Archive for December, 2006

Press Release-Sekilas Tentang Forum Lingkar Pena

Tuesday, December 19th, 2006

Sekilas Tentang Forum Lingkar Pena
Haikal Hira Habibillah*

‘Bayi cantik yang kini tumbuh semakin dewasa dan menakjubkan’

FLP dikenal sebagai sebuah organisasi pengkaderan penulis muda yang berdiri pada tanggal 22 Pebruari 1997 di Jakarta. Kemunculannya dipandegani oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia serta Muthmainah, Saat itu, organisasi ini hanya beranggotakan berkisar 30 orang saja. Namun sampai tahun ke delapan perjalanannya, ia berhasil memperlihatkan perkembangan yang sangat mengejutkan. Hingga saat ini, FLP mengklaim telah memiliki anggota lebih dari 6000 orang dari usia anak-anak (FLP Kids) hingga manula. Keseluruhannya tersebar pada lebih dari 150 cabang kepengurusan di tingkat wilayah, cabang serta ranting di seluruh Indonesia serta beberapa diantaranya berada di wilayah manca negara. Cakupan keanggotaannya pun meliputi hampir seluruh segmen masyarakat. Mulai dari pelajar dan mahasiswa, petani, pedagang, komunitas pesantren, pekerja kantor, ibu rumah tangga bahkan hingga buruh migran di luar negeri. Dalam hal produksi, FLP telah berhasil menelurkan lebih dari 600 buku hasil karya anggotanya, baik berupa fiksi maupun non fiksi. Semuanya dilakukan dengan memanfaatkan berbagai bentuk kerjasama dengan sekitar 20 penerbit terkemuka. FLP sendiri telah memiliki lembaga penerbit bernama Lingkar Pena Publishing House.

Munas pertama di Kalurang telah menjadi tonggak sejarah bagi FLP dalam mempertegas eksistensinya untuk mewujudkan seluruh misi dan visi organisasi. Munas juga merupakan bukti keberhasilan sistem kaderisasi organisasi selama ini. Pada kesempatan tersebut, disahkan pula AD/ART organisasi, Strategi program pengkaderan FLP ke depan, serta Sistem dan aturan kerjasama dengan pihak lain. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai antisipasi atas segala macam potensi konflik yang akan muncul di masa mendatang. Termasuk berbagai konsekwensi dari kompleksitas serta keluasan jaringan yang dimiliki. Namun di sisi lain, dengan militansi para anggota serta keluasan jaringan yang ada itu, secara perlahan namun pasti, FLP telah menjadikan dirinya sebagai organisasi penulis beranggota paling besar dalam sebuah stuktur organisasi yang rapi. FLP juga menjelma menjadi satu-satunya organisasi kepenulisan yang memiliki gabungan anggota lengkap. Baik yang berasal dari kalangan penulis, pembaca serta penerbit sekaligus. Dan ini -seperti yang dikatakan oleh Jamal D. Rahman- adalah kekhasan lain yang membuat komunitas ini menjadi berbeda dengan lainnya. Loyalitas serta militansi yang tinggi para anggota FLP kerap ditunjukkan pada setiap kegiatan yang seringkali dibiayai secara swadaya. Dan semangat untuk saling berbagi ilmu serta mengorbitkan para penulis baru begitu kuat diantara para anggotanya. Hingga saat ini, berbagai karya para anggota FLP semakin banyak dan tersebar. Selain buku-buku yang sudah dipublikasikan, Program ‘Rumah Cahaya’ (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) di Depok dan Penjaringan Jakarta, Pemberian penghargaan khusus untuk para sastrawan berdedikasi serta Program penggalangan dana melalui penerbitan Antologi Kasih, baik untuk para tokoh sastra maupun korban bencana adalah beberapa diantaranya.

Delapan tahun dibawah kepemimpinan HTR, serta dua tahun berjalan di tangan Irfan Hidayatullah, FLP berkembang begitu pesat. Fenomena - fenomena baru pun hadir seiring tumbuh kembangnya organisasi ini di jagad kepenulisan tanah air. Munculnya para penulis muda berbakat, terbitnya buku-buku khas karya para penulis FLP, serta bermunculannya lini-lini fiksi remaja dan islami pada penerbit-penerbit, baik yang masih baru maupun yang telah eksis terus tumbuh dan makin menjamur. Semua itu bermuara pada semakin maraknya dunia kepenulisan di Indonesia. Bersamaan dengan itu, dirasakan pula peningkatan minat baca serta menulis di kalangan remaja, khususnya pelajar dan mahasiswa yang merupakan bagian penting dari keluarga besar FLP. Selanjutnya, pada rentang satu windu usia perjalanannya itu, FLP identik sebagai komunitas penulis yang menghasilkan karya-karya sastra ‘islami’ yang khas. Tentu saja, definisi ini masih akan terus menjadi bahan perdebatan yang panjang. Baik menyangkut makna ‘islami’ itu sendiri, sekaligus tentang ‘boleh atau tidak’nya seorang penulis meng-islamisasikan karya sastra. Namun sekontroversi apapun karya-karya mereka, pada kenyataannya, buku-buku FLP terus saja mengalir ke gerai-gerai toko buku setiap bulannya. Bahkan tidak jarang, beberapa diantaranya menjadi best seller serta mengalami cetak ulang berkali-kali. Bagi para penulis FLP, selain menghibur, karya sastra haruslah mampu memberikan nilai tambah bagi pembacanya. Lebih jauh, sebuah karya sastra juga harus bisa mencerahkan.

Selain berbagai keberhasilan yang telah diraihnya, sesungguhnya masih banyak tugas serta pekerjaan rumah bagi komunitas penulis yang bersifat terbuka ini. Beberapa hal telah direkomendasikan Munas kepada kepengurusan yang baru untuk segera ditindaklanjuti. Diantaranya adalah fenomena makin mudahnya buku-buku karya FLP diterbitkan dan beredar di pasaran. Tentu saja dengan menggunakan logo FLP sebagai trade mark. Di satu sisi, hal ini memang membuktikan bahwa pihak penerbit sangat menyambut produk-produk karya anggota FLP tersebut. Namun disisi lain, kenyataan tersebut dikhawatirkan akan menjadikan kualitas karya FLP tidak terkontrol dengan baik. Karena itu, perlu kiranya dilakukan proses seleksi sebelum karya-karya itu beredar di pasaran dengan menyandang logo FLP. Dan salah satu solusi yang telah dilakukan adalah dengan dibentuknya Majelis Penulis hasil Munas tahun 2005. Badan yang beranggotakan tiga belas penulis senior ini bertugas untuk memberikan kontrol serta melakukan standarisasi mutu atas karya-karya FLP di masa mendatang. Kedudukannya dalam struktur organisasi adalah sejajar dengan ketua umum.

Masalah lain yang masih memerlukan perhatian adalah tentang tema-tema besar FLP yang selama ini cenderung ‘itu-itu saja’. Hampir sebagian besar karya-karya FLP berkutat pada tema-tema yang tidak jauh dari simbol-simbol kerelijiusan yang sangat standar. Memang tidak ada larangan dari manapun untuk mengkreasi sebuah karya sastra dengan tipikal tersebut. Namun untuk kebaikan FLP sendiri, sepertinya sudah tiba waktunya bagi para pemikir yang berada pada struktur kepengurusan baru untuk mencari penyelesaian atas kondisi tersebut. Beberapa tokoh FLP sendiri sesungguhnya telah menyadari adanya kecenderungan itu. Dan ke depan, -melalui badan Majelis Penulis yang sudah terbentuk- diharapkan adanya semacam proses ‘up grading’ bagi para penulis yang dipilih dari seluruh wilayah. Untuk kemudian diterapkan semacam pendadaran bagi peningkatan mutu serta kualitas mereka. Selain itu, mulai dijajaki pula program pembuatan Buku Panduan tentang standarisasi mutu karya sastra bagi para penulis FLP. Sehingga diharapkan akan bisa menjadi semacam pedoman untuk para penulis pemula bagi karir kepenulisannya.

Hal terakhir yang patut menjadi catatan adalah tentang kesan inklusivitas FLP yang masih belum dipahami oleh sebagian besar orang. Beberapa kalangan masih menganggap bahwa FLP adalah sebuah komunitas yang eksklusif serta ditujukan hanya untuk kalangan tertentu. Sedang pada kenyataannya, organisasi ini sesungguhnya bersifat terbuka dan ditujukan untuk semua kalangan yang berminat dengan dunia kepenulisan. Keanggotaan FLP tidak memandang agama, suku, ras serta usia dan tingkat pendidikan. Bahkan dalam perkembangannya, FLP akan membuka diri bagi keanggotaan untuk warga negara asing. Sebab kecenderungan tersebut mulai dirasakan pada wilayah-wilayah FLP yang berada di manca negara. Dan hal ini jelas akan menjadi tugas berat bagi kepengurusan baru untuk mensosialisasikannya kepada seluruh masyarakat baca di manapun berada.

Di Jawa Timur, FLP telah memasuki periode ketiga kepengurusannya. Dengan jumlah cabang dan ranting yang mencapai lebih dari 15 dan tersebar di sepuluh kota di Jawa Timur. Organisasi ini masih memiliki banyak potensi untuk dikembangkan. Surabaya, Malang, Gresik, Ponorogo, Mojokerto, Banyuwangi, Jember, Pamekasan, Sumenep, dan Bangil adalah kota-kota dimana FLP telah memiliki perwakilannya. Sementara ke depan, Kediri, Sidoarjo serta Lumajang akan segera bersiap untuk menyambut kehadiran FLP.

*Ketua FLP wilayah Jawa Timur
HP 08155219465 – 031 3817459

MITOS HOLOCAUST, Nah lho!

Friday, December 15th, 2006

“Holocaust hanyalah mitos.” Pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ini memicu perdebatan internasional dan reaksi keras dari Barat. Dunia kembali harus mereview mitos yang selama ini dianggap fakta. Holocaust menjadi senjata ideologis paling ampuh bagi Israel untuk mendapat legitimasi mengambil tindakan politis seperti menduduki Palestina dan meminta pemakluman masyarakat internasional atas semua yang mereka lakukan. Tema Holocaust menjadi tema utama dalam ruang-ruang perkuliahan dan media massa di AS. Yang paling banyak memuat tema ini tentu saja The New York Times yang memiliki link kuat dnegan Israel. Holocaust disebut-sebut sebagai genosida (pemusnahan secara sistematis terhadapangsa atau kelompok etnis) terbesar sepanjang sejarah. Di AS, sebuah jejak pendapat menunjukkan bahwa lebih banyak orang Amerika yang mengenal Holocaust dibandingkan peristiwa Pearl Harbor atau penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Meskipun demikian, holocaust tetap tidak bisa lepas dari kritisi masyarakat internasional. Pada Oktober 1999, sebuah tim Australia yang dipimpin oleh Richard Krege, seorang insinyur elektronik terkemuka, melakukan pengujian terhadap tanah pada bekas kamp Treblinka II di Polandia, dimana para sejarawan Holocaust mengatakan bahwa lebih dari setengah juta orang Yahudi dibunuh di kamar gas kemudian dikubur secara massal. Hasilnya? Tidak ada bukti kuburan massal di sana.
Sikap tidak kritis terhadap Holocaust disebabkan beberapa hal. Pertama, masalah psikologis. Barat tidak mampu melihat masalah ini secara kritis akibat perasaan berdosa yang amat sangat atas kejadian pembantaian orang Yahudi, terlepas dari berapa jumlah sebenarnya orang Yahudi yang dibunuh Nazi selama Perang Dunia II. Kedua, maslaah moral. Orang Eropa ingin menghapus dosa holocaust dengan memberikan tempat tinggal pada bangsa Yahudi. Ironisnya, tempat tinggal Yahudi itu diambil dari tanah bangsa Palestina yang tidak berdosa. Ketiga, masalah politik. Di masa Perang Dingin, dukungan pda Israel dikaitkan dengan upaya mereka membendung komunisme dan nasionalisme Arab di Timur-Tengah demi menjamin kelangsungan aliran minyak dari kawasan itu. Keempat, masalah komunikasi. Sebagaimana diketahui, media-media massa paling berpengaruh di dunia dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Dengan demikian, mereka mampu membentuk opini yang berpihak pada kepentingan Yahudi. Kelima, masalah ekonomi. Dengan uang Yahudi yang digerakkan dari New York-lah yang memutar perekonomian dunia. Dengan uang Yahudi, seseorang, baik di AS atau negara lain, bisa terpilih menjadi presiden, yang kemudian menyetir kebijakan politik-ekonomi luar negeri untuk kepentingan Yahudi.
Sikap tidak kritis inilah yang dimanfaatkan oleh orang Yahudi untuk kepentingan politik dan ekonomi. Dalam buku The Holocaust Industry, Norman Finkelstein membeberkan konspirasi segelintir orang Yahudi menggunakan peristiwa holocaust untuk memanipulasi dunia melalui eksploitasi suatu momen sejarah demi kepentingan financial dan politik.
Namun bukan Ahmadinejad namanya kalau dia tidak bisa membuat Israel berang dan dunia tercengang. Senin, 11 Desember 2006, pemerintah Iran menggelar konferensi tentang Holocaust. Konferensi tersebut diikuti 67 peneliti dan ahli sejarah dari 30 negara. Konferensi selama dua hari itu dibuka presiden Ahmadinejad yang pernyataannya tentang Holocaust adalah mitos menggegerkan dunia. Dan dalam konferensi tersebut Ahmadinejad terus mempertanyakan, mengapa mitos Holocaust itu digunakan untuk membenarkan Israel menindas Palestina. Banyak ahli sejarah mendukung pernyataan Ahmadinejad, tetapi pendapat mereka dinyatakan sebagai perbuatan kriminal oleh pemerintahan negara Eropa. Seperti yang menimpa peneliti Perancis, Robert Faurisson, yang menyangkal adanya kamar gas. Faurisson dijatuhi penangguhan hukumna selama tiga bulan di Perancis pada Oktober 2006 karena pernyataannya. Nah lho!

Kartika Pemilia-dari berbagai sumber

NU & Republik

Thursday, December 14th, 2006

Di bawah ini adalah hasil wawancaraku dengan Dr. Ali HAidar, mamtan Sekjen RMI. Semoga bermanfaat

Nama : Dr.Ali Haidar, MA

Status : mantan Sekjen RMI (Rabithah Ma’ahad Islamiyah). Sekarang ini menjadi penasehat RMI. Beliau juga menjadi guru besar sejarah UNESA (IKIP Surabaya) dan mengajar di pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.
RMI adalah lembaga yang bertugas untuk melakukan pengkajian kepesantrenan, pengembangan kualitas pendidikan pesantren, pengembangan peran sosial pesantren, dan pemberdayaan ekonomi pesantren.
CP : HP. 0816501477, Telp. Rumah 031-8284046

Hubungan : Wawancara langsung

Kita tahu bahwa NU dengan massa yang berbasis pesantren, pada masa kemerdekaan banyak berjasa pada Republik. Bisa dijelaskan soal itu?
Pada dasarnya semua elemen bangsa berjasa untuk membangun republic, tidak hanya NU. Semua kekuatan terlibat, ga ada yang tidak. Semua. Ya memang ada satu dua kelompok pro Belanda yg jadi mata-mata. Tapi sebagian besar memang massa NU yang mudah dimobilisasi begitu rupa sehingga bisa menggugah semangat . Tapi semua elemen terlibat. Memang yang telihat Bung Tomo. Tapi di Surabaya itu semua lapisan dan golongan, kelas santri, sekolah bahkan abangan sekalipun terlibat. Kalau toh NU terlibat in (ke dalam) karna antara lain ada fatwa Jihad. NU mengeluarkan fatwa, khususnya kyai Hasyim, bahwa perang melawan Belanda itu fardhu ‘Ain. Dalam radius 90 km, kalau ada Belanda masuk, setiap orang berkewajiban, bukan kifayah, tapi fardhu, untuk melawannya. Karena itulah maka dimanfaatkan oleh Bung Tomo, dengan kumandangkan gema Takbir. Kenapa kok Muhammadiyah tidak terlibat? Bukan tidak terlibat, tapi jargon-jargon, simbol-simbol seperti itu (Takbir) mungkin ga dimiliki, tapi substansinya gerak. Di sini agak vulgar, ada symbol-simbol. Di samping itu pesantren menjadi basis pertahanan. Pondok Pesatren Tebu Ireng Jombang itu kan dibom berkali-kali oleh Belanda tapi masyarakat selalu berpencar untuk melindungi, mengamankan. Berkali-kali pesantren jadi sasaran Belanda, dan para pejuang itu berlindungnya di pesantren-pesantren. Karna direkomendasi oleh kyai pesantren, rakyat di pedesaan menerima para pejuang ini.
Ada memang cerita dari mulut ke mulut, artinya tidak tertulis, bahwa saat Surabaya dalam keadaan genting, hendak dijatuhi bom oleh penjajah, Kyai Hasyim menunggu Kyai Abbas dari Cirebon untuk melakukan tindakan antisipasi. “Jangan dulu, saya masih menunggu Kyai Abbas,” kata Kyai Hasyim. Lalu datang lagi utusannya Bung Tomo meminta untuk segera melakukan tindakan, tapi masih dilarang oleh Kyai Hasyim. Lalu ketika rombongan Kyai Abbas sudah tiba di Tanjung Kodok (tempat melihat rukyat penentuan bulan Ramadhan), seluruh kyai yang berada dalam rombongan Kyai Abbas dari Cirebon melakukan ritual sufi (berdzikir). Apa yang terjadi kemudian? Sebuah pesawat Belanda jatuh ke Selat Madura, bom-bom yang dijatuhkan Belanda selalu meleset. Tidak berhasil mengenai Surabaya. Saya jelaskan sedikit tentang jaringan ulama NU : jaringan ini sangat kuat, apalagi di bawah pimpinan Kyai Hasyim Asyari yang sangat kharismatik. Jaringan itu kan dimulai dari jaringan Thariqat yang sangat hierarkhis. Patron-client-nya itu kuat. Patronasi menjadi kuat karena jaringan Thariqat. Kedekatan antara kyai dan santrinya. Pada guru harus mencium tangan, harus patuh, bekas makanan guru barokah, berbasiskan pada kitab Ta’limu Ta’alim. Itu memang dibentuk. Jadi proses pendidikan membentuk seperti itu. Di satu sisi memang negative, tapi ketika menghadapi Belanda terbukti positif.

Kalau pada masa sekarang ini model seperti itu harus sedikit dirubah. Thariqat dan sufisme serta kepatuhan pada kyai juga masih berlaku. Meskipun demikian, menurut saya pesan moral-lah yang harus lebih dikedepankan.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa NU sebagai organisasi massa terbesar punya andil besar pada masa perjuangan kemerdekaan, terutama saat dipimpin oleh Kyai Hayim Ashari, bukan begitu?

Iya, saya kira begitu. Dan orang NU ikut merumuskan Piagam Jakarta dan UUD 1945. Salah satu penandatangan Piagam Jakarta adalah Kyai Hasyim Ashari. Bukan berarti tidak ada orang lain yang mendatangani Piagam itu. Kahar Muzakkir dari Jogya juga menandatangani.

Berarti Hutang pesantren pada Republik sangat besar ya?
Ya. Hutang republic terhadap pesantren memang cukup besar dan memang belum terbayar sampai sekarang. Karena pesantren selama ini termarjinalkan. Karena apa? Orientasi ekonomi yang dibangun oleh pemerintah kemudian menafikan nilai-nilai non-ekonomi dan pesantren masih belum dianggap punya nilai di sisi ekonomi dan pertanian. Karena itu ketika sampai sekarang ini program-program pemerintah masih berkutat di sector-sektor ekonomi, maka pesantren pun masih termarjinalkan karna tidak mempunyai nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi. Lulusan pesantren tidak mendukung industrialisasi, bahkan lulusan pesantren masih dianggap menjadi beban oleh pemerintah. Karna tidak bisa terserap ke sector-sektor formal, lalu terserap ke sector-sektor informal seperti pedagang kaki lima.Lulusan Aliyah mau jadi ahli computer ga bisa kan. Tapi saya lihat dalam 10 tahun terakhir ini sudah agak mendingan. Tapi pada umumnya masih kurang. Mungkin Cuma 10-15 %, sisanya masih termarjinalkan. Karna pemerintah ga mampu. Bagaimana mampu, lha wong anggaran pendidikan 20% aja ga terpenuhi.

Bagaimana perkembangan pesantren selanjutnya untuk mengikuti langkah pemerintah?

Sekarang sudah ada trend perkembangan. Selama 10-20 tahun terakhir ada penyesuaian. Kurikulum pesantren mengadopsi kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga mereka mampu mengakses teknologi informasi, sejumlah pesantren. Tapi karna pesantren ini lembaga swasta, yang dananya tergantung subsidi dari masyarakat lemah dan miskin, pemerintah tidak bantu, akhirnya ya ketinggalan.

Sampai sekarang apakah jasa pesantren masih besar terhadap Republik?
Soal jasa pesantren terhadap Republik saya kira masih besar ya. Jasa pengembangan Islam itu masih besar di pesantren. Karna apa? Anak-anak yang nyantri masih tinggi. Jumlah pesantren (NU) 18.000 di Indonesia. Kalau masing-masing pesantren jumlah santrinya 500 orang, kira-kira ada 10 juta santri yang memperoleh pendidikan di pesantren. Itu kan bukan jumlah kecil. Pemerintah selama ini tidak pernah beri bantuan. Kalau toh pemerintah beri bantuan, sifatnya elementer dan insidentil, misalnya beli apa. Yang terprogram dan terencana belum ada. Di banyak Negara, sekolah swasta itu dibantu Negara. Di India, Pakistan, Negara lah yang membayar biaya operasional. Subsidi untuk gaji guru, Negara yang bayar. Jelas tidak imbang antara jasa yang sudah diberikan dengan timbal balik yang diberikan pemerintah. Negara melanggar UUD ketika tidak peduli terhadap fakir-miskin dan anak-anak terlantar, termasuk kaki lima.

Dan pesantren apakah tetap mem-back up ketidakmampuan pemerintah?
Ya masih. Pesantren masih mem-bac up. Anda bisa membayangkan, seorang santri hidup dengan wesel 50-100 ribu apa cukup? Itu gurunya ga dibayar, sekolah juga ga bayar. Jadi biaya itu Cuma untuk makan dia aja. Dan itu ga sedikit, pesantren yang menumpuk santri seperti itu.

Jadi semuanya swadaya ya?
Iya. Jadi memang kyai itu lalu mendapat status social tinggi, karena itu akses ekonomi menjadi agak kuat. Tapi kemudian itu untuk membiayai pesantrenya. Tapi itu kyai yang akses ekonominya kuat, yang tidak kuat ya tetap aja, manipulatif sifatnya.

Saat ini masih relevan ga model pendidikan ala pesantren?
Saya kira model pendidikan yang selama ini dikembangkan pesantren masih relevan. Artinya apa? Kesederhanaan, keragaman dan otonomi yang menjadi ciri khas pesantren saya kira masih relevan sampai sekarang. Jadi ga ada yang sama pesantren itu. Tidak ada yang memberi petunjuk harus begini begitu. Dari Depag sendiri, mau ikut ya silakan mau enggak ya silakan. Dan Depag juga tidak bisa intervensi. Yang model lama ya tetap berjalan, yang model baru juga tetap berjalan. Beragam dan variatif. Dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat tinggal pilih, mau model lama atau baru. Tapi mestinya pemerintah itu memberi subsidi agar jebolan pesantren nanti bisa bekerja. Dan ini tidak dilakukan. Wong sudah dibantu, tapi pemerintah ga mbantu. Padahal kalau pemerintah mbantu, misalnya pada pesantren A, tiap tahun lulus 100 atau 500 lulusan, dan pemerintah sediakan anggaran untuk pelatihan apa lah selama 6 bulan. Ini nanti yang memperoleh manfaat adalah pemerintah, bukan pesantren. Para lulusan ini akan magang atau praktek kerja dan mampu kerja, kontribusinya kepada pemerintah besar. Sayangnya, itu tidak dilakukan oleh pemerintah.

Apa lagi yang pemerintah bisa dapatkan dari pesantren selain jasa di bidang pendidikan?

Pada masa Orba pemerintah merekrut para santri menjadi elit politik, lalu mendapat peluang politik, timbal baliknya pesantren memberikan dukungan pada kekuasaan. Itu yang terjadi. Sampai sekarang semua pesantren ditarik-tarik ke politik

Menurut bapak sendiri tindakan memanfaatkan santri untuk mendulang suara itu bagaimana?

Menurut saya itu naïf sekali. Seharusnya dihindari. Dan kyai yang begitu itu biasanya kyai yang ga sepiro (begitu, red) alim. Kyai yang komitmen dan intelektual serta spiritualnya agak rendah. Nek kyai sing alim (kalau kyai yang laim, red) biasanya ga mau nyeret-nyeret santrinya ke politik. Saya ga respek dengan kyai yang seperti itu. Sekaang ini semua, jika mendekati Pilkada, selalu mendekati kyai. Kalau sore menjelang maghrib, Sunaryo dan Sukarwo calon gubernur Jatim, menggunakan term-term kyai untuk mendekati kyai. Di Amerika juga begitu, George W.Bush menang karma jasa kelompok pedesaan yang nilai keagamaannya masih kuat dan W.Bush tampil sebagai orang yang taat demi peroleh dukungan. Bersama istrinya sering nampak ke gereja. Orang-orang kota ga milih W.Bush. Buktinya cara-cara seperti ini masih sering digunakan.

(Kartika Pemilia-Surabaya)

NU & Republik

Thursday, December 14th, 2006

Di bawah ini adalah hasil wawancaraku dengan Dr. Ali HAidar, mamtan Sekjen RMI. Semoga bermanfaat

Nama : Dr.Ali Haidar, MA

Status : mantan Sekjen RMI (Rabithah Ma’ahad Islamiyah). Sekarang ini menjadi penasehat RMI. Beliau juga menjadi guru besar sejarah UNESA (IKIP Surabaya) dan mengajar di pasca sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.
RMI adalah lembaga yang bertugas untuk melakukan pengkajian kepesantrenan, pengembangan kualitas pendidikan pesantren, pengembangan peran sosial pesantren, dan pemberdayaan ekonomi pesantren.
CP : HP. 0816501477, Telp. Rumah 031-8284046

Hubungan : Wawancara langsung

Kita tahu bahwa NU dengan massa yang berbasis pesantren, pada masa kemerdekaan banyak berjasa pada Republik. Bisa dijelaskan soal itu?
Pada dasarnya semua elemen bangsa berjasa untuk membangun republic, tidak hanya NU. Semua kekuatan terlibat, ga ada yang tidak. Semua. Ya memang ada satu dua kelompok pro Belanda yg jadi mata-mata. Tapi sebagian besar memang massa NU yang mudah dimobilisasi begitu rupa sehingga bisa menggugah semangat . Tapi semua elemen terlibat. Memang yang telihat Bung Tomo. Tapi di Surabaya itu semua lapisan dan golongan, kelas santri, sekolah bahkan abangan sekalipun terlibat. Kalau toh NU terlibat in (ke dalam) karna antara lain ada fatwa Jihad. NU mengeluarkan fatwa, khususnya kyai Hasyim, bahwa perang melawan Belanda itu fardhu ‘Ain. Dalam radius 90 km, kalau ada Belanda masuk, setiap orang berkewajiban, bukan kifayah, tapi fardhu, untuk melawannya. Karena itulah maka dimanfaatkan oleh Bung Tomo, dengan kumandangkan gema Takbir. Kenapa kok Muhammadiyah tidak terlibat? Bukan tidak terlibat, tapi jargon-jargon, simbol-simbol seperti itu (Takbir) mungkin ga dimiliki, tapi substansinya gerak. Di sini agak vulgar, ada symbol-simbol. Di samping itu pesantren menjadi basis pertahanan. Pondok Pesatren Tebu Ireng Jombang itu kan dibom berkali-kali oleh Belanda tapi masyarakat selalu berpencar untuk melindungi, mengamankan. Berkali-kali pesantren jadi sasaran Belanda, dan para pejuang itu berlindungnya di pesantren-pesantren. Karna direkomendasi oleh kyai pesantren, rakyat di pedesaan menerima para pejuang ini.
Ada memang cerita dari mulut ke mulut, artinya tidak tertulis, bahwa saat Surabaya dalam keadaan genting, hendak dijatuhi bom oleh penjajah, Kyai Hasyim menunggu Kyai Abbas dari Cirebon untuk melakukan tindakan antisipasi. “Jangan dulu, saya masih menunggu Kyai Abbas,” kata Kyai Hasyim. Lalu datang lagi utusannya Bung Tomo meminta untuk segera melakukan tindakan, tapi masih dilarang oleh Kyai Hasyim. Lalu ketika rombongan Kyai Abbas sudah tiba di Tanjung Kodok (tempat melihat rukyat penentuan bulan Ramadhan), seluruh kyai yang berada dalam rombongan Kyai Abbas dari Cirebon melakukan ritual sufi (berdzikir). Apa yang terjadi kemudian? Sebuah pesawat Belanda jatuh ke Selat Madura, bom-bom yang dijatuhkan Belanda selalu meleset. Tidak berhasil mengenai Surabaya. Saya jelaskan sedikit tentang jaringan ulama NU : jaringan ini sangat kuat, apalagi di bawah pimpinan Kyai Hasyim Asyari yang sangat kharismatik. Jaringan itu kan dimulai dari jaringan Thariqat yang sangat hierarkhis. Patron-client-nya itu kuat. Patronasi menjadi kuat karena jaringan Thariqat. Kedekatan antara kyai dan santrinya. Pada guru harus mencium tangan, harus patuh, bekas makanan guru barokah, berbasiskan pada kitab Ta’limu Ta’alim. Itu memang dibentuk. Jadi proses pendidikan membentuk seperti itu. Di satu sisi memang negative, tapi ketika menghadapi Belanda terbukti positif.

Kalau pada masa sekarang ini model seperti itu harus sedikit dirubah. Thariqat dan sufisme serta kepatuhan pada kyai juga masih berlaku. Meskipun demikian, menurut saya pesan moral-lah yang harus lebih dikedepankan.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa NU sebagai organisasi massa terbesar punya andil besar pada masa perjuangan kemerdekaan, terutama saat dipimpin oleh Kyai Hayim Ashari, bukan begitu?

Iya, saya kira begitu. Dan orang NU ikut merumuskan Piagam Jakarta dan UUD 1945. Salah satu penandatangan Piagam Jakarta adalah Kyai Hasyim Ashari. Bukan berarti tidak ada orang lain yang mendatangani Piagam itu. Kahar Muzakkir dari Jogya juga menandatangani.

Berarti Hutang pesantren pada Republik sangat besar ya?
Ya. Hutang republic terhadap pesantren memang cukup besar dan memang belum terbayar sampai sekarang. Karena pesantren selama ini termarjinalkan. Karena apa? Orientasi ekonomi yang dibangun oleh pemerintah kemudian menafikan nilai-nilai non-ekonomi dan pesantren masih belum dianggap punya nilai di sisi ekonomi dan pertanian. Karena itu ketika sampai sekarang ini program-program pemerintah masih berkutat di sector-sektor ekonomi, maka pesantren pun masih termarjinalkan karna tidak mempunyai nilai tambah untuk pertumbuhan ekonomi. Lulusan pesantren tidak mendukung industrialisasi, bahkan lulusan pesantren masih dianggap menjadi beban oleh pemerintah. Karna tidak bisa terserap ke sector-sektor formal, lalu terserap ke sector-sektor informal seperti pedagang kaki lima.Lulusan Aliyah mau jadi ahli computer ga bisa kan. Tapi saya lihat dalam 10 tahun terakhir ini sudah agak mendingan. Tapi pada umumnya masih kurang. Mungkin Cuma 10-15 %, sisanya masih termarjinalkan. Karna pemerintah ga mampu. Bagaimana mampu, lha wong anggaran pendidikan 20% aja ga terpenuhi.

Bagaimana perkembangan pesantren selanjutnya untuk mengikuti langkah pemerintah?

Sekarang sudah ada trend perkembangan. Selama 10-20 tahun terakhir ada penyesuaian. Kurikulum pesantren mengadopsi kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga mereka mampu mengakses teknologi informasi, sejumlah pesantren. Tapi karna pesantren ini lembaga swasta, yang dananya tergantung subsidi dari masyarakat lemah dan miskin, pemerintah tidak bantu, akhirnya ya ketinggalan.

Sampai sekarang apakah jasa pesantren masih besar terhadap Republik?
Soal jasa pesantren terhadap Republik saya kira masih besar ya. Jasa pengembangan Islam itu masih besar di pesantren. Karna apa? Anak-anak yang nyantri masih tinggi. Jumlah pesantren (NU) 18.000 di Indonesia. Kalau masing-masing pesantren jumlah santrinya 500 orang, kira-kira ada 10 juta santri yang memperoleh pendidikan di pesantren. Itu kan bukan jumlah kecil. Pemerintah selama ini tidak pernah beri bantuan. Kalau toh pemerintah beri bantuan, sifatnya elementer dan insidentil, misalnya beli apa. Yang terprogram dan terencana belum ada. Di banyak Negara, sekolah swasta itu dibantu Negara. Di India, Pakistan, Negara lah yang membayar biaya operasional. Subsidi untuk gaji guru, Negara yang bayar. Jelas tidak imbang antara jasa yang sudah diberikan dengan timbal balik yang diberikan pemerintah. Negara melanggar UUD ketika tidak peduli terhadap fakir-miskin dan anak-anak terlantar, termasuk kaki lima.

Dan pesantren apakah tetap mem-back up ketidakmampuan pemerintah?
Ya masih. Pesantren masih mem-bac up. Anda bisa membayangkan, seorang santri hidup dengan wesel 50-100 ribu apa cukup? Itu gurunya ga dibayar, sekolah juga ga bayar. Jadi biaya itu Cuma untuk makan dia aja. Dan itu ga sedikit, pesantren yang menumpuk santri seperti itu.

Jadi semuanya swadaya ya?
Iya. Jadi memang kyai itu lalu mendapat status social tinggi, karena itu akses ekonomi menjadi agak kuat. Tapi kemudian itu untuk membiayai pesantrenya. Tapi itu kyai yang akses ekonominya kuat, yang tidak kuat ya tetap aja, manipulatif sifatnya.

Saat ini masih relevan ga model pendidikan ala pesantren?
Saya kira model pendidikan yang selama ini dikembangkan pesantren masih relevan. Artinya apa? Kesederhanaan, keragaman dan otonomi yang menjadi ciri khas pesantren saya kira masih relevan sampai sekarang. Jadi ga ada yang sama pesantren itu. Tidak ada yang memberi petunjuk harus begini begitu. Dari Depag sendiri, mau ikut ya silakan mau enggak ya silakan. Dan Depag juga tidak bisa intervensi. Yang model lama ya tetap berjalan, yang model baru juga tetap berjalan. Beragam dan variatif. Dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat tinggal pilih, mau model lama atau baru. Tapi mestinya pemerintah itu memberi subsidi agar jebolan pesantren nanti bisa bekerja. Dan ini tidak dilakukan. Wong sudah dibantu, tapi pemerintah ga mbantu. Padahal kalau pemerintah mbantu, misalnya pada pesantren A, tiap tahun lulus 100 atau 500 lulusan, dan pemerintah sediakan anggaran untuk pelatihan apa lah selama 6 bulan. Ini nanti yang memperoleh manfaat adalah pemerintah, bukan pesantren. Para lulusan ini akan magang atau praktek kerja dan mampu kerja, kontribusinya kepada pemerintah besar. Sayangnya, itu tidak dilakukan oleh pemerintah.

Apa lagi yang pemerintah bisa dapatkan dari pesantren selain jasa di bidang pendidikan?

Pada masa Orba pemerintah merekrut para santri menjadi elit politik, lalu mendapat peluang politik, timbal baliknya pesantren memberikan dukungan pada kekuasaan. Itu yang terjadi. Sampai sekarang semua pesantren ditarik-tarik ke politik

Menurut bapak sendiri tindakan memanfaatkan santri untuk mendulang suara itu bagaimana?

Menurut saya itu naïf sekali. Seharusnya dihindari. Dan kyai yang begitu itu biasanya kyai yang ga sepiro (begitu, red) alim. Kyai yang komitmen dan intelektual serta spiritualnya agak rendah. Nek kyai sing alim (kalau kyai yang laim, red) biasanya ga mau nyeret-nyeret santrinya ke politik. Saya ga respek dengan kyai yang seperti itu. Sekaang ini semua, jika mendekati Pilkada, selalu mendekati kyai. Kalau sore menjelang maghrib, Sunaryo dan Sukarwo calon gubernur Jatim, menggunakan term-term kyai untuk mendekati kyai. Di Amerika juga begitu, George W.Bush menang karma jasa kelompok pedesaan yang nilai keagamaannya masih kuat dan W.Bush tampil sebagai orang yang taat demi peroleh dukungan. Bersama istrinya sering nampak ke gereja. Orang-orang kota ga milih W.Bush. Buktinya cara-cara seperti ini masih sering digunakan.

(Kartika Pemilia-Surabaya)

Sebuah “Kampung Digital” Muslim?

Thursday, December 14th, 2006

Muncul perhatian terhadap sebutan “kampung digital” di Inggris, dengan banyaknya Muslim yang memilih menonton channel TV Asia via satelit, daripada menonton channel Inggris sehingga tidak terlalu terbiasa pada ide-ide Inggris. Namun berapa banyak kebenaran di dalamnya?
Navid Akhtar adalah seorang pembuat film dokumenter. Setelah peristiwa pemboman 7 Juli, dia membuat sebuah film untuk Channel 4 dengan judul “Young, Angry and Muslim”, mencoba menjelaskan “Bagaimana tentang komunitas kita yang telah meletakkan kita sebagai pusat terorisme?”. Inggris, Pakistan-Kashmir dan Muslim, dia tinggal di Walthamstow, beberapa blok dari rumah yang digeledah polisi. Dia diberi tape recorder oleh Radio 4’s Broadcasting House, dan ini adalah salah satu observasi/pengamatannya di luar masjid local : “Menarik untuk melihat media besar hadir di sini karena ini pastilah sebuah kampung digital. Orang-orang tidak nonton CNN, mereka pasti tidak menonton televise yang menjadi mainstream, mereka tidak menonton BBC, karena hanya dengan sedikit uang Anda bisa menonton TV Pakistan. Diantara mereka ada keluargaku. Sering ketika sya membuat program dan berbicara dengan orang-orang, mereka tidak menyaksikannya sebab mereka terlalu sibuk untuk menonton sesuatu, katakanlah Channel Islam. Orang-orang hanya tidak mau menyerap ide-ide Inggris dan hal inilah yang sangat menyita perhatian saya”.

Tapi Apakah Dia Benar?
Sekarang ini ada 40 channel Asia yang mengudara lewat satelit Sky, berisi channel hiburan macam Zee Music dan B4U Movies sampai Star News, Al-Jazeera dan Abu Dhabi TV. Yang lain bisa ditonton lewat system satelit yang berbeda yang dijual di wilayah-wilayah seperti Southall dan Walthamstow. Channel seperti Zee Music bebas biaya, yang lain harus berlangganan dulu (TV kabel). Hanya sedikit Channel Islam yang mengudara dalam bahasa Inggris, sebagian besar mengudara dalam bahasa lain. Sunny Hundal, editor majalah online Asians in Media, mengatakan bahwa TV digital dan radio lebih popular diantara minoritas etnis dibanding daintara populasi secara keseluruhan-khususnya diantara orang-orang Asia generasi pertama dan kedua. “Sabun produksi orang Asia sangat banyak di Inggris. Bahkan yoga Asia di Inggris juga sangat banyak-lelaki ini berasal dari India, dia adalah guru yoga dan ada banyak fenomena ibu rumah tangga dari Asia melakukan yoga di depan TV jam 7 pagi setiap hari”. Namun ada juga survey yang menunjukkan bahwa makin banyak orang muda Asia yang menonton, membaca dan mendengarkan media mainstream Inggris (seperti BBC), kaena mereka tumbuh dan besar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Sebuah perusahaan bernama Ethnic Focus secara rutin mensurvey minoritas etnis dan menganjurkan lembaga-lembaga public-termasuk polisi bagaimana cara berkomunikasi dengan minoritas istimewa ini.

Perbedaan Umum
Saber Khan adalah seorang direktur penelitian. Dia mengatakan bahwa TV digital popular diantara orang-orang Asia yang jelas-jelas berbeda generasi. “40 % orang Asia di bawah usia 25 tahun dan itu berarti Anda tengah membicarakan tentang mereka yang berasal dari generasi kedua dan ketiga. Menurut survey rutin kami, mereka terlalu banyak mengkonsumsi berita-berita dari surat kabar dan TV yang menjadi mainstream”. Pandangan ini didukung oleh Dr.Yunas Samad, seorang dosen sosiologi senior pada Universitas Bradford, yang juga mempelajari hubungan antara orang-orang Pakistan di Inggris dan media. Namun dia mengatakan adanya fakta bahwa Muslim yang lebih muda, yang sekarang menonton channel-channel mainstream, tetap saja memiliki ide-ide radikal meskipun mereka menonton media mainstream. “Satu hal yang terus kami coba untuk tanyakan adalah ‘Dimana kalian mendapatkan pandangan-pandangan (radikal) yang mampu menggerakan kalian?’ dab mereka kembali serta mengatakan ‘Kami hanya melihat TV, kami hanya melihat media mainstream’. “Satu hal yang terus kami coba untuk tanyakan adalah ‘Dimana kalian mendapatkan pandangan-pandangan (radikal) yang mampu menggerakan kalian?’ dan mereka kembali serta mengatakan ‘Kami hanya melihat TV, kami hanya melihat media mainstream’. “Apa yang tampaknya terjadi adalah sesungguhnya orang-orang ini memilih berbagai macam cerita dan gambar yang cocok dengan pemikiran mereka dan membuang yang tidak cocok dengan pemikian mereka.” Kita masih harus amat waspada dari tindakan terlalu mengeneralisir, khususnya kebiasaan menonton TV, yang bisa membagi bangsa pada saat-saat terbaiknya. Sunny Hundal mengatakan banyak muslim muda yang sekarang memilih situs dan channel-channel digital Asia sebagai media mainstream dan mereka punya alasan yang bagus. “Ini merupakan perjuangan yang nyata bagi media nasional mainstream untuk berkompetisi sebab mereka nyata-nyata tidak bisa merefleksikan tiap komunitas secara detail. “Ini merupakan problem riil, bahwa ketika mereka sedang mencoba untuk menutupi komunitas khusus atau persoalan yang muncul dari perspektif di luar mereka, sedangkan orang-orang di luar mereka adalah orang-orang Asia yang ada di Inggris. Mereka adalah bagian dari negara ini dan mereka ingin menjadi bagian dari negeri ini.”

Kartika Pemilia-dari berbagai sumber