Citra ABG 3 M di Kampung Global
Hujan, Ga ada Ojek, So, I Call
My Parent untuk Jemput…
Indonesia boleh krisis tapi ada
sekelompok ABG yang dengan enteng membeli tiket konser musik seharga Rp 350
ribu. Tak lagi cash, tapi memakai online banking. Mereka suka
bicara cas cis cus dengan bahasa Inggris-Indonesia. Ya, mereka adalah generasi
ABG 3 M.
Generasi
apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton
konser “The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (4/6) malam lalu?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di
bangku SMP, atau SMA. Menonton konser pun sebagian masih harus didampingi orang
tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang sungguh luar
biasa.
Mereka
menyanyi, berjingkrak, berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika
Serikat, yang lima personelnya muda usia itu. Kece-kece lagi. Sahutan “Kyle, I
love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey untuk si drumer
keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.
Siapakah
gerangan para ABG yang malam itu sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat
memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam
kerumunan penonton?
Ya,
mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp 250
ribu sampai Rp 350 ribu lewat internet atau online banking. Lalu datang
ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, atau ada yang membawa sendiri
mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya.
Penonton
muda usia yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi. Anak-anak ini
adalah generasi yang boleh disebut “post-modern” yang sekolahnya pun di
“International School” yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di
seantero ibu kota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorit yang relatif
mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga
gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indonesia-Jerman
itu dikenal suka bicara “campursari” dalam bahasa Indonesia-Inggris. Lihat
kalimat Cinta Laura yang terkenal ini : “Mana hujan, becek, ga ada ojek…So, I
call my parent untuk menjemput”.
Anak-Anak Global
Mereka, meminjam istilah
Thomas L. Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak
masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu
McDonald, MTV, dan Macintosh. Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya
massa global. Mereka menggemari rantai makanan siap saji dan kedai waralaba
internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idola di MTV,
serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih dan bergaul di dunia
maya melalui internet, mmebuat aktualisasi diri pada blog, dan berkawan lewat
Friendster.
Presiden
pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik “ngak ngik ngok” dimainkan di
Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang
pernah menyatakan “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika”.
Sedangkan
pola pikir net generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang
Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal Anda, maka pada era
globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak “bandhwith” Anda? Seberapa kuat
sinya ponsel Anda?
Kalau
pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa),
maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi
Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.
Dalam
kampung dunia (Global Village), semua memiliki peluang dan hak yang sama.
Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV, dan
Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia
lain, di Benua Amerika, Eropa atau Afrika.
Anak-anak
global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan
gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di
mana saja : di Amerika, di Jepang, China, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak
kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama,
jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.
Mereka
adalah generasi “Click Five” (Click atau Klik adalah bunyi tombol komputer
ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam pikiran modern
di masa-masa menyenangkan. Ya, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008
: “Modern Minds and Great Times”.