Archive for March, 2008

AYAT-AYAT CINTA MENAKLUKKAN ASIA TENGGARA (Disiapkan versi Extended-nya)

Wednesday, March 26th, 2008

Dapet dari milis nich. Pak Satrio Arismunandar nulis gini :

AYAT-AYAT CINTA MENAKLUKKAN ASIA TENGGARA (Disiapkan versi Extended-nya)

Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) kini sudah diputar di bioskop-bioskop Asia Tenggara. Hari Senin, 24 Maret 2008, film ini mulai tayang serentak di sejumlah negara Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain). Antusiasme penonton benar-benar luar biasa.

Bahkan di Malaysia, tiga hari pemutaran film AAC ini sudah menyedot sebanyak 1,5 juta penonton. Tampaknya tidak berlebihan, jika mengatakan, AAC kemungkinan besar akan menaklukan bioskop-bioskop di Asia Tenggara, khususnya di negara yang memiliki komunitas Muslim atau Melayu.

Banyak warga dari luar negeri yang menyukainya. Contohnya, di bioskop Batam (yang berbatasan dengan Singapura). Di sana ratusan warga Singapura rela antri buat nonton film AAC. Bahkan ada puluhan warga Singapura yang –karena kehabisan tiket—besoknya rela menginep di hotel Batam, sekadar supaya tidak kehabisan tiket lagi.

Lain lagi dengan warga Malaysia, yang memilih berdatangan ke Jakarta untuk nonton. Beberapa dari mereka ada yang menginap di Indonesia (karena ada yang punya sanak saudara di sini). Sejumlah warga Malaysia ada yang sempat protes dan marah besar, karena Fedi Nuril dipilih menjadi pemeran Fahri. Pasalnya Fedi dituding pernah berciuman dengan lawan mainnya, di film terdahulunya, sebelum bermain di AAC. Banyak warga Malaysia belum bisa menerima hal itu.

Dalam perkembangan lain, banyak kalangan perfilman luar negeri (dari Singapura, Malaysia, Inggris, Belanda, Kanada, Jerman, India, Thailand, Brunai Darussalam, Taiwan, Hong Kong, Jepang, Korea, dan banyak lagi; pokoknya mayoritas dari Asia) yang datang ke Indonesia. Mereka ingin membeli hak siar AAC di negara mereka. Pihak MD Entertainment yang membuat AAC sampai kewalahan.

Untuk di Indonesia saja, MD Entertainment sudah nekad habis-habisan membikin pita film sebanyak 100 copy. Padahal untuk film lain, MD rata-rata hanya membuat 24 copy. Bahkan untuk film terlaris sebelum munculnya AAC, hanya dibuatkan 28 copy.  Maka, ini menjadi sejadi sejarah baru buat perfilman Indonesia.

Selain membeli hak siar film, para utusan dari Asia, Inggris, Belanda, Kanada, dan Jerman, juga membeli hak versi terjemahan atas novel AAC, untuk dialih bahasakan ke dalam bahasa mereka (AAC versi Malaysia sudah ada). Sampai saat ini, Habiburrahman El-Shirazy atau  Kang Abik, pengarang novel AAC, kabarnya sudah mendapatkan royalti sebanyak Rp 1,9 miliar. Tapi dia tetap hidup sederhana dan tidak membeli mobil baru. Malah uangnya dipakai buat membangun pesantren.

Dikabarkan, pihak MD Entertainment juga sudah membeli hak cipta novel ini buat dibikin versi layar lebar. Proses produksi film AAC menelan dana sekitar Rp 8 miliar. Dan setelah filmnya disiarkan, bukan hanya modal itu kembali, tapi MD Entertainment sudah meraih untung Rp 24 miliar. Sebuah rekor besar!

Manooj Punjabi rencananya bakal membikin AAC versi extended (yang diperpanjang). Katanya, dia bakal menghapus kekecewaan para pembaca novel AAC terhadap filmnya. Banyak yang bakal diubah dan ditambah di AAC versi extended nanti. Kemungkinan, isi cerita bakal disamakan dengan versi novelnya dan lebih mendalam.

Film AAC jelas bukan film sempurna dan punya banyak kelemahan. Kalau AAC mau disebut film dakwah, sejumlah kalangan Islam beranggapan, ada gambaran tentang ajaran Islam yang tidak akurat dan tidak pas di film tersebut. Maka mereka mengritik keras film AAC ini, yang dianggap jauh dari versi novelnya.

Namun, bagi sejumlah kalangan Islam lain, demam film AAC juga ada manfaat konkretnya. Misalnya, peningkatan budaya membaca, karena para penonton AAC yang belum sempat membaca novelnya jadi penasaran untuk membaca. Banyak siswa sekolah yang kini pergi ke mana-mana menenteng novel AAC. Selain itu, banyak gadis Muslimah, yang semula tidak memakai jilbab, kemudian  terinspirasi dan memilih berjilbab, setelah membaca novelnya dan menonton film AAC. Film memang termasuk media yang memberi pengaruh kuat. ***

(Notes: berbagai data, khususnya tentang peredaran film AAC di Asia Tenggara, saya kutip dari Sdr. Dhafy di: http://ruangfilm.com/?q=image/ayat_ayat_cinta. Bisa dibilang, tulisan ini merupakan rangkuman selektif dari berbagai pernyataan, yang muncul dalam ruang diskusi bebas tertulis di situ. Tetapi, bahasanya saya rapikan dan saya edit ulang. Juga, item-item yang terlalu bersifat personal dan tidak relevan, saya sisihkan. Maka, jadilah tulisan seperti di atas).

News Undercover

Monday, March 24th, 2008

hebat nih…gak diliput & jadi berita TV kan….?

1 Maret 2008, Tragedi Pembantaian Palestina Paling Berdarah Sejak 1967

Minggu, 2 Mar 08 17:45 WIB

Akademisi sekaligus dosen sejarah Palestina menyebutkan bahwa jumlah
korban keganasan Israel pada hari Sabtu kemarin, adalah pertama kalinya
yang paling keji sepanjang usia Palestina.

Pembantaian yang terjadi awal Maret 2008, adalah tragedi kekejaman yang
belum pernah ada sebelumnya di Palestina, akibat aksi gila tentara
penjajah Israel.

Dalam satu hari, lebih dari 60 orang gugur akibat serangan Zionis.
Itulah yang dimaksud jumlah paling tinggi menelan korban di Ghaza dan
Tepi Barat, terhitung sejak Israel mencaplok Palestina di tahun 1967.

Dr. Sami Abu Zuhri, Dosen Sejarah di Jamiah Islamiyah Ghaza mengatakan
kepada Palestine Information Center, "Memang ada puluhan orang yang
gugur dalam satu hari di sejumlah kasus, terutama saat meletusnya
intifadhah pertama dan kedua. Tapi jumlah korban yang meninggal pada
hari ini, yakni minimal 60 orang, adalah jumlah yang paling tinggi
sepanjang sejarah Israel menjajah Palestina tahun 1967."

Ia menambahkan, "Sebagaimana sebelumnya juga terjadi pembantaian kejam
Israel, di mana dua hari lalu, gugur 37 orang Palestina akibat hujan
bom yang jatuh berturut-turut di Ghaza. Itulah yang dikatakan oleh
Wakil Menteri Perang Zionis Israel, bahwa mereka melakukan aksi
pembakaran dan pembantaian massal di Ghaza."

Menurut Abu Zuhri, yang juga juru bicara Hamas, dari total korban
meninggal akibat serangan Zionis itu, 25% nya adalah anak-anak dan kaum
wanita. Di sisi lain, Israel sengaja mengarahkan serangannya ke
berbagai keluarga secara keseluruhan, seperti keluarga Athallah yang
rumahnya dihancurkan, termasuk di sana orang tuanya yang sudah renta,
isterinya, dan sejumlah anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Israel
juga membunuh bayi yang masih menyusui. (na-str/pic)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/int/8302095036-1-maret-2008-tragedi-pembantaian-palestina-paling-berdarah-sejak-1967.htm

Lembaga HAM: Muslim Gaza Sekarat, ke Mana Kalian Wahai Kaum Muslimin?!

Minggu, 2 Mar 08 06:48 WIB

Zionis-Israel harus diseret ke pengadilan HAM Internasional atas
kebiadabannya membunuh ratusan warga Gaza hanya dalam waktu dua bulan.
Sejak Rabu (27/2) hingga Sabtu (1/3), dalam waktu tiga hari saja
tentara-tentara Zionis Israel telah membantai sekurangnya 69 warga
sipil Palestina termasuk bayi berusia lima bulan, anak-anak kecil, dan
kaum perempuan.

Lembaga HAM Al-Haq yang banyak menyoroti kebiadaban Israel di Tanah
Palestina menyatakan Dunia Islam harus sesegera mungkin mengambil
langkah-langkah nyata dalam membantu saudara-saudaranya yang kini
sedang dalam keadaan sangat tertekan, sangat ketakutan, sangat
kelaparan, dan hidup di dalam neraka buatan Zionis.

"Israel jelas merupakan penjajah atas Tanah milik Bangsa Palestina.
Setiap orang Palestina berhak memperjuangkan kemerdekaannya dan
membebaskan negerinya dari penjajahan. Ini sesuai dengan hukum
internasional!" tegas Lembaga HAM Al-Haq dalam rilisnya.

Selain itu, al-Haq juga menyerukan, "Saat saudara-saudara seimannya di
Palestina, terutama di Jalur Gaza, sedang dalam neraka buatan
musuh-musuh Allah, ke mana wahai kalian kaum Muslimin! Di mana engkau
kaum Muslimin! Apakah kalian tidak tergerak sedikitpun untuk membantu
saudara-saudara kalian di Gaza. Kondisi rakyat Palestina sudah
sedemikian menyedihkan, masihkah kalian sibuk dengan urusan
dunia?!"(rizki)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/int/8302064405-lembaga-ham-muslim-gaza-sekarat-ke-mana-kalian-wahai-kaum-muslimin.htm?prev

Mengapa Kalian Bunuh Bayi Kami yang Tengah Tertidur Lelap?

Sabtu, 1 Mar 08 06:19 WIB

Muhammad Nasser Al-Bur’i, bayi Palestina yang berumur lima bulan,
tengah tertidur lelap di atas ranjang lusuh di dalam kamarnya.
Ibundanya, Umi Nasser, baru saja keluar kamar untuk satu keperluan.
Tiba-tiba bumi bergetar. Atap di atas kamar sebagian ambruk. Sebuah
misil yang dijatuhkan pesawat tempur Zionis-Israel meledak tak jauh
dari kamar tersebut.

Debu memenuhi kamar yang pengap itu. Bayi berusia lima bulan itu tidak
bisa bernafas. Bibir mungilnya belum mampu berkata apa-apa. Nafasnya
sesak. Lehernya tercekat udara kamar yang dipenuhi debu. Beberapa
reruntuhan atap kamar menimpanya. Penderitaan bayi merah tersebut tidak
berlangsung lama. Allah SWT segera memanggilnya untuk kembali ke
pangkuan-Nya.

Muhammad Nasser al-Bur’i hanyalah seorang bayi yang baru berusia lima
bulan. Dia tengah tertidur pulas di atas ranjanganya. Ummi Nasser yang
segera berlari kek kamar begitu rumahnya bergetar hebat mendapati
bayinya telah tiada. Dia segera memeluk bayinya yang masih hangat.
Diciumnya berulang-ulang pipi anaknya yang kini telah tiada. "Ya Allah,
apa dosa bayi kami sehingga harus menemui kematian? Apa dosa bayi kami
sehingga Zionis-Israel perlu membunuhnya. Jangankan mengangkat batu,
berbicara pun dia belum bisa.."

Muhammad Nasser hanyalah satu dari ribuan bayi dan bocah-bocah kecil
Palestina yang menjadi korban dari kebiadaban pasukan Zionis-israel.
Beberapa tahun lalu, bayi Muhammad Imad ditembak sniper Israel tepat di
jantungnya. Lalu ada juga seorang anak usia tujuh tahun yang ditangkap
tentara Zionis dan dipatahkan tangannya. Apakah kita akan berdiam diri
saja? (rizki/MNA)

Source : http://www.eramuslim.com/berita/int/8301061643-mengapa-kalian-bunuh-bayi-kami-tengah-tertidur-lelap.htm

Ayat-Ayat Cinta : Dari Novel ke Film

Sunday, March 16th, 2008

Dimuat di majalah Al-Mu’tashim edisi Maret 2008


Sebuah
karya atau hasil pemikiran akan selalu menuai pro dan kontra, sebagai akibat
dari perbedaan cara pandang, pola pikir, kedalaman ilmu, wawasan, dan
lain-lain. Hal ini pun terjadi pada film Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang
diadaptasi dari novel dengan judul sama karangan Habiburrahman El-Shirazy.
Imajinasi pembaca setia novelnya berbeda dengan imajinasi hasil interpretasi
dan kompromi antara sutradara dan penulis novelnya. Bagi Kang Abik-panggilan
akrab Habiburrahman El-Shirazy- sendiri, film merupakan salah satu cara untuk
menjadikan ‘movier’ menjadi ‘reader’, menyambangi orang-orang
yang malas membaca. Lalu bagaimana tanggapan Kang Abik sendiri soal kritikan
dari para pembaca setianya atas film yang rilis per 28 Februari 2008 ini? “Yang
penting tujuan utama antara saya sebagai pengarang dengan sutradara sama, yakni
khusnul khotimah-nya Maria. Ending film yang tercipta sama dengan
ending novelnya,” jawab Kang Abik atas sejumlah pertanyaan sama yang
diajukan saat beliau menjadi pembicara dalam acara “Bedah Film Ayat-Ayat Cinta”
di Gedung C FISIP UNAIR, 29 Februari 2008. Tentang skeptisnya sang sutradara
atas kesempurnaan tokoh Fahri dan Aisha sehingga harus merubah karakternya,
Kang Abik mengatakan bahwa hal itu disebabkan karena masyarakat tidak pernah
disuguhi karakter tokoh yang sempurna meskipun tokoh semacam ini menurut Kang
Abik sebenarnya ada dan  hendaknya menjadi
teladan serta motivator orang untuk berprestasi.

Dengan
kondisi seperti ini maka para pekerja seni-termasuk penulis dan sineas-terkesan
takut dan skeptis untuk menciptakan tokoh sempurna seperti Fahri dalam
karya-karya mereka. Hanung Bramantyo seperti dilansir dari blog-nya di http://dearestmask.blogs.friendster.com/my_blog/2007/08/ayatayat_cinta.html,
mengungkapkan bahwa bahwa dia tidak bisa tidak “membelokkan” karakter Fahri
dan Aisha menjadi lebih “manusiawi”. Fahri jadi peragu, rapuh, bisa meledak,
tidak selalu beruntung. Tokoh Aisha jadi pecemburu, suka bertindak sepihak,
bahkan membantah suaminya. “Bagi saya, religius adalah ketika manusia berada
dalam kesadaran penuh atas ketidaksempurnaannya. Ketidaksempurnaan itu membuat
manusia merasa dirinya tolol, merunduk, bersujud dan … bertawakal,” tulis Hanung.
Dan tidak bisa tidak, beberapa fans AAC versi cetak menganggap Hanung terlalu
bebas mengadaptasi novel best seller ini.
Dan peran produser
sebagai penyandang dana juga menjadi penentu film ini.
Film AAC dibintangi
artis-artis seperti Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Zaskia Adya Mecca, Carissa
Putri, Melanie Putri, dan lain-lain.

 

Diwawancari secara terpisah dalam sebuah
bincang-bincang santai di toko buku & café MagnetZone Jl. BKR
Pelajar No.30, pada 1 Maret 2008, Kang Abik menandaskan bahwa sebuah film
adaptasi dikatakan berhasil ketika antara imajinasi pengarang dan sutradara
tidak menyimpang terlalu jauh. “Menurut saya, Godfather adalah contoh film
adaptasi yang paling berhasil. Adegan pembukaan dalam film dan lain-lainnya dengan
yang ada dalam kepala saya sebagai pembaca nyaris sama,” tuturnya lugas.

Namun
banyaknya pro dan kontra film AAC tidak lantas membuat Kang Abik
menyesalii niat awalnya mengizinkan novelnya yang hampir empat tahun sejak
pertama terbit terus dicetak ulang, untuk diangkat ke layar lebar. “Motivasi
saya memfilmkan Ayat-Ayat Cinta adalah karena banyaknya permintaan
pembaca, selain tentu menjadi pembelajaran bagi penulis, sineas serta
masyarakat, dan yang tidak kalah penting adalah agar orang-orang yang suka
nonton film tapi ga suka baca menjadi penasaran sama novelnya dan akhirnya
membaca novelnya,” tandas Kang Abik. Dengan biaya produksi mencapai 10 miliar
(memecahkan rekor film

Indonesia

termahal), AAC menjadi tontonan alternatif bermutu karena sarat pesan
moral.

Berkaca
dari mandegnya proses produksi film bergenre serupa, Ketika Mas Gagah Pergi,
akibat kelangkaan dana, Kang Abik bersyukur karena seandainya dana 10 miliar
itu digunakan untuk empat atau

lima

film ga genah macam Buruan Cium Gue, maka akan banyak mudharatnya
dibanding manfaatnya. Dilihat dari
kualitas dakwah yang ingin disampaikan, Film AAC memang merupakan kemunduran
dibandingkan novelnya. Namun dari segi kuantitas, Kang Abik optimis filmnya
akan menjangkau khalayak yang lebih luas. Tetap religius, tapi inklusif. Penulis
yang telah menyelesaikan Post Graduate Diploma (Pg.D) S2 di The
Institute for Islamic Studies in Cairo
ini menandaskan bahwa bagaimana pun
juga kita harus berterima kasih pada pihak-pihak yang membantu terwujudnya film
AAC apa pun hasilnya, sebab barangsiapa yang tidak pandai berterima kasih
kepada manusia, maka dia tidak pandai bersyukur kepada Tuhan-nya.

*************************

 

Mari
kita bicara sedikit tentang film hasil adaptasi dari novel. Mengapa orang
memfilmkan sebuah novel? Pertama, karena novelnya sudah sedemikian terkenalnya
sehingga ada desakan dari para penggemar atau apresiatornya untuk menjadikannya
dalam bentuk film. Yang kedua, ide cerita yang menarik, apalagi deskripsi dari
penulisnya yang filmis. Terakhir, tentu saja soal pasar yang menguntungkan.

Karya-karya
klasik yang legendaris umumnya diadaptasi. Misalnya karya-karya William
Shakespeare macam Othello (oleh Oliver Parker, 1995), A Midsummer
Night’s Dream
(Adrian Noble, 1995), Twelfth Night (Trevor Nunn,
1995), Looking for Richard (Al Pacino, 1994), Romeo & Juliet (Baz
Luhrmann, 1996), dan Hamlet (Kenneth Branagh, 1996). Itu baru tahun
1990-an, belum tahun sebelum dan setelahnya. Lainnya, ada novel Sense and
Sensibility
(Ang Lee, 1995).

Ada

beberapa adaptasi yang berhasil difilmkan
dengan amat baik. Trilogi The Lord of the Rings dan Godfather 1
dan 2 misalnya. Namun, tidak sedikit yang menyatakan kekecewaannya dengan hasil
adaptasi itu. Ernest Hemingway, sering dikutip orang sebagai sastrawan yang
sering kecewa jika novel-novelnya difilmkan atau diangkat ke layar putih. Malah
pemenang hadiah Nobel ini bersedia membayar biaya yang dikeluarkan produser
film, asalkan salah satu film hasil adaptasi dari novelnya tidak diedarkan.
Penulis novel

Indonesia

yang kecewa adalah Motinggo Busye, sehingga ia terdorong untuk terjun ke dunia
film. Begitu juga dengan YB.Mangunwijaya yang merasa kecewa dengan film Roro
Mendut
garapan sutradara Ami Priyono.

Hadirnya kekecewaan ini diakibatkan
ketidakpuasan antara film yang ditonton dengan cakrawala harapan yang hadir
pada pembaca, demikian dalam catatan Firman Venayaksa. Habiburrahman El-Shirazy
sebagai penulis yang novelnya diadaptasi ke dalam film suatu saat ingin membuat
film sendiri, sehingga bisa dengan bebas mengapresiasi karyanya, sesuai dengan ruh
dan imajinasi dalam novel, bahkan melakukan transkripsi secara harfiah dan
setia terhadap materi sumber, seperti yang dilakukan oleh Rainer Werner Fassbinder
dalam filmnya yang berjudul Berlin
Alexanderplatz
. Dia mencintai buku itu sejak dia berumur 15 tahun,
membuatnya menjadi sangat personal. Fassbinder sangat setia pada bukunya hingga
perparagraf sehingga terciptalah film dengan durasi 15 jam 21 menit yang dipuji
banyak kritikus. Model pendekatan yang dilakukan Fassbider ini disebut Faithful, artinya mencoba untuk
menciptakan kembali sama seperti sumber literaturnya dalam bahasa film. Andre
Bazin, seorang krikus film yang besar di masa French New Wave, menganalogikannya sebagai seperti
seorang penerjemah buku yang mencari padanan kata.