Archive for September, 2007

RAMADHANIC RITUAL COMPLEX

Saturday, September 22nd, 2007

Bagi masyarakat Muslim Jawa, berpuasa dalam Ramadhan bukan sebuah ibadah semata, tapi lebih dari itu. Andre Moller, seorang pakar Antropologi menyatakan dalam buku Ramadhan in Java : The Joy and Jihad of Ritual Fasting (Department of History and Anthropology of Religions, Lud University, Sweden), bahwa ibadah puasa dalam masyarakat Jawa merupakan ‘ritual complex’, karena ia mengandung banyak ‘sub-ritual’. ‘Ramadhanic Ritual Complex’ itu sebagiannya mungkin tidak ada hubungannya dengan berrpuasa secara fisik, tetapi ia merupakan bagian dari selebrasi Ramadhan.
Ramadhanic Ritual Complex dalam masyarakat Muslim Jawa bermula sejak bulan Ruwah (Sya’ban). Dalam bulan ruwah (dari bahasa Arab, arwah) ini, berbagai ruwahan dilakukan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Ruwahan itu bisa berbentuk pengajian, slametan (dalam bahasa Arab, tasyakuran), saling mengirim makanan, ziarah ke kuburan (dalam bahasa Jawa, nyekar), dan lain-lain. Acara nishf Sya’ban juga semakin populer.
Sub-ritual yang disebut megengan merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan betapa mengakarnya Ramadhanic Ritual Complex dalam masyarakat Muslim Jawa. Sub-ritual ini masih banyak dilakukan, terutama di desa-desa. Di kota mungkin masih ada yang melakukan, namun jumlahnya sangat sedikit. Hal ini mungkin dikarenakan faktor pola interaksi masyarakat kota yang individual, yang kurang mendukung terselenggaranya sub-ritual megengan ini di tengah-tengah masyarakat kota.
Masyarakat Muslim Jawa menyelenggarakan megengan 1 hari menjelang Ramadhan. Pada sore hari biasanya mereka melakukan ziarah ke kuburan, sedang malam harinya menyelenggarakan slametan. Sub-ritual slametan ini diiringi dengan aktivitas membawa makanan yang dilakukan oleh tiap orang, dan uniknya, kue apem menjadi menu wajib. Mengapa harus kue apem? Konon kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab ‘afwan’ yang berarti ‘maaf’. Jadi, sub-ritual megengan ada kaitannya dengan sub-ritual saling memaafkan satu sama lain sebelum Ramadhan, yang disimbolkan dengan kue apem. Pemanjatan doa bersama yang dilakukan setelah makan bersama, merupakan sebuah aktivitas ibadah yang bertujuan memohon keselamatan dan kebahagiaan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala.

Wallohu’alam bishshawwab

Kartika Pemilia Lestari