Archive for February, 2007

WHAT A WONDERFUL WORLD

Monday, February 19th, 2007

I see trees of green, red roses too I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world
I see skies of blue and clouds of white The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself, what a wonderful world
The colours of the rainbow, so pretty in the sky Are also on the faces of people going by I
see friends shakin’ hands, sayin’ “How do you do?” They’re really saying “I love you”
I hear babies cryin’, I watch them grow They’ll learn much more than I’ll ever know
And I think to myself, what a wonderful world Yes, I think to myself, what a wonderful world…….

Malam Panjang

Sunday, February 11th, 2007

Malam panjang. Sepanjang malam ini aku berkutat dengan virus komputer yang merusak sistem. Bosan sich, tapi kalau tidak disembuhkan bisa-bisa kerjaan kantorku amburadul, padahal deadline harus ditepati. Kali ini harus membuat 2 tulisan. Yang pertama transkrip sekaligus rangkuman Dialog LKM, yang kedua liputan ke SS. Lumayan sich, temanya baru, aku harus banyak cari tahu apa itu rating dan bagaimana AC Nielsen bekerja. Keep the good work!!!

Sudah 2 hari ini aku asyik SMS-an sama PAk Eri Sudewo, arsitek pengelolaan zakat modern. Beliau salah satu tokoh idolaku….heeeemmmm…..

Malam Panjang

Sunday, February 11th, 2007

Malam panjang. Sepanjang malam ini aku berkutat dengan virus komputer yang merusak sistem. Bosan sich, tapi kalau tidak disembuhkan bisa-bisa kerjaan kantorku amburadul, padahal deadline harus ditepati. Kali ini harus membuat 2 tulisan. Yang pertama transkrip sekaligus rangkuman Dialog LKM, yang kedua liputan ke SS. Lumayan sich, temanya baru, aku harus banyak cari tahu apa itu rating dan bagaimana AC Nielsen bekerja. Keep the good work!!!

INDIA: New TV rating system to challenge TAM monopoly

Wednesday, February 7th, 2007

INDIA: New TV rating system to challenge TAM monopoly

A TV viewing measurement system is threatening to end the dominance of AC Nielsen’s TAM Media Research

The Times of India
Thursday, August 5, 2004

NEW DELHI: A TV viewing measurement system is threatening to end the dominance of AC Nielsen’s TAM Media Research. It will provide broadcasters and media planners with a new approach to measure exposure of over 200 channels across India’s 48 million cable homes. And at stake is Rs 5,500 crore worth of ads, determined by 150 media planners.

This new chip technology will help in mapping the day’s TV ratings overnight as against TAM, which takes a week. Depending on the success of this venture, new firm Audience Measurement and Analytics Ltd (AMA) hopes to cash in on this technology to measure cinema, Internet, newspaper and radio exposure.

Here’s how it works: A chip collects data on TV viewing in sample households. A mobile phone call from a central server downloads data through servers hooked to the ‘peoplemeter’. There is no human intervention here, unlike TAM, where data is collected physically.

“India is huge, it has 37 languages and needs a real-time tool for TV measurement,” says professor Matthias Steinmann, CEO of Telecontrol and inventor of the peoplemeter. He recently developed and patented a chip inserted in a watch, which will tap five media in real time in a single tool.

“The dynamics of TV advertising is changing as media planners look for on-the-spot data. It’s a robust and tested system,” says Francis Howard, director, AMA, which has licensed the technology from Swiss firm Telecontrol AG and Swiss Broadcasting.

AMA India CEO Tapan Lal claims to have got a favourable response from broadcasters.

“We have independent auditors to check the functioning of our system at any time and without notice,” says Pal. They have already put up installations in Mumbai, Delhi and Ahmedabad.

Rival rating agency TAM says there’s no threat from AMA’s real-time mapping. “We’re not scared,” says LV Krishnan, CEO of TAM, which is part-owned by Dutch media group VNU. “We do much more than TV ratings. The question is: Will it benefit the user. I wish things were as easy as claimed.”

Industry experts maintain though there may be hiccups in the new system (like transparency in sampling), it will end monopoly in TV rating.

“We are open to testing if we have industry certification,” says CVL Srinivas, MD of Maxus, a WPP group-owned media buying firm. “It’s always good to have more than one system because it breaks monopoly.”

However, media planners say they’ve been working with TAM all these years and credibility will be an important factor for AMA. Lobbying is also on for a watchdog to monitor functioning of TV rating agencies.

Broadcasters — especially those without lead slots in genres like news, entertainment and movies — plan to buy data from AMA. In the next few weeks, there will be two sets of top programmes and advertisers can take a call on where to pump in money. Finally, broadcasters will have an option to remove programmes instantly if data reflect poor ratings among viewers.

Lapak-Lapak Metropolitan

Wednesday, February 7th, 2007

Keindahan Nonfiksi, Mata Rantai Aksi

Buku : Lapak-lapak Metropolitan
Tebal : 203+vi h
Penerbit : Khairul Bayan Press, Jakarta
Penulis : Hery Djatmiko Kurniawan
Beredar : November 2006

Menulis buku Lapak-lapak Metropolitan (LLM), bagi saya, seperti diberikan kesempatan menyelami karakter nonfiksi dan fiksi sekaligus. Namun, yang terpenting adalah karya tulis mampu melipatgandakan maslahat. Sejumlah karya fiksi sanggup menginspirasi perubahan, menstimulir aksi, meski jumlahnya tak banyak. Karya nonfiksi dengan polesan gaya fiksi, ternyata mampu berbicara lebih banyak untuk menjahit aksi-aksi maslahat. Salah satunya buku LLM yang juga dibesut oleh novelis kondang Pipiet Senja ini.
Kini penulis berada di tengah-tengah komunitas ”pemberdaya komunitas”. Menulis adalah bagian dari proses komunikasi tak sekadar dalam rangka membangun citra lembaga. Lebih dari itu, menulis menjadi bagian dari penyusunan mata rantai aksi membangun maslahat yang lebih luas. Tulisan dituntut mampu memberi inspirasi yang bisa menjahit sinergi berbagai pihak untuk turut dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat terpinggirkan. Di sinilah, tulisan-tulisan berkarakter feature banyak dibutuhkan sebagai wahana komunikasi. Feature mampu menggambarkan realitas kemanusiaan biasa menjadi unik dan enak dibaca.
Terdapat beberapa kandungan buku LLM ini hasil catatan teman-teman pendamping lapangan. Mereka adalah anak-anak muda yang mau total mendampingi komunitas. Berbagai pengalaman mengesankan mereka catat dan menjadi tulisan. Walhasil, tulisan mereka cukup inspiratif karena menyajikan isu pemberdayaan dari catatan pengalaman sebagai pemberdaya. Dari sini, di antaranya tumbuh ”cikal-bakal” komunitas penulis pemberdayaan atau jurnalis pemberdayaan atau penulis-pemberdaya. Karya-karya komunitas diharapkan mampu merangkai mata rantai kemaslahatan melalui pemberdayaan masyarakat. Tentu karya berbasis nonfiksi.
Ada sesuatu yang ingin ditularkan dari pengalaman beberapa penulis di komunitas ”penulis pemberdayaan”. Yakni menggeser energi kreatif para penulis (sastrawan), menemukan keindahan dari realitas, kemudian menyuguhkannya tidak lagi sebagai karya rekaan, tetapi sebagai realitas yang juga tidak kurang menariknya dibanding fiksi.
Melipatgandakan Manfaat
Optimalisasi manfaat memerlukan kombinasi peran. Menilik buku LLM, terlihat kombinasi peran kepenulisan (dengan imajinasi dan kesastraan), jurnalistik (karena tuntutan realitas-faktualnya), pemberdaya (person, komunitas maupun organisasi), publisher bahkan dunia usaha (fungsi corporate social responsibility/CSR), dan pemerintah.
Penulis mengeksplor kisah nyata dari lapangan pendampingan, komunitas miskin yang menjadi sasaran program Masyarakat Mandiri (MM, lembaga pemberdaya yang diinisiasi Dompet Dhuafa – lembaga zakat nonpemerintah yang baru digabung dengan Badan Amil Zakat Nasional – bentukan pemerintah). Beberapa tulisan awalnya kental nuansa jurnalistiknya, lalu dipoles menjadi lebih renyah lewat tangan dingin novelis produktif Pipiet Senja (PS) sebagai penyunting.
Boleh jadi, PS pun mengalami metamorfosis. Tadinya, publik lebih mengenalnya sebagai penulis nonfiksi. Belakangan, penulis produktif ini mulai banyak menulis memoar dan karya nonfiksi seperti Bagaimana Aku Bertahan (lakon kehidupannya dari proses kreatif sampai pahit-getir berumahtangga. Buku ini karena kelewat personal, nyaris batal terbit), Kalembo Ade: Penyapu Lantai Sastra (kisah pribadi Pipiet di tengah komunitas penulis), Snada: The Legend of Nasheed (judul awalnya: Snada, 15 tahun Mematri Karya), dan yang terbaru, menyunting LLM. PS makin masuk ke dunia pemberdayaan.
Awalnya, PS mengaku bingung memulai proses penyuntingannya. ”Begitu saya dibawa ke desa-desa yang menjadi sasaran program MM, saya jadi bersemangat. Saya menjadi keasyikan menyelami kerja pemberdayaan,” ungkapnya dalam sebuah perbicangan di markas Forum Lingkar Pena (FLP) Depok awal November lalu.
”Penjerumusan” PS dari ”penulis sudut kamar”, sampai ke ”penulis pemberdayaan”, sebuah metamorfosis menggembirakan. PS masih punya energi dan penjiwaan pada aksi merakit peduli dan melipatgandakan manfaat. Benar bahwa ia menulis untuk hidup (terutama biaya rutin transfusi darah, akibat bawaan sebagai pengidap thalasemia). Tapi lebih dari itu, ia mulai menulis untuk menggelorakan aksi. Ia juga tertarik betul mewujudkan PS Foundation, yang akan berkhidmat terutama membantu keluarga penulis yang kurang beruntung, juga untuk keperluan kemanusiaan lainnya.
Buku yang diberi pengantar Direktur Masyarakat Mandiri dan prolog Eri Sudewo selaku social entrepreneur ini seolah hendak mengguratkan pesan: dalam realitas pendampingan, ada banyak kisah yang tak kalah menarik dibanding karya rekaan. Dan buku LLM menurut saya, satu dari sedikit buku yang prosesnya benar-benar didedikasikan untuk keperluan sosial. Sejak awal, buku ini sudah ”dibenturkan” dengan misi pemberdayaan. Buku ini menegaskan, mendampingi komunitas miskin dan membuatnya mandiri, bukan urusan enteng. Ada proses panjang di dalamnya.

Kilau Kerja Kaum Ibu
Buku ini menjadi piranti social marketing lembaga pemberdaya bernama MM, sehingga “membeli buku ini, ikut dalam ikhtiar memberdayakan komunitas miskin”. Hasil penjualan buku, akan kembali ke MM untuk berbagai aktivitas mewujudkan visi-misi MM. Yang menarik, menyimak buku ini, kita mulai melihat kilau kerja ”kaum ibu”. Paling menonjol ada di bab tiga ”Perempuan di Atas Bukit” (h. 75).
Tanpa latah dengan ”gerakan kesetaraan jender”, MM menunjukkan kilau kerja kaum ibu. Para pendamping MM dan official staf bahkan direkturnya, perempuan (pandangannya bisa disimak dalam pengantar buku ini). Buku ini beriringan dengan momentum internasional dimenanginya penghargaan nobel perdamaian oleh Muhammad Yunus dari Bangladesh, yang berjuang dengan Grameen Bank. Catatan kisah sukses ”bank kaum miskin” ini didominasi oleh peran kaum perempuan (India, Malaysia, Bangladesh sendiri bahkan di Indonesia).
MM sendiri, seperti diungkap Direktur MM Nana Mintarti, (tidak diungkap dalam buku ini) merupakan hasil transfer pengetahuan dari replika kreatif Grameen Bank ala Malaysia bernama Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM). Para instruktur AIM yang datang ke Indonesia pun, adalah kaum perempuan (Cik Jamilah, Cik Nurbaiti dan Puan Roosita).
Peluang besar di depan mata, sebuah model kemitraan yang melibatkan penulis, penerbit, lembaga sosial, donor society (pemerintah, korporat, pengusaha daerah maupun pusat) dan seluruh elemen potensial lainnya, akan melipatgandakan sebuah kerja kemanusiaan. Iqbal Setyarso, penyunting buku dari PT Khairul Bayan Jakarta membagi pengalamannya. Bukunya berjudul ”Damai Yang Terkoyak” (Madani Press, Jakarta, 1999) yang merekam tragedi konflik sosial di Halmahera (Maluku Utara) beberapa tahun silam, bisa jadi contoh yang baik. Lewat pembelian instruktif pemda Maluku Utara, secara bertahap hasil penjualannya bisa digunakan mendirikan SD Rakitan tahun 1999, dan tahun 2004 menjadi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.
Buku Iqbal berjudul ”Buyat: Bukan Sekadar Soal Tambang Dan Pencemaran”, menjadi social marketing tools merakit kepedulian terhadap waga Buyat Pante (Sulawesi Utara), menghimpun dana tak kurang dari Rp700 juta dari lembaga zakat dan kemanusiaan. Dana itu digunakan untuk membeli tanah di Duminanga (Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulut) 150 kilometer dari Buyat Pante, setelah bertahun-tahun banyak LSM belum bisa menggeser selangkah pun warga Buyat Pante keluar dari kawasan yang memiskinkan mereka. Itu baru contoh kecil yang mudah-mudahan bisa menjadi tren kemitraan. Bahwa ada keindahan nonfiksi yang sangat pantas disajikan ke tengah khalayak. Anda pun potensial merajut kemitraan semacam ini. InsyaAllah.

Hery D. Kurniawan