Archive for June, 2008

NDESO

Sunday, June 29th, 2008

Dari milis tetangga, menarik untuk disimak dan direnungkan….

NDESO"
oleh : Ika S. Creech *)

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang
yang norak, kampungan, udik, shock culture,
countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami
atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat
mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat
senang, sehingga ingin terus menikmati dan
tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih
dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia
atau hanya segelintir orang yang baru merasakan
dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif,
memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain
untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum
sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain
juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk
menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian,
tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar
dari sejarah, pengalaman orang lain, serta
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang
norak, kampungan alias ndeso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda,
tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun
ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara
pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah
apartemen yang sederhana. Ketika beberapa
pengusaha ingin memberi pinjaman kepada
pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat
Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut
bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan
umum, sementara pejabat Indonesia yang akan
dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan
yaitu Mercedes Benz.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat
sebuah acara dari jarak yang sangat dekat,
yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka
pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah
untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda
penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak
jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan
restoran Thailand. Dia seorang warga negara
Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan
Docktor, sekarang sedang mengikuti program
Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang
kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan
fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan.
Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari
perguruan tingginya.

Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat
orang menggunakan HP Nokia Communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah
saya baca koran, ternyata konsumen terbesar
HP Nokia Communicator adalah Indonesia.
Sempat berkenalan juga dengan seseorang yang
berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi negara,
juga naik kereta. Yang tak kalah serunya
saya juga jadi pengamat berbagai jenis
sepatu yang di pakai masyarakat Jepang
ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso
siapa ya?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang
baik di jepang atau di Australia, baik dari
penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan
seseorang kalau sudah mengetahui riwayat
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan.
Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak
ke Pondok Indah bisa pingsan melihat
rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata
rumah di Jepang memiliki tinggi plafon
yang bisa digapai dengan tangan hanya
dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun
banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak
membuat istana negara dan benteng pertahanan
(khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk
perang ahzab saja), padahal Rasulullah
sudah sangat mengenal kemewahan istana
raja-raja negara sekelilingnya, karena
beliau punya pengalaman berdagang. Lalu
dimana aktivitas kenegaraan dilakukan?
Jawabannya di Masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk
bisa membangun istana. Di Mekkah menikah
dengan janda kaya, di Madinah menjadi kepala
negara, mempunyai hak prerogatif dalam
mengatur harta rampasan perang dan ada
jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak
beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi
mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal
perut dengan batu, puasa sunnah niatnya
siang hari, shalat sambil duduk menahan
perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang
sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai
ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak
yang antri beras, minyak tanah, minyak
goreng dll. Maka harga diri kita tidak
bisa diangkat dengan medali emas turnamen
olah raga, sewa pemain asing, banyak
perayaan yang gonta-ganti baju seragam,
baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar,
dll, dsb, dst…..

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo
hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada
lagi, tidak ada pengamen dan pengemis,
tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah,
korupsi berkurang, pendidikan terjangkau,
sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar
terhadap kekuatan global, serta geopolitik
dan geostrategi yang disegani. Maka orang
Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi
krisis karena tidak bisa menjadikan krisis
sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan
APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang
norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai
adalah negara normal atau bahkan mengikut
negara maju. Bayangkan ada daerah yang
menganggarkan dana untuk sepak bola 17
milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan
rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah
yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai
untuk beli TV dan kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang,
Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil
goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di
ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah
rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering
keluar masuk McDonald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat
tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu
untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan
kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya
dansa-dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong
bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang
dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa
buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa
menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang
juga digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita
tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren.

Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini
bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja
sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis

APALOGI

Sunday, June 29th, 2008

“Buku apa yang terakhir kau baca?”. Pertanyaan yang gampang-gampang sulit. Aku sudah lama tidak baca buku, jadi tidak ingat lagi. Sekarang ini lebih banyak membaca artikel atau makalah. Konsumsi buku tidak sebanyak dulu. Dulu kapan? Nah, itu juga sulit untuk dijawab. Dulu itu bisa berarti masa-masa ketika masih kuliah atau masa-masa pasca kuliah atau masa-masa sebelum menikah. Ada seorang senior yang sudah menikah bilang ke aku kalau sejak dia menikah dia sudah tidak punya terlalu banyak waktu untuk melahap buku-buku. Terlalu klise atau apologi kali ya? Mungkin hanya faktor kurang tekad saja. Bu Sirikit Syah yang pakar media itu masih rajin melahap banyak buku meskipun sudah punya anak dan umurnya mendekati kepala 5. Beliau bahkan masih riwa-riwi keluar kota dan keluar negeri menghadiri undangan seminar dan sempat bekerja di sebuah media cetak internasional. Analisa-analisa dan komentar cerdasnya (serta pedas:p) masih sering nongol di milis jurnalisme. Ibaratnya, beliau tuh ga ada matinye!

Sering sekali kita menggunakan apologi sebagai legitimasi akan ketidakmampuan kita dalam hal apa pun. Yang paling sering digunakan sebagai apologi adalah ketiadaan waktu. Padahal kalau untun melakukan hal yang kurang berguna seperti nonton sinetron dan infotainment kita selalu punya waktu. Hayooooo…..
Tapi kalau untuk baca buku selalu saja tidak ada waktu.Hal iIni juga terkait dengan culture juga kali ya. Membaca masih dianggap kegiatan yang terlalu berat (bahkan buang-buang waktu?). Ah, lagi-lagi membaca, apa sih pentingnya? Lakukan saja, tidak usah banyak berteori. Learning by doing aja dech. Itu ada benarnya tapi salah besar kalau kita lantas meremehkan aktivitas membaca. Agar kita bisa melakukan sesuatu hal dengan benar, selain diperlukan praktek dan pengalaman, juga diperlukan teori atau petunjuk bagaimana melakukannya. Atau untuk memperkaya perbendaharaan kata serta pengetahuan supaya ga bego-bego amat, mau ga mau kan dilakukan dengan menyelami teks-teks yang terangkum dalam buku? Setelah aku amati, orang Indonesia tuh lebih suka nonton (visual) daripada membaca, padahal membaca akan merangsang imajinasi dan membuat kita belajar memahami cerita tanpa melihat gambarnya. Ini sekaligus melatih logiika juga kan??? Tapi apa lacur, lihat saja fenomena Ayat-Ayat Cinta. Penulisnya sendiri mengatakan bahwa salah satu alasan kesediaannya untuk memfilmkan novel best seller-nya adalah agar khalayak yang tidak suka baca bisa nonton filmnya aja. Ga usah repiot-repot baca novelnya. Syukur-syukur mereka penasaran sama novelnya trus pada akhirnya ikut membaca novelnya. Tahu ga, jika kita selalu disuguhi hal-hal yang sifatnya visual, maka tidak ada proses berpikir dan berimajinasi. Lha, semuanya sudah jadi kok. Tinggal dilihat aja. So??? Mbok ya sekali-sekali baca buku:p.

Nah, ini juga apologi nich:p. Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan proyek penulisan biografi pesanan sebuah penerbitan nasional. Agak berat kurasakan, sebab selain harus menulis riwayat hidup seorang penderita penyakit genetik (maaf aku ga bisa kuceritakan di sini), aku juga harus mendapatkan semua data dan fakta yang dibutuhkan dalam penulisan ini. Itu artinya aku harus lakukan wawancara terstruktur serta kumpulkan semua dokumen terkait objek penulisan. So? Ya wawancara lah. Bolak-balik rumah-rumah sakit yang jaraknya cukup jauh, pada malam hari pula. Therefore,  waktuku banyak tersita untuk selesaikan proyek ini. So??? Ga sempat baca buku……huuuuuuu…apologi melulu:p.

NB : setidaknya aku udah pernah khatamin trilogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor). Laskar Pelangi dinobatkan menjadi Indonesia’s the most powerful book. Yeee…. Apologi lagi:p

“Aku Akan Memakan Apa pun Yang Kau Masak”

Sunday, June 29th, 2008

"Aku akan memakan apa pun yang kau masak”, santun belahan jiwaku menenangkan hatiku yang gundah-gulana memikirkan akan masak apa besok. Hari ini oseng manisa, kemarin oseng brokoli, kemarinnya lagi sama. Sebelumnya masak sop; sayuran paling plural, aku bisa memasukkan apa saja semauku, asal matching:p. Lalu sebelumnya lagi sop. Kali ini aja masak semur (minus kemiri). Kalau sudah suka sama 1 hal, maka aku cenderung akan mempertahankannya sampai bosan menyergap. Hal inilah yang membuatku cemas jangan-jangan kekasihku bosan dengan rupa masakanku yang itu-itu saja. Sedangkan aku sendiri sudah bosan makan yang itu-itu saja. Ketika persediaan bumbu dan bahan mentah masih lengkap, aku bisa membuat 2 jenis masakan dalam 1 waktu. “Apa kau tidak bosan dengan rasa bosanmu? Jangan mudah bosan. Semua harus dinikmati. Aku tidak pernah bosan dengan masakanmu,” katanya lembut. Kekasihku mencoba mendekontruksi sifat bosanku.

First in, first out. Persediaan bawang merah, bawang putih , salam laos serta merica masih cukup banyak untuk 1 bulan. Rencananya akan kuhabiskan dulu sebelum membeli bumbu-bumbu lain yang dibutuhkan untuk memasak makanan yang lebih spicy, seperti kare, soto, gulai, rendang, dll. Resikonya tentu saja masakanku menjadi  monoton. Yang bisa dilakukan oleh bawang merah, bawang putih, salam laos dan merica hanya mencakup oseng-oseng, sop dan semur (dengan menambahkan  kecap Bango yg dbeli di warung terdekat). Kalau ada sedikit tambahan bawang prei biasanya kubuat telur dadar ijo (sebutanku aja sich coz dominan warna ijo berkat campuran bawang prei). Aku dan kekasihku sangat suka memakannya. Mungkin karena rasanya “universal” ya.

Kekasihku tidak pernah rewel soal makanan. Dia juga bukan pembosan. Terlebih lagi tipe yang menerima apa pun yang diberikan orang lain padanya. Apapun mau asal tidak terlau pedas, perut dan percernaannya tidak kuat menerima cabe. Sedang aku suka sekali makanan pedas. Biasanya tercapai kompromi di antara kami. Kukurangi derajat kepedasan beberapa tingkat lebih rendah dari tingkatanku yang very high. Kalau pun aku kelepasan melepas cabe dalam masakanku, kekasihku tetap memakanannya, cuman kali ini disertai ucapan hohah hohah alias kepedasan:p

“Yang, tolong belanja di bakul sayur dong. Aku lagi repot nich”, pintaku. Beberapa pekerjaan rumah tangga belum kuselesaikan dan aku tidak punya banyak waktu untuk belanja sayur. Sayur dan kawan-kawannya harus sudah matang sebelum jam 8. Antrian panjang ibu-ibu di depan dan samping gerobak sayur membuatku harus menunggu. Kalau sedang ramai-ramainya bisa sampai 30 menit berdiri di sana. Tanpa banyak bertanya kekasihku pergi ngantri bersama ibu-ibu. Dia sudah mengingat di luar kepala semua item yang kupesankan padanya. Tidak ada gengsi dan malas berbagi tugas rumah tangga denganku. Sambil menenteng seplastik kerupuk kesukaanku dan kesukaannya, dia datang diiringi senyum mengembang.

Sekali waktu kekasihku ikut menyumbangkan ide dan keahliannya memasak. Kare ikan tengiri dan calamari menjadi masterpiecenya. Kekasihku belajar banyak dari temannya yang menjadi koki profesional. Dari temannya juga kekasihku tahu dimana bisa mendapatkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu lengkap dengan harga miring. Pasar Keputran adalah surga bagi pembeli sayuran dan bumbu,s edang Pasar Pabean adalah surga bagi pembeli ikan dan hasil laut lainnya. “Kalau ingin mendapatkan bahan serta bumbu instan yang murah, pergi saja ke Carefour,” katanya menambah perbendaharaanku mengenai tempat belanja terlengkap dan termurah. 

Kekasihku, uhibbuka….

An-Nakba Rhapsody

Sunday, June 22nd, 2008

 Saat browsing kutemukan sebuah situs : www.hanina.org. Coba kubuka. Muncullah
tampilan unik. Tulisan pertama yang kutangkap adalah An-Nakba Gallery. Kucoba
buka. Muncullah foto-foto para pengungsi Palestina tahun 1948 yang seakan
menyihirku. Palestina…oh Palestina…sudah lama sekali aku melupakanmu….

An-Nakba,
sebuah kata yang baru saja kuketahui. Dalam situs itu tertulis

 An-Nakba,the
catastrophe of the Palestinian people who were ethnically cleansed from their homes,
lands, and villages by the Zionists before and after the creation of the State
of Israel on May 15th 1948! More than 750,000 Palestinians were made homeless
refugees, forced to live in inhumane conditions and squalid refugee camps that
were set up by the UN. These refugee camps were only supposed to serve as a
"temporary" solution until the refugees were permitted to go back
home according to UN Resolution 194 (The Right of Return), The Geneva
Conventions regarding refugees, and other Internationally Recognized Laws! Now
after more than 57 years, the Refugees are still living in camps while Israel
continues to ignore countless UN Resolutions. In fact, till this very day,
Israel continues to create yet more homeless refugees in Palestine, some for
the 3rd and 4th time in their lives!

 Rupanya bulan Mei adalah bulan penuh sejarah bagi bangsa
Palestina. Di bulan ini, tepatnya 15 Mei 1948 ribuan orang Palestina diusir
dari tanah airnya sendiri. Bersamaan dengan itu ribuan orang Yahudi Eropa Timur
berbondong-bondong menduduki Homeland of Palestine, Negeri yang Terluka.  

 Ada satu keinginan yang selama ini ingin sekali
kuwujudkan. Semoga Alloh SWT Mengizinkan. Aku ingin membawa anakku ke
Palestina. Akan kukatakan padanya :

 Nak, ini adalah Palestina

Negeri 1000 syahid
dan syahidah

Lihatlah nak,
batu-batu berbicara

Iringi lemparan
tangan-tangan 1000 malaikat

Lihatlah nak,
betapa negeri ini memanggilmu

Sambutlah syahid
tujuan