ini sudah sejak awal masuk PKS. Kemudian ikut halaqoh, naik ke atas jadi pemimpin, ya otomatis kan orang yang terbaik di halaqoh, naik peringkat menjadi Murobbi. Murobbi ini merupakan anggota halaqoh di level atasnya lagi. Lalu karna dia yang terbaik lalu naik menjadi Murobbi level 1, sampai kemudian terus naik ke atas, kan begitu. Di Hizbut Tahrir juga begitu. Jadi kalau Hizbut Tahrir nanti jadi ormas, akan relative seragam, begitu pun dengan PKS. Yang disebut anggota PKS karakternya kan hamper sama. Lain dengan orang NU. Ada yang berjilbab, ada yang enggak. Pokoknya, disebut anggota NU yaitu kalau malam Jumat baca Yasin, kalau sholat Subuh baca Qunut, kan gitu. Iya kan? NU kan gitu batasannya. Kalau Muhammadiyah, kalau sholat Subuh ga Qunut. Simple kan? Jadi saya yakin kepengurusan NU mulai dari tingkat propinsi sampai level bawah, dia ga ngerti Qanun Asasi. Dia ga ngerti sejarah NU. Tahunya hanya bahwa NU itu tahlilan, ikut organisasi di bwah NU. Saya yakin begitu. Saya bilang itu ke kakak saya yang jadi pengurus NU Kodya Surabaya, “sudah pernah ngetes ga pengurus NU itu? Paham ga ini AD/ART-nya? Paham ga yang namanya Qanun Asasi?”. Dia tidak paham itu. Tahunya NU itu ya sebatas ada Kyai Hasyim Asyari, ada Gus Dur, gitu aja kan. Yang kedua, kalau disebut NU tuh batasannya pokoknya ikut tahlilan. Tapi secara fikroh tidak sama sekali. Bahwa orang itu melegalisasi apalah (yang terlarang), yang penting subuhnya Qunut, ya NU.

Generasi muda NU sekarang yang liberal, apakah mereka masih merasa menjadi orang NU?
Mereka merasa sebagai orang NU. Seperti Ulil aja, dia nulis di milis JIl gini, “NU itu bangunan yang macam-macam. Di sana ada yang seperti saya yang liberal, ada yang berpikir moderat seperti Kyai Mustofa Bishri, ada seperti Ainul Yaqin (saya) yang Hizbut Tahrir. Tetapi musuh kita bukan orang NU yang konservatif (kelompoknya Lutfi Bashori) tapi gerakan fundamentalisme seperti PKS. Itu musuh kita yang sebenarnya. Janganlah menyerang orang NU sendiri, nanti malah lari”. Pinter juga Ulil. Saat itu Guntur Romli, anggota JIL, menyerang saya habis-habisan. Dia nulis, Ainul Yaqin patut dicurigai ke-Nu-annya. Jangan-jangan menyusup.

Sense of NU kuat ya? Ga bisa ya seseorang dikeluarkan dari NU secara cultural?
Kalau dari aspek itu kita emang ga bisa. Orang itu merasa menjadi NU, bukan karna fikroh, karna budaya. Ya itu tadi, disebut Nu kalau dia Tahlilan, ber-Qunut, dia percaya kalau Tarawih itu 20 meskipun karna males ikut yang 8 saja. Faktor keturunan juga sangat berpengaruh. Tapi sekarang sudah tidak terlalu lah. Ada kader-kader NU yang mulai dari bawah seperti Slamet Effendi Yusuf. Dia bukan keturunan kyai NU tapi berkiprah dari bawah. Ketokohan dalam NU memang dipengaruhi oleh luas penguasaan wilayah. Silsilah keluarga sangat penting dalam NU. Dan itu ada khaul, semacam tradisi mendoakan para leluhur sekaligus reuni keluarga. Meskipun aneh kayak apa juga, kalau masih ada hubungan keluarga, tetap diakui. Jadi itulah kelebihan NU. Gerakan liberalisme memanfaatkan kultur NU yang seperti itu. Kita bisa mengeluarkan orang dari organisasi jika kita bicara structural. Masyarakat NU ga begitu nganggap hal-hal structural. Coba lihat aja, lebih kuat Gus Dur dibanding pak Hasyim Muzadi padahal sekarang Gus Dur sudah ga jadi apa-apa kan? Itu yang menyebabkan kenapa fatwa Nu ga pernah sampai ke masyarakat.Karena fatwa itu dibuat oleh kyai juga tapi melalui proses formal, sehingga fatwa itu ga berlaku. Tetapi yang berlaku adalah pernyataan kyai-kyai setempat. Misalnya rumah saya di Gresik. Orang Gresik nge-fans sama kyai siapa, oh mereka nge-fans sama kyai Masdukir. Kalau ada apa-apa tanyakan pada Kyai Masdukir. Atau di daerah Semelo, Jombang Barat sana, semua itu kan merujuk ke Paklik (paman) saya, Gus Rofiq, pimpinan pondok pesantren Umar Zaid. Bisa jadi Gus Rofiq tidak membaca hasil fatwa, karna tidak ikut merumuskan. Dia sebagai kyai yang berkuasa di sana, punya kekuatan, punya pesantren, terus kemudian semua orang datang kepada dia. Jadi sentral kan perananannya. Di Kediri, Lirboyo, ada Kyai Badar dll. Masing-masing kyai punya radius sendiri. Tokoh-tokoh ini yang sebenarnya punya kekuasaan. Kalau mau menyatukan NU dengan pikirannya, maka tokoh-tokoh inilah yang harus dikumpulkan. Masalahnya tokoh-tokoh semacam ini kan banyak sekali, ga mungkin ngumpulkan dalam satu tempat.

Apakah fatwa NU ini ga bisa disosialisasikan?
Ga bisa. Fatwa itu ga bisa disosialisasikan. Misalnya tentang penetapan awal Ramadhan. Fatwa NU tetap pake Rukyat, secara organisasi kan Rukyat. Tetapi ada kyai, misalnya Kyai njambes yang mengajarkan ilmu Falak. Kyai itu memang ahli di bidang ilmu Falak. Dia hari rayanya, beserta massanya bisa jadi beda dengan fatwa NU. Karna dia yakin dengan hasil perhitungannya. Masyarakat yang percaya pada kemampuan dan kelebihannya (kelebihan dzohir dan batin), akan lebih ikhlas mengikuti kyai ini. Ini bukan masalah. NU tidak pernah merisaukan hal-hal semacam ini. Kemudian Thoriqot. Ada thoriqot yang tidak mengikuti thoriqot resmi NU, yang dia orang NU. Tetapi ga dipermasalahkan, mereka memang nge-fans pada kyai itu (yang menggagas thoriqot di luar NU). Pokoknya di NU itu, jangan menyatakan Tahlil dan Qunut itu bid’ah, dia masih diakomodasi. Intinya itu.

Bagaimana dnegan militansi di kalangan muda NU? Masih ada ga?
Dalam hal apa dulu. Memperjuangkan apa yang mereka yakini ya masih. Yang liberal dan non liberal tetap memperjuangkan apa yang mereka yakini. Ulil itu kan sangat gigih memperjuangkan liberalisme. Begitupun dengan tokoh-tokoh non liberal seperti Lutfi Bashori, Najih Maemun dan kelompok Sidogiri cs, punya website. Banyak orang Hizbut Tahrir yang ngisi.

Saya lihat anak muda sekarang kok jarang yang masuk organisasi yang berafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah?
Selama ini ada perbedaan pemahaman soal dakwah. Di NU dan Muhammadiyah, dakwah itu konotasinya kan ceramah. Coba lihat Pildacil itu, bisa berdakwah, artinya bisa berceramah kan? Tetapi berkegiatan itu bagian dari dakwah kan tidak banyak dipahami. Sekarang kan muncul pemahaman dakwah secara pengertian luas bahwa dakwah itu mengajak orang, system dakwah dnegan halaqoh dsb. Ini kan ga banyak dikenal dalam tradisi NU. Dan ada perbedaan konsep serta segmen. Bagi para anak muda atau katakanlah mahasiswa yang ngin berkecimpung dalam organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan NU, sejak awal dia sebaiknya sudah berinteraksi dengan kultur NU. Kebanyakan kan begitu. Atau bisa jadi sosialisasi tidak menjangkau mereka. Tidak ada satu program di NU yang secara khusus menjaring mahasiswa. Lain dengan misalnya, KAMMI. Targetnya kan memang mahasiswa. Atau Hizbut Tahrir, untuk mencari kader dia kan datang ke kampus. NU dan Muhammadiyah kan tidak begitu. Dia sudah menyatu di masyarakat, yang namanya dakwah itu ya pengajian di kampong-kampung dan masyarakat umum, dengan cara ceramah, lewat PHBI, kajian rutin mingguan, pesantren, lembaga pendidikan dsb. Muhammadiyah begitu juga. Ketika seseorang bersekolah di Muhammadiyah otomatis dia masuk jadi anggota IRM, Hizbul Wathon dsb. Jadi dia tidak merasa menjadi anggota secara khusus. Kalau gerakan semacam KAMMI dan Hizbut Tahrir, lahirnya kan memang dari kampus.

Kartika Pemilia-Surabaya

Apa yang Terjadi Pada NU?

Wednesday, October 18th, 2006

Nama : Ainul Yaqin
Status : Warga dan pemerhati NU, mantan pengurus IPNU Jatim, Sekretaris MUI Jatim, Sekretaris LPPOM MUI Jatim
CP : 08121736003, 031-7921213
Hubungan : Wawancara langsung di kantor LPPOM MUI Jatim, 16 Oktober 2006

Apa yang sedang terjadi pada NU? Mengapa perannya surut?

Sebenarnya di NU sendiri tidak ada bidang yang secara khusus mengurusi kaderisasi. Memang ada Lakpesdam, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia, sebuah lembaga yang resmi mengurusi kaderisasi. Cuman persoalannya, sejak era kepemimpinan Gus Dur di NU, Lekpesdam dipenuhi oleh orang-orang yang berhaluan liberal, itu yang jadi masalah. Dan ketika Lakpesdam dimainkan oleh orang-orang berhaluan liberal, dan walaupun sejak Muktamar di Boyolali sudah ada isu untuk menghilangkan liberalisasi, tetapi tetap aja, arus liberalisasi begitu kuat, sehingga masih tetap mendominasi di level lembaga-lembaga begitu, ditambah secara kebetulan orang-orang NU yang berpendidikan, khususnya di jalur pendidikan agama yang formal, banyak mereka-mereka yang sudah berpikir model-model liberal. Nah itu yang jadi masalah. Sehingga ini bertentangan dengan garis perjuangan NU. NU ini kan kalo dibaca di garis perjuangan otomatis mestinya harus dikembalikan kepada Qanun Asasi (prinsip dasar), sebagai organisasi dakwah. Yang jelas, tujuannya adalah mengupayakan pelaksanaan syariat Islam. Jadi kalo ada yang menuduh NU sebagai anti formalisasi (anti kelembagaan, agama tidak boleh dilembagakan), itu tidak benar. Sekarang kalo kita lihat, anti kelembagaan itu berarti penyelewengan terhadap Qanun Asasi. Sekarang kita perhatikan sejarah NU. Jadi NU berdiri tahun 1926. Kemudian dia terlibat dalam MIAI (Majelis A’la Islam Indonesia). Wachid Hasyim adalah orang yang terlibat dalam MIAI yang merupakan cikal-bakal Masyumi. Jadi sebenarnya cikal-bakal Masyumi ini yang mendirikan sebenarnya orang NU. Walaupun kemudian banyak didominasi orang Muhammadiyah.Justru itu yang menyebabkan orang NU kecewa terhadap keluarga Masyumi. Terus kemudian perjuangan NU dalam Piagam Jakarta. Jelas sekali kan ketika itu keterlibatan Pak Wahid Hasyi, yang ikut menandatangani Piagam Jakarta.
Peran Hasyim Asyari (kakek Gus Dur) dalam pendirian NU hanya sebagai legitimator, sedangkan orang yang berperan dalam pendirian NU kan Wahab Hasbullah, dari Ponpes Tambak Beras yang ikut dalam Komite Hijaz. Komite Hijaz inilah kemudian terbentuk NU atas restu dari Kyai Hasyim Asyari. Dan Kyai Hasyim dinobatkan sebagai Rois Akbar, Rois Pertama, Rois Syuriah. Dikatakan sebagai Rois ‘Am yang terbesar=Rois Akbar. Tetapi jika kita bicara tentang perjuangan NU dalam rangka penegakan syariat Islam jelas sekali kan. Terutama keterlibatan NU dalam Majelis ‘Ala Islam Indonesia, keterlibatan NU dalam Piagam Jakarta, terus keterlibatan NU dalam Majelis Konstituente. Majelis Konstituante yang kemudian dibekukan oleh Sukarno karma tidak mencapai kesepakatan itu karna apa? Karna Partai Islam dengan partai non Islam itu 50:50, akhirnya deadlock. Islam terdiri dari NU dan Masyumi, non Islam terdiri dari PNI, PKI, Parkindo dsb tidak mencapai kata mufakat dalam sidang konstituante untuk menentukan UUD. Akhirnya Sukarno buat Dekrit Presiden 5 JUli 1959. Nah, pada saat Sukarno membuat dekrit itu apa memonya dari Pak Wahid Hasyim. Memonya : Piagam Jakarta harus masuk dalam dekrit. Pak Wahid Hasyim juga salah satu yang menandatangani Piagam Jakarta. Jadi pada waktu dekrit presiden 1959 itu pak Wahid Hasyim adalah salah satu orang yang memberikan rekomendasi mendorong Sukarno. Bahkan ketika Sukarno membubarkan pesantren, yang memprotes adalah Pak Wahid Hasyim. Tetapi karna tidak ada kata mufakat dalam konstituante, tetep aja nama Piagam Jakarta dimasukkan dalam dekrit, tetapi Sukarno tidak mau secara eksplisit,sehingga kalimat dlama Piagam Jakarta itu adalah berlakunya UUD 1945 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta. Jadi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 itu ada jiwa Piagam Jakarta. Ini kan sebenarnya nuansa formalisasi (melembagakan agama). Itu kalo dilihat dari sejarah pada masa era Sukarno.
Kemudian pada masa era Suharto. Perjuangan yang paling kuat dalam formalisasi kan UU Perkawinan. UU Perkawinan itu kan dulu mau dimasukkan dalam catatan sipil kan. Tetapi NU melalui PPP out, menolak itu, di bawah kepemimpinan Kyai Bishri Sansuri, ayahnya ibunya Gus Dur. Kenapa kok UU Perkawinan itu harus jadi UU? Ini kan kepentingannya formalisasi. Terus kemudian penolakan terhadap aliran kepercayaan, juga walk out. Terakhir asas tunggal. Terjadi lobby-lobby yang kuat, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa makna Ketuhanan Yang Maha Esa tidak boleh bertentangan dengan makna syahadat. Jadi tetap ada nuansa formalisasi. Kenapa itu semua terjadi? Karena basis dari garis perjuangan NU adalah untuk kepentingan menegakkan syariat Islam. Jadi tidak benar sama sekali kalau NU menolak formalisasi. Sekarang ini kan dicoba dikotomikan antara dakwah structural/formalis dengan dakwah cultural. Ga ada dikotomi secama ini. Nah dikotomi ini dilakukan oleh orang-orang liberal dalam rangka menjauhkan NU dari penegakan syariat Islam.

Sejak kapan terjadi dikotomi dakwah structural dan cultural di NU?
Baru-baru aja kok, sejak kepemimpinan Gus Dur. Sejak itulah, kran liberalisme dibuka di tubuh NU. Itu yang jadi masalah.

Kenapa Gus Dur membuka kran liberalisme?
Ya karna konsep berpikirnya begitu (liberal). Terus ada juga upaya mengotak-atik konsep Aswaja (Ahlussunnah wal jamaah). Sebenarnya Kyai Hasyim Asyari menulis Qanun Asasi (prinsip dasar) ini kan untuk menyederhanakan konsep Aswaja sehingga bisa diamalkan secara praktis. Aswaja yang kompleks begitu disistematisasi dengan makna yang simple, yaitu secara aqidah ikut pemahamannya Asy’ariyah dan Maturidiyah. Secara fiqih ikut mazhab yang empat khususnya Imam Syafi’i. Secara tasawuf mengikuti pemahamannya Imaam Ghazali dan Junaid al-Baghdadi. Itu formula yang simple dari Aswaja. Nah, konsep ini yang sekarang akan diotak-atik kan? Sebenarnya konsep ini yang akan diotak-atik oleh Said Agil Siroj, oleh orang-orang liberal, dipelencengkan. Implikasi dari konsep Aswaja kan Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh. Yang dimaksud Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh ini bukan berarti kita begitu lunak bersikap terhadap orang kafir. Tidak! Padahal konteksnya adalah konsep teologi Asy’ariyah dimana dia kedudukannya seimbang antara konsep Qodariyyah dan Jabbariyyah. Kalo orang Jabbariyyah menganggap bahwa segala aktivitas kita ini Gusti Pangeran yang bikin, pokonya kita seperti wayang, Qodariyyah bilang kita merdeka 100%, Asy’ariyyah dan Maturidiyyah bilang kita berada di tengah-tengah, makannya dikatakan Tawazun, kan gitu. Terus seimbang kan, Tawazun seimbang, antara dunia dan akhirat. Sebenarnya tiu konsep tasawuf dari Al-Ghazali. Kalo konsep tasawuf yang ada itu kan tasawuf yang melupakan dunia sama sekali. Tasawuf Al-Ghazali kan tidak. Dunia tempat kalian berpijak, kan gitu. Sehingga harus seimbang dunia akhirat.

Apa implikasinya ketika konsep Aswaja diotak-atik?
Implikasinya, NU tidak memiliki satu kejelasan format sendiri. Gimana sih sebenarnya NU? Kan ga jelas.

Kenapa konsep Aswaja diotak-atik? Apa tujuannya?
Sebenarnya tujuannya adalah untuk menawarkan liberalisme. Melakukan sekularisasi di tubuh NU. Nah ini yang harus disadari oleh kyai-kyai. Makannya saya beberapa datang ke Gus Sholah (Solahudin Wahid) , menyampaikan ini. Ini kita sedang dihancurkan dari dalam lewat gerakan liberalisasi!!! Dan sekarang mudah-mudahan buku yang sedang saya tulis segera terbit. Temanya tentang jati diri NU, semacam buku putih lah. Dan saya sudah sampaikan konsepnya ke Gus Sholah soal ini. Tinggal merelase aja, tapi konsentrasi saya terpecah ke pekerjaan.

Bagaimana liberalisasi bisa masuk ke tubuh NU? Apa yang salah?
Implikasi dari konsep Aswaja di NU yang kemudian ditafsiri oleh para kyai secara kaku berdampak pada kebekuan dalam proses bermazhab. Kenapa? Karena adanya ketakutan yang luar biasa dari kalangan kyai untuk melakukan yang namanya tajdid, ijtihad. Jadi konsep Aswaja yang disederhanakan dalam 3 aspek oleh Kyai Hasyim Asyari dipahami secara tekstual. Artinya apa? Kita ikut menyikapi itu secara tekstual. Kita ikut Imam Syafi’I secara tekstual, kita ikut Imam Ghazali secara tekstual, kita ikut Imam Hasan Asyari secara tekstual. Akibatnya ketika timbul persoalan-persoalan baru, misalnya persoalan masalah fiqih, kita mencari rujukan bukan langsung merujuk Al-Quran, enggak! Tapi adakah Imam Syafi’I berpendapat soal itu? Kalau ada maka masih akan merujuk pada itu. Padahal bisa jadi pendapat tentang masalah itu tidak relevan lagi karena pendapat itu dikemukakan dalam konteks yang dahulu. Saking takutnya melakukan yang namanya ijtihad. Mereka khawatir sekali mengatakan yang namanya ijtihad di NU. Saking takutnya, Khawatir salah. Itu sikap generasi tua dan sampai sekarang masih kuat. Termasuk dalam kasus kemarin di Muktamar NU kemarin di Surabaya. Ketika Ba’shum Masail, kyai-kyai tua tidak mau kembali langsung ke Al-Quran. Mereka berasumsi bahwa ketika kita langsung kembali ke Quran dan hadits langsung, kita jadi orang yang nyombong diri. Ilmu kita seberapa sich sehingga bisa menerjemahkan Quran, bukan bidangnya. Kita harus kembali kepada ulama yang terdahulu. Artinya kita harus memahami Quran lewat perantaraan mereka, kita akan lebih selamat. Kan begitu para kyai. Sehingga kalau ditanya tentang zakat, mereka pasti akan berpikir : adakah Imam Syafi’I berpendapat tentang zakat? Misalnya zakat profesi, ga ada pendapat Imam Syafi’I soal ini. Karna ga ada, ya udah dihentikan pembahasannya. Kan gitu kyai tua. Itu dampaknya kemudian, para generasi muda tidak puas! Kalau begini NU akan stagnan. Nah ketika tidak puas itu kemudian melakukan pencarian, yang difasilitasi oleh Gus Dur ketika mengetuai PB NU. Dan kyai-kyai yang lain tidak curiga karna figure seorang Gus Dur. Ternyata ketika mencari itu yang ditemukan beda-beda. Ketemu yang namanya Hegel, Foucault, Nietsze, para orientalis dll. Akhirnya kan jadi liberal Di situ kan masalahnya.

Kontrolnya bagaimana?
Ketika itu Gus Dur memang tidak melakukan control, perannya kan di sentral.

Bagaimana cara Gus Dur membuka kran liberalisme di NU?
Ya lewat Lakpesdam. Dan Gus Dur selalu memberikan garansi. Ketika ada kyai NU bertanya, “Lho anak-anak kok begitu?”, Gus Dur selalu memberikan jawaban menenangkan pada kyai, “Oh itu tidak apa-apa. Anak-anak kita masih dalam taraf pencarian.Nanti dia akan kembali menemukan kebenaran. Ga usah dirisaukan. Kan begitu Gus Dur. Selalu begitu.” Sekarang…begitu semuanya sudah terlanjur, sudah bablassss…para kyai baru sadar, kita ini sudah masuk begitu jauh, kan begitu. Ini yang jadi masalah. Sehingga di Muktamar NU kemarin tarik-menariknya kan kuat sekali, termasuk Masdar Mas’udi kan sebenarnya ga boleh masuk kepengurusan karena dia liberal. Tetapi karna Gus Dur di Muktamar kemarin itu mboikot, Pak Hasyim akhirnya ga disetujui. Supaya menyatukan biar tidak pecah karna Gus Dur bagaimanapun juga massanya juga masih kuat ya Masdar diakomodasi. Masdar kan orangnya Gus Dur. Kan gitu. Nanti ini jadi masalah di NU ini. Makannya saya pikir harus ada orang NU yang buat buku putih. Mazhab/aliran Sidogiri sekarang yang banyak nulis. Nanti mudah-mudahan lewat Gus Sholah semua bisa terealisasi. Gus Sholah orangnya bagus. Beberapa kali saya cerita masalah (liberalisme di tubuh NU) ini. Jadi sebenarnya NU itu sama sekali tidak liberal. Makannya saya agak sakit ketika baca tulisannya AM Saefudin kemarin soal NU. Ini artinya dia tidak tahu soal NU. Dia nulis kalimat “saya agak bahagia sekaligus heran ketika NU membuat keputusan fatwa tentang haramnya infotainment.” Kan…gitu kalimatnya. Karna selama ini NU dianggap liberal. Artinya apa? Fatwa yang selama ini dibuat NU tidak sampai ke masyarakat, karna ga dimuat/di-blow up media. Sama seperti MUI kasusnya. Ketika berfatwa jarang sekali dimuat oleh media. Lain halnya kalau buat fatwa yang provokatif, pasti dimuat. Kalau orang membaca kumpulan fatwa NU, maka akan menemukan kalau NU itu adalah snagat tradisional, jauh dari nuansa liberal.

Cuma kan yang terlihat di luar adalah NU=Gus Dur. Profile Gus Dur amat populer
Itu yang jadi masalah. Padahal Gus Dur sekarang sudah ga jadi pengurus NU. Orang ga pernah baca AD/ART NU. Yang keluar tulisannya Romadi, padahal dia bukan pengurus NU, dia dari wakil institute, atau yang keluar tulisannya Ulil Abshar Abdala, kan begitu. Tetapi memang pers juga bikin repot. Kapan hari saya nulis “NU dan Strategi Kaum Liberal”, kan ga dimuat. Akhirnya saya tuliskan di sidogiri.com, dan dimuat. Responnya kan besar sekali dari temen-temen liberal. Saya dituduh Hizbut Tahrir, HT-nya NU.

JAdi orang-orang liberal di NU atau orang NU yang liberal itu memang sengaja meng-a historis-kan NU?
Betul. Menyelewengkan pemaknaan. Jadi tulisan saya itu kan gini : strategi kaum liberal itu dalam rangka meliberalkan NU itu, pertama adalah menggeser idiom NU, kembali ke khittah, yang harusnya khittah NU yaitu menjadikan NU sebagai organisasi berbasis dakwah untuk mengembangkan syariat Islam dalam masyarakat Indonesia, digeser maknanya sebagai menjadikan NU kembali kepada dakwah cultural dimana dakwah cultural dikotomikan dengan dakwah structural. Itu kan strategi. Tujuannya apa? Tujuannya agar idiom ini berubah maknanya. Sehingga orang-orang berpikir, kalau begitu khittah NU itu berarti memang NU harus ngurusi masyarakat, ngurusi kaum dhuafa yang tidak ada nuansa sama sekali dengan masalah struktur. Padahal tidak begitu kan. Yang kedua, menggeser idiom Tawasuth, Tawazun dan Tasamuh. Yang itu maknanya mestinya adalah sikap keagamaan yang menjauhi sikap ekstrim, dalam artian, ekstrim itu ibadah ya ibadah thok, ga mentingkan dunia, atau sifat ekstrim terlampau rasional seperti mu’tazilah, kemudian digeser penafsirannya dengan sikap-sikap yang tengah-tengah dalam artian kita dengan orang Kristen bisa, dengan orang Katholik bisa. Ini kan artinya penggantian makna. Yang ketiga membuat tuduhan stigma kepada kelompok-kelompok yang anti liberal. Orang yang anti liberal dituduh bermazhab Wahabi. Orang NU yang pernah fobi dnegan fundamentalisme. Orang NU sangat fobi dengan Wahabi, betul itu. Semua orang NU fobia dengan Wahabi karna Wahabi memang begitu ganasnya melawan NU. NU lahir merupakan antitesa dari gerakan Wahabi di Indonesia. Komite Hijaz itu kan fungsinya merespon gerakan Wahabi. Jadi ketika orang Wahabi mau menghancurkan Makam Rasulullah SAW di Makkah sana, akhirnya di Indonesia dibentuk Komite Hijaz. Sehingga kalau ada yang sebutkan, “Orang itu Wahabi!”, ya para kyai langsung bereaksi. Mereka melemparkan tuduhan Wahabi ini kepada para kyai yang kritis, agar mereka mundur! Seperti, mereka bikin teori : bahwa kyai-kyai yang kritis itu mondoknya di Makkah, seperti Lutfi Bashori. Di Makkah kan pusatnya Wahabi, padahal di Makkah dia kan muridnya Sayyid Maliki yang justru dikafirkan oleh orang Wahabi (Sayyid al-Maliki adalah ulama besar Al-Haromain yang dikafirkan oleh kaum Wahabi, sampai-sampai Imam ash-Sudaish tidak mau mensholati jenazah beliau almarhum). Terus kemudian kasusnya Habib Rizieq (pimpinan FPI pusat) misalnya atau di Surabaya ada Habib Abdurrahman Assegaf (pimpinan FPI Jatim), yang muridnya Sayyid al-Maliki juga. Ada juga ustadz Najih Maemun yang juga dituduh Wahabi. Karna mereka ini anti liberal. Tujuan semua tuduhan ini agar para kyai curiga sama mereka. Jadi ini strategi kaum liberal dalam rangka mereka bisa memasukkan pikiran-pikiran mereka secara perlahan-lahan

Apakah ini yang menyebabkan NU mengalami degradasi, dibanding NU di masa lalu?
Betul. Jadi NU secara kelembagaan kehilangan identitas. Tetapi di aspek grass root Nu, tetap no problem. Pesantren masih tetap menjalankan kaderisasi sesuai apa adanya.

Jadi pesantren masih menjadi kontributor utama ya?
Iya, pesantren masih menjalankan peran sebagai pembina masyarakat, melakukan kaderisasi dengan khasnya, yang Aswaja (Ahlussunah wal jamaah) itu kan. Aswaja di pesantren masih cukup melekat, semua pesantren saya rasa begitu. Karna memang NU itu sebenarnya berangkat dari tradisi pesantren. NU itu kan organisasinya kaum pesantren.

Degradasinya di tingkat elite-nya?
Di tingkat elite memang mengalami degradasi, dalam artian sudah alami penyimpangan dari khittah NU-nya sendiri.

Akan menuju ke grassroot ga ketika degradasi di tingkat elite sudah sedemikian parah?
Oh enggak. Karna pesantren adalah sebuah kerajaan yang tidak bisa dirubah (disentuh). Bahkan Fatwa NU saja tidak bisa merubah pesantren.

Kenapa bisa begitu?
Karena kyai memiliki otoritas yang kuat. Dia dipercaya oleh masyarakatnya.

Tapi kyai kan juga menjadi pengurus NU?
Tidak semua kyai. Bahkan kyai-kyai yang berpengaruh tidak menjadi pengurus NU, contoh : Kyai Faqih pimpinan ponpes Langitan kan tidak menjadi pengurus NU. Kyai-kyai besar yang punya pesantren besar-besar sama sekali tidak menjadi pengurus. Mereka inilah yang sekarang harus kita sadarkan. Kita gerilya ke mereka, kita sadarkan jangan sampai kader-kader di pesantren ke depan digoda oleh gerakan liberalisasi. Karna apa? Gerakan liberalisasi akan masuk ke pesantren lewat perguruan tinggi yang ada di pesantren. Contoh, pesantren Asem Bagus Situbondo, Darul Ulum, Tambak Beras, Tebu Ireng. MAsuknya lewat perguruan tinggi-nya. Tapi dia tidak bisa masuk ke relung pesantren, karena sistem pesantren dengan system di perguruan tingginya beda. Nanti itu akan terjadi perpecahan kalau tidak disadari. Saya rasa kalau Tebu Ireng di perguruan tingginya sendiri sudah sadar betul bahwa ada gerakan itu. Saya beberapa kali datang baik ke perguruan tingginya maupun ke pesantrennya. Saya rasa ke depannya gerakan liberal ini akan mendapat tantangan dari internal NU sendiri.

Sampai kapan NU bisa bertahan dari gempuran gerakan liberalisme ini?
Ya, Wallhohu’alam. Tapi yang jelas orang NU kan harus berjuang..ha ha ha.

Apakah semua elite NU itu liberal?
Enggak juga. Tapi kalau ali Maschan Moesa (Ketua PWNU Jatim) itu memang agak liberal. Sebenarnya ga semua pengurus di tingkat elite itu liberal. Di NU ka n ada Pak Ma’ruf Amin, Ketua Komisi Fatwa MUI. Lalu Kyai Masduki yang ada di elite Syuriah (Dewan Tertinggi Keagamaan). Elite Syuriah kan beda dengan elite Tanfidziyah (Badan Pelaksana Organisasi). Yang bermasalah (yang jadi liberal) kan di elite Tanfidziyah. Di elite Syuriah beda. Di sini ada kyai Masduki Machfudz kan elite juga, tapi tidak liberal. Aneh kan? Kita kan ga bisa melihat secara di permukaan saja. Jadi begini, elite NU di level kyai ini kan, yang pertama, mereka tidak menulis. Yang kedua, kalau menulispun, tidak di-blow up media. Yang ketiga, kalau ada persoalan demikian (liberalisasi) mereka tidak baca. Kan begitu.

Apa para kyai ini kurang kritis?
Sebenarnya kalau dikatakan kurang kritis juga tidak. Masalahnya adalah para kyai ini kurang informasi. Kalah informasi. Karna sibuk. Sebenarnya SBY itu kan juga ga sempat baca Koran, tapi kan ada yang mbacakan Koran dan kasih informasi. Kyai juga begitu. Ada yang mbacakan koran dan ngasih informasi, tapi yang ngasih informasi menyelewengkan informasi, kan bahaya. Seperti Kyai Sahal Machfudz. Semua orang tahu kyai Sahal bukan seorang liberal. Tetapi…bayangkan, ada seorang orientalis yang menggolongkan kyai Sahal sebagai tokoh liberal. Beliau kaget! “Lho, saya kok dimasukkan dalam daftar tokoh-tokoh liberal??? Apa dasarnya?!”, kata beliau.

Lalu bagaimana dengan jebolan pesantren yang kemudian menempuh pendidikan formal? Mereka jadi agen-agen liberal ya?
Iya, termasuk Masdar kan yang paling kentara. Itu karna ya tadi itu, istilahnya krisis identitas. Mencari aktualisasi diri. Dengan masuk liberal dia bisa berpendapat aneh-aneh, di-blow up oleh media, menjadi orang terkenal, sebenarnya kan itu aja. Yang dicari cuma itu kan sebenarnya. Itu yang menjadi masalah. Tetapi masih ada alumni pesantren yang memang masih teguh mempertahankan prinsip. Ada alumni pesantren termas namanya Yudin Wahyudi, dia sekolah di Mc Gill, Canada, sekarang ngajar di Universitas Negeri Jogyakarta . Tapi dia tidak liberal walaupun dia memang banyak mengadopsi teori-teori Barat tetapi dia mengadopsi terori-terori Barat kritis. Dia mengkritik orang-orang yang mengusung Hermeunetik. Dia bilang , “orang-orang yang mengusung Hermeunetik ke Indonesia ini adalah orang-orang yang pada dasarnya dia ga ngerti Hermeunetik itu apa. Dia ga PeDe dengan pedang yang dia miliki. Bahwa pedang yang dia miliki jauh lebih hebat. Kenapa ga kita gerakkan aja gerakan Ushul Fiqih, gerakan bermazhab bukan secara literal, tapi secara metodologis, secara Manhaji.” Sekarang ini di NU lagi dikembangkan gerakan secara Manhaji, untuk menjawab liberalisasi. Artinya apa? Kita ikut mazhab Syafi’I itu secara metodologis, bukan secara tekstual. Jadi bagaimana Imam Syafi’I merumuskan dan memecahkan serta mengkaji Al-Quran, kita ikuti caranya. Bukan mengambilnya mentah-mentah, tinggal makan. Kalau kyai zaman dulu kan karna saking takutnya, kemudian dia harus mengambil apa adanya, mentah-mentah. Padahal yang mentah itu belum tentu cocok, karna beda zaman. Sekarang dikembangkan bermazhab secara metodologis. Dalam hal ini Kyai Ma’ruf Amin termasuk orang yang banyak mengembangkan itu. Sebenarnya di level perdebatan internal NU, yang begini aja jadi masalah kok, yang bermazhab secara metodologis aja dipermasalahkan kok. Apalagi yang liberal. Artinya apa? Kalau ada orang yang mengatakan NU itu liberal, berarti dia ga tahu soal NU.

Mungkin yang orang-orang tahu yang terlihat di media kan?
Kalau orang tahu yang sebenarnya, lha wong mau bermazhab secara metodologis aja takut,kan gitu. Ikut Imam Syafi’I, dari asas metodologi, kemudian membaca Al-Quran, memahaminya dengan pemahaman model/cara Imam Syafi’I itu aja takut kok. Apalagi liberal, kan jauh sekali. Jadi NU masih jauh dari liberal. Di internal NU kan masih begitu. Nah, sekarang untuk memberi respon arus generasi muda yang begitu, agar dia kembali ke pangkuannya, maka dikembangkanlah bermazhab secara metodologi. Yang kedua, tidak membatasi Syafi’iyah. Dibuka peluangnya untuk mengadopsi Malikiyah, HAnafiyah. Karna apa? Banyak persoalan-persoalan yang tidak bisa dijawab dengan Syafi’iyah, seperti Zakat Profesi. Orang punya profesi. Kalau menurut Mazhab Syafi’i, kita ga kewajiban zakat itu. Dokter, walalupun kaya sekali ga wajib zakat. Menurut mazhab Syafi’I, yang dikeluarkan zakatnya hanya yang disebutkan di situ aja seperti emas, perak, perniagaan, hewan ternak kayak kambing, sapi, onta. Bebek dan ayam enggak. Orang punya ayam 100.000 ekor ga ada zakatnya kan kalau ga dijual, sebab kalau dijual jadi perniagaan. Pertanian kalau kebun mangga sekian hektar juga ga diwajibkan zakat karna yang diwajibkan zakat hanya produk-produk pertanian yang menyangkut beras. Jadi pemahamannya beda. Sekarang ini dikembangkan ke sana. Jadi masih banyak orang-orang NU yang berpendidikan seperti Pak Ali Mustafa Ya’kub. Beliau orang pesantren yang berpendidikan tinggi, Doktor yang Profesor tapi pikirannya jelas non liberal. Cuman orang-orang seperti ini yang jelas ga ada tempat di pers. Masalahnya kan gitu. Ga popular karna ga trendy kan. Pers itu kan ngambil angle yang controversial. Kalau ga controversial ga akan menarik pers. Makannya yang di Jawa Timur yang mencuat Ali Mascan. Tulisan-tulisannya sering muncul. Kalau yang lain jarang sekali dimuat. Seperti Mutawakkil, ga pernah dimuat kan namanya, meskipun dia orang NU. Ya itulah problem-problem NU sebenarnya.

Bisa dijelaskan soal pengembangan metode Manhaji?
Nah, ini sebenarnya program NU yang akan dikembangkan lewat pesantren kan. Makannya di pesantren itu dikembangkan Ma’had Ali. Kalau di pesantren, level ilmu yang diajarkan kan level menengah. Selama ini pesantren kebanyakan menangani level menengah. Level menengah ini kan hanya mengajarkan Mazhab Syafi’i. Fiqih yang diajarkan juga fiqih secara tekstual. Kan begtu.Nah sekarang ini sedang dikembangkan di beberapa pesantren di NU, mazhab level atas, Ma’had Ali. Ini bagian dari proses kaderisasi. Lewat Ma’had Ali, diharapkan akan muncul sosok kyai yang levelnya itu lintas berpikirnya sudah lintas mazhab, sudah ga Syafi’I oriented.

Bisa dijelaskan lagi soal Ma’had Ali?
Ma’had Ali itu pesantren tinggi. Yakni pondok pesantren yang kajiannya sudah multi disiplin ilmu. Kalau bicara fiqih sudah tidak Syafi’I oriented. Mazhab-mazhab dipelajari. Kajiannya sudah level tinggi. Pesantren yang ada kebanyakan masih level menengah. Makannya kalau lulusan pesantren langsung jadi kyai, ilmunya ya baru level menengah, jadi kyai level menengah.

Apakah tidak diajarkan metodologi di level menengah ini?
Diajarkan tetapi belum pada tahap menggunakan metodologi. Dia masih sekedar tahu tentang metodologi. Tahu bahwa itu pisau, tapi bagaimana cara memakai pisau dia belum tahu. Cara mempraktekkannya dia belum bisa. Nah ke depan yang sekarang sedang disiapkan ya itu, mengajarkan bagaimana menggunakan metodologi.

Apa ini bisa mengatasi problem kaderisasi?
Tidak, justru Ma’had Ali menjadi sarang untuk mensosialisasikan liberalisme. Masalahnya kelompok liberal juga bermain, ingin merebut Ma’had Ali. Ini yang jadi tantangan berat.

Sudah ada indikasi kesana?
Iya. Satu contoh, Ma’had Ali Asem Bagus kan dimasuki gerakan liberalisme. Masalahnya kan gini, ketika recruitment dosen, mereka ga jeli sehingga dimasuki liberalisme.

Sesi 2
Liberalisasi cuma terjadi di tubuh NU?
Enggak. Muhammadiyah juga mengalaminya, bahkan lebih parah. Kenapa? Karena Muhammadiyah tidak punya pesantren. Muhammadiyah jauh lebih alami problem serius ketika hadapi liberalisme. NU masih punya pesantren kan. Kader NU yang hakiki sebenarnya ulama kan. Makannya gerakan pesantren ini yang paling penting, yang harus kita gerakkan, membentuk kader ulama.
Gerakan liberalisme di Muhammadiyah malah lebih ngawur. NU masih punya benteng pesantren.

Terus-terang, saya lebih mengenal liberalisme dan tokoh-tokohnya yang ada di NU. Kayaknya Muhammadiyah tidak sepopuler NU ya dari sisi gerakan liberalisme
Padahal Muhammadiyah itu lebih bermasalah kan. Perguruan tingginya aja bermasalah. Tidak ada orang pinter sama sekali. Jadi, ngawur itu Muhammadiyah nantinya. Tajdid dalam pengertian-nya Kyai Achmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dengan tajdid-nya kaum muda Muhammadiyah beda kan. Tajdid-nya Kyai Achmad Dahlan kan pemurnian ajaran kembali kepada Quran dan Sunnah. Sekarang sudah ganti. Tajdid itu adalah memaknai Quran dengan makna yang menggantikan makna Quran yang lama. Nah orang seperti Amin Abdullah, Sukidi, Abdul Munir Mulkhan, Dawam Rahardjo, Zainudin Maliki, Syafiq Mughni, kan orang-orang liberal. Amien Rais aja berpikirnya liberal. Yang lebih parah lagi masyarakat Muhammadiyah kan bilang tidak taklid, padahal taklidnya pada pimpinan kuat sekali sehingga tidak kritis kan warga Muhammadiyah itu. Mereka kan tidak tahu bahwa Amein Rais itu liberal. Tahunya Amien Rais itu hebat. Iya kan? Amien Rais kan sudah lama berpikirnya liberal. Amien Rais kan menolak pemberlakuan syari’at Islam. Syafi’I Ma’arif sejak dulu, sejak mulai terkenal di Indonesia, sudah liberal. Tapi kenapa dipilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah? Lha wong sejak saya mengenal Syafi’I Ma’arif, dia sudah bilang jilbab itu tidak wajib. Padahal saya mengenal Syafi’I Ma’arif sejak saya kuliah semester 3 (awal 90-an). Sebenarnya kader Muhammadiyah cukup kritis, tapi tidak dibarengi dengan penguatan ilmu yang mapan. Mana ada lembaga keulamaan di Muhammadiyah? Yang mencetak orang yang betul-betul ahli di bidang ilmu agama. Kan ga ada. Akhirnya ex Muhammadiyah yang alim (berilmu) kan masuk PKS. Keluar Muhammadiyah dia. Nanti akan mbentuk lembaga sendiri tuh. Jadi mereka yang mondok di Timur-Tengah dari keluarga Muhammadiyah, ga mau masuk Muhammadiyah lagi nanti. PKS itu nanti akan jadi ormas itu. Dia akan membangun ormas sendiri, menjadi partner-nya PKS. Ke depan nanti Tarbiyah akan besar. Sekarang mungkin Tarbiyah ga tau pake nama atau icon apa. PKS kan partai ya. Ga tau nanti apakah PKS juga sekaligus ormas sekaligus partai. Kayaknya PKS akan menjadi ormas yang perannya akan menggantikan peran Muhammadiyah karena Muhammadiyah sudah tidak dianggap berdaya menghadapi arus liberalisasi. Orang-orang Muhammadiyah yang pinter kayak Daud Rasyid, dulu orang Muhammadiyah. Kok ga kerasan di Muhammadiyah. Lha wong Muhammadiyah tempatya orang-orang ga pinter agama berani ngomong soal agama. Itulah yang bermasalah di Muhammadiyah. Kenapa saya tahu? Karna saya kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah. Betapa naifnya ketika orang-orang Muhammadiyah berdiskusi. Berani sekali kan. Di NU kan masih takut. Orang di pesantren, ketika bicara hadits takut salah, takut kualat. Di Muhammadiyah tidak. Mereka berani sekali. Satu contoh, ketika bicara ayat masalah poligami. Orang NU kan takut menafsirkan ayat soal itu. Orang MUhammdiyah ga ngerti bahasa Arab bisa menerjemahkan hanya berdasarkan terjemahkan. Dia bisa bikin teori tanpa ngerti Asbaul Nuzulnya.

Ini kita bicara konteks orang-orang Muhammadiyah yang non liberal?
Iya, Ini dalam konteks orang-orang Muhammadiyah non liberal. Artinya di luar liberalisme aja sikapnya begitu. Masyakaratnya cirinya memang sok intelek gitu kan, tapi ga nguasai ilmu-ilmu yang mapan sehingga ketika ada gelombang liberalisme datang kepada dia, gampang kena. Yang penting kan rasional sehingga gerakan dan pikiran yang aneh-aneh gampang masuk. Seperti teori kenapa akhirat tidak kekal. Di Muhammadiyah diterima pikiran seperti itu. Kan dalilnya sederhana dia. “Alloh Membuat perumpamaan orang hidup di surga itu sepanjang masa langit dan bumi.” Padahal langit dan bumi tidak kekal, kan begitu. Dia berpikir, kalau langit dan bumi tidak kekal kan, berarti akhirat tidak kekal. Dia nyimpulkannya kan gitu. Padahal jika dimaknai secara ilmu metodologi bahasa Arab itu kan maknanya bahwa kita hidup di akhirat itu lama sekali. Kalau kita hidup di dunia sepanjang hidupnya langit dan bumi aja segitu lama, di akhirat lebih dari itu. Kita disuruh membayangkan panjangnya usia langit dan bumi. Nah Anda hidup di langit dan bumi aja cuman mengenyam sebagian dari eksistensi bumi, padahal di akhirat Anda akan menempuh hidup itu sendiri. Kan tidak mati. Kan gitu makna sebenarnya

Terus orang-orang Muhammadiyah yang sudah terliberalkan, sekarang ini punya link yan gkuat dnegan orang-orang NU yang sudah terliberalkan juga ya?
Iya betul. Ada JIMM=Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

Sejauh mana mereka bergerak?
Kalau JIMM saya kurang tahu. Kayaknya sich mereka menguasai lembaga-lembaga pendidikan tinggi, tempat untuk melahirkan intelektual.

Tapi yang paling popular JIL ya?
Kenapa JIL popular sekali? Karna mereka melakukan lompatan dari tradisonalis ke post tradisionalis, dimana lompatan itu sepadan dengan post modernis. Sonhaji Sholeh bilang, “Ini lompatan dari tradisonalis menjadi post tradisonalis dimana post tradisonalis ini sepadan dengan post modernis.” NU menuju post modernisme tidak melalui modernisme. Dia bilang wajar ketika menimbulkan masalah di internal. Beda dengan Muhammadiyah. Dia untuk menuju post modernisme, melalui modernisme sehingga tidak terlalu kentara . Gitu kan. Orang Muhammadiyah yang kolot akan tahu, ternyata sudah ga begitu lagi sekarang. Kalau dulu Tahlilan ga boleh tetapi kalau berdzikir sambil berjoget boleh kan? Wong acaranya PAN ada ndangdutnya, ada njogetnya, ada sholawatnya sekarang, iya kan? Jangangkan PAN, saat Muktamar Muhammadiyah kemarin di MAlang itu lho, ada pembacaan sholawat yang dulu dikatakan syirik. Tidak sadar kan orang MUhammadiyah. Ternyata mereka tidak kritis juga kan? Saya itu tahu, sebab saya buka pameran di Muktamar itu. Masyarakat Muhammadiyah sekarang jadi tidak kritis. Kenapa? Karena mereka yang terkesan krtitis itu, ternyata memiliki ketaklidan yang luar biasa terhadap orang-orang di level atas. Mereka taklid kepada Amein Rais.

Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Karena factor Ashobiyyah pada kelompok. Dan orang yang ditaklidkan ini, seperti Pak Amien Rais, menjadi orang besar sehingga mereka berkata, “Itu orang saya.” Ketika dikatakan bahwa Pak Amien Rais itu liberal, mereka ga tahu. Ketaklidan ini saya lihat lebih dikarenakan profile, charisma, factor ketokohan. Itu yang jadi masalah.

Apakah degradasi kualitas kader dialami ormas-ormas lain?
Saya kira iya tapi ada ormas yang mengalami penguatan seperti Al-Irsyad yang dikuatkan oleh Salafi yang merupakan kristalisasi dari Al-Irsyad. Di pihak Muhammadiyah muncul PKS. Kalau Masyumi bukan ormas yang concern pada gerakan keagamaan, tapi politis. Sejak awal Masyumi terlepas dari afiliasi dalam keagamaan. Tetapi karna dominasi Muhammadiyah yang sangat kuat dalam tubuh MAsyumi, ada kesan bahwa Masyumi concern ke gerakan keagamaan, padahal tidak Kalau DDII kan dibuat oleh Masyumi ketika Masyumi, secara formal sudah kalah. Tapi DDII kan tidak terlalu besar dan anggotanya semuanya kader, mereka tidak punya grassroot. Kalau NU & Muhammadiyah anggotanya kan mulai dari kalangan masyarakat grassroot sampai di tingkat elit.

Regenerasi ormas jarang yang tertib?
Kalau NU tidak tertib karena terlalu besar, anggota terlalu banyak. Organisasi yagn bisa melakukan regenerasi dan kederisasi yang tertib kan PKS. Kader-kadernya terkontrol. Ukuran kualitas kader-kadernya kan terkontrol. Ketika orang-orang PKS menempatkan sosok kader, kan bisa diukur kualitas kadernya, kadar pengetahuan agamanya dsb. PKS kan benar-benar menyeleksi kader-kadernya. Alam artian seleksinya itu komprehensif, aspek fikrohnya, aspek komitmennya, aspek pengetahuannya, relative aman itu. Kalau NU kan tidak. Siapa yang mau dimasukkan anggota dewan? Orang NU-kah itu? Kan itu saja. Apakah pemikirannya liberal atau enggak, kan ga dilihat. Muhammadiyah juga begitu. PAN apalagi kan. Siapa yang mau jadi pengurus NU? Tidak ada seleksi. Ini yang setiap kali terjadi saat membentuk kepengurusan. Dulu sudah ada batasan tidak boleh terkontaminasi liberal, tapi tidak ada mekanisme seleksi jadi orang liberal mudah masuk. Ali Mascan misalnya, padahal dia seharusnya tidak boleh masuk kepengurusan. Ketika kemudian internal NU bicara, “sebenarnya tolak ukur atau batasan liberal sejauh mana?”, kan ga disebutkan di NU. Akhirnya Ali Mascan masuk juga. Lain dengan PKS, ditinjau. Misalnya, orang ini sudah sejak awal masuk PKS. Kemudian ikut halaqoh, naik ke atas jadi pemimpin, ya otomatis kan orang yang terbaik di halaqoh, naik peringkat menjadi Murobbi. Murobbi ini merupakan anggota halaqoh di level atasnya lagi. Lalu karna dia yang terbaik lalu naik menjadi Murobbi level 1, sampai kemudian terus naik ke atas, kan begitu. Di Hizbut Tahrir juga begitu. Jadi kalau Hizbut Tahrir nanti jadi ormas, akan relative seragam, begitu pun dengan PKS. Yang disebut anggota PKS karakternya kan hamper sama. Lain dengan orang NU. Ada yang berjilbab, ada yang enggak. Pokoknya, disebut anggota NU yaitu kalau malam Jumat baca Yasin, kalau sholat Subuh baca Qunut, kan gitu. Iya kan? NU kan gitu batasannya. Kalau Muhammadiyah, kalau sholat Subuh ga Qunut. Simple kan? Jadi saya yakin kepengurusan NU mulai dari tingkat propinsi sampai level bawah, dia ga ngerti Qanun Asasi. Dia ga ngerti sejarah NU. Tahunya hanya bahwa NU itu tahlilan, ikut organisasi di bwah NU. Saya yakin begitu. Saya bilang itu ke kakak saya yang jadi pengurus NU Kodya Surabaya, “sudah pernah ngetes ga pengurus NU itu? Paham ga ini AD/ART-nya? Paham ga yang namanya Qanun Asasi?”. Dia tidak paham itu. Tahunya NU itu ya sebatas ada Kyai Hasyim Asyari, ada Gus Dur, gitu aja kan. Yang kedua, kalau disebut NU tuh batasannya pokoknya ikut tahlilan. Tapi secara fikroh tidak sama sekali. Bahwa orang itu melegalisasi apalah (yang terlarang), yang penting subuhnya Qunut, ya NU.

Generasi muda NU sekarang yang liberal, apakah mereka masih merasa menjadi orang NU?
Mereka merasa sebagai orang NU. Seperti Ulil aja, dia nulis di milis JIl gini, “NU itu bangunan yang macam-macam. Di sana ada yang seperti saya yang liberal, ada yang berpikir moderat seperti Kyai Mustofa Bishri, ada seperti Ainul Yaqin (saya) yang Hizbut Tahrir. Tetapi musuh kita bukan orang NU yang konservatif (kelompoknya Lutfi Bashori) tapi gerakan fundamentalisme seperti PKS. Itu musuh kita yang sebenarnya. Janganlah menyerang orang NU sendiri, nanti malah lari”. Pinter juga Ulil. Saat itu Guntur Romli, anggota JIL, menyerang saya habis-habisan. Dia nulis, Ainul Yaqin patut dicurigai ke-Nu-annya. Jangan-jangan menyusup.

Sense of NU kuat ya? Ga bisa ya seseorang dikeluarkan dari NU secara cultural?
Kalau dari aspek itu kita emang ga bisa. Orang itu merasa menjadi NU, bukan karna fikroh, karna budaya. Ya itu tadi, disebut Nu kalau dia Tahlilan, ber-Qunut, dia percaya kalau Tarawih itu 20 meskipun karna males ikut yang 8 saja. Faktor keturunan juga sangat berpengaruh. Tapi sekarang sudah tidak terlalu lah. Ada kader-kader NU yang mulai dari bawah seperti Slamet Effendi Yusuf. Dia bukan keturunan kyai NU tapi berkiprah dari bawah. Ketokohan dalam NU memang dipengaruhi oleh luas penguasaan wilayah. Silsilah keluarga sangat penting dalam NU. Dan itu ada khaul, semacam tradisi mendoakan para leluhur sekaligus reuni keluarga. Meskipun aneh kayak apa juga, kalau masih ada hubungan keluarga, tetap diakui. Jadi itulah kelebihan NU. Gerakan liberalisme memanfaatkan kultur NU yang seperti itu. Kita bisa mengeluarkan orang dari organisasi jika kita bicara structural. Masyarakat NU ga begitu nganggap hal-hal structural. Coba lihat aja, lebih kuat Gus Dur dibanding pak Hasyim Muzadi padahal sekarang Gus Dur sudah ga jadi apa-apa kan? Itu yang menyebabkan kenapa fatwa Nu ga pernah sampai ke masyarakat.Karena fatwa itu dibuat oleh kyai juga tapi melalui proses formal, sehingga fatwa itu ga berlaku. Tetapi yang berlaku adalah pernyataan kyai-kyai setempat. Misalnya rumah saya di Gresik. Orang Gresik nge-fans sama kyai siapa, oh mereka nge-fans sama kyai Masdukir. Kalau ada apa-apa tanyakan pada Kyai Masdukir. Atau di daerah Semelo, Jombang Barat sana, semua itu kan merujuk ke Paklik (paman) saya, Gus Rofiq, pimpinan pondok pesantren Umar Zaid. Bisa jadi Gus Rofiq tidak membaca hasil fatwa, karna tidak ikut merumuskan. Dia sebagai kyai yang berkuasa di sana, punya kekuatan, punya pesantren, terus kemudian semua orang datang kepada dia. Jadi sentral kan perananannya. Di Kediri, Lirboyo, ada Kyai Badar dll. Masing-masing kyai punya radius sendiri. Tokoh-tokoh ini yang sebenarnya punya kekuasaan. Kalau mau menyatukan NU dengan pikirannya, maka tokoh-tokoh inilah yang harus dikumpulkan. Masalahnya tokoh-tokoh semacam ini kan banyak sekali, ga mungkin ngumpulkan dalam satu tempat.

Apakah fatwa NU ini ga bisa disosialisasikan?
Ga bisa. Fatwa itu ga bisa disosialisasikan. Misalnya tentang penetapan awal Ramadhan. Fatwa NU tetap pake Rukyat, secara organisasi kan Rukyat. Tetapi ada kyai, misalnya Kyai njambes yang mengajarkan ilmu Falak. Kyai itu memang ahli di bidang ilmu Falak. Dia hari rayanya, beserta massanya bisa jadi beda dengan fatwa NU. Karna dia yakin dengan hasil perhitungannya. Masyarakat yang percaya pada kemampuan dan kelebihannya (kelebihan dzohir dan batin), akan lebih ikhlas mengikuti kyai ini. Ini bukan masalah. NU tidak pernah merisaukan hal-hal semacam ini. Kemudian Thoriqot. Ada thoriqot yang tidak mengikuti thoriqot resmi NU, yang dia orang NU. Tetapi ga dipermasalahkan, mereka memang nge-fans pada kyai itu (yang menggagas thoriqot di luar NU). Pokoknya di NU itu, jangan menyatakan Tahlil dan Qunut itu bid’ah, dia masih diakomodasi. Intinya itu.

Bagaimana dnegan militansi di kalangan muda NU? Masih ada ga?
Dalam hal apa dulu. Memperjuangkan apa yang mereka yakini ya masih. Yang liberal dan non liberal tetap memperjuangkan apa yang mereka yakini. Ulil itu kan sangat gigih memperjuangkan liberalisme. Begitupun dengan tokoh-tokoh non liberal seperti Lutfi Bashori, Najih Maemun dan kelompok Sidogiri cs, punya website. Banyak orang Hizbut Tahrir yang ngisi.

Saya lihat anak muda sekarang kok jarang yang masuk organisasi yang berafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah?
Selama ini ada perbedaan pemahaman soal dakwah. Di NU dan Muhammadiyah, dakwah itu konotasinya kan ceramah. Coba lihat Pildacil itu, bisa berdakwah, artinya bisa berceramah kan? Tetapi berkegiatan itu bagian dari dakwah kan tidak banyak dipahami. Sekarang kan muncul pemahaman dakwah secara pengertian luas bahwa dakwah itu mengajak orang, system dakwah dnegan halaqoh dsb. Ini kan ga banyak dikenal dalam tradisi NU. Dan ada perbedaan konsep serta segmen. Bagi para anak muda atau katakanlah mahasiswa yang ngin berkecimpung dalam organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan NU, sejak awal dia sebaiknya sudah berinteraksi dengan kultur NU. Kebanyakan kan begitu. Atau bisa jadi sosialisasi tidak menjangkau mereka. Tidak ada satu program di NU yang secara khusus menjaring mahasiswa. Lain dengan misalnya, KAMMI. Targetnya kan memang mahasiswa. Atau Hizbut Tahrir, untuk mencari kader dia kan datang ke kampus. NU dan Muhammadiyah kan tidak begitu. Dia sudah menyatu di masyarakat, yang namanya dakwah itu ya pengajian di kampong-kampung dan masyarakat umum, dengan cara ceramah, lewat PHBI, kajian rutin mingguan, pesantren, lembaga pendidikan dsb. Muhammadiyah begitu juga. Ketika seseorang bersekolah di Muhammadiyah otomatis dia masuk jadi anggota IRM, Hizbul Wathon dsb. Jadi dia tidak merasa menjadi anggota secara khusus. Kalau gerakan semacam KAMMI dan Hizbut Tahrir, lahirnya kan memang dari kampus.

Kartika Pemilia-Surabaya