Archive for October, 2007

FREE FOR BLOGGER…YES!

Tuesday, October 30th, 2007

Ada angin segar buat para Blogger (termasuk aku hihihi). Pak Muhammad Nuh mendukung tumbuh suburnya Blogger di tanah air. Asyik nich. Blogger kan bisa buat pencerahan juga:).

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/30/Sosok/3948035.htm
=========================

Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh membuat kejutan dengan
mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional.

“Ini hari bersejarah bagi blogger Indonesia,” kata Nuh dalam Pesta
Blogger 2007 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu
(27/10). Acara tersebut diikuti 500-an blogger dari seluruh Indonesia.

Nuh juga menjamin kebebasan menulis bagi blogger Indonesia. “Bukan
zamannya lagi ada pembredelan. Pemerintah menjamin kebebasan
berekspresi bagi para blogger,” tutur mantan Rektor Institut Teknologi
10 Nopember Surabaya itu.

Selain itu, katanya, setiap tahun akan diberikan semacam Blog Award
untuk blogger yang dianggap karyanya memberi pengaruh positif bagi
bangsa ini.

Nuh juga menantang para blogger menciptakan lagu bertema “Suara
Indonesia Baru”. Lagu itu akan menjadi “lagu kebangsaan” bagi blogger.

“Saya ingin pada 2008 nanti jumlah blogger Indonesia mencapai satu
juta,” ujarnya. Saat ini jumlah blogger Indonesia sekitar 130.000.

Ia amat berharap kaum muda mau mengisi blog mereka dengan kesadaran
untuk membangun bangsa Indonesia menjadi negara yang lebih baik. “Isi
blog dengan tulisan yang mencerahkan dan edukatif. Tulisan yang mampu
memberi semangat membangun bangsa dan rasa nasionalisme,” ucapnya
berharap. (KSP)

__._,_.___

Journey To The Past

Sunday, October 28th, 2007

Journey To The Past
By Aliyah (OST.Anastasia)

Heart, don’t full me now!
Courage, don’t desert me!
Don’t turn back now that we’re here
People always say
Life is full of choices
No one ever mentions fear!
Or how the world can seem so vast
On a journey….to the past
Somewhere down this road
I know someone’s waiting
Years of dreams just can’t be wrong!
Arms will open wide
I’ll be safe and wanted
Finally home where I belong
Well, starting now, I’m learning fast
On this journey to the past Home, Love, Family
There was once a time
I must have had them, too
Home, Love, Family,
I will never be complete
Until I find you….
One step at a time
One hope, then another
Who knows where this road may go
Back to who I was
On to find my future
Things my heart still needs to know
Yes, let this be a sign!
Let it lead be mine!
Let it lead me to my past
And bring me home…..
At last!

Alloh Ga Pernah Iang, Mata Kitalah yang Terpejam…

Thursday, October 25th, 2007

“Alloh ga pernah hilang, kitalah yang terpejam!!!”, kata Bang Jack sang penjaga musholla kepada Asrul, pria miskin yang saat itu mempertanyakan nasibnya yang senantiasa papa (sinetron Para Pencari Tuhan). Ya, Bang Jack benar. Alloh memang tidak pernah hilang, tapi mata kitalah yang terpejam. Bukan Alloh yang meninggalkan kita, tapi kitalah yang meninggalkan Alloh. Hal ini bisa dikorelasikan dengan prinsip : jika orang kaya beribadah dengan kedermawanannya, maka orang miskin beribadah dengan kesabarannya (Bang Jack, sinetron Para Pencari Tuhan). Semua manusia diberi kesempatan dan peluang untuk mendapat reward yang sama, kaya maupun miskin. Masing-masing sudah ada porsinya sendiri-sendiri. Tokoh lain : Pak Jalal, adalah orang kaya yang selalu dipandang iri oleh Asrul si papa dan Udin si hansip miskin. Mereka berdua selalu terbelit hutang dan uang yang baru saja mereka dapatkan juga biasanya langsung mereka pakai untuk menutupi hutang. Gali lubang tutup lubang. Hal ini merupakan realita keseharian masyarakat kita. Adapun Pak Jalal, meskipun sifatnya sangat menyebalkan (orang kaya yang somong dan sok) namun di sisi lain dia punya kesadaran untuk membagi hartanya kepada tetangga-tetangganya yang miskin. Kejahatan memang tidak pernah mutlak, namun kebaikan adalah mutlak, sesuai dengan sifat Alloh yang Maha Baik.

RAMADHANIC RITUAL COMPLEX

Thursday, October 25th, 2007

Bagi masyarakat Muslim Jawa, berpuasa dalam Ramadhan bukan sebuah ibadah semata, tapi lebih dari itu. Andre Moller, seorang pakar Antropologi menyatakan dalam buku Ramadhan in Java : The Joy and Jihad of Ritual Fasting (Department of History and Anthropology of Religions, Lud University, Sweden), bahwa ibadah puasa dalam masyarakat Jawa merupakan ‘ritual complex’, karena ia mengandung banyak ‘sub-ritual’. ‘Ramadhanic Ritual Complex’ itu sebagiannya mungkin tidak ada hubungannya dengan berrpuasa secara fisik, tetapi ia merupakan bagian dari selebrasi Ramadhan.
Ramadhanic Ritual Complex dalam masyarakat Muslim Jawa bermula sejak bulan Ruwah (Sya’ban). Dalam bulan ruwah (dari bahasa Arab, arwah) ini, berbagai ruwahan dilakukan untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Ruwahan itu bisa berbentuk pengajian, slametan (dalam bahasa Arab, tasyakuran), saling mengirim makanan, ziarah ke kuburan (dalam bahasa Jawa, nyekar), dan lain-lain. Acara nishf Sya’ban juga semakin populer.
Sub-ritual yang disebut megengan merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan betapa mengakarnya Ramadhanic Ritual Complex dalam masyarakat Muslim Jawa. Sub-ritual ini masih banyak dilakukan, terutama di desa-desa. Di kota mungkin masih ada yang melakukan, namun jumlahnya sangat sedikit. Hal ini mungkin dikarenakan faktor pola interaksi masyarakat kota yang individual, yang kurang mendukung terselenggaranya sub-ritual megengan ini di tengah-tengah masyarakat kota.
Masyarakat Muslim Jawa menyelenggarakan megengan 1 hari menjelang Ramadhan. Pada sore hari biasanya mereka melakukan ziarah ke kuburan, sedang malam harinya menyelenggarakan slametan. Sub-ritual slametan ini diiringi dengan aktivitas membawa makanan yang dilakukan oleh tiap orang, dan uniknya, kue apem menjadi menu wajib. Mengapa harus kue apem? Konon kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab ‘afwan’ yang berarti ‘maaf’. Jadi, sub-ritual megengan ada kaitannya dengan sub-ritual saling memaafkan satu sama lain sebelum Ramadhan, yang disimbolkan dengan kue apem. Pemanjatan doa bersama yang dilakukan setelah makan bersama, merupakan sebuah aktivitas ibadah yang bertujuan memohon keselamatan dan kebahagiaan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala.

Walloohu’alam bishshawwb

Kartika Pemilia Lestari

EID Al-FITRI RITUAL COMPLEX

Thursday, October 25th, 2007

Berbeda dengan perayaan Idul Fitri di belahan dunia lain, sub ritual mudik menjadi semacam ‘aksioma’ yang selalu hadir di setiap perayaan Idul Fitri di negara kita, bahwa ‘mudik adalah ritual wajib’, sehingga tidak berlebihan jika Idul Fitri dikatakan sebagai puncak kehidupan sosial-keagamaan kaum Muslim Indonesia. Sub-ritual mudik telah menyebabkan terjadinya perputaran arus uang dan barang dari kota ke desa. Umumnya, hampir seluruh pemudik yang pulang ke daerah asalnya membawa uang & barang (baca : oleh-oleh) untuk dibagikan pada kerabat dan handai taulan di kampung halaman. Bagi-bagi uang & barang saat perayaan Idul Fitri ini bagian dari ‘Idul Fitri Ritual Complex’, yang meskipun bersumber dari tradisi Islam dan Muslim lokal, yang sama sekali tidak bisa dilepaskan dari ‘tradisi besar’ Islam. Maksudnya begini, bagi-bagi uang saat perayaan Idul Fitri memang sangat menampakkan kelokalan Indonesia, namun sub-ritual ini erat kaitannya dengan memberi sedekah kepada orang lain. Sedekah merupakan salah satu ibadah yang sesuai dengan ajaran Islam. Jadi dalam hal ini bisa dikatakan bahwa sub-ritual bagi-bagi uang masih ada kaitannya dengan ‘tradisi besar’ (baca : ajaran) Islam.

Perputaran uang & barang, sub-ritual mudik juga bisa dilihat dari terbukanya peluang usaha bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan jalur-jalur utama para pemudik, misalnya jalur Pantura (pantai utara Jawa). Di sepanjang jalur Pantura banyak terdapat pedagang yang menjajakan dagangannya, yang dalam suasana mudik, kesemuanya bisa jadi merupakan barang kebutuhan primer para pemudik, mulai dari makanan & minuman sampai tas dan mainan. Dan yang membeli barang dagangan mereka umumnya adalah masyarakat kota (baca : urban) yang tengah melakukan sub-ritual mudik. Dari situ masyarakat yang tinggal di sekitar jalur mudik mendapatkan omset yang cukup besar dari usaha dagangnya. Ini artinya terjadi perputaran arus uang & barang dari kota ke desa.

Dan tidak kalah pentingnya dari sekedar pergerakan manusia terbesar dari kota ke desa serta pemerataan sosial-ekonomi, mudik juga merefleksikan ‘perjalanan anak manusia Muslim Indonesia untuk kembali ke akar eksistensial mereka’. Setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu, dan malamnya sibuk beribadah, akhirnya tibalah merayakan hari raya Idul Firi, kita kembali menjadi fitroh seperti saat dilahirkan.

Walloohu’alam bishshawwab

Kartika Pemilia Lestari

Sedikit Tentang Membaca:-)

Saturday, October 13th, 2007

“Kaizen” adalah suatu metode yang sangat dipegang teguh di Jepang. Kaizen artinya adalah proses penyempurnaan secara terus menerus yang tiada henti. Kaizen inilah yang telah mengubah wajah Jepang menjadi sebuah bangsa yang memiliki suatu peradaban yang sangat maju saat ini, serta memiliki teknologi yang bahkan bisa mengalahkan “Barat”. Penguasaan mereka dalam bidang perdagangan dunia, telah menempatkan bangsa Jepang menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan dalam percaturan dunia. Kaizen tidak akan pernah berjalan tanpa dilandasi oleh dorongan untuk berfikir dan belajar secara terus-menerus atau secara disiplin menuju ke arah kesempurnaan. Inilah rahasia keberhasilan mereka. Allah SWT, sesungguhnya mendorong manusia untuk melakukan hal ini. “Restorasi Meiji” di Jepang adalah suatu langkah monumental untuk memperbaiki kondisi ekonomi, teknologi dan budaya bangsa Jepang. Ini merupakan suatu loncatan besar bangsa Jepang untuk suatu kemajuan di segala bidang. Pada masa sebelum restorasi ini dilakukan, Jepang adalah sebuah kekaisaran yang sangat tertutup. Kemudian ketika Restorasi Meiji dilakukan, mereka membubarkan sistem kasta, dimana saat itu kaum Samurai-lah yang memegang kendali bangsa Jepang. Namun sifat-sifat kaum Samurai yang baik tetap terpelihara dan bahkan dijadikan sikap teladan yang disebarkan ke seluruh rakyat Jepang seperti: sikap pantang menyerah; menjunjung tinggi kehormatan dan kepribadian; sopan-santun; ta’at kepada atasan dan selalu hemat. Saat itu, untuk mengejar ketertinggalannya, kaum muda Jepang dikirim oleh pemerintahnya ke berbagai negara di kawasan Eropa dan Amerika secara besar-besaran, dengan tujuan untuk belajar. Semua buku-buku barat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang sehingga memudahkan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dunia barat. Hingga saat inipun, hampir semua buku tentang ilmu pengetahuan barat telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Buku-buku di sana dijual dengan harga sangat murah. Dorongan ini telah membuat bangsa Jepang memiliki kebiasaan gemar membaca. Hal itu bisa dilihat dimana-mana di Jepang, baik di kereta api, di dalam bus kota, di stasiun-stasiun, atau dimana saja, hampir semua membaca. Setelah semua ilmu pengetahuan telah mereka serap dan mereka kuasai, maka mereka menyempurnakannya lagi. Contoh: Produksi mobil di Amerika Serikat seperti Chrysler, Ford, atau Chevrolet umumnya berbentuk besar, berat dan boros bahan bakar. Oleh bangsa Jepang hal ini dibaca, dicermati, dievaluasi dan pada akhirnya disempurnakan. Kemudian lahirlah industri mobil Jepang yang memproduksi mobil ringan, murah dan hemat bahan bakar seperti merek Honda, Toyota dan Suzuki. Inilah contoh nyata dari suatu kebiasaan membaca, kebiasaan berfikir, dan kebiasaan mengevaluasi dan menyempurnakan. “Allah meninggikan derajat bagi kaum yang senantiasa berfikir”. Dengan melihat hal demikian yang sangat positif bagi bangsa Jepang, ada baiknya kita mencontoh hal tersebut dengan membiasakan diri kita untuk selalu membaca buku-buku yang bernilai positif dan bermanfaat. Dan untuk lebih merealisasikan hal itu, kiranya kita perlu suatu tempat yang bernama perpustakaan umum atau perpustakaan pribadi untuk melatih diri kita agar mau membaca demi mencapai derajat yang tinggi seperti yang telah Allah SWT, janjikan kepada kita. Semoga Allah swt, memberkahi kita dengan hati yang lembut oleh ilmu pengetahuan. Katakanlah: “Samakah orang yang berilmu dan orang yang tiada berilmu…?” (Q.S. Az-Zumar, ayat 9).