KEMALASAN YANG ABSURD

 Pernahkan Anda merasa malas seharian? Malas melakukan
apapun. Hanya ingin tidur dan makan. Saya pernah. Kejadiannya baru kemarin.
Kemarin ketika bangun tidur, tiba-tiba saya merasa malas sekali. Mungkin ini
adalah akumulasi rasa capek berhari-hari yang lalu. Walhasil, seharian saya
cuma nonton TV, itupun nonton tayangan-tayangan ringan semisal film kartun.
Boro-boro berita-berita berat seputar politik, berita ringan (feature) saja
saya malas menontonnya. Jam 5 pagi nonton Go! Diego Go! Selepas itu
giliran Spongebob Squarepants yang dibagi dalam 2 sesi, dari jam 05.30
sampai 06.30. Kalau yang ini film kartun favorit; selain ceritanya yang bagus
dan kreatif, skenario-nya cerdas. Ceritanya biasa menyindir atau mengkritik
fenomena politik, sosial maupun budaya di Amerika. Terlepas dari Spongebob
Squarepants
biasanya saya tidak terlalu suka sama kartun Amerika, sebab
nuansanya individual banget (biasanya para tokohnya hidup sendiri dan jarang
bersosialisasi dengan tetangga bahkan keluarga besar) dan ada ketidaksambungan
cara pandang serta budaya antara saya dan budaya Amerika. Bagi saya mereka
terlalu asing
L

 Film kartun Chalk Zone sebenarnya cukup bagus,
namun saya kok merasa ceritanya kurang greget dan terlalu monoton (jika
dibandingkan dengan Spongebob Squarepants). Namun satu hal yang membuat
saya terus menonton kartun produksi Hollywood in adalah sketsa dan gambar yang
dibuat dengan kapur selalu mengingatkan saya pada masa kecil dulu, saat menulis
di sekolah masih pake kapur putih maupun warna-warni. Kalo sekarang kan hampir
tiap sekolahan sudah pake spidol dengan white board-nya. Kapur? Jadul kaleeeee
J

 Dari sekian banyak film kartun dari negeri-negeri Barat,
mungkin cuma The Legend of Aang (Avatar) yang berkisah tentang
orang-orang dari negeri-negeri Timur. Film kartun berdurasi 1 jam ini dibuat
oleh Michael Dimartio (kalau ga salah namanya gini) dan Aaron Ehaatz.
Diproduksi oleh Nickledeon di Amerika. Filosofi serta ceritanya tentang seorang
Avatar – kalo dalam legenda Jawa sama dengan Satria Piningit kali ya – bernama
Aang yang diberi amanah sangat berat; menyelamatkan bumi dari kehancuran akibat
kekejaman negara Api serta mengembalikan keseimbangan bumi. Dibilang suka juga
enggak, dibilang ga suka juga enggak. Tampilannya sich Timur tapi cara berpikir
dan attitude para tokohnya kok Barat ya…

 Kemudian tepat pada jam 8 pagi tampillah Dora the
Explorer
. Hi hi hi…tayangan ini sebenarnya ditujukan untuk anak usia 2-5
tahun lho, tapi ya saya tonton juga, meskipun saya harus berpikir dan bertindak
layaknya penonton yang menjadi target usia. Dulu, pada medio 1990-an saya
sukaaa banget nonton Sesame Street di RCTI (kalo ga salah..udah agak
lupa). Kualitas tayangan yg satu ini top abis lah! Meskipun target penontonnya
adalah usia 5 tahunan, tapi masih bisa dinikmati oleh siapapun, termasuk saya
yang saat itu sudah menginjak remaja (SMP). Dan sampai sekarang pun saya masih
suka. Sayangnya udah ga tayang dan cuman bisa nonton yang versi Indonesia-nya :
Jalan Sesama. Ga persis-persis amat sich sama versi Amerika-nya, tapi sudah
cukup bagus lah. Sesame Street mengajarkan kita agar senang
bersosialisasi dengan sesama, tenggang rasa, toleransi dan mengajarkan kita
berhitung serta kosa kata.

 Setelah Dora, film kartun dimulai lagi pada pukul
17.00…Naruto! Ketika awal- awal nonton kartun ini (sekitar 1 tahun yg
lalu), saya selalu berpikir, “Pada tahun berapa sebenarnya si Naruto ini hidup
dan beraktivitas?”. Kalo dibilang hidup pada millenium awal (awal tahun
2000-an) enggak juga sebab masih banyak tokohnya yang berpakaian mirip orang
yang hidup pada zaman Tokugawa. Tapi dibilang hidup pada zaman Tokugawa ya
enggak juga. Si Naruto & friends pake baju modern, lengkap dengan
aksesorisnya yang modern. Ga jelas….tapi hal yang paling disoroti dalam
kertun Naruto adalah aksi-aksi kekerasannya yang sudah pada taraf sadistis,
berdarah-darah, ditampilkan dengan eksplisit; begitu pun dengan tubuh yang
tersayat, terpotong dan tercincang.

 Jeda waktu sebelum nonton Naruto saya gunakan untuk
nonton sejumlah tayangan talkshow, wisata kuliner serta jelajah dunia. Sebisa
mungkin saya hindari nonton berita. Bikin bete
L. Menonton talkshow (Rachael Ray), saya
mendapat banyak pengetahuan tanpa harus berkerut kening; menonton wisata
kuliner saya dapat membayangkan makan makanan yang enak-enak dengan referensi
yg lebih banyak dan berbobot (si pembawa acara adalah mantan wartawan; dia
memberikan penjelasan yang komplit serta komprehensif tentang makanan yg dia
makan); menonton jelajah dunia saya bisa mengalami adventure virtually. TV
memang kotak ajaib! Saya yang sangat jarang nonton TV saja sampai terlena,
sampai-sampai tidak sempat menyelesaikan “Catatan Pinggir 5” yang ingin saya
baca ulang sebab penulisnya sedang menuai badai kontroversi di tanah air.

 Kembali ke Naruto. Si Naruto sedang jadi tokoh favoritnya
anak-anak di Indonesia. Heran juga, sadis gitu kok jadi idola ya. Mungkin
anak-anak terpukau dengan jurus-jurus ninja yang sering ditampilkan berlebihan
dan tampak gagah. Ditambah kostum para tokohnya fashionable dan looking good. Oh iya, mitos yang
dibangun dalam kartun ini tergolong banyak. Misal, Naruto konon adalah penjelmaan
siluman rubah yang ekornya ada 9. Kemudian banyak jurus ninja yang berhubungan
dengan mitos-mitos tertentu.

 Law of Ueki tidak jauh berbeda dengan Naruto;
dipenuhi mitos, terutama tentang  kekuatan gaib mampu mengubah sampah menjadi batang pohon dsb. Ada
penggambaran tentang neraka. Neraka memang bukan mitos, tapi cerita dan fungsi
neraka dalam Law of Ueki telah dibelokkan. Namun dalam Law of Ueki, kita
tahu Ueki hidup di zaman apa. Dari kostum dan aksesoris yang dipakai
tokoh-tokohnya disimpulkan bahwa mereka hidup sezaman dengan kita. Jam tayang Law
of Ueki
tepat setelah Naruto, durasinya sama, cuman setengah jam.

 Kayak-kayaknya kok saya pernah melihat sosok ceking
bercaping lebar yang kalo tertawa mulutnya kelihatan lebar sekali. One Piece?
Judulnya juga rada aneh. Dalam bahasa Indonesia artinya kan satu lapis. Saya
pikir kisah kartun ini seputar kehidupan anak nelayan atau anak petani gitu
(kan bercaping). Eeehhh…ga tahunya…bajak laut! Tampang para bajak lautnya
ngeri banget, gede-gede kayak binaragawan. Ampun dah. Udah gitu ceritanya nyelimur
kemana-mana (karna kebanyakan tokoh kali ya), jadinya saya terkadang ga ngerti
alurnya gimana. Tapi kartun buatan Jepang ini lumayan menghibur soalnya sang
lakon bercaping dengan tubuh cuman selapis bisa molor-molor kayak persis permen
karet hi hi hi…tarik sana-tarik sini, OK
J.

 Sekian banyak tayangan yang saya tonton ketika saya
sedang dilanda malas yang luar biasa ternyata bisa membuat saya menuliskan
paragraf panjang ini. Jadi, bukankah ini adalah suatu kemalasan yang absurd?

NB : saya masih sangat
merindukan film kartun bertema masak-memasak. Cuman satu yang tersisa; Yakitate
Japan!; itu pun adanya di Animax (pake TV kabel). Pada medio 1990-an Born To
Cook
sempat tayang di Indosiar, tapi sekarang menghilang
L

 

 

Leave a Reply