Archive for July, 2007

“Because We Want To Get Money Fast”

Monday, July 30th, 2007

“Because we want to get money fast”,cukup lancar wanita muda itu menjawab pertanyaan yang saya ajukan tentang mengapa dia berniat pergi ke Singapura sebagai pembantu rumah tangga, menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan aksen Jawa. Wanita itu, sebut saja Sri, berasal dari Blitar. Sudah 3 tahun dia bekerja di Singapura sebagai pembantu rumah tangga. Dia kembali ke tanah air untuk ganti agency sebab merasa tidak puas dengan agency yang lama akibat ketidakjelasan kontrak kerja. Setelah menjalani pelatihan selama beberapa bulan di sebuah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja yang berlokasi di Wedoro, Sidoarjo, rencananya Sri akan kembali ke Singapura. Keinginan memperoleh uang banyak dengan cara cepat membuatnya harus kembali mengadu nasib di Negeri Singa. Dapur di Blitar harus tetap mengepul.

Siang itu cukup panas. Beberapa calon TKI yang akan berangkat ke Singapura serta Hongkong tengah asyik mengikuti pelajaran bahasa Inggris di teras depan. Seluruhnya berambut cepak. Seorang calon TKI yang memakai topi terlihat tekun merajut. “Can you speak English?”, saya bertanya padanya. Tak disangka, dia mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar seperti bahasa Mandarin. “She can not speak English. Dia cuman bisa bahasa Canton,” terang Endang, seorang calon TKI berumur 30-an asal Kediri. Endang lulusan SMP dan sudah memiliki suami serta anak. Dia sedianya akan diberangkatkan ke Singapura, untuk yang pertama kalinya. Setelah 2 bulan berada di penampungan sementara di sebuah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang berada di daerah Wedoro, Sidoarjo, kemampuan bahasa Inggrisnya meningkat cukup pesat. Rata-rata para calon TKI yang akan diberangkatkan ke Singapura dan Hongkong harus menguasai bahasa Inggris, selain harus bisa memasak, mengurus rumah serta kebun, mengasuh bayi dan manula. Saat berkesempatan menyaksikan audisi calon TKI, ternyata mereka juga dituntut untuk bisa mengolah masakan yang berasal dari daging babi. Pertanyaan yang biasanya diajukan, “Do you eat pork?”, yang biasanya dijawab dengan “no”, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, “Can you handle pork?”, yang biasanya dijawab dengan “yes”. Bisa Anda bayangkan, para TKI ini sebagian besar beragama Islam tetapi demi menjadi pembantu rumah tangga di negeri orang, mau tidak mau mereka harus mengolah makanan yang berasal dari daging babi sebab orang Hongkong umumnya tidak mengkonsumsi daging selain daging babi. Tidak mungkin para TKI ini menjawab “no” saat diberi pertanyaan “can you handle pork”? Kesediaan dan kemampuan mengolah babi merupakan salah satu syarat mutlak lulus dari audisi calon TKI. Dalam audisi itu mereka disuruh memakai pakaian resmi ala pembantu rumah tangga di negara-negara maju lengkap dengan celemeknya. Rambut dipotong pendek mirip laki-laki, lalu disuruh menghadap ke sebuah handycam yang dipegang oleh seorang wanita muda berjilbab. Rupanya wanita berjilbab ini adalah perwakilan dari sebuah agency resmi yang khusus menyalurkan TKI ke Hongkong, dikelola oleh orang Hongkong.

Terbatasnya lapangan kerja dan banyaknya pengangguran, merupakan PR besar bagi bangsa ini. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk telah menimbulkan berbagai masalah, seperti kemiskinan, yang terjadi terutama di pedesaan. Iming-iming gaji besar jika bekerja di luar negeri membuat banyak penduduk desa berbondong-bondong mendaftar sebagai TKI. Secara nominal gaji yang mereka terima memang lebih besar dari gaji yang diterima jika bekerja di dalam negeri. Namun resiko serta beban yang mereka tanggung di negeri orang jauh lebih besar dari nominal yang mereka terima. Maraknya kasus penganiayaan, perkosaan serta bunuh diri membuktikan tingginya resiko yang harus mereka tanggung. Bahkan berdasarkan penelitian terbaru, angka perceraian di kalangan TKI sangat tinggi akibat banyaknya TKI yang melakukan perselingkuhan. “Teman saya yang kerja di Malaysia sempat stress sebab dia disuruh cerai oleh mertuanya. Istrinya telah berselingkuh sambil membawa semua uang kirimannya selama 6 tahun yang totalnya mencapai 6 milyar,” jelas Slamet, seorang karyawan pabrik di Sidoarjo. Dia sering sekali mendapat tawaran kerja di luar negeri. Baru-baru ini dia mendapat tawaran kerja di Qatar tapi setelah mendengar terjadi penipuan besar-besaran terhadap TKI di sana, dia membatalkan niatnya.
Soal kerugian yang sering diterima TKI, Vivi, seorang karyawan sebuah agensi TKI di Malang yang juga pernah menjadi TKI di Hongkong selama 4 tahun menuturkan bahwa para TKI rawan sekali terhadap perlakuan tidak manusiawi dari majikannya. Selama bekerja di Hongkong, Vivi sempat aktif di sebuah LSM yang melakukan advokasi terhadap para TKI. Di LSM tersebut dia bertindak sebagai penerjemah para TKI. “Tapi di Hongkong jumlah kasusnya kecil sebab hukum di sana benar-benar ditegakkan,” jelasnya. Penegakan hukum di Hongkong relatif lebih baik dibanding negara-negara lain yang menjadi tujuan para TKI.
Suka atau tidak suka, mereka adalah korban kemiskinan bangsa, yang hingga saat ini negara kita yang sudah merdeka selama 60 tahun lebih masih saja tidak mampu memberikan solusi konkret pada rakyatnya. Rupanya bangsa ini memang masih belum merdeka, dari kemiskinan dan kebodohan.

Peradaban Islam Pada Abad Ke-17 dan Ke-18

Monday, July 30th, 2007

Pendahuluan
Abad ke-17 dan ke-18 sering dipandang sebagai “abad kegelapan” sejarah Islam. Gambaran ini berpangkal pada perpecahan yang terjadi dalam pemerintahan kesultanan serta kemerosotan secara umum dunia Islam. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengetahuan mengenai sebagian dari pengalaman Islam. Karena abad ke-19 merupakan periode hilangnya kekuasaan Islam dan mereka berada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial barat.
Dalam tulisan yang singkat ini penulis akan mengkaji mengenai gambaran singkat disintegrasi tersebut sebagai salah satu faktor kemunduran/ kegelapan peradaban Islam pada abad ke-17 dan ke-18, disamping faktor-faktor lain yang sangat berkaitan dengan kemunduran itu.

Fakta Sejarah Umat Islam abad ke-17 dan ke-18
Setelah khilafah Abbasiyyah di Bagdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk, sebagaimana disebut, menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Kemudian muncul dan berkembang tiga kerajaan besar : Usmani di Turki, Mughol di India dan Syafawi di Persia. Kerajaan Usmani, disamping yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibandingkan dengan kerajaan lainnya.
Kerajaan Usmani mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Sulaiman Al-Qonani (1520 – 1566 M). Dan kerajaan masih tetap kuat pasca Sulaiman Al-Qonani, hal ini masih terbukti karena ekspansinya ke beberapa daerah di Eropa. Namun pada paruh pertama abad ke-17 M, satu persatu negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini melepaskan diri. Hal ini terjadi ketika Sultan Mustafa III digantikan oleh saudaranya, Sultan Abd Al-Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Dia membuka peluang disintegrasi terjadi dengan mengadakan perjanjian yang dinamakan “Perjanjian Kinarja” dengan Catherine II dari Rusia. Karena dalam perjanjian tersebut, kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang berada di laut Hitam kepada Rusia dan memberi ijin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan laut Hitam dengan laut Putih. Hal ini menggugah kesadaran negeri-negeri Eropa untuk melepaskan diri dari kekuasaan Turki Usmani.
Demikian juga di negeri-negeri Timur Tengah. Mereka mencoba untuk bangkit dan memberontak. Di Mesir, kelemahan-kelemahan kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit kembali di bawah kepemimpinan Ali Bey pada tahun 1770 M. Ia bisa berkuasa di Mesir sampai kemudian dihancurkan oleh Napoleon Bonaparte dari Perancis pada tahun 1798 M. Di Persia, kerajaan Syafawi ketika masih berjaya beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenangnya. Demikian pula di semenanjung Arabia, penguasa lokal Ibn Su’ud beraliansi dengan kekuatan gerakan yang dipimpin oleh Muhammad Ibn Abd Al-Wahhab. Mereka berhasil menguasai beberapa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paruh kedua abad ke-18 M.
Dengan demikian, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di kerajaan Usmani ketika ia sedang mengalami kemunduran bukan saja terjadi di daerah-daerah yang berpenduduk muslim, namun juga terjadi di daerah-daerah non muslim. Gerakan-gerakan ini terus berlanjut, bahkan lebih keras pada abad ke-19 dan ke-20 dan berakhir ketika terjadi perubahan haluan politik negara dari kekhilafahan ke arah negara modern yang berbentuk Republik Turki pada tahun 1924 M. Dan semenjak itu, Turki hanya menjadi negara kecil yang tidak memiliki arti di mata dunia barat.
Adapun kemunduran 2 kerajaan lain pada waktu itu yaitu Syafawi di Persia dan Mughol di India, penulis beranggapan bahwa proses kemundurannya hampir serupa dengan kerajaan Usmani di Turki.
Dan di saat umat Islam mengalami kemunduran, gerakan-gerakan pembaharuan di dunia barat muncul dengan cepat dan mampu membangkitkan dunia barat dalam hal ini adalah Eropa pada abad ke-17 tersebut. Gerakan Reinaissance mampu mendorong orang-orang Eropa untuk membangkitkan pemikiran baru yang bersifat rasional. Dari sinilah kemudian ilmu pengetahuan dan teknologi banyak ditemukan.
Sementara kaum muslimin masih terkungkung pada alam pikiran klasik. Mereka masih terbuai dengan romantisme kesufian yang sebenarnya sudah sangat bertentangan dengan tradisi Nabi yang murni. Pada saat itulah lahir tokoh-tokoh reformis yang hendak mengangkat kegelapan umat untuk menuju pada kondisi yang lebih bagus dalam konstelasi peradaban dunia.

Penutup
Dari uraian singkat di atas, maka bisa diambil suatu tali simpul bahwa peradaban Islam pada abad ke-17 dan ke-18 mengalami kemunduran dan abad itu para sarjana Islam menyebutnya sebagai peradaban Islam yang kelabu.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kelabunya peradaban Islam dalam kurun abad ke-17 dan ke-18 adalah sebagai berikut :
1.Melemahnya nilai moral penguasa-penguasa pada abad-abad tersebut. Kelemahan moral yang dimiliki penguasa membuat mereka berperilaku yang tidak bijak dan arif. Dan justru perilaku-perilaku yang menjadi pemicu hancurnya mereka terlalu sering mereka lakukan, seperti suap, nepotisme, ketidakadilan, dan lain-lain
2.Tidak adanya pemahaman penguasa-penguasa pada waktu itu terhadap pentingnya nilai persatuan di dunia Islam. Sehingga yang terjadi disintegrasi yang diakibatkan oleh rasa kesukuan yang masih tinggi dan ini menjadi signifikan ketika berkonfigurasi dengan konsep nasionalisme. Untuk itulah penulis setuju dengan konsep Pan Islamisme-nya Al-Afghaniy dengan catatan tanpa menggugah kecintaan lokal (nasionalisme).
3.Melemahnya pemikiran-pemikiran umat Islam terhadap ajaran purifikasi islam yang murni. Untuk itu penulis sangat respek terhadap reformis-reformis Islam yang muncul pada akhir abad ke-18. Mereka berusaha mengembalikan pemikiran Islam itu pada komunitas Islam awal dan program-program yang disusun adalah, dengan berbagai variasi, kembali kepada Islam sebagaimana yang didefinisikan melalui penafsiran literal terhadap Al-Qur’an dan hadits Nabi.
4.Hegemoni pemikiran dunia barat terhadap pemikiran yang Islami dimana pemikiran-pemikiran barat tersebut jelas-jelas bertentangan dengan pemikiran Islam, seperti : konsep liberalisme, sekulerisme, materialisme marxis, dan lain-lain.

Wa Allahu A’lamu.