BUNG TOMO DI TASYAKURAN HUT KEMERDEKAAN RI

Dimuat di majalah Al-Mu’tashim Edisi Agustus 2008

Bung Tomo di
Tasyakuran HUT Kemerdekaan RI

 Sebuah suara keras dan melengking mengingatkan saya pada
seseorang di masa lalu. Pekikan Takbir yang khas semakin menguatkan sosoknya
yang hadir dalam benak saya. Bung Tomo… saya cari sumber suaranya. Dia keluar
dari sebuah load speaker yang disambungkan ke komputer. Seorang lelaki
berkumis lebat tengah duduk di samping komputer, berusaha menyelaraskan suara
agar lebih enak ketika keluar dari load
speaker
. Malam itu baru pukul 19.00. Acara tasyakuran peringatan HUT
kemerdekaan RI belum juga dimulai. Untuk mengisi kekosongan acara, diputarlah
rekaman pidato Bung Tomo beserta film dokumenter mengenai keadaan Surabaya
menjelang peristiwa 10 November dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Pemutaran rekaman pidato Bung
Tomo serta film dokumenter ini terbilang kreatif karena tidak ada RT lain yang
berpikir untuk melakukan hal yang sama. Mereka hanya memutar lagu-lagu
perjuangan yang sudah sangat sering kita dengar saat kita masih berada di
bangku sekolah.

 “Maaf pak, boleh saya mengkopi pidatonya Bung Tomo”, pinta
saya pada Pak RT. Meskipun saya sudah sering searching data di internet,
namun tidak sempat terpikir untuk mencari rekaman pidatonya Bung Tomo. Lagipula
komputer saya belum dilengkapi dengan program RealPlayer, jadi percuma
saja mendownload video-video seperti yang dilakukan Pak RT. “Kalau di
komputer mbak Kartika ga ada RealPlayer ya file-file ini tidak bisa
dibuka. Sekalian saya kopikan RealPlayer-nya ya?”, pak RT menawarkan
bantuan yang sejak tadi saya harapkan.

  Bung Tomo adalah
murid seorang kyai dari Surabaya. Pekikan Allohu Akbar! sering terlontar
dari bibirnya saat menyemangati arek-arek Suroboyo pada saat melawan tentara
Inggris (NICA) yang diboncengi tentara Belanda. Peristiwa terbunuhnya Jenderal
Malaby di tangan arek-arek Suroboyo langsung tersebar ke seluruh dunia.
Bagaimana mungkin dunia pada saat itu tidak terperangah…dalam Hukum
Internasional yang berlalu pada saat itu, seorang jenderal tidak boleh dibunuh,
apalagi dengan cara yang, orang Inggris menyebutnya ‘brutal’. Jenderal Malaby
yang pada saat itu menginap di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), tewas
setelah mobilnya diledakkan oleh arek-arek Suroboyo. Tentara Sekutu kaget dan
bingung dengan tewasnya jenderal mereka. Hal ini tidak pernah mereka alami
sebelumnya. Mereka datang dengan sekompi pasukan yang dilengkapi persenjataan
tempur yang jauh lebih hebat dari yang dimiliki arek-arek Suroboyo, salah
satunya pesawat pembom. Tapi jenderal mereka kok malah terbunuh dengan
mudah dan cepat.

 Karena peristiwa itulah, Surabaya kemudian dikenal dengan
sebutan Kota Pahlawan. Kota yang melahirkan para pahlawan yang keberanian
aksinya mampu menggemparkan tanah air dan dunia internasional. Yang dengan
berani dan kreatif menyobek warna biru pada bendera Belanda di Hotel Yamato,
sehingga warnanya tersisa merah dan putih saja. Bendera negara Indonesia.

 Yang tidak tercatat sejarah adalah kedatangan kyai Madura
dan segenap santrinya ke Surabaya. Ternyata, pesantren memegang peran amat
penting dalam perjuangan kemerdekaan RI. Menurut penuturan salah seorang
pelsaya sejarah, saat kota Surabaya dibom oleh pasukan udara Sekutu, segenap
kyai di Surabaya-banyak yang berasal dari pulau Madura-melakukan dzikir
bersama. Upaya ini membuahkan hasil. Bom-bom dari tentara Sekutu tidak satu pun
yang berhasil mengenai kota Surabaya, sebagian berbelok dan jatuh di Selat
Madura. Sampai-sampai menurut kesaksian seorang pilot salah satu pesawat pembom
Sekutu, adalah sesuatu hal yang sangat mencengangkan, ketika bom sudah sangat
dekat dengan sasaran, tapi mengapa kok bom itu sekonyong-konyong membelok ke
arah lain dan jatuh ke Selat Madura??? Tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dia
benar-benar takjub dengan peristiwa ini. Menurut perhitungannya, tidak mungkin
bom itu bisa membelok seperti itu. Semua sudah diperhitungkan dengan sangat
akurat. Tapi itulah yang terjadi.

 Namun apakah hanya doa
bersama yang bisa dilakukan oleh para kyai dan santrinya? Tentu saja tidak.
Mereka juga berjuang secara fisik, terjun langsung ke medan pertempuran. Ribuan
kyai dan santri dari Madura turun ke Surabaya. Sayang, peristiwa penting ini
tidak diungkap oleh sejarah sehingga rakyat Indonesia tidak tahu besarnya peran
pesantren dalam perjuangan kemerdekaan RI. Begitu besar hutang republik pada
pesantren.

 Terkait dengan pidato Bung Tomo yang sangat fenomenal, Kang
Abik sang penulis novel Ayat-Ayat Cinta-dalam sebuah wawancara dengan
penulis pernah mengusulkan agar diadakan lomba menirukan pidato Bung Tomo.
Seusai mengunjungi Badan Arsip Jawa Timur dan mendengarkan rekaman pidato yang
disimpan di sana, Kang Abik menyatakan kekagumannya pada pidato Bung Tomo.
“Pidato Bung Tomo itu luar biasa”, katanya. Tidak hanya pidatonya yang luar
biasa, tapi prinsip dalam berperang yang diterapkan oleh Bung Tomo sesuai
dengan prinsip Islam : tidak akan menyerang sebelum diserang. Defense,
bukan offence.

 Dalam drama yang dipentaskan oleh santri-santri TPA Nurul
Hidayah-di bawah asuhan Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah-diceritakan bahwa
guru (kyai) Bung Tomo memberi pengaruh besar dalam menanamkan spirit perjuangan
ke dalam jiwa pemuda asli Surabaya tersebut. Bukan semata-mata spirit
perjuangan atas nama nasionalisme, tapi jauh lebih mulia dari pada itu, adalah
spirit berjihad menumpas penjajahan dan ketidakadilan. Merdeka atau mati
syahid, bukan merdeka atau mati (saja) adalah sebenar-benar semboyan yang
banyak didengungkan pada waktu itu (kata ‘syahid’ kemudian sengaja dihilangkan
oleh pemerintah karena berbau agama). Dan pekikan ‘Allohu Akbar’
sebanyak 3 kali yang keluar dari bibir beliau selalu mengawali aksi perjuangan
beliau dan arek-arek Suroboyo.

Wallohu ‘alam

Kartika Pemilia Lestari

PIDATO BUNG
TOMO

10 NOVEMBER
1945

The War
Ultimatum

Bismillaahirrokhmaanirrokhiim

Merdeka!

Saudara-saudara, rakyat
jelata di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan
pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita
diwajibkan, untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata
yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta supaya
kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaya
kita datang kepada mereka itu dengan mengangkat bendera putih, tanda bahwa kita
menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara,

Di dalam
pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan, bahwa
rakyat Indonesia di Surabaya, pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yangf bersal dari Pulau
Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh
Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada
di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan
pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukkan satu
pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukkan satu kekuatan sehingga
mereka itu terjepit dimana-mana. Hanya karena taktik yang licik daripada mereka
itu saudara-saudara, dengan mendatangkan Presiden dan komintern-komintern
lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri. Karena telah kuat, sekarang
inilah keadaannya.

Saudara-saudara,

Kita semuanya, kita
bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini, akan menerima tantangan tentara
Inggris itu. Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Suarabaya, ingin
mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh
pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini, dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita, ini jawaban rakyat Surabaya, ini jawaban pemuda Indonesia
kepada kau sekalian :

Hai tentara Inggris,
kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk
kepadamu. Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu. Kau menyuruh
kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk
diserahkan kepadamu. Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau mengancam
kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah
jawaban kita : selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah,
yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih, maka selama itu tidak
akan kita mau menyerah kepada siapapun juga.

Saudara-saudara rakyat Surabaya,

Siaplah! Keadaan
genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak! Baru kalau
kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu! Kita tunjukkan, bahwa
kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka! Dan untuk kita
saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka, sebelum
kita tetap merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya,
pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Alloh selalu berada di
pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita
sekalian. Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Merdeka!

Bismillaahirrokhmaanirrokhiim

Merdeka!

Saudara-saudara,
tukang-tukang becak, saudara-saudara bakul-bakul soto, bakul-bakul tahu,
saudara-saudara orang-orang Madura, tukang rombengan, saudara-saudara wong-wong
kampung Suroboyo, saudara-saudara arek-arek Suroboyo, pemuda-pemuda Suroboyo,
dan saudara-saudara semua pemuda-pemuda Indonesia yang tergabung dalam
pasukan-pasukannya masing-masing di Surabaya ini, baru saja telah datang ke
markas kami pimpinan dari pemuda Republik Indonesia yang bertugas di sektor
utara, pimpinan daripada pasukan polisi yang bertugas di sektor utara,
teman-teman dari BKR yang bertugas di sektor utara, semuanya telah melaporkan
kepada kami, bahwa pasukan-pasukan Inggris sudah mulai bergerak dan sudah mulai
menembak-nembak ke arah kita. Maka saudara-saudara, dengan ini, mulailah kita
sekarang ini, majulah kita sekarang ini! Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu
Akbar!
Merdeka!

One Response to “BUNG TOMO DI TASYAKURAN HUT KEMERDEKAAN RI”

  1. adit Says:

    dari artikel di wikipedia indonesia-kota surabaya disebutkan mobil malaby meledak akibat granat yg dilempar seorang perwira inggris yg meleset. tp pasukan inggris di surabaya lapor ke atasannya kalo pelakunya adalah milisi indonesia.
    jd sebenarnya rakyat surabaya difitnah ! tidak ada alasan buat inggris utk menyerang surabaya. serangan inggris itu bener2 ILEGAL !

Leave a Reply