Keindahan Nonfiksi, Mata Rantai Aksi
Buku : Lapak-lapak Metropolitan
Tebal : 203+vi h
Penerbit : Khairul Bayan Press, Jakarta
Penulis : Hery Djatmiko Kurniawan
Beredar : November 2006
Menulis buku Lapak-lapak Metropolitan (LLM), bagi saya, seperti diberikan kesempatan menyelami karakter nonfiksi dan fiksi sekaligus. Namun, yang terpenting adalah karya tulis mampu melipatgandakan maslahat. Sejumlah karya fiksi sanggup menginspirasi perubahan, menstimulir aksi, meski jumlahnya tak banyak. Karya nonfiksi dengan polesan gaya fiksi, ternyata mampu berbicara lebih banyak untuk menjahit aksi-aksi maslahat. Salah satunya buku LLM yang juga dibesut oleh novelis kondang Pipiet Senja ini.
Kini penulis berada di tengah-tengah komunitas ”pemberdaya komunitas”. Menulis adalah bagian dari proses komunikasi tak sekadar dalam rangka membangun citra lembaga. Lebih dari itu, menulis menjadi bagian dari penyusunan mata rantai aksi membangun maslahat yang lebih luas. Tulisan dituntut mampu memberi inspirasi yang bisa menjahit sinergi berbagai pihak untuk turut dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat terpinggirkan. Di sinilah, tulisan-tulisan berkarakter feature banyak dibutuhkan sebagai wahana komunikasi. Feature mampu menggambarkan realitas kemanusiaan biasa menjadi unik dan enak dibaca.
Terdapat beberapa kandungan buku LLM ini hasil catatan teman-teman pendamping lapangan. Mereka adalah anak-anak muda yang mau total mendampingi komunitas. Berbagai pengalaman mengesankan mereka catat dan menjadi tulisan. Walhasil, tulisan mereka cukup inspiratif karena menyajikan isu pemberdayaan dari catatan pengalaman sebagai pemberdaya. Dari sini, di antaranya tumbuh ”cikal-bakal” komunitas penulis pemberdayaan atau jurnalis pemberdayaan atau penulis-pemberdaya. Karya-karya komunitas diharapkan mampu merangkai mata rantai kemaslahatan melalui pemberdayaan masyarakat. Tentu karya berbasis nonfiksi.
Ada sesuatu yang ingin ditularkan dari pengalaman beberapa penulis di komunitas ”penulis pemberdayaan”. Yakni menggeser energi kreatif para penulis (sastrawan), menemukan keindahan dari realitas, kemudian menyuguhkannya tidak lagi sebagai karya rekaan, tetapi sebagai realitas yang juga tidak kurang menariknya dibanding fiksi.
Melipatgandakan Manfaat
Optimalisasi manfaat memerlukan kombinasi peran. Menilik buku LLM, terlihat kombinasi peran kepenulisan (dengan imajinasi dan kesastraan), jurnalistik (karena tuntutan realitas-faktualnya), pemberdaya (person, komunitas maupun organisasi), publisher bahkan dunia usaha (fungsi corporate social responsibility/CSR), dan pemerintah.
Penulis mengeksplor kisah nyata dari lapangan pendampingan, komunitas miskin yang menjadi sasaran program Masyarakat Mandiri (MM, lembaga pemberdaya yang diinisiasi Dompet Dhuafa – lembaga zakat nonpemerintah yang baru digabung dengan Badan Amil Zakat Nasional – bentukan pemerintah). Beberapa tulisan awalnya kental nuansa jurnalistiknya, lalu dipoles menjadi lebih renyah lewat tangan dingin novelis produktif Pipiet Senja (PS) sebagai penyunting.
Boleh jadi, PS pun mengalami metamorfosis. Tadinya, publik lebih mengenalnya sebagai penulis nonfiksi. Belakangan, penulis produktif ini mulai banyak menulis memoar dan karya nonfiksi seperti Bagaimana Aku Bertahan (lakon kehidupannya dari proses kreatif sampai pahit-getir berumahtangga. Buku ini karena kelewat personal, nyaris batal terbit), Kalembo Ade: Penyapu Lantai Sastra (kisah pribadi Pipiet di tengah komunitas penulis), Snada: The Legend of Nasheed (judul awalnya: Snada, 15 tahun Mematri Karya), dan yang terbaru, menyunting LLM. PS makin masuk ke dunia pemberdayaan.
Awalnya, PS mengaku bingung memulai proses penyuntingannya. ”Begitu saya dibawa ke desa-desa yang menjadi sasaran program MM, saya jadi bersemangat. Saya menjadi keasyikan menyelami kerja pemberdayaan,” ungkapnya dalam sebuah perbicangan di markas Forum Lingkar Pena (FLP) Depok awal November lalu.
”Penjerumusan” PS dari ”penulis sudut kamar”, sampai ke ”penulis pemberdayaan”, sebuah metamorfosis menggembirakan. PS masih punya energi dan penjiwaan pada aksi merakit peduli dan melipatgandakan manfaat. Benar bahwa ia menulis untuk hidup (terutama biaya rutin transfusi darah, akibat bawaan sebagai pengidap thalasemia). Tapi lebih dari itu, ia mulai menulis untuk menggelorakan aksi. Ia juga tertarik betul mewujudkan PS Foundation, yang akan berkhidmat terutama membantu keluarga penulis yang kurang beruntung, juga untuk keperluan kemanusiaan lainnya.
Buku yang diberi pengantar Direktur Masyarakat Mandiri dan prolog Eri Sudewo selaku social entrepreneur ini seolah hendak mengguratkan pesan: dalam realitas pendampingan, ada banyak kisah yang tak kalah menarik dibanding karya rekaan. Dan buku LLM menurut saya, satu dari sedikit buku yang prosesnya benar-benar didedikasikan untuk keperluan sosial. Sejak awal, buku ini sudah ”dibenturkan” dengan misi pemberdayaan. Buku ini menegaskan, mendampingi komunitas miskin dan membuatnya mandiri, bukan urusan enteng. Ada proses panjang di dalamnya.
Kilau Kerja Kaum Ibu
Buku ini menjadi piranti social marketing lembaga pemberdaya bernama MM, sehingga “membeli buku ini, ikut dalam ikhtiar memberdayakan komunitas miskin”. Hasil penjualan buku, akan kembali ke MM untuk berbagai aktivitas mewujudkan visi-misi MM. Yang menarik, menyimak buku ini, kita mulai melihat kilau kerja ”kaum ibu”. Paling menonjol ada di bab tiga ”Perempuan di Atas Bukit” (h. 75).
Tanpa latah dengan ”gerakan kesetaraan jender”, MM menunjukkan kilau kerja kaum ibu. Para pendamping MM dan official staf bahkan direkturnya, perempuan (pandangannya bisa disimak dalam pengantar buku ini). Buku ini beriringan dengan momentum internasional dimenanginya penghargaan nobel perdamaian oleh Muhammad Yunus dari Bangladesh, yang berjuang dengan Grameen Bank. Catatan kisah sukses ”bank kaum miskin” ini didominasi oleh peran kaum perempuan (India, Malaysia, Bangladesh sendiri bahkan di Indonesia).
MM sendiri, seperti diungkap Direktur MM Nana Mintarti, (tidak diungkap dalam buku ini) merupakan hasil transfer pengetahuan dari replika kreatif Grameen Bank ala Malaysia bernama Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM). Para instruktur AIM yang datang ke Indonesia pun, adalah kaum perempuan (Cik Jamilah, Cik Nurbaiti dan Puan Roosita).
Peluang besar di depan mata, sebuah model kemitraan yang melibatkan penulis, penerbit, lembaga sosial, donor society (pemerintah, korporat, pengusaha daerah maupun pusat) dan seluruh elemen potensial lainnya, akan melipatgandakan sebuah kerja kemanusiaan. Iqbal Setyarso, penyunting buku dari PT Khairul Bayan Jakarta membagi pengalamannya. Bukunya berjudul ”Damai Yang Terkoyak” (Madani Press, Jakarta, 1999) yang merekam tragedi konflik sosial di Halmahera (Maluku Utara) beberapa tahun silam, bisa jadi contoh yang baik. Lewat pembelian instruktif pemda Maluku Utara, secara bertahap hasil penjualannya bisa digunakan mendirikan SD Rakitan tahun 1999, dan tahun 2004 menjadi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Buku Iqbal berjudul ”Buyat: Bukan Sekadar Soal Tambang Dan Pencemaran”, menjadi social marketing tools merakit kepedulian terhadap waga Buyat Pante (Sulawesi Utara), menghimpun dana tak kurang dari Rp700 juta dari lembaga zakat dan kemanusiaan. Dana itu digunakan untuk membeli tanah di Duminanga (Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulut) 150 kilometer dari Buyat Pante, setelah bertahun-tahun banyak LSM belum bisa menggeser selangkah pun warga Buyat Pante keluar dari kawasan yang memiskinkan mereka. Itu baru contoh kecil yang mudah-mudahan bisa menjadi tren kemitraan. Bahwa ada keindahan nonfiksi yang sangat pantas disajikan ke tengah khalayak. Anda pun potensial merajut kemitraan semacam ini. InsyaAllah.
Hery D. Kurniawan