Archive for July, 2008

DOA MENJENGUK ORANG SAKIT

Sunday, July 20th, 2008

Akhir-akhir ini kusering menjenguk orang sakit. Lalu suami memberiku doa ini.

DOA MENJENGUK ORANG
SAKIT


Allahumma
robbinnasa adzhabannaasa isyfi wa anta syaafii laa syifaa-a illaa syifaa-uka
syifaaan laayughodiru saqoma

“Yaa
Alloh Tuhan manusia, hilangkanlah penyakitnya dan sembuhkanlah dirinya. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan
dari-Nya, kesembuhan yang tidak menimbulkan rasa sakit”.

Hujan, Ga Ada Ojek…

Sunday, July 20th, 2008

Citra ABG 3 M di Kampung Global

 

Hujan, Ga ada Ojek, So, I Call
My Parent untuk Jemput…

Indonesia boleh krisis tapi ada
sekelompok ABG yang dengan enteng membeli tiket konser musik seharga Rp 350
ribu. Tak lagi cash, tapi memakai online banking. Mereka suka
bicara cas cis cus dengan bahasa Inggris-Indonesia. Ya, mereka adalah generasi
ABG 3 M.

 Generasi
apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton
konser “The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (4/6) malam lalu?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di
bangku SMP, atau SMA. Menonton konser pun sebagian masih harus didampingi orang
tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang sungguh luar
biasa.

 Mereka
menyanyi, berjingkrak, berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika
Serikat, yang lima personelnya muda usia itu. Kece-kece lagi. Sahutan “Kyle, I
love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey untuk si drumer
keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.

 Siapakah
gerangan para ABG yang malam itu sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat
memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam
kerumunan penonton?

 Ya,
mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp 250
ribu sampai Rp 350 ribu lewat internet atau online banking. Lalu datang
ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, atau ada yang membawa sendiri
mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya.

 Penonton
muda usia yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi. Anak-anak ini
adalah generasi yang boleh disebut “post-modern” yang sekolahnya pun di
“International School” yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di
seantero ibu kota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorit yang relatif
mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga
gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indonesia-Jerman
itu dikenal suka bicara “campursari” dalam bahasa Indonesia-Inggris. Lihat
kalimat Cinta Laura yang terkenal ini : “Mana hujan, becek, ga ada ojek…So, I
call my parent untuk menjemput”.

Anak-Anak Global

 Mereka, meminjam istilah
Thomas L. Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak
masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu
McDonald, MTV, dan Macintosh. Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya
massa global. Mereka menggemari rantai makanan siap saji dan kedai waralaba
internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idola di MTV,
serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih dan bergaul di dunia
maya melalui internet, mmebuat aktualisasi diri pada blog, dan berkawan lewat
Friendster.

 Presiden
pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik “ngak ngik ngok” dimainkan di
Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang
pernah menyatakan “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika”.

 Sedangkan
pola pikir net generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang
Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal Anda, maka pada era
globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak “bandhwith” Anda? Seberapa kuat
sinya ponsel Anda?

 Kalau
pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa),
maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi
Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.

 Dalam
kampung dunia (Global Village), semua memiliki peluang dan hak yang sama.
Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV, dan
Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia
lain, di Benua Amerika, Eropa atau Afrika.

 Anak-anak
global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan
gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di
mana saja : di Amerika, di Jepang, China, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak
kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama,
jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.

 Mereka
adalah generasi “Click Five” (Click atau Klik adalah bunyi tombol komputer
ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam pikiran modern
di masa-masa menyenangkan. Ya, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008
: “Modern Minds and Great Times”.

A Piece of Memory

Thursday, July 3rd, 2008

Seksama kuamati ID Card yang kupasang di leherku. Di tali gantungannya tertulis I/A/L/F Education For Development. Fisik kartu sudah jauh lebih baik daripada 4 tahun lalu saat aku pertama kali mendaftarkan diri sebagai Study Center Member after spending a year as a student, from SP3 untill SP6 level. Kuperhatikan tanggal yang tertera di bagian belakang ID Card. April 23 until  June 23 2008. Berarti masa berlakunya sudah habis. Selama 3 bulan itu kuhabiskan waktu beberapa jam setiap harinya, bukan hanya melatih bahasa Inggrisku agar tidak stagnan dan mati; lebih dari itu, aku ingin menapaktilasi sejumput kenangan yang tertinggal di sana.
l
Kenangan, acapkali membuat kita terbawa ke tempat yang sama dengan feeling yang sama pula. Tak sengaja dalam sebuah pencarian by search engine kutemukan situs literary traveler yang berisi napak tilas ke tempat-tempat yang menjadi setting atau background maupun homeland para penulis besar seperti Herman Hesse, Pearl S. Buck, JRR Tolkien, CS Lewis, dll. Tempat-tempat itu umumnya memiliki nilai sejarah tinggi bagi sang penulis. Begitu pun dengan tempat yang sedang kuceritakan.

Aku berdiri di sini, memandang berkeliling, menyentuh benda-benda yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Try to touch all things which have filled my life, all the time.  Try to feel sense of blue….ada yang berubah namun seribu senyum itu tetap abadi. I/A/L/F adalah sebuah rhapsody dalam hidupku. I/A/L/F laiknya background-ku untuk melukis hidup, dengan kenangan sebagai garis dan warnanya. Di sini aku belajar bersosialisasi dengan beragam orang dan di sini pula aku belajar menerima adagium “perbedaan adalah suatu keniscayaan”. I could improved my English ability too, of course:p. My teachers, my friends and all of staffs have given me helps I need. Seorang guru yang tidak bisa kulupakan adalah Maggy Brady. She is from Australia. I owe her for teaching me so patient and for her advising about my English and the way to teach.

My friends, ah….where are you now? Kita berbagi tawa dan tangis bersama. Seribu senyum pelipur lara mengobati rasa letihku akan kehidupan perkuliahan dengan seabrek tugas dan ujian. Release my paint. Kawan, ingatkah kau ketika kita jalan-jalan ke Al-Akbar? Dari atas menara kita teriakkan mimpi-mimpi kita. Mimpi yang hingga kini masih mencoba untuk kita raih. Aku banyak belajar darimu, kawan. Belajar untuk yakin pada diri sendiri. Belajar untuk berkata, “I can do it!”. Belajar dan terus belajar. Keep going…keep moving.

“Where is mister Faisol?”, tanyaku pada salah satu staff yang kutemui di computer room. Aku tidak melihat sosoknya yang ramah dan grapyak. Dialah satu-satunya Programmer yang paling enak diajak bicara apapun. Aku sering memanggilnya mister  because in I/A/L/F we have to speak English, even to the staffs. “He has already resigned few months ago. He applied to other company.” “Oh I see…”, jawabku basa-basi karena aku sebenarnya tidak benar-benar mengerti. Aku tidak ingin menunjukkan rasa sedihku. Kuamati beberapa staff yang hilir-mudik.Cashier, administration staff and the receptionist are still the same. But the librarians are not the same. They are so quiet now. 

Kolam ikan berisi ikan koi warna-warni indah menarik hati masih sama dengan 4 tahun lalu. Koridor kecil nan asri; yang berbunyi tok tak tok tak saat kakiku melangkah di sana; juga tidak berubah. Study Center lah yang banyak alami perubahan sana-sini. Warna cat tembok yang melatarbelakangi meja librarian kini tampak more colorful. Tatanan meja serta kursi di ruang tengah sudah berganti formasi. Ruangan itu kini terasa lebih sempit. Dan layar TV-nya….aha! Mereka menggantinya dengan yang flat, meletakkannya di atas, dan beberapa headphone wireless disediakan di meja depan TV. Kini terdapat banyak papan tulis berisi jadwal acara di luar jam belajar mengajar, iklan-iklan study dan bekerja di luar negeri, utamanya ke Australia, dan foto-foto karya fotografer terkenal jika ada pameran foto. Perubahan yang cukup signifikan adalah terdapatnya berbagai koleksi film dalam bentuk DVD. Dulu aku harus rela memutar video manually. Dan buku-bukunya sudah lebih beragam. Judul-judulnya jauh lebih up to date.  Tidak sekedar Oliver Twist atau And The Time Goes By; The Alchemist,  The Adventure of Narnia, Harry Potter, Lord of the Rings, The Devil Wears Prada, Da Vinci Code, hingga Nanny Diaries pun ada. Di dalamnya tercatat sejumlah nama besar yang very famous, such as JRR Tolkien, CS Lewis, Paulo Coelho, JK Rowling, Dan Brown, Geraldine Brooks, Meg Cabbot dan lain-lain.

Sesaat kuterhanyut terbawa arus kenangan yang sekonyong-konyong datang mendera. Sedikit meluluhlantakkan perasaanku. Ah, am I too melancholist? Let it just flow lah. Sekali-sekali melepaskan perasaan rindu kan tidak salah. Sometime we need to release our feeling blue and turn our memories again;  it’s a living process. However, life must go on.