Seorang Ibu dan Sebuah ironi
Thursday, November 9th, 2006Seorang ibu berkerudung duduk disebelah kananku. Cara ibu ini berpakaian sangat rapi dan elegan. Dari semua yang dikenakannya dari kepala hingga kaki kalau dilihat-lihat mewah. Sebuah HP Samsung keluaran terbaru yang bisa motret yang ada di genggaman tampak serasi dengan gelang emas cantik yang menghias lengan sang ibu. Dari bahasa tubuhnya sepertinya dia ingin ngobrol denganku. Aku sendiri tidak terlalu memperdulikannya dan lebih memilih tidur daripada ngajak ngobrol, menyapa pun malas. Dua butir Antimo yang kuminum 1 jam lalu membuat kepala dan mataku terasa sangat berat. Aku tidak sanggup membuka mata dan pikiranku. Kurasa dosis Antimo yang kuminum terlalu tinggi, bahkan untuk orang yang punya penyakit mabuk darat parah sepertiku.
Travel yang membawaku dari pusat kota Jogya perlahan memasuki daerah pinggiran, makin lama makin mendekati perbatasan Jogya-Bantul, terus ke Sleman, lalu Purworejo. Kudengar deru kendaraan di jalanan yang ramai makin lama terdengar samar.
Ketika kubuka mata, di kanan-kiri jalan terlihat tumpukan genteng dengan warna orange yang mencolok. Heemm…rupanya sudah sampai di Kebumen kota genteng. Tak terasa sudah berjam-jam aku tidur. Kalau sudah sampai Kebumen berarti sebentar lagi pak supir akan menghentikan kendaraannya di Rumah Makan Lestari yang menjadi langganan travel Rejeki ini. Tiba-tiba terlintas bayangan sepiring nasi hangat, cap cay dan oseng jamur di pelupuk mataku. Menu inilah yang selalu kumakan tiap kali mampir di rumah makan besar itu. Kulihat pak supir sudah membelokkan kendaraan ke arah kanan. Alhamdulillah. Begitu mobil berhenti dan mesin mobil dimatikan, langsung kubuka pintu dan berlari ke arah belakang rumah makan. Buang air kecil selalu menjadi ritual rutin. Makruh kan menahan buang hajat, jadi lebih baik dilakukan secepatnya begitu kita merasakan gejalanya. Setelah selesai, kucuci tanganku dan mengambil piring serta semua menu langgananku. Ibu yang duduk di sebelahku tadi menyapaku dan menyuruhku duduk satu meja dengannya. Aku agak sungkan juga, sebab baru kenal. Dia mengawali obrolannya dengan basa-basi khas orang yang baru kenal : namanya siapa, kuliah/kerja, tinggal dimana dsb. Secara tiba-tiba ibu tadi bercerita tentang masalah yang tengah menimpa suaminya yang berprofesi sebagai seorang dokter. “Suami saya difitnah, mbak. Ada orang yang iri sama bapak dan mencoba menghancurkan karir bapak,” tuturnya dengan sedikit geram. Dari ceritanya diketahui bahwa suaminya seorang dokter terkenal di Cilacap. Sebuah surat kabar lokal memberitakan hal yang negative tentang sang dokter yang menurutnya itu tidak benar. Ibu ini berniat men-somasi surat kabar tersebut namun suaminya melarang dengan alasan tidak ingin ribut-ribut. “Suami saya itu orang baik mbak. Kata suami saya lebih baik memaafkan saja,” kata sang istri. Tapi aku tidak langsung percaya, ada yang masih mengganjal di benakku.
Obrolan kami berlanjut sampai ke masalah keluarga. Dari perkenalan singkat itu kuketahui ibu yang tampak modis ini adalah istri dokter spesialis internis (penyakit dalam) yang terkenal di Cilacap. Nama ini mengingatkanku pada ayah salah seorang teman adikku. Rumahnya berada di Jalan Gatot Subroto, sebuah jalan protocol di kotaku. Sebuah rumah megah nan asri dengan papan nama “Dokter Suryono” terbayang di pelupuk mataku. “Anak saya yang bungsu lagi KKN mbak. Dia ngeluh ke saya soal birokrasi rektorat yang njengkelin. Masa’ dana yang turun ke tim anak saya dipotong, dari 20 juta cuman 13 juta yang turun. Dia dan teman-temannya protes ke dosen-dosennya,” gerutu bu Suryono. “Anak ibu kuliah dimana? Jurusan apa? Sekarang sudah semester berapa?,” berondongku. Info menarik nich, batinku. Jarang-jarang ada ibu yang obrolannya signifikan kayak gini. “Dia ambil Psikologi di UGM, sekarang semester 6. Seminggu sekali saya ke Jogya nengok anak saya. Dia belum bisa hidup jauh dari orang tua,”. Aku melongo…semester 6..berarti sudah 3 tahun di perantauan…belum bisa hidup mandiri??? MasyaALLOH, yang benar saja. “Kok belum bisa mandiri bu? Kan sudah mahasiswa, semester 6 lagi. Apa tidak sebaiknya anak ibu dilepas saja supaya bisa mandiri?”,” penasaran kutanya sang ibu. Aku minta penjelasan. “Anak saya itu tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan mbak. Sebagai ibu saya khawatir terjadi apa-apa soalnya pergaulan di Jogya sudah sangat mengerikan,” lirih ibu itu menjawab pertanyannku. “Anak ibu di Jogya kos atau kontrak?,” cecarku. Dasar wartawan, maunya detail. “Dia tinggal di rumah sendiri. Anak bungsu saya ini belum terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga mbak, jadi saya sediakan pembantu. Cuma kalau ada masalah memang saya yang diandalkan. Dia biasanya nelpon. Pernah dia nelpon saya sambil nangis-nangis. ‘Ma, aku sakit, kesini ya?’, katanya saat dia sakit flu. Ya saya langsung ke Jogya,” sahut bu Suryono santai, seolah tidak sadar kalau sebagai ibu, dia terlalu memanjakan anaknya. Keluarga Dokter Suryono, nyaris semua orang di Cilacap kenal. Dari cerita adikku, kalau tidak salah nama anak bungsu keluarga dokter terkenal ini. Virdia…ya, Virdia. Tapi…kenapa ada sesuatu hal yang mengganjal di benakku tentang Virdia…apa ya?
“Mbak , temenku Virdia yang anaknya dokter, yang rumahnya mewah banget itu dikeluarin dari sekolah gara-gara….,” celoteh adikku tiba-tiba terngiang di telinga. Tapi lanjutan kalimat terakhir tak mampu kuingat. Ingin kupastikan. “Bu, anak ibu pernah sekolah di SMP 1 Cilacap ya? Kalau tidak salah dia satu sekolahan sama adik saya. Berarti angkatan 2003 ya bu, sama seperti adik saya?,” selidikku. “Oh iya bener. Tapi anak saya pindah sekolah. Saya dan bapaknya mindahkan dia ke SMP di Jogya supaya bisa masuk SMU favorit di Jogya,” tukas bu Suryono cepat. Kok ada yang aneh ya? “Antena” di kepalaku langsung memanjang. “Maksud ibu gimana?,” kembali kukejar. “Untuk bisa masuk ke SMU favorit di Jogya harus penuhi syarat NEM yang tinggi dan berasal dari SMP di Jogya. Nilai anak saya di SMP 1 Cilacap ga begitu bagus, meski SMP 1 adalah SMP favorit. Jadi saya pindahkan dia ke SMP di Jogya yang meski bukan favorit tapi anak saya bisa peroleh nilai tinggi di sana. Lagian, anak saya kan anak orang terpandang, jadi banyak disorot sama guru-gurunya di SMP 1. Banyak guru yang ngecing anak saya, entah apa kesalahannya. Daripada dia tertekan di sana, lebih baik saya pindahkan dia,” panjang lebar ibu separuh baya ini bertutur tentang anak kesayangannya. Instingku mengatakan ada yang mencoba ditutup-tutupi olehnya. Heeem…apa ya…?
Kendaraan kami kembali melaju. Masih di wilayah Kebumen, hampir mendekati Gombong. Percakapan kami berlanjut, kali ini ke masalah karir Pak Suryono sebagai seorang dokter terkenal. “Setiap ada kongres, saya selalu dampingi suami saya. Baru beberapa minggu lalu saya ikut suami hadiri kogres di Korea Selatan,” dengan nada bangga bu Suryono bercerita. “Dii Korea itu semua serba bersih, teratur. Banyak taman yang indah. Saya seminggu di sana. Sempat naik kereta. Waduh, kondisi kereta di sana bagus sekali, tidak seperti di sini. Udaranya juga segar,” tambahnya. “Di sana ngapain aja bu?,” tanyaku ingin tahu. Aku tidak ingin bahas tentang Korea Selatan, Jepang lebih indah. Mudah-mudahan ibu ini punya cerita soal Jepang. “Di sana kami menghadiri kongres tentang penemuan obat penting oleh ilmuwan Korea Selatan. Dia berhasil menemukan obat salah satu penyakit. Sayangnya, harga obat itu jika dirupiahkan bisa mencapai jutaan. Sedangkan daya beli masyarakat kita masih rendah. Ini kan repot jadinya,” tuturnya prihatin. “Saya kagum sekali dengan masyarakat Korea. Mereka bisa menyaingi Jepang dalam bidang teknologi. Orang-orangnya suka kerja dan rajin jadi sanggup ungguli Jepang,” kata Bu Suryono dengan mimik serius. “Ibu sudah pernah ke Jepang?,” tanyaku iseng, yang tidak kusangka akan dijawab dengan anggukan. “Saya dan suami sempat juga mampir ke Jepang. Di sana selama 2 minggu. Wah mbak, yang namanya Jepang itu indah sekali ya. Taman-tamannya ditata dengan baguus sekali. Dan orang-orang Jepang itu kalau bekerja,mulutnya diam, ga banyak omong. Beda banget ya sama masyarakat kita”. Binar matanya mengingatkanku pada seorang teman yang kini kembali ke Jepang untuk mengemban sebuah misi lingkungan hidup. Dengan antusias kudengarkan ibu ini bercerita tentang hari-harinya di negeri ninja. “Orang Jepang dalam hal apapun itu tertib dan disiplin, bahkan dalam menentukan berapa jumlah kalori yang harus diserap tubuh per hari juga dihitung. Masyarakat Jepang terbiasa menakar menu makanan mereka, ada ukuran-ukuran yang harus dipatuhi. Kalau kita makan di rumah makan di sana, sudah tercantum jumlah kalori yang terkandung pada masing-masing menu. Dan bagi orang Jepang sendiri, patuhi takaran kalori merupakan bagian dari kedisiplinan,”. Semua penjelasan ibu ini kurasakan amat intelek dan diplomatis. Apakah dia seorang wanita karier atau akademisi?. “Ibu kerja atau di rumah saja?,” selidikku. “Saya cuman ibu rumah tangga mbak, ngurus anak dan suami di rumah. Tapi kemanapun suami saya pergi, terutama yang jauh-jauh, saya pasti ikut,” jawabnya sambil tersenyum. Dari binar mata dan nada suaranya dia tampak sangat menikmati statusnya sebagai istri seorang dokter. Tapi ketika membahas soal anaknya yang di Jogya, selain binar mata bahagia, ada setitik kesedihan di sana.
Ketika jalanan berubah menjadi lebar dan lengang, kuhembuskan nafas lega. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Cilacap. Kota buntu yang menjadi tempat dibangunnya beragam industri, umumnya industri berat. Pelabuhan alamnya memudahkan kapal-kapal tanker dan pengangkut barang untuk berlabuh. Selain itu, pasir di pantai Teluk Penyu mengandung besi dengan kandungan yang cukup tinggi. Maka berdirilah pabrik pasir besi di tepi pantai. Welcome to my small city.
Ketika pak supir menghentikan kendaraan di depan sebuah rumah megah berpintu kokoh, semua mata penumpang melotot demi melihat keindahan rumah megah itu. Yang empunya rumah kelihatannya sadar kalau propertinya sedang diperhatikan. Dengan sumringah dan melenggang anggun bu Suryono turun dari mobil. “Mari mbak, saya duluan,” sapanya untuk yang terakhir kali. “Oh iya, monggo bu,” balasku sambil tersenyum.
Beberapa hari kemudian….”Virdia itu dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan sedang melakukan “gituan” sama pacarnya,”. Dengan gayanya yang santai adikku bercerita soal insiden “biru” di SMP-nya, yang juga SMP-ku, beberapa tahun lalu. “Gituan gimana maksudnya?”. Aku pura-pura tidak mengerti apa yang dia maksud “gituan”. Aku memang suka banget menggoda adikku. “Hiiihhh, masa’ sich mbak ga tau?! Pokoknya “gituan” lah, sama pacarnya, terus kepergok sama guru”, jawab adikku sambil manyun.
Kuraih sebuah koran local yang menjadi derivate sebuah koran nasional tergeletak di meja. Segera sebuah berita menarik perhatianku. “Dokter Terkenal Terbukti Lakukan Malpraktik”. Dalam sebuah paragraf terdapat kalimat, “Polisi akhirnya menemukan bukti keterlibatan dokter Suryono dalam malpraktik….”. Semua variable ini mengingatkanku pada percakapan antara aku dan seorang ibu dalam sebuah perjalanan Jogya-Cilacap.
Njengkelin = menjengkelkan, bikin kesal
Ngecing = mengincar
Sumringah = berseri
Monggo = mari
Gituan = hubungan badan
Derivate = turunan