Press Release-Sekilas Tentang Forum Lingkar Pena
Tuesday, December 19th, 2006Sekilas Tentang Forum Lingkar Pena
Haikal Hira Habibillah*
‘Bayi cantik yang kini tumbuh semakin dewasa dan menakjubkan’
FLP dikenal sebagai sebuah organisasi pengkaderan penulis muda yang berdiri pada tanggal 22 Pebruari 1997 di Jakarta. Kemunculannya dipandegani oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia serta Muthmainah, Saat itu, organisasi ini hanya beranggotakan berkisar 30 orang saja. Namun sampai tahun ke delapan perjalanannya, ia berhasil memperlihatkan perkembangan yang sangat mengejutkan. Hingga saat ini, FLP mengklaim telah memiliki anggota lebih dari 6000 orang dari usia anak-anak (FLP Kids) hingga manula. Keseluruhannya tersebar pada lebih dari 150 cabang kepengurusan di tingkat wilayah, cabang serta ranting di seluruh Indonesia serta beberapa diantaranya berada di wilayah manca negara. Cakupan keanggotaannya pun meliputi hampir seluruh segmen masyarakat. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, petani, pedagang, komunitas pesantren, pekerja kantor, ibu rumah tangga bahkan hingga buruh migran di luar negeri. Dalam hal produksi, FLP telah berhasil menelurkan lebih dari 600 buku hasil karya anggotanya, baik berupa fiksi maupun non fiksi. Semuanya dilakukan dengan memanfaatkan berbagai bentuk kerjasama dengan sekitar 20 penerbit terkemuka. FLP sendiri telah memiliki lembaga penerbit bernama Lingkar Pena Publishing House.
Munas pertama di Kalurang telah menjadi tonggak sejarah bagi FLP dalam mempertegas eksistensinya untuk mewujudkan seluruh misi dan visi organisasi. Munas juga merupakan bukti keberhasilan sistem kaderisasi organisasi selama ini. Pada kesempatan tersebut, disahkan pula AD/ART organisasi, Strategi program pengkaderan FLP ke depan, serta Sistem dan aturan kerjasama dengan pihak lain. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai antisipasi atas segala macam potensi konflik yang akan muncul di masa mendatang. Termasuk berbagai konsekwensi dari kompleksitas serta keluasan jaringan yang dimiliki. Namun di sisi lain, dengan militansi para anggota serta keluasan jaringan yang ada itu, secara perlahan namun pasti, FLP telah menjadikan dirinya sebagai organisasi penulis beranggota paling besar dalam sebuah stuktur organisasi yang rapi. FLP juga menjelma menjadi satu-satunya organisasi kepenulisan yang memiliki gabungan anggota lengkap. Baik yang berasal dari kalangan penulis, pembaca serta penerbit sekaligus. Dan ini -seperti yang dikatakan oleh Jamal D. Rahman- adalah kekhasan lain yang membuat komunitas ini menjadi berbeda dengan lainnya. Loyalitas serta militansi yang tinggi para anggota FLP kerap ditunjukkan pada setiap kegiatan yang seringkali dibiayai secara swadaya. Dan semangat untuk saling berbagi ilmu serta mengorbitkan para penulis baru begitu kuat diantara para anggotanya. Hingga saat ini, berbagai karya para anggota FLP semakin banyak dan tersebar. Selain buku-buku yang sudah dipublikasikan, Program ‘Rumah Cahaya’ (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di Depok dan Penjaringan Jakarta, Pemberian penghargaan khusus untuk para sastrawan berdedikasi serta Program penggalangan dana melalui penerbitan Antologi Kasih, baik untuk para tokoh sastra maupun korban bencana adalah beberapa diantaranya.
Delapan tahun dibawah kepemimpinan HTR, serta dua tahun berjalan di tangan Irfan Hidayatullah, FLP berkembang begitu pesat. Fenomena - fenomena baru pun hadir seiring tumbuh kembangnya organisasi ini di jagad kepenulisan tanah air. Munculnya para penulis muda berbakat, terbitnya buku-buku khas karya para penulis FLP, serta bermunculannya lini-lini fiksi remaja dan islami pada penerbit-penerbit, baik yang masih baru maupun yang telah eksis terus tumbuh dan makin menjamur. Semua itu bermuara pada semakin maraknya dunia kepenulisan di Indonesia. Bersamaan dengan itu, dirasakan pula peningkatan minat baca serta menulis di kalangan remaja, khususnya pelajar dan mahasiswa yang merupakan bagian penting dari keluarga besar FLP. Selanjutnya, pada rentang satu windu usia perjalanannya itu, FLP identik sebagai komunitas penulis yang menghasilkan karya-karya sastra ‘islami’ yang khas. Tentu saja, definisi ini masih akan terus menjadi bahan perdebatan yang panjang. Baik menyangkut makna ‘islami’ itu sendiri, sekaligus tentang ‘boleh atau tidak’nya seorang penulis meng-islamisasikan karya sastra. Namun sekontroversi apapun karya-karya mereka, pada kenyataannya, buku-buku FLP terus saja mengalir ke gerai-gerai toko buku setiap bulannya. Bahkan tidak jarang, beberapa diantaranya menjadi best seller serta mengalami cetak ulang berkali-kali. Bagi para penulis FLP, selain menghibur, karya sastra haruslah mampu memberikan nilai tambah bagi pembacanya. Lebih jauh, sebuah karya sastra juga harus bisa mencerahkan.
Selain berbagai keberhasilan yang telah diraihnya, sesungguhnya masih banyak tugas serta pekerjaan rumah bagi komunitas penulis yang bersifat terbuka ini. Beberapa hal telah direkomendasikan Munas kepada kepengurusan yang baru untuk segera ditindaklanjuti. Diantaranya adalah fenomena makin mudahnya buku-buku karya FLP diterbitkan dan beredar di pasaran. Tentu saja dengan menggunakan logo FLP sebagai trade mark. Di satu sisi, hal ini memang membuktikan bahwa pihak penerbit sangat menyambut produk-produk karya anggota FLP tersebut. Namun disisi lain, kenyataan tersebut dikhawatirkan akan menjadikan kualitas karya FLP tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, perlu kiranya dilakukan proses seleksi sebelum karya-karya itu beredar di pasaran dengan menyandang logo FLP. Dan salah satu solusi yang telah dilakukan adalah dengan dibentuknya Majelis Penulis hasil Munas tahun 2005. Badan yang beranggotakan tiga belas penulis senior ini bertugas untuk memberikan kontrol serta melakukan standarisasi mutu atas karya-karya FLP di masa mendatang. Kedudukannya dalam struktur organisasi adalah sejajar dengan ketua umum.
Masalah lain yang masih memerlukan perhatian adalah tentang tema-tema besar FLP yang selama ini cenderung ‘itu-itu saja’. Hampir sebagian besar karya-karya FLP berkutat pada tema-tema yang tidak jauh dari simbol-simbol kerelijiusan yang sangat standar. Memang tidak ada larangan dari manapun untuk mengkreasi sebuah karya sastra dengan tipikal tersebut. Namun untuk kebaikan FLP sendiri, sepertinya sudah tiba waktunya bagi para pemikir yang berada pada struktur kepengurusan baru untuk mencari penyelesaian atas kondisi tersebut. Beberapa tokoh FLP sendiri sesungguhnya telah menyadari adanya kecenderungan itu. Dan ke depan, -melalui badan Majelis Penulis yang sudah terbentuk- diharapkan adanya semacam proses ‘up grading’ bagi para penulis yang dipilih dari seluruh wilayah. Untuk kemudian diterapkan semacam pendadaran bagi peningkatan mutu serta kualitas mereka. Selain itu, mulai dijajaki pula program pembuatan Buku Panduan tentang standarisasi mutu karya sastra bagi para penulis FLP. Sehingga diharapkan akan bisa menjadi semacam pedoman untuk para penulis pemula bagi karir kepenulisannya.
Hal terakhir yang patut menjadi catatan adalah tentang kesan inklusivitas FLP yang masih belum dipahami oleh sebagian besar orang. Beberapa kalangan masih menganggap bahwa FLP adalah sebuah komunitas yang eksklusif serta ditujukan hanya untuk kalangan tertentu. Sedang pada kenyataannya, organisasi ini sesungguhnya bersifat terbuka dan ditujukan untuk semua kalangan yang berminat dengan dunia kepenulisan. Keanggotaan FLP tidak memandang agama, suku, ras serta usia dan tingkat pendidikan. Bahkan dalam perkembangannya, FLP akan membuka diri bagi keanggotaan untuk warga negara asing. Sebab kecenderungan tersebut mulai dirasakan pada wilayah-wilayah FLP yang berada di manca negara. Dan hal ini jelas akan menjadi tugas berat bagi kepengurusan baru untuk mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat baca di manapun berada.
Di Jawa Timur, FLP telah memasuki periode ketiga kepengurusannya. Dengan jumlah cabang dan ranting yang mencapai lebih dari 15 dan tersebar di sepuluh kota di Jawa Timur. Organisasi ini masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Surabaya, Malang, Gresik, Ponorogo, Mojokerto, Banyuwangi, Jember, Pamekasan, Sumenep, dan Bangil adalah kota-kota dimana FLP telah memiliki perwakilannya. Sementara ke depan, Kediri, Sidoarjo serta Lumajang akan segera bersiap untuk menyambut kehadiran FLP.
*Ketua FLP wilayah Jawa Timur
HP 08155219465 – 031 3817459