Archive for August, 2008

TERBANGAN

Thursday, August 21st, 2008

Simfoni nan rancak menggema di dalam masjid
terbesar di daerah tempat tinggal saya. Baru kali itu bisa menghadiri undangan Istighosah (saling memohon) dari dosen
saya yang sekaligus menjadi Ta’mir
masjid (pengurus masjid) dan pembina TPQ.
“Kamu
setiap Kamis legi ba’da Isya datang ya ke masjid. Ada Istighosah. Ada
makan-makannya juga,”
kata dosen saya. Salut saya sama perhatian dosen saya
yang satu ini. Kalau saya terpaksa tidak bisa menghadiri Istighosah (entah sudah berapa kali saya diundang tapi tak pernah
datang, sampai malu saya dibuatnya), dosen saya pasti tidak pernah absen ngirim
makanan yang dihidangkan saat Istighosah,
lewat para pembantunya atau bahkan putri kesayangan dosen saya dan saya (saya
dan ibunya sama-sama sangat menyayangi anak ini karena alasan yang sangat wajar
: sholehah, dewasa, pintar, luwes). Saya dan suami sering terharu oleh
perhatian beliau. Apalagi beliau di sela-sela kesibukan menjadi dosen di sebuah
perguruan tinggi ternama masih sempat dan bersedia mengurusi masjid (mengurusi
umat). Tidak banyak orang kaya dan berpendidikan tinggi bersedia nggelibet dengan urusan masjid. Atau
mungkin banyak juga, saya saja yang tidak tahu.

Acara inti belum juga
dimulai. Masih sekitar 1,5 jam lagi. Masih lama. Ibu-ibu jama’ah tetap masjid
ini masih sibuk menata makanan dan minuman serta kertas berisi wirid  yang sedianya akan
dibagikan kepada para peserta Istighosah,
yang umumnya berasal dari jama’ah tetap, santri-santri TPQ di masjid ini, serta
masyarakat umum sekitar masjid. Hiburan pembuka segera dimulai. Beberapa orang
anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan yang terletak di dekat masjid menabuh
terbang dan rebana. Dua orang anak menjadi
lead vocal.
Usia mereka rata-rata belasan tahun. Masih ABG. Mereka
melantunkan Sholawat kepada Rasulullah SAW. Kata ibu di sebelah saya, mereka
memang sudah biasa diundang oleh masjid ini dan pihak-pihak yang hendak
mengadakan hajatan. Tradisi Terbangan
(membaca Sholawat sambil menabuh alat musik terbang
dan rebana) sudah mendarah daging
dalam warga Nahdliyin. Saya tidak begitu mengetahui cikal-bakal tradisi Islam
yang satu ini, tapi menurut sumber yang dapat dipercaya, tradisi ini sebenarnya
tercantum dalam kitab berjudul Diba’an yang
dikarang oleh Syaikh Ad-Diba’i. Memang ada yang tidak sepakat terhadap tradisi
ini, namun saya pikir hal ini sifatnya hanya furu’ (cabang), tidak qath’i (pasti).

Apa bedanya alat musik terbang dan rebana? Menurut salah satu narasumber yang menggeluti tradisi Terbangan ini, terbang bentuknya mirip rebana
tapi di sekelilingnya tidak dilengkapi dengan maracas (logam bulat tipis) sehingga bunyinya hanya tung tung tung…sedangkan rebana adalah sejenis alat musik
berbentuk bulat (mirip gendang tapi pipih), di sekelilingnya dipasangi maracas sehingga bunyi yang ditimbulkan tung tung tung dan kricik kricik kricik. Begitulah.

Cara memainkan terbang dan rebana-kalau dari kacamata awam, termasuk saya-kelihatannya mudah. Kan cuma dipukul-pukul saja. Setelah
saya tanyakan ke para pelaku sejarah Terbangan
ini, mereka mengatakan bahwa butuh keahlian khusus untuk bisa memainkan
alat musik ini. Terlebih lagi butuh tangan yang kuat sekaligus luwes. Yang
lebih dibutuhkan lagi ialah keselarasan antara otak kiri dengan tangan kanan.
Itu kalau ditinjau dari individunya. Jika ditinjau dari individu dengan
individu dalam kelompok atau grup, maka kesulitan terbesar adalah menyelaraskan
permainan tiap pemain. Mencapai komposisi yang indah itu membutuhkan
kekompakan, sebuah sinergisitas.

Saya amat terkesan
dengan atraksi Terbangan malam ini.
Antara lantunan Sholawat dan tabuhan terbang
serta rebana sangat sinergis
sehingga menghasilkan komposisi yang sangat indah. Masih kata ibu yang duduk di
sebelah saya, anak-anak yatim piatu tersebut memiliki jadwal latihan khusus.
Berbagai lomba Terbangan sering
mereka ikuti. Mereka juga memberikan pelatihan gratis bagi siapapun yang ingin
belajar Terbangan. Tidak ada wanita
dalam grup tersebut. Memang tidak diperbolehkan ada wanita terlibat di sana.
Tapi hal itu tidak mengurangi keindahan atraksi yang disajikan. Saya teringat
film Baran produksi Iran. Sama sekali
tidak ada wanita yang bersuara. Hanya laki-laki, bahkan dalam percakapan
sehari-hari pun sama sekali tidak ada suara wanita, meski salah satu tokoh
sentralnya adalah seorang wanita. Juga ketika para buruh bangunan tersebut
butuh hiburan. Mereka menghibur diri sendiri. Dengan apa? Dengan bernyanyi dan
menari. Membosankan? Tidak juga. Justru sangat unik dan tetap bisa menghibur
penonton.

Salam,

Kartika

KOMUNIKATIF-KOMUNIKATA

Thursday, August 21st, 2008

 “Dilla, kamu nanti di panggung baca teks yang ini aja.
Ini lebih pendek”.
Kemudian Dilla pun membandingkan ukuran 2 kertas.
Rencananya saya akan memperpendek saja puisinya agar Dilla tidak kesulitan
membacanya.

 “Ustadzah, lebih pendek kertas yang ini,” celetuk
Dilla sambil menunjuk kertas berisi puisi yang belum saya revisi. Spontan, saya tertawa, sampai keluar air mata saya. “Dilla….yang
lebih pendek bukan ukuran kertasnya, tapi tulisannya…”.

 Kepolosan murid saya membuat saya sadar akan satu hal :
anak kecil menilai atau mengartikan sesuatu secara harfiah. Mereka belum
mengenal apa yang disebut ‘konteks’. Anak kecil juga punya kecenderungan meniru
apa yang mereka lihat dan mereka dengar, tanpa mengetahui esensinya. Ambil
contoh Fahmi. Dengan mimik lucu Fahmi menunjukkan lipatan kertas yang sedang
dia masukkan ke dalam saku seragamnya. Sambil menepuk-nepuk kertas yang
sekarang sudah ada di sakunya, Fahmi berkata, “Ustadzah, ini namanya
elegan”.
Ha ha ha….tertawa saya dibuatnya. Ooooo….jadi Fahmi menganggap
menyimpan kertas di saku baju adalah perilaku yang elegan. Entah dari mana dia
memperoleh istilah ‘elegan’ dan pemahaman bahwa memasukkan kertas ke saku baju
adalah ‘elegan’.

 Seringkali kita tercengang dan merenung setelah mendengar
celoteh anak kecil. Memang, cara berpikir mereka masih sederhana, namun justru
kederhanaan itu mengandung kerumitan yang tak pernah kita duga sebelumnya.  Saya pernah mendapat “teguran” dari
seorang murid saya yang beranjak ABG. Murid saya yang satu ini terkenal cerdas
sekaligus kritis. Dia pandai membaca situasi dan menyampaikan apa yang ada di
hatinya dengan bahasa yang terkadang saya merasa….sangat dewasa. Putri bungsu
dosen saya ini juga terkenal keras kepala. “Teguran” yang dia sampaikan
redaksionalnya kurang lebih begini, “Ustadzah, jangan bilang ‘belajar keras’
ke teman-teman. Mereka tuh ga ngerti apa arti ‘belajar keras’. Teman-teman
mikirnya ‘belajar keras’ tuh ‘belajar dengan suara keras’…”.

  Lama saya
tercenung, terkejut dengan “teguran”-nya. Kemudian dalam benak saya terbayang
kejadian beberapa malam yang lalu, yang kembali saya ingat setelah terlupakan
oleh beratus, bahkan beribu kata yang mampir di benak saya setiap hari, setiap
jam, setiap menit, setiap detik. Malam itu, salah seorang murid saya yang masih
kelas 1 SD (pipinya montok sekali), bertanya pada saya, “Ustadzah, ‘belajar
keras’ itu apa…?”.
Ada juga yang bertanya, “Gugup itu apa sich…?”.

 Rupanya pemilihan diksi dan bahasa yang saya gunakan dalam
berkomunikasi dengan murid-murid saya belum tepat. Artinya saya belum bisa
komunikatif, belum bisa berbicara sesuai dengan usia mereka. Bukankah
Rasulullah SAW pernah memberi semacam tips, bahwa kita hendaknya berbicara
dengan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara kita (melihat segi usia, latar
belakang pendidikan, suku, dsb). Dengan kata lain, beradaptasilah dengan baik
supaya kita dipahami dan dicintai lawan bicara kita. Ternyata saya masih harus
banyak belajar, belajar dari celoteh anak.

Sketsa Perjalanan

Thursday, August 21st, 2008

 Saya punya kisah tentang orang-orang luar biasa (tanpa
tanda kutip), yang tinggal di tempat yang “luar biasa”. Suatu kali saya
ditugaskan liputan di sebuah desa, yang hingga menginjak era milenium, belum
punya listrik. Mereka masih mengandalkan lampu petromak- yang lebih beruntung
bisa memakai aki-dan yang “lebih luar biasa”, mereka tidak punya kamar mandi
dan WC yang uncivilized. Semua tatanan di desa tersebut nyaris sama
dengan tatanan di era Orde Lama. Yang membedakan cuma kendaraan yang
lalu-lalang di desa tersebut. Motor merk Honda atau Yamaha keluaran era
milenium berseliweran. Bahkan mobil keluaran era milenium juga ada (mobil yang
membawa saya dan rombongan, red).

 Saya
sebenarnya sudah pernah mengunjungi kawasan yang namanya pedesaan. Dulu-waktu masih
SD-saya pernah ke sebuah desa di pelosok Banyumas. Belum ada listrik, tapi
orang sana sudah terbiasa memakai aki. Dan sudah ada kamar mandi serta WC yang civilized.
Tapi kali ini beda. Kawasan yang saya kunjungi ini benar-benar terpencil.
Bukan saya ingin mendiskreditkan suatu kawasan terpencil. Tapi ini sebuah ironi
di era milenium, abad 21, di pulau Jawa yang katanya paling maju, masih ada
kawasan yang uncivilized. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

 Letak
desa tersebut di lereng gunung, termasuk salah satu wilayah sebuah kabupaten di
timur Jawa Timur. Dekat dengan Banyuwangi. Saya merasakan mobil yang saya
tumpangi perlahan berhenti, setelah menanjak beberapa kilometer. Saya mencoba
membuka mata; ngantuk banget karena perjalanan dilakukan pada malam hari.
Gelapnya malam tidak menggagalkan mata saya menangkap rombongan kabut setelah
lampu mobil mengirimkan cahaya pada mata saya. “Wah, pasti dingin nih”, batin
saya.

 Begitu
turun dari mobil, badan saya langsung menggigil. “Pimred kok ga bilang sich
kalo tempatnya dingin. Mana ga bawa jaket lagi” keluh saya dalam hati, ngomel
sendiri. Tentu saja dingin. Desa tempat saya liputan mengenai pesantren virtual
ini berada beberapa ribu meter di atas permukaan air laut. Brrrrrrr….saya
tangkupkan kedua tangan saya ke tubuh saya yang saat itu cuman memakai kaos
yang lebih cocok dipakai di tempat yang panas. “Ini kan bukan liputan ke
Lapindo. Kok ya aku pake kaos beginian,” lagi-lagi saya mengomel dalam hati.

 Alhamdulillah, pemilik rumah tempat saya menginap berbaik
hati meminjamkan saya selimut dan saya diberi tempat tidur –yang meskipun
sangat sederhana tapi sangat hangat. Paginya saya dibuatkan kopi handmade yang
sangat sedaaaap. Kopi ini dijemur dan digiling sendiri oleh sang pemiliki
rumah. Masyarakat di desa ini tidak terbiasa minum kopi instan rasa pabrik.
Jauh lebih enak kopi handmade (dan kopi instan distribusinya mungkin ga
nyampe kesini). Berbagai panganan dihidangkan. Duh, ramah sekali
masyarakat desa ini. Mereka totalitas melayani tamunya. Waktu itu saya bawa
bekal beberapa batang coklat. Dan semua tentu sudah mafhum, bahwa angka
kelahiran di Indonesia tergolong tinggi, termasuk di desa ini. Lalu, apa
hubungannya? Sebentar, baru saja ingin saya jelaskan. Jadi waktu itu banyak
anak kecil yang imut muncul di depan saya, tersenyum malu-malu. Saya harus tahu
diri lah, ada beberapa batang coklat di tas saya, dan warga desa ini sudah
sedemikian baik mau menerima saya dan rombongan. “Adek-adek, mbak bawa coklat
nich. Dibagi-bagi sama teman-temannya ya..”. Nah, itu maksud saya. Bagi-bagi
coklat ke anak-anak sang pemilik rumah dan anak-anak tetangganya sang pemilik
rumah. Seru juga.

 Di awal tadi kan sudah saya sebutkan, bahwa di desa tempat
saya liputan kamar mandi dan WC-nya uncivilized. Lalu bagaimana saya
berkompromi dengan fenomena itu? Ya sudah, saya dan teman-teman saya saling
“menjaga”. Maksudnya? Ya kami saling mengawasi saat mandi atau buang air. Memang harus begitu, lha wong kamar
mandi dan WC-nya tidak beratap, bahkan ada yang nyaris tidak bertembok. Mana
air sulit lagi. Duh….

 Tapi liputan lancar-lancar saja. Saya pulang dibawain
seplastik biji kopi dan bertandan-tandan pisang. Rupanya sang pemilik rumah
tahu kalau saya suka makan pisang (sebenarnya bukan suka pada pisang, tapi saat
itu saya merasa pisang lah makanan yang paling bisa masuk ke mulut) dan jatuh
cinta pada kopi handmade mereka (nah, kalau yang ini betul banget), yang
bagi saya merupakan masterpiece. Belum pernah saya rasakan kopi seenak
itu sebelumnya
J

08:45, Study Center

Menapaktilasi HUT
Kemerdekaan RI ke-63…Apa yang sudah kita lakukan?

 

BUNG TOMO DI TASYAKURAN HUT KEMERDEKAAN RI

Wednesday, August 20th, 2008

Dimuat di majalah Al-Mu’tashim Edisi Agustus 2008

Bung Tomo di
Tasyakuran HUT Kemerdekaan RI

 Sebuah suara keras dan melengking mengingatkan saya pada
seseorang di masa lalu. Pekikan Takbir yang khas semakin menguatkan sosoknya
yang hadir dalam benak saya. Bung Tomo… saya cari sumber suaranya. Dia keluar
dari sebuah load speaker yang disambungkan ke komputer. Seorang lelaki
berkumis lebat tengah duduk di samping komputer, berusaha menyelaraskan suara
agar lebih enak ketika keluar dari load
speaker
. Malam itu baru pukul 19.00. Acara tasyakuran peringatan HUT
kemerdekaan RI belum juga dimulai. Untuk mengisi kekosongan acara, diputarlah
rekaman pidato Bung Tomo beserta film dokumenter mengenai keadaan Surabaya
menjelang peristiwa 10 November dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Pemutaran rekaman pidato Bung
Tomo serta film dokumenter ini terbilang kreatif karena tidak ada RT lain yang
berpikir untuk melakukan hal yang sama. Mereka hanya memutar lagu-lagu
perjuangan yang sudah sangat sering kita dengar saat kita masih berada di
bangku sekolah.

 “Maaf pak, boleh saya mengkopi pidatonya Bung Tomo”, pinta
saya pada Pak RT. Meskipun saya sudah sering searching data di internet,
namun tidak sempat terpikir untuk mencari rekaman pidatonya Bung Tomo. Lagipula
komputer saya belum dilengkapi dengan program RealPlayer, jadi percuma
saja mendownload video-video seperti yang dilakukan Pak RT. “Kalau di
komputer mbak Kartika ga ada RealPlayer ya file-file ini tidak bisa
dibuka. Sekalian saya kopikan RealPlayer-nya ya?”, pak RT menawarkan
bantuan yang sejak tadi saya harapkan.

  Bung Tomo adalah
murid seorang kyai dari Surabaya. Pekikan Allohu Akbar! sering terlontar
dari bibirnya saat menyemangati arek-arek Suroboyo pada saat melawan tentara
Inggris (NICA) yang diboncengi tentara Belanda. Peristiwa terbunuhnya Jenderal
Malaby di tangan arek-arek Suroboyo langsung tersebar ke seluruh dunia.
Bagaimana mungkin dunia pada saat itu tidak terperangah…dalam Hukum
Internasional yang berlalu pada saat itu, seorang jenderal tidak boleh dibunuh,
apalagi dengan cara yang, orang Inggris menyebutnya ‘brutal’. Jenderal Malaby
yang pada saat itu menginap di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), tewas
setelah mobilnya diledakkan oleh arek-arek Suroboyo. Tentara Sekutu kaget dan
bingung dengan tewasnya jenderal mereka. Hal ini tidak pernah mereka alami
sebelumnya. Mereka datang dengan sekompi pasukan yang dilengkapi persenjataan
tempur yang jauh lebih hebat dari yang dimiliki arek-arek Suroboyo, salah
satunya pesawat pembom. Tapi jenderal mereka kok malah terbunuh dengan
mudah dan cepat.

 Karena peristiwa itulah, Surabaya kemudian dikenal dengan
sebutan Kota Pahlawan. Kota yang melahirkan para pahlawan yang keberanian
aksinya mampu menggemparkan tanah air dan dunia internasional. Yang dengan
berani dan kreatif menyobek warna biru pada bendera Belanda di Hotel Yamato,
sehingga warnanya tersisa merah dan putih saja. Bendera negara Indonesia.

 Yang tidak tercatat sejarah adalah kedatangan kyai Madura
dan segenap santrinya ke Surabaya. Ternyata, pesantren memegang peran amat
penting dalam perjuangan kemerdekaan RI. Menurut penuturan salah seorang
pelsaya sejarah, saat kota Surabaya dibom oleh pasukan udara Sekutu, segenap
kyai di Surabaya-banyak yang berasal dari pulau Madura-melakukan dzikir
bersama. Upaya ini membuahkan hasil. Bom-bom dari tentara Sekutu tidak satu pun
yang berhasil mengenai kota Surabaya, sebagian berbelok dan jatuh di Selat
Madura. Sampai-sampai menurut kesaksian seorang pilot salah satu pesawat pembom
Sekutu, adalah sesuatu hal yang sangat mencengangkan, ketika bom sudah sangat
dekat dengan sasaran, tapi mengapa kok bom itu sekonyong-konyong membelok ke
arah lain dan jatuh ke Selat Madura??? Tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dia
benar-benar takjub dengan peristiwa ini. Menurut perhitungannya, tidak mungkin
bom itu bisa membelok seperti itu. Semua sudah diperhitungkan dengan sangat
akurat. Tapi itulah yang terjadi.

 Namun apakah hanya doa
bersama yang bisa dilakukan oleh para kyai dan santrinya? Tentu saja tidak.
Mereka juga berjuang secara fisik, terjun langsung ke medan pertempuran. Ribuan
kyai dan santri dari Madura turun ke Surabaya. Sayang, peristiwa penting ini
tidak diungkap oleh sejarah sehingga rakyat Indonesia tidak tahu besarnya peran
pesantren dalam perjuangan kemerdekaan RI. Begitu besar hutang republik pada
pesantren.

 Terkait dengan pidato Bung Tomo yang sangat fenomenal, Kang
Abik sang penulis novel Ayat-Ayat Cinta-dalam sebuah wawancara dengan
penulis pernah mengusulkan agar diadakan lomba menirukan pidato Bung Tomo.
Seusai mengunjungi Badan Arsip Jawa Timur dan mendengarkan rekaman pidato yang
disimpan di sana, Kang Abik menyatakan kekagumannya pada pidato Bung Tomo.
“Pidato Bung Tomo itu luar biasa”, katanya. Tidak hanya pidatonya yang luar
biasa, tapi prinsip dalam berperang yang diterapkan oleh Bung Tomo sesuai
dengan prinsip Islam : tidak akan menyerang sebelum diserang. Defense,
bukan offence.

 Dalam drama yang dipentaskan oleh santri-santri TPA Nurul
Hidayah-di bawah asuhan Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah-diceritakan bahwa
guru (kyai) Bung Tomo memberi pengaruh besar dalam menanamkan spirit perjuangan
ke dalam jiwa pemuda asli Surabaya tersebut. Bukan semata-mata spirit
perjuangan atas nama nasionalisme, tapi jauh lebih mulia dari pada itu, adalah
spirit berjihad menumpas penjajahan dan ketidakadilan. Merdeka atau mati
syahid, bukan merdeka atau mati (saja) adalah sebenar-benar semboyan yang
banyak didengungkan pada waktu itu (kata ‘syahid’ kemudian sengaja dihilangkan
oleh pemerintah karena berbau agama). Dan pekikan ‘Allohu Akbar’
sebanyak 3 kali yang keluar dari bibir beliau selalu mengawali aksi perjuangan
beliau dan arek-arek Suroboyo.

Wallohu ‘alam

Kartika Pemilia Lestari

PIDATO BUNG
TOMO

10 NOVEMBER
1945

The War
Ultimatum

Bismillaahirrokhmaanirrokhiim

Merdeka!

Saudara-saudara, rakyat
jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan
pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita
diwajibkan, untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata
yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta supaya
kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya
kita datang kepada mereka itu dengan mengangkat bendera putih, tanda bahwa kita
menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara,

Di dalam
pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan, bahwa
rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yangf bersal dari Pulau
Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh
Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada
di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan
pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukkan satu
pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukkan satu kekuatan sehingga
mereka itu terjepit dimana-mana. Hanya karena taktik yang licik daripada mereka
itu saudara-saudara, dengan mendatangkan Presiden dan komintern-komintern
lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri. Karena telah kuat, sekarang
inilah keadaannya.

Saudara-saudara,

Kita semuanya, kita
bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini, akan menerima tantangan tentara
Inggris itu. Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Suarabaya, ingin
mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh
pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia
kepada kau sekalian :

Hai tentara Inggris,
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk
kepadamu. Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu. Kau menyuruh
kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk
diserahkan kepadamu. Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau mengancam
kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah
jawaban kita : selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah,
yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu tidak
akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.

Saudara-saudara rakyat Surabaya,

Siaplah! Keadaan
genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak! Baru kalau
kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu! Kita tunjukkan, bahwa
kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka! Dan untuk kita
saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka, sebelum
kita tetap merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya,
pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Alloh selalu berada di
pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita
sekalian. Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Merdeka!

Bismillaahirrokhmaanirrokhiim

Merdeka!

Saudara-saudara,
tukang-tukang becak, saudara-saudara bakul-bakul soto, bakul-bakul tahu,
saudara-saudara orang-orang Madura, tukang rombengan, saudara-saudara wong-wong
kampung Suroboyo, saudara-saudara arek-arek Suroboyo, pemuda-pemuda Suroboyo,
dan saudara-saudara semua pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam
pasukan-pasukannya masing-masing di Surabaya ini, baru saja telah datang ke
markas kami pimpinan dari pemuda Republik Indonesia yang bertugas di sektor
utara, pimpinan daripada pasukan polisi yang bertugas di sektor utara,
teman-teman dari BKR yang bertugas di sektor utara, semuanya telah melaporkan
kepada kami, bahwa pasukan-pasukan Inggris sudah mulai bergerak dan sudah mulai
menembak-nembak ke arah kita. Maka saudara-saudara, dengan ini, mulailah kita
sekarang ini, majulah kita sekarang ini! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu
Akbar!
Merdeka!

CULTURE

Wednesday, August 13th, 2008

CULTURE

 The word
‘culture’ comes from the Latin word – cultura. It generally refers to
patterns of human activity – the way people do things. Culture is often linked
to music, art and science, as well as moral systems and the characteristic
behaviours and habits of people. Different societies, such as Indonesia and
Australia, often have very different cultures, and this makes the world a very
interesting place.

 Indonesian
culture has been shaped over hundreds of years. Geographically, Indonesia is
located right in the middle of ancient trading routes between the Far East and
the Middle East. As a result, Indonesian culture has been strongly influenced
by many culture groups and religions, including Hinduism, Buddhism,
Confucianism and Islam. It has also been affected by many foreign influences
including the occupation of the Dutch and the Portuguese.

 Other cultures,
including the broadly named ‘western culture’, have also influenced Indonesia
in many ways. Modern technology, mass communications, television programs,
movies and songs have all contributed to the cultural mix. India, especially,
has influenced Indonesian songs and movies. A popular type of song is dangdut,
its Indian rhythm often mixed with Arab and Malay folk music.

 The art forms
that can be seen across the archipelago show the complex cultural mix within
the nation. Wayang, traditional puppet shows, were used to spread Hinduism and
Islam amongst Javanese villagers. Both Javanese and Balinese dances tell
stories about ancient Buddhist and Hindu kingdoms.

 Islamic art
forms and architecture are present in Sumatera, especially in the Minangkabau
and Aceh regions. Traditional art, music and sport are combined into a martial
art form called pencak silat. Despite the influences of foreign culture,
uniquely indigenous cultures still survive in some remote Indonesian regions.
Ethnic groups such as the Mentawai, Asmat, Dani, Dayak, Toraja and many others
are still practising their rituals and customs, and wearing traditional
clothes. The result is an absolutely fascinating and complex cultural mixture
from Sabang all the way east to Merauke.

 

Different Pond, Different Fish

Wednesday, August 13th, 2008

Different Pond, Different Fish

 Different Pond, Different Fish. Let’s
talk about it. I arrived in Canberra and checked into City Walk Hotel on
Thursday afternoon at about 5.30 pm. I was making notes for my presentation for
AusAID the following day when suddenly a loud siren started blaring. I jumped
off my chair, not knowing what the siren was for, then I heard something like
‘…evacuate building through the nearest exit door…’ I could only
think, ‘What? Is it a fire? This can’t be true. This must be a fire drill.’ But
then the siren kept on blaring and I heard the announcement again and again and
I started to tremble. ‘What should I do? Who should I ring?’

 In panic I grabbed my handbag and my
mobile phone. Funnily I still remembered to turn off the TV because I was
afraid it would explode as I thought the fire was next door. Luckily I
remembered reading a notice somewhere : ‘In case of fire do not use the lifts’,
but where was the exit door? Where were the other people? Then I saw the green
exit sign and I was half running, half walking down the stairs. When I was
finally outside there were many people outside already. I asked people what was
happening but no one knew. I didn’t see any fire from outside and that made me
a bit calmer. Five minutes later the hotel staff told us, ‘It’s okay, you
can go back to your rooms. Someone was smoking on the ground floor.’
Oh, I
felt relieved but still in disbelief that cigarette smoke could set off the fire alarm. What a sensitive alarm, I
thought. What a lesson learned!

 Safety and safety procedures are very
important in developed countries like Australia. Safety is a priority for
schools, office buildings, hotels, and all other places. In Indonesia we may
not be used to this kind of thing because it’s not a priority in our culture.
At IALF we have fire drill regulary and honestly I never pay attention because
I know there is no fire, it’s only a drill. But when we faced with a real life
situation I was in complete shock and panic!

KEMALASAN YANG ABSURD

Wednesday, August 13th, 2008

 Pernahkan Anda merasa malas seharian? Malas melakukan
apapun. Hanya ingin tidur dan makan. Saya pernah. Kejadiannya baru kemarin.
Kemarin ketika bangun tidur, tiba-tiba saya merasa malas sekali. Mungkin ini
adalah akumulasi rasa capek berhari-hari yang lalu. Walhasil, seharian saya
cuma nonton TV, itupun nonton tayangan-tayangan ringan semisal film kartun.
Boro-boro berita-berita berat seputar politik, berita ringan (feature) saja
saya malas menontonnya. Jam 5 pagi nonton Go! Diego Go! Selepas itu
giliran Spongebob Squarepants yang dibagi dalam 2 sesi, dari jam 05.30
sampai 06.30. Kalau yang ini film kartun favorit; selain ceritanya yang bagus
dan kreatif, skenario-nya cerdas. Ceritanya biasa menyindir atau mengkritik
fenomena politik, sosial maupun budaya di Amerika. Terlepas dari Spongebob
Squarepants
biasanya saya tidak terlalu suka sama kartun Amerika, sebab
nuansanya individual banget (biasanya para tokohnya hidup sendiri dan jarang
bersosialisasi dengan tetangga bahkan keluarga besar) dan ada ketidaksambungan
cara pandang serta budaya antara saya dan budaya Amerika. Bagi saya mereka
terlalu asing
L

 Film kartun Chalk Zone sebenarnya cukup bagus,
namun saya kok merasa ceritanya kurang greget dan terlalu monoton (jika
dibandingkan dengan Spongebob Squarepants). Namun satu hal yang membuat
saya terus menonton kartun produksi Hollywood in adalah sketsa dan gambar yang
dibuat dengan kapur selalu mengingatkan saya pada masa kecil dulu, saat menulis
di sekolah masih pake kapur putih maupun warna-warni. Kalo sekarang kan hampir
tiap sekolahan sudah pake spidol dengan white board-nya. Kapur? Jadul kaleeeee
J

 Dari sekian banyak film kartun dari negeri-negeri Barat,
mungkin cuma The Legend of Aang (Avatar) yang berkisah tentang
orang-orang dari negeri-negeri Timur. Film kartun berdurasi 1 jam ini dibuat
oleh Michael Dimartio (kalau ga salah namanya gini) dan Aaron Ehaatz.
Diproduksi oleh Nickledeon di Amerika. Filosofi serta ceritanya tentang seorang
Avatar – kalo dalam legenda Jawa sama dengan Satria Piningit kali ya – bernama
Aang yang diberi amanah sangat berat; menyelamatkan bumi dari kehancuran akibat
kekejaman negara Api serta mengembalikan keseimbangan bumi. Dibilang suka juga
enggak, dibilang ga suka juga enggak. Tampilannya sich Timur tapi cara berpikir
dan attitude para tokohnya kok Barat ya…

 Kemudian tepat pada jam 8 pagi tampillah Dora the
Explorer
. Hi hi hi…tayangan ini sebenarnya ditujukan untuk anak usia 2-5
tahun lho, tapi ya saya tonton juga, meskipun saya harus berpikir dan bertindak
layaknya penonton yang menjadi target usia. Dulu, pada medio 1990-an saya
sukaaa banget nonton Sesame Street di RCTI (kalo ga salah..udah agak
lupa). Kualitas tayangan yg satu ini top abis lah! Meskipun target penontonnya
adalah usia 5 tahunan, tapi masih bisa dinikmati oleh siapapun, termasuk saya
yang saat itu sudah menginjak remaja (SMP). Dan sampai sekarang pun saya masih
suka. Sayangnya udah ga tayang dan cuman bisa nonton yang versi Indonesia-nya :
Jalan Sesama. Ga persis-persis amat sich sama versi Amerika-nya, tapi sudah
cukup bagus lah. Sesame Street mengajarkan kita agar senang
bersosialisasi dengan sesama, tenggang rasa, toleransi dan mengajarkan kita
berhitung serta kosa kata.

 Setelah Dora, film kartun dimulai lagi pada pukul
17.00…Naruto! Ketika awal- awal nonton kartun ini (sekitar 1 tahun yg
lalu), saya selalu berpikir, “Pada tahun berapa sebenarnya si Naruto ini hidup
dan beraktivitas?”. Kalo dibilang hidup pada millenium awal (awal tahun
2000-an) enggak juga sebab masih banyak tokohnya yang berpakaian mirip orang
yang hidup pada zaman Tokugawa. Tapi dibilang hidup pada zaman Tokugawa ya
enggak juga. Si Naruto & friends pake baju modern, lengkap dengan
aksesorisnya yang modern. Ga jelas….tapi hal yang paling disoroti dalam
kertun Naruto adalah aksi-aksi kekerasannya yang sudah pada taraf sadistis,
berdarah-darah, ditampilkan dengan eksplisit; begitu pun dengan tubuh yang
tersayat, terpotong dan tercincang.

 Jeda waktu sebelum nonton Naruto saya gunakan untuk
nonton sejumlah tayangan talkshow, wisata kuliner serta jelajah dunia. Sebisa
mungkin saya hindari nonton berita. Bikin bete
L. Menonton talkshow (Rachael Ray), saya
mendapat banyak pengetahuan tanpa harus berkerut kening; menonton wisata
kuliner saya dapat membayangkan makan makanan yang enak-enak dengan referensi
yg lebih banyak dan berbobot (si pembawa acara adalah mantan wartawan; dia
memberikan penjelasan yang komplit serta komprehensif tentang makanan yg dia
makan); menonton jelajah dunia saya bisa mengalami adventure virtually. TV
memang kotak ajaib! Saya yang sangat jarang nonton TV saja sampai terlena,
sampai-sampai tidak sempat menyelesaikan “Catatan Pinggir 5” yang ingin saya
baca ulang sebab penulisnya sedang menuai badai kontroversi di tanah air.

 Kembali ke Naruto. Si Naruto sedang jadi tokoh favoritnya
anak-anak di Indonesia. Heran juga, sadis gitu kok jadi idola ya. Mungkin
anak-anak terpukau dengan jurus-jurus ninja yang sering ditampilkan berlebihan
dan tampak gagah. Ditambah kostum para tokohnya fashionable dan looking good. Oh iya, mitos yang
dibangun dalam kartun ini tergolong banyak. Misal, Naruto konon adalah penjelmaan
siluman rubah yang ekornya ada 9. Kemudian banyak jurus ninja yang berhubungan
dengan mitos-mitos tertentu.

 Law of Ueki tidak jauh berbeda dengan Naruto;
dipenuhi mitos, terutama tentang  kekuatan gaib mampu mengubah sampah menjadi batang pohon dsb. Ada
penggambaran tentang neraka. Neraka memang bukan mitos, tapi cerita dan fungsi
neraka dalam Law of Ueki telah dibelokkan. Namun dalam Law of Ueki, kita
tahu Ueki hidup di zaman apa. Dari kostum dan aksesoris yang dipakai
tokoh-tokohnya disimpulkan bahwa mereka hidup sezaman dengan kita. Jam tayang Law
of Ueki
tepat setelah Naruto, durasinya sama, cuman setengah jam.

 Kayak-kayaknya kok saya pernah melihat sosok ceking
bercaping lebar yang kalo tertawa mulutnya kelihatan lebar sekali. One Piece?
Judulnya juga rada aneh. Dalam bahasa Indonesia artinya kan satu lapis. Saya
pikir kisah kartun ini seputar kehidupan anak nelayan atau anak petani gitu
(kan bercaping). Eeehhh…ga tahunya…bajak laut! Tampang para bajak lautnya
ngeri banget, gede-gede kayak binaragawan. Ampun dah. Udah gitu ceritanya nyelimur
kemana-mana (karna kebanyakan tokoh kali ya), jadinya saya terkadang ga ngerti
alurnya gimana. Tapi kartun buatan Jepang ini lumayan menghibur soalnya sang
lakon bercaping dengan tubuh cuman selapis bisa molor-molor kayak persis permen
karet hi hi hi…tarik sana-tarik sini, OK
J.

 Sekian banyak tayangan yang saya tonton ketika saya
sedang dilanda malas yang luar biasa ternyata bisa membuat saya menuliskan
paragraf panjang ini. Jadi, bukankah ini adalah suatu kemalasan yang absurd?

NB : saya masih sangat
merindukan film kartun bertema masak-memasak. Cuman satu yang tersisa; Yakitate
Japan!; itu pun adanya di Animax (pake TV kabel). Pada medio 1990-an Born To
Cook
sempat tayang di Indosiar, tapi sekarang menghilang
L

 

 

ROAD TO INTERVIEW

Sunday, August 10th, 2008

Kulirik
digital di screen HP-ku. 20.33; seharusnya wawancara dilakukan 27 menit lagi.
Tapi sebuah calling dari sekretaris sang artis memberi sebuah kepastian di
tengah ketidakpastian : wawancara tidak akan bisa dilakukan seperti yang
dijadwalkan sebelumnya. Dalam email dari sang artis yg masuk ke inbox-ku
tanggal 19 Juli, cuman membertitahu bahwa departure resmi dari maskapai
penerbangan adalah pukul 08.00 malam dari Jakarta. Kalau penerbangan Jakarta-Surabaya memakan waktu
sekitar 1 jam, maka sang artis yg menjadi narasumberku akan tiba di Surabaya
sekitar jam 9 malam.

“Ayo kita telpon para
suami,” kata bu Ririn sambil tertawa kecil. Segera saja jari-jemari kami-Bu
Ririn, Bu Lani, aku-menari-nari lincah memencet tombol-tombol yang sudah kami
hapal di luar kepala. Bagaimanapun juga
kami belum tahu akan seberapa malam wawancara ini berlangsung. Delay
yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta bisa sampai 1 jam, 2 jam, 3 jam atau
bahkan lebih. Dan aku hanya
mengantongi izin keluar dari suami jam 9 malam dengan durasi 1 jam, tak lebih.
Sebuah SMS kulayamgkan ke phone book ’Zaujii tercinta’ (suamiku tercinta, Arabic).
”Yang, wawancarany molor. Mbak Naz masih di Jakarta. Pesawatnya delay,
ga tahu sampe jam brp. Mudah-mudahan ga lama”. Message sent and stored.

Hari ini sebenarnya tubuh dan
pikiranku letih sekali. Ingin istirahat sejenak. Mengurus rumah tangga lalu
menghadiri kursus dan berbagai undangan, ditambah mereview, memverbatim
serta menulis hasil wawancaraku dengan narasumber-narasumber yang menjadi objek
proyek penulisan buku yang kuterima dari salah satu penerbit; membuatku harus
terus dalam keadaan “on”, meskipun aku terpaksa harus absent sehari dari jadwal
mengajar TPQ di masjid kampungku.

Kalau kupikir-pikir agak aneh juga. Aku yang biasa
berkutat dengan dunia jurnalistik, liput sana-liput sini, wawancara
sana-wawancara sini, ternyata bisa juga ketika diminta ngajar TPQ yang dikelola
salah seorang dosenku yang menjadi pembina TPQ tempatku mengajar. Motivasiku
ngajar cuma 1 : biar dapat Barokah dari Alloh. Amiin. Lagian ada hadits yang
menyatakan bahwa Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan
mengajarkannya.

Nissan Grand Livia hijau pupus yang dikemudikan Bu Ririn
berbelok ke rumah makan Rawon Setan, yang terletak persis di depan hotel
JW.Marriott. “Seandainya orang yang mau kita wawancarai nginep di JW.Marriott,
pasti enak ya. Ga usah jauh-jauh ke Novotel”. Ucapan bu Ririn yang sedikit
disertai guyon seolah mengiyakan andai-andai yang melintas di pikiranku. Hotel
Novotel masih sekitar 5 kilometer lagi. Bu Ririn terlihat lelah. Begitu pula
aku dan bu Lani. Sekarang masih harus mengantri lama di rumah makan yang menu
utamanya konon menjadi menu favorit Presiden Sby. Tiga puluh menit yang lalu
kami masih makan tahu campur di Jl. Kalasan. Bu Ririn menyuruhku menemaninya
makan malam. Bu Lani menolak makan karena tadi sudah makan cap cay di
Magnet Zone. Sementara perutku harus memberi ruang pada sepiring tahu campur
yang, meskipun enak namun karena kapasitas perut sudah full, tahu campur
yg konon paling kesohor se-Surabaya ini akhirnya menjadi “sempalan”. Dan
beberapa menit lagi “sempalan” ini akan menjadi masalah.

“Bu, bisa tolong dikecilkan
AC-nya? Saya tidak kuat”, keluhku pada Bu Ririn. Kuraba tengkukku yang tertutup
jilbab. Segera saja telapak tanganku penuh dengan keringat dingin. Perutku yang
penuh mulai minta dikeluarkan. Sepertinya tahu campur yang baru saja kumakan
berebut ruangan dengan air. Perut kita kan sepertiga makanan, sepertiga udara
dan sepertiga air. Kurasakan jantungku mulai berdebar-debar. Kualihkan
pandangan keluar jendela mobil. Mungkin dengan begini rasa mual yang menyusul
mampu teralihkan dan hilang sesaat. Empire Palace terlihat putih bersih.
Kubahnya yg mirip kubah gedung putih menjulang seolah membelah langit malam
yang hitam. Gedung nan megah itu tampak sangat mencolok di malam hari yang
temaram. Jalan Praban tergolong salah satu jalan protokol di Surabaya, namun
irit lampu. Suasana jadi remang-remang.

Berdiri di atas tanah seluas 2
hektar, pembangunannya memakan biaya lebih dari 500 miliar rupiah. Material
bangunan dan aksesoris ruangan diimpor langsung dari Italia dan Hongkong.
Desainnya Prancis klasik. Bangunan yang bakal menjadi icon kota Surabaya dan
Jatim tersebut berlantai 10 dengan fasilitas bintang lima. Dasar Indonesia, sukanya
membangun proyek mercusuar yang tampak megah dan hebat dari luar, tapi tidak
terlalu berguna. Pembagunan SDM yang seharusnya menjadi prioritas utama malah
terabaikan.
Iseng ku bertanya
pada Bu Ririn, ”pintu masuk Empire Palace itu dimana ya bu?
Saya kok bingung dengan desain pintu
depannya”. Bu Ririn cuma tertawa karena dia juga ga tahu. Bagaimana tidak
bingung; pintu depan yang bertuliskan Empire Palace persis menghadap jalan
Praban, tapi mobil-mobil pengunjung datang dari arah sebaliknya, di belakang
pintu utama, begitu pula dengan orang-orangnya. Halaman belakang jauh lebih
luas dari halaman depan.

Setelah berusaha menyalip
kendaraan di depannya, Bu Ririn akhirnya bisa keluar dari kemacetan dan
sekarang kami sudah berada di Jalan Genteng Kali. Kali ini kondisi tubuhku
sudah tidak terkendali lagi. ”Saya rasanya ingin muntah. Kayaknya saya masuk
angin”, kusambar kantong plastik putih pembungkus rawon. Untung saja penjual
rawonnya melapisi rawon dengan dua lapis plastik. Jadi rawonnya tetap terbungkus
rapi. Namun tetap saja rasanya risih…..

Kucoba menahan sekuat tenaga
agar isi perut tidak keluar. Berhasil. Masih menahan rasa mual, kuberanikan
diri untuk minta izin kembali ke rumah, memulihkan kondisi. Alhamdulillah Bu
Ririn memaklumi. Aku diantar ke Magnet Zone; sebelumnya suamiku sudah ditelpon
dan diminta menjemputku di sana. Hati ini sebenarnya tak enak, namun karena Bu
Ririn bisa memastikan bahwa sang artis bersedia diwawancarai besok, hati ini
sedikit lega, meski tidak 100%; sebab aku merasa bahwa Bu Ririn hanya mencoba
menghiburku saja. Dari kata-kata yang dia ucapkan sesudahnya, tampaknya dia
tetap akan melakukan wawancara malam ini juga dan tetap aku yang harus
melakukannya.

Benar saja, setelah kurang
lebih 1,5 jam berbaring di tempat tidur, HP-ku berdering. ”Mbak, artisnya ga
bisa diwawancarai besok. Nih dia baru saja dateng. Coba aja mbak wawancarai
sekarang ya”. Kulirik angka digital di HP-ku. 23.31. Dengan kesadaran yang
belum pulih benar, kurogoh tasku. Kepala masih terasa pusing. Sudah resiko jadi
wartawan, harus siap dalam kondisi seperti apapun. ”Kemana ya MP4 untuk
wawancara?”. Agak panik kuaduk-aduk isi tas. Gadget kotak seukuran
kepalan tangan tersebut rahib. Aku baru ingat kalau benda itu tertinggal di
mobil. Dengan sedikit menyesal karena sudah bertindak ceroboh, akhirnya
kukeluarkan peralatan cadangan : tape recorder, yang karena termakan usia
kepekaannya berkurang drastis. Kalau speaker-nya tidak didekatkan ke
mulut, walhasil suara rekaman ga bakal kedengaran. Apalagi ini wawancara via
telepon, pastinya suaranya akan lebih ga kedengaran lagi.

Kulayangkan SMS ke Bu Ririn,
memintanya untuk ”mengamankan” MP4 yang tertinggal di mobilnya, dan membantuku
merekam wawancara. Hiks…hati ini kembali ga enak. Bos kok disuruh-suruh.
Tugasnya kan bukan wawancara tapi menjadi penghubung aku dengan sang artis.
Tapi daripada gagal, sekali-sekali nabrak struktural ga papa lah
J.

Kubaca ulang draft wawancara
yang sudah kususun dengan rapi. Kukabarkan pada Bu Ririn bahwa aku siap
melakukan wawancara. Beberapa jam sebelumnya aku sudah diperingatkan oleh Bu
Ririn dan Bu Lani bahwa sang artis bukan orang yang ”mudah”.
Sulit sekali mewawancarai dia pada saat
dia lagi ga mood.
Duh,
bener-bener deh. Jujur, baru kali ini aku mewawancari artis dan jujur, aku ga
begitu respek. Lebih mudah wawancarai politisi atau cendekiawan daripada artis.
Birokrasinya itu lho…ck…ck…ck. Tiap artis itu pasti punya manajer atau
minimal sekreataris lah, yang ngatur segala jadwal manggung, nge-MC, syuting
atau apa lah. Lagian artis pake bawa-bawa mood-nya segala. Dan ini kadang yang
bikin tambah ribet
L. Untung materi yang kutanyakan tergolong
penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak, coba kalau enggak….mungkin
aku udah termasuk wartawan infotainment yang sering ngajuin
pertanyaan-pertanyaan yang ga penting sama sekali, kayak : katanya liburan ke
pulau X ya sama si anu? Kabar perceraiannya gimana? Bla bla bla…

Pertanyaan pertama dijawab
dengan agak ketus. Pertanyaan kedua dijawab dengan tambah ketus. Dan
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dijawab dengan jawaban dan reaksi yang
meledak-ledak; membuat aku harus menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut.
Kalau dirasakan dari nada suaranya, sang artis nih naga-naganya lagi capek
banget dan ga mau diwawancarai
L.

Wawancaranya cuma 8 menit.
Tapi perjuangannya sulit banget. Sudah berlalu, dan aku tidak ingin terlalu
menyesal sebab sesudah diverbatim, ternyata jadi 2 halaman folio. Lumayan lah
meski sempat ”berdarah-darah” he he he….

salam,

Kartika

Mangan Ora Mangan Kumpul&Sugih Tanpa Bandha

Sunday, August 10th, 2008

Entah
kenapa saya kok tiba-tiba teringat alhmarhum budayawan Pak Umar Kayam
yang menulis buku-buku favorit saya, antara lain "Mangan Ora Mangan
Kumpul
" & "Sugih Tanpa Bandha"
Saya sangat suka style-nya pak Umar, dialogis & nJawani banget.
Sentilan-setilannya terasa tajam namun mampu membuat kita tersenyum
(puas dan malu). Saya harus berterima kasih kepada teman saya Nina,
yang telah memperkenalkan buku ini kepada saya.

Dua
buku ini adalah kumpulan kolom yang (hampir) secara rutin terbit Selasa
di koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Dalam dua buku ini (yang
kemudian diteruskan sampai menjadi empat ’sekuel’) Umar Kayam menyajikan potret keluarga yang terdiri dari Pak Ageng, seorang
dosen ‘kere’ sebuah PTN di Yogya (yang ditengarai sebagai potret dari Umar Kayam sendiri) dan keluarga pembantu setianya, yaitu Mister
Rigen, Mrs
Nansiyem dan anak-anak mereka, Beni Prakosa dan Septian Tolo-tolo.
Ngomong-ngomong soal penamaan Mister Rigen dan Mrs Nansiyem, say kira
itu merupakan parodi (pelesetan) dari nama Presiden Amerika pada medio
1980-an; Presiden Reagan dan istrinya Nancy Reagan. Almarhum Pak Umar
Kayam menulis buku itu pada tahun 1980-an hingga menjelang 1990-an
(Sugih Tanpa Bandha). Dalam Mangan Ora Mangan Kumpul juga sempat
disinggung soal isu-isu politik terpanas Amerika saat itu.

Berbagai
isu dibahas dalam tulisan-tulisan pendek ini, seperti isu politik
(utamanya masalah pemilu), kebijakan pemerintah, pendidikan, budaya
sampai hal-hal remeh seperti masalah makanan. Turut meramaikan pula
berbagai peran pendukung seperti Prof Lemahamba (dapat diterjemahkan
sebagai tanah luas) yang pinter dan kaya raya tapi suka snob dan
sombong, Prof Prasojo Legowo (bisa diterjemahkan sebagai sederhana dan
luas hati) yang pinter juga tapi hidupnya serba sederhana dan punya
hobi naik motor bebek butut, keluarga inti Pak Ageng di Jakarta (Bu
Ageng, anak-anaknya, Si Mbak & Gendut, cucu-cucunya, Kenyung &
Ancici serta pembantu setia mereka di Jakarta yaitu Madam
Belgeduwelbeh) serta Pak Joyoboyo sang penjual ayam panggang, yang punya "yel-yel" khas : ayam penggeeenggg

‘Sayangnya’,
karena dari semula terbit di koran daerah pada kumpulan kolom ini cukup
banyak simbol-simbol budaya Jawa yang merasuk dalam kumpulan kolom ini.
Seperti metafor-metafor yang mengambil simbol-simbol ketoprak dan
wayang. Sehingga mungkin agak susah dipahami oleh pembaca yang tidak
begitu familiar dengan idiom-idiom budaya Jawa. Tapi justru karena itu,
buku ini dapat digunakan untuk mengembara ke dunia Jawa. Tidak hanya
dunia secara fisik geografis tapi juga dunia antropologis, budaya dan
lain-lain.

Salam,

Kartika

MEMORI ROMADHON

Sunday, August 10th, 2008

Allohumma baariklana fii
Rojaba wa Sya’bana wa balighna Romadhona. …

Ya alloh, berikanlah
kami keberkahan pada bulan rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada
Ramadhan…
 

 Ini
kenangan 3 tahun lalu, tepatnya Romadhon 2005. Saat itu aku masih berstatus
anak kos dan single (sekarang sudah double)
J. Masa itu adalah masa perjuangan menggarap skripsi. Jadi sudah jarang ke
kampus. Sekali-sekali ke kampus, itu pun kalau ada kepentingan dengan dosen
pembimbing atau ada seminar yang ingin diikuti. Pada masa itu pula aku sudah
jarang sekali bertemu dengan teman satu angkatan maupun teman seperjuangan di
organisasi. Praktis aku juga jarang nyambangi masjid tempat kami sering
berkoordinasi dulu.

 Meskipun
Romadhon masih sekitar 2 bulan lagi, namun nuansanya sudah terasa. Banyak
spanduk dan poster yang berisi imbauan seputar Romadhon yang ditempel di papan
pengumuman kampus dan masjid kampus. Tujuannya untuk mengingatkan kita agar
bersiap menghadapi Romadhon, bulan yang Alloh nggerujug Rahmat-Nya
sebanyak mungkin. Sayang kalau moment ini disia-siakan. Oleh karena itulah maka
begitu memasuki bulan Rojab (bulan ke-7 dalam penanggalan Hijriyah) maka kita
dianjurkan berdoa “Allohumma baariklana fii Rojaba wa Sya’ana wa balighna
Romadhona”.

 Hari
itu aku sengaja menyempatkan diri ke masjid kampus. Kangen saat-saat melakukan
koordinasi dengan teman-teman, kumpul-kumpul untuk mengikuti kajian atau bahkan
diskusi siyasah. Menjelang kelulusan semuanya seolah berakhir begitu saja.

 Keramaian
yang terjadi di sekitar masjid nyaris tidak kukenali. Keramaian itu tidak
terjadi di masjid tapi di depan Fakultas Ekonomi. Segera kulayangkan pandangan
ke arah masjid atap segi delapan. Rupanya sedang ada rekonstruksi terhadap
fisik masjid. Bangunan utama masjid ditutupi oleh seng-seng sehingga praktis
aksesnya tertutup untuk umum. Saat itu aku hanya berpikir bahwa proses
rekonstruksi ini finalnya saat Romadhon nanti. Harapan yang sia-sia sebenarnya
karena ketika meninjau kembali masjid kampus saat H-beberapa hari sebelum
Romadhon, bangunan utama masjid masih tetap seperti 2 bulan lalu. No access.

 Otakku
terus berputar. Kemana nanti aku mau sholat Tarawih dan ikuti kajian kalau
masjid kampusku ditutup seperti ini? Kenapa juga pihak Ta’mir masjid tidak segera menyelesaikan rekonstruksi
masjid padahal fungsi masjid sangat vital, apalagi di bulan Romadhon dimana
bisa dipastikan bahwa orang-orang akan berbondong-bondong pergi ke masjid untuk
sholat Tarawih atau berbuka puasa.

 Akhirnya
kuputuskan untuk “lari” ke masjid kampus milik sebuah institut teknik. Aku
sengaja “lari” ke masjid kampus karena masjid yang berada di tengah-tengah
pusat intelektualitas biasanya menggelar acara seputar Romadhon yang bagus baik
dari segi kualitas maupun kuantitas. Tiap unit kegiatan mahasiswa kerohanian
Islam yang berpusat di masjid kampus punya semacam gerakan Romadhon di kampus
yang sangat kreatif dan inovatif. Maklum, penggagas dan penggeraknya adalah
kaum muda berenergi tinggi,, terbiasa kerja terprogram dan mendapatkan banyak
input dari apa yang sudah mereka pelajari selama ini.

 Di
beberapa selebaran yang ditempel di papan I’lan (papan pengumuman) yang
terdapat di masjid kampus sebuah institut teknik, tertulis nama-nama khatib,
dengan berbagai titel yang tersandang di belakang nama mereka. Beberapa nama
aku kenal, beberapa nama tidak, tapi dari sederetan titel aku tahu bahwa mereka
bukan orang biasa-biasa saja. Jujur,
terkadang motivasi sholat Tarawih sedikit banyak terkontaminasi dengan
keinginan untuk mendengarkan ceramah dari beberapa nama yang kukenal tersebut.

 Angin
sejuk Ramadhon malam pertama akhirnya berhembus. Saat inilah kota tempat aku
tinggal terasa benar-benar “hidup”. Bukan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan atau
sorot lampu kendaraan maupun semarak beragam manusia malam di tempat-tempat
hiburan. Energi yang terpancar dari orang-orang yang berjalan kaki atau naik
kendaraan membuat kota berdenyut kencang. Tapi ini bukan kenangan terbaikku.
Menghabiskan waktu menjelang buka di masjid kampus institut teknik, itulah
kenangan terbaikku. Mengikuti kajian, bakti sosial, worshop, pelatihan, dsb.
Moment-moment di sore hari itu memberikan kejutan-kejutan kecil, juga ilmu dan
teman baru. Ada nuansa yang syahdu yang sangat khas, tidak bisa tergantikan
oleh sore-sore di bulan yang lain. Klise memang, tapi itulah yang real kurasakan.

 Oh
iya, aku biasanya menetapkan “lagu wajib” selama Romadhon. Tahun 2005 adalah
tahun kejayaan Opick “Tombo Ati”. Pada tahun 2004 intro Tombo Ati menghiasi
layar kaca. Irama indahnya menjadi pusat perhatian. Sehingga saat peluncuran
album “Astaghfirullah” pada 2005, nama Opick langsung melejit, albumnya
dianugerahi double Platinum. Praktis, lagu Tombo Ati saat itu menjadi “lagu
wajib”-ku
J.

 Namun
untuk I’tikaf aku memilih tidak di masjid institut teknik sebab pengelolaan
kegiatan I’tikaf di masjid tersebut tidak terlalu bagus. Walhasil, aku
melakukan I’tikaf di masjid lain yang punya program I’tikaf yang bagus dan
terfokus serta terorganisir dengan baik. Surprise aja sepuluh hari terakhir
Romadhon 2005 aku bisa laksanakan I’tikaf genap 10 hari. Biasanya tidak bisa
genap karena aku disibukkan oleh rutinitas mudik
L. Alhamdulillah. Semoga pada Romadhon 2008 ini aku dan keluarga bisa
laksanakan I’tikaf sampai tuntas. Amiin.

 

Allohumma baariklana fii
Rojaba wa Sya’bana wa balighna Romadhona. …

Ya alloh, berikanlah
kami keberkahan pada bulan rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada
Ramadhan…