Archive for March, 2007

ROAD TO SURABAYA

Saturday, March 17th, 2007

“Suka lagu dangdut mbak?”. Sebuah pertanyaan dari pak supir ini serasa memberi pijatan jitu di pelipisku, yang sejak tadi berdenyut menahan rasa muak demi mendengar lantunan penyanyi dangdut, perempuan, kenes, suaranya genit. “Enggak pak!,” jawabku mantap. “Kok ga bilang dari tadi sich?,” Tanya pak supir lagi. Aku hanya diam atas ketidaksukaanku semata—mata karena aku tidak ingin terlalu cerewet dan rewel, dua sifat yang kini sedang kucoba untuk diredam. Sebelumnya, aku pernah mengomeli supir travel yang malam-malam nyetel ndangdutan. “Lha wong bapak sepertinya lagi asyik ndengerin lagu,” jawabku masygul. “Lho, ya ga papa mbak. Itu hak Anda,” tukas pak supir. Dalam hati aku bersyukur pak supir akhirnya mengambil inisiatif sendiri untuk tidak memutar lagu yang membuat pusing kepala. Aku sebenarnya tidak ingin terlalu rewell dan cerewet seperti yang biasa kulakukan ketika supir kendaraan umum yang kutumpangi menyetel dangdut. Dari rambutnya yang mulai memutih, kutaksir usia pak supir ini sekitar 50-an. Gaya bicaranya yang kasar sudah merupakan aspek kelokalan dari budaya arek. Ya, travel yang kutumpangi dari Jogya sudah mencapai Surabaya. Secara de facto sebenarnya belum sampai ke wilayah Surabaya, baru sampai Sepanjang, Sidoarjo. Namun karena karakteristik jalan dan suasananya relative mirip Surabaya, di samping letaknya juga dekat sekali dengan Surabaya, maka kuanggap kawasan Sepanjang sama dengan Surabaya.
AC yang dimatikan membuat hawa di dalam travel yang resmi kutumpangi mulai dari sebuah pom bensin di Sidoarjo. Pada saat itu tidur lelapku dikejutkan oleh ketukan di pintu mobil. “Turun mbak. Saya mau mampir ke rumah teman dulu”, teriak pak supir. Sayup kudengar suara adzan, lama-lama terdengar santer. Kuedarkan pandangan dan kupasang telinga baik-baik. Aha! Tak jauh dari tempatku ada musholla. “Pak, saya mau Subuhan dulu”, kataku memberitahu pak supir. “Oh enggih mbak. Itu ada musholla”, jawabnya sambil menunjuk kea rah kanan. Aku mencoba mengenali dimana kakiku tengah berpijak. Sepertinya aku kenal tempat ini….olala…ini kan Jalan Juwingan? Dekat sekali dengan kos-kosanku…hehehehehehe…serasa sudah tiba di tempat tujuan….
Seorang nenek menatapku lekat. Eh, dia tersenyum. “Nang kene nak nek bade sholat”, tuturnya ramah. Wah, senang sekali di pagi buta begini aku mendapat sapaan ramah. Segera kuikuti langkah sang nenek. “Niku omahipun anak kulo”, kata sang nenek sambil menunjuk sebuah rumah mungil di pojok gang. Aku cuma mengangguk sambil tersenyum. Senang sekali berbiacar dengan orang-orang biasa yang luar biasa ramah dan santun terhadap tamu atau orang asing sekalipun. Berbicara dengan wong ciliki mampu membuatku merenung dan bercermin. Terharu dan terhanyut oleh ketulusan serta keramahan mereka. Tanpa pamrih. Tanpa kepentingan. Hanya ingin menyenagnkan orang. Subhanallooh…sebentuk perilaku yang sudah sangat jarang kutemui pada orang-orang sekarang terutama yang memandang segala sesuatu harus diukur dengan uang. Demi sebuah prestise. Snobist.
“Monggo mbak, ngopi dulu sambil ngobrol”, sapaan sekaligus instruksi dari pak supir menjawab segala tanda tanyaku tentang keberadaan pak supir. Rupanya dia tahu kalau aku tengah bingung mencarinya. Tapi….kenapa aku tidak melihatnya menuju ke mushola untuk tunaikan sholat Subuh? Ah, mungkin dia sholat di rumah temannya. Aku mencoba berkhusnudzon. Kulangkahkan kaki menuju rumah mungil yang berada hanya beberapa meter dari musholla. “Assalamu’alaykum…”, sapaku. Segera dijawab oleh tuan rumah yang juga istri teman pak supir. Wajah yang ramah, selalu sumringah. Ah, lagi-lagi aku disuguhi sebentuk keramahan yang menyejukkan jiwa. Alhamdulillah….
Tak berapa lama aku, pak supir dan rekannya sesame supir terlibat perbincangan ringan. Kami banyak bercerita soal daerah asal masing-masing dan seperti biasa…aku yang berasal dari Cilacap selalu mendapatkan komentar yang itu-itu saja : “Wah, tebih nggih mbak…”, dan reaksi yang kuberikan juga itu-itu saja: tersenyum manis huehehehehehe….yaaa habis mau gimana lageeee, lha wong domisili ortuku emang di Cilacap, sebuah kota kecil nun di jauh di mato para penghuni Surabaya. Lagian emang juarang sich orang CIlacap yang kuliah di Surabaya. Teman-teman satu angkatanku biasanya lari ke Jogya, Bandung, Jakarta en….Malang. Whatever lah!
Selesai ngopi, aku, pak supir dan rekannya sesama supir pamitan. Pak supir harus segera nganterin aku pulang, lagian aku juga harus segera sampai di kos-kosan, capek banget! Sedang rekan pak supir yang sesama supir harus berangkat untuk suatu urusan yang aku ga tau sebab bukan urusanku huehehehehe…
Sesampai di kos-kosan…rebahan dulu aaahhh…selama kurang lebih 2 hari 1 malam ni badan digempur terus. Perjalanan itu memberatkan, that’s why ALLOH Kasih rukhsoh (keringanan) untuk para musafir like sholat boleh dijamak en diqosor, sholat Jumat boleh absent, bagi yang berpuasa boleh tidak berpuasa. Kulihat bawaanku belum kubereskan…ingin kugapai tapi aaahhh…aku capeeekkk

Laa Khawlaa walaa quwwata illaa billaah, sebuah perjalanan adalah serangkaian pelajaran….

KEJANGGALAN MEDIA 2

Saturday, March 17th, 2007

Berita Tidak Penting Tentang Banjir Jakarta

Jawa Pos, 5 Februari 2007 memuat berita dengan judul “Cut Keke Dkk Santuni Para Balita”. Layaknya tayangan infotainment, isi berita menyoroti peranan para artis seperti Cut Keke, Silvana Herman, Okan Cornelius, Maria Agnes, Edwin dan Jody dalam menyantuni para korban musibah banjir di Jakarta, ditambah komentar mereka sebagai bumbu. Substansi berita memang penting, yakni seputar banjir di Jakarta namun terlalu dangkal dan mubazir jika narasumbernya adalah artis. Toh, yang peduli pada bencana banjir Jakarta banyak dari kalangan di luar artis dan bisa jadi mereka melakukan aksi yang lebih besar dibanding para artis ini. Lalu kenapa luput dar pemberitaan? Apalagi Jawa Pos memuat berita ini dalam kolom khusus yang muncul untuk memberitakan perkembangan bencana banjir Jakarta. Sangat disayangkan. Sepertinya wartawan Jawa Pos kekurangan bahan berita sehingga “terpaksa” menyoroti artis. Atau mungkin memang sudah ada kebijakan redaksi yang menentukan bahwa harus ada berita soal artis di kolom khusus Banjir Jakarta?

Ketidakpekaan dalam Tulisan Kompas

“Dan apa lagi yang lebih nikmat di musim hujan dan banjir seperti sekarang ini daripada perbincangan hangat dengan seorang wanita cantik di suatu tempat nyaman yang jauh dari permukaan tanah?”…kalimat ini terdapat dalam tulisan berjudul “Seribu Wajah Karenina” di Kompas, 4 Februari 2007. Kalimat semacam ini menunjukkan ketidakpekaan wartawan Kompas terhadap situasi dan kondisi Jakarta yang tengah dilanda banjir. Seharusnya wartawan Kompas yang membuat tulisan ini tidak perlu mengaitkan kekagumannya yang berlebihan atas sosok model cantik dan seksi Karenina dengan banjir yang sekarang tengah menjadi objek keprihatinan bangsa.

Kalimat yang Diulang-Ulang dan Tidak Efektif : Subtasnsi Berita Cuma 1

Perulangan kalimat terjadi dalam berita Jawa Pos “Menlu Mulai Upaya Mediatori Hamas-Fatah”, 5 Februari 2007. Di paragraph pertama sudah disebutkan bahwa Menlu Nur Hassan Wirajuda akan bertemu dengan tokoh Hamas Khaleed Meshaal. Kemudian pada paragraph keempat kembali disebutkan bahwa Menlu Nur Hassan Wirajuda akan bertemu dengan Khaleed Meshaal. Rencana pertemuan Menlu dengan Khaleed Meshaal kembali disebutkan di paragraph kelima. Begitupun dengan agenda Menlu untuk membicarakan masalah pertikaian Hamas-Fatah, yang sudah disebutkan di paragraph kedua, diulang lagi di paragraph ketiga, keempat serta keenam. Sebenarnya berita itu bisa dipersingkat sehingga efektif. Di sini Jawa Pos memperpanjang berita dengan mewawancarai tiga orang narasumber dengan pertanyaan yang sama : apa agenda Menlu di Syria. Tidak ada analisa yang lebih tajam dan dalam terhadap berita ini, padahal analisa bisa dikembangkan dengan mengkaji apa yang akan dilakukan pemerintah RI kaitannya dengan menjadi mediator Hamas-Fatah.

KEJANGGALAN MEDIA 1

Tuesday, March 13th, 2007

Pengaitan Foto dan Wacana yang Semena-Mena Ala Kompas

Kompas, Selasa 6 Februari 2007 memuat foto di halaman 4. Dalam keterangan foto (caption) tertulis, ‘Senjata-senjata yang disita aparat kepolisian saat konflik Poso diperlihatkan dalam rapat kerja antara Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto (kiri) dan anggota Komisi III DPR di Gedung DPR, Jakarta, Senin (5/2)’. Foto tersebut diletakkan di tengah-tengah dua berita berjudul ‘Polri Tolak Draf RUU Keamanan Nasional’ dan ‘Terorisme-Polri Belum Tentukan Waktu Peraiksa Hambali’. Antara foto dan kedua berita di sebelah kanan maupun kirinya tidak ada korelasi. Berita pertama membahas soal penolakan Polri terhadap draf Rancangan UU Keamanan Nasional sedang berita kedua membahas soal rencana pemeriksaan Hambali. Isi kedua berita tersebut sama sekali tidak menyinggung soal Poso. Kompas sepertinya berusaha mengaitkan antara apa yang terjadi di Poso dengan terorisme, padahal ada atau tidaknya aksi terorisme di Poso sampai saat ini masih dikaji oleh pengamat intelijen seperti AC Manullang. Sebuah cara yang cukup cerdas namun terkesan memaksakan sebuah opini yang amat tendensius kepada publik. Mohon Kompas hati-hati dengan pemberitaannya. Sayang sekali jika nama besar yang disandangnya selama puluhan tahun runtuh.

Judul dan Isi Advertorial yang Janggal di Harian Surya

‘Sedangkan Peracik Obat Kuat Pilih yang Lain untuk Diminum Sendiri’, adalah judul sebuah advertorial yang dimuat di harian Surya, Jumat, 23 Februari 2007. Penggunaan kata ‘sedangkan’ di awal kalimat membuat judul ini sangat membingungkan. Seharusnya sebelum kata ‘sedangkan’ ada kalimat lain yang melengkapi sebab ‘sedangkan’ adalah kata sambung yang diletakkan di tengah kalimat, bukan di awal kalimat. Kemudian ketika kita menginjak ke isi advertorial, kembali dijumpai kejanggalan pada rangkaian kata yang membentuk kalimat. Ambil contoh kalimat ‘kedelai bubuk METABOLIS adalah cara cerdas mendapatkan manfaat kedelai ujar pria periang ini tanpa diminta’. Dalam kalimat tersebut tidak terdapat kutipan langsung, padahal kalimat tersebut merupakan perkataan langsung dari narasumber, yang terlihat dari kalimat ‘…ujar pria periang ini tanpa diminta’. Hal lain yang dirasa janggal adalah ketika wartawan Surya yang menulis advertorial ini menyatakan bahwa pria yang dia wawancarai memberi testimoni tanpa diminta. Aneh sekali pernyataan ini. Wartawan tidak perlu menyatakan hal seperti itu sebab diminta maupun tidak diminta, testimonial ini diberikan dalam rangka promosi sebuah produk. Keterangan apapun , asal itu menguntungkan, pasti berharga. Kata-kata ‘tanpa diminta’ kesannya janggal dan kurang tepat.
Dalam advertorial yang menampilkan foto narasumber yang memberikan testimoni tersebut (tidak ada foto produk yang sedang diiklankan), antara judul dan isi tidak saling berhubungan. Tidak disebutkan dalam isi advertorial bahwa narasumber yang memberikan testimoni adalah peracik obat kuat namun dalam judul disebutkan demikian. Wartawan Surya sengaja membuat judul yang terlalu bombastis, yang parahnya tidak sesuai dengan isi.

Program Dialog LKM Masuk dalam Riset AC Nielsen

Sunday, March 11th, 2007

Sebuah temuan yang cukup menggembirakan sekaligus mengkhawatirkan. Program Dialog LKM yang disiarkan di radio Suara Surabaya (SS) setiap hari Selasa pukul 15.00 WIB menempati rating ke-2 tertinggi diantara program serupa. Rating ini didapat berdasarkan hasil riset AC Nielsen tahun 2006, pada quarter ke-2 (April-Juni 2006). Berdasarkan riset tersebut, jumlah pendengar program Dialog LKM dalam rata-rata quarter hours (AQH) adalah 57.000 orang dan total komulatif adalah 62.000 orang. Angka ini dinilai cukup bagus sehingga program berdurasi 1 jam ini ditetapkan menjadi salah satu program unggulan SS. “Secara umum, kalau dari sisi perolehan pendengar, Dialog LKM cukup bagus, apalagi sebagai highlight di SS,” ungkap Rudy Hartono, bagian Research and Development SS saat dimintai keterangan di kantor SS (10/2). Program dialog yang telah berjalan selama lebih kurang 8 tahun ini mendapat respon yang cukup bagus dari para pendengar stasiun radio yang berkantor di Kampoeng Media, jalan Wonokitri Besar 40C Surabaya.

Substansi topic yang diangkat dalam program dialog yang digagas oleh ibu Sirikit Syah dan pak Errol Jonathans ini umumnya berat. Tapi mengapa mendapat respon yang bagus dari pendengar? “Topik yang diangkat dalam program ini sifatnya sangat actual, up to date dan tematis, dengan mendatangkan narasumber yang mumpuni. Karna subtansinya berat, saya membawakan program ini dengan santai,” jelas Iwan Dwihartanto, host program ini ketika diwawancarai secara terpisah di kantor SS (8/2). Faktor tematis jualah yang menyebabkan pada topic-topik tertentu, cukup banyak ibu rumah tangga yang mendengarkan program dialog ini meskipun topic yang diangkat umumnya berat. Misal, ketika Dialog LKM mengangkat topic kekerasan dalam rumah tangga, Smackdown, dan klenik,respon terbesar berasal dari kalangan ibu rumah tangga. Yang perlu dicatat adalah pada tahun 2006, meskipun program Dialog LKM berdasarkan rating mengalami pergeseran positif, dari program dengan rating tertinggi ke-3 bergeser menjadi tertinggi ke-2, namun AQH dan total komulatifnya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Artinya, jumlah pendengar Dialog LKM menurun jika dibandingkan dengan hasil riset AC Nielsen tahun 2005.
Tak dapat dipungkiri bahwa sistem rating yang diterapkan oleh AC Nielsen selama ini hanya mengangkat sisi kuantitas saja, sekedar mengetahui jumlah pendengar pada waktu tertentu atau program tertentu atau sekadar berapa lama orang mendengarkan atau mengetahui perpindahan pendengar sehingga pada prakteknya ada program yang perolehan pendengar dan iklannya banyak namun isinya tidak bermutu. Apakah perolehan jumlah pendengar yang banyak dari program Dialog LKM berbanding lurus dengan kualitas program itu sendiri? Jika dilihat dari sisi segmentasi pendengar, berdasarkan riset AC Nielsen di quarter ke-2 tahun 2006, pendengar terbanyak program Dialog LKM adalah laki-laki (69,35%), usia antara 20-24 tahun (40,32%), pekerjaan Others, yakni LSM, pensiunan, yg di luar pekerjaan rutin (38,71%), tamatan SLTA yang sedang kuliah (46,77%), dan SES C (41,94%). Apakah komposisi tersebut sudah ideal? “Berdasarkan segmentasi pendengar, perolehan Dialog LKM dianggap belum ideal dan belum sesuai dengan segmentasi pendengar yang menjadi target utama SS, yakni SES A atau memiliki strata ekonomi menengah ke atas (pendapatan > 3 juta) dan pekerja di level manajerial (white colour)”, terang Rudy. Meskipun begitu, Iman menekankan bahwa visi dan misi SS dan LKM sama, yakni pemberdayaan dan demokratisasi. “Di era informasi, Kita ingin mendidik masyarakat agar melek terhadap media. Istilahnya menjadi media literasi. Visi misi kita kan demokratisasi dan pemberdayaan. LKM kan juga gitu. Jadi kita sejalan.”