KOMUNIKATIF-KOMUNIKATA

 “Dilla, kamu nanti di panggung baca teks yang ini aja.
Ini lebih pendek”.
Kemudian Dilla pun membandingkan ukuran 2 kertas.
Rencananya saya akan memperpendek saja puisinya agar Dilla tidak kesulitan
membacanya.

 “Ustadzah, lebih pendek kertas yang ini,” celetuk
Dilla sambil menunjuk kertas berisi puisi yang belum saya revisi. Spontan, saya tertawa, sampai keluar air mata saya. “Dilla….yang
lebih pendek bukan ukuran kertasnya, tapi tulisannya…”.

 Kepolosan murid saya membuat saya sadar akan satu hal :
anak kecil menilai atau mengartikan sesuatu secara harfiah. Mereka belum
mengenal apa yang disebut ‘konteks’. Anak kecil juga punya kecenderungan meniru
apa yang mereka lihat dan mereka dengar, tanpa mengetahui esensinya. Ambil
contoh Fahmi. Dengan mimik lucu Fahmi menunjukkan lipatan kertas yang sedang
dia masukkan ke dalam saku seragamnya. Sambil menepuk-nepuk kertas yang
sekarang sudah ada di sakunya, Fahmi berkata, “Ustadzah, ini namanya
elegan”.
Ha ha ha….tertawa saya dibuatnya. Ooooo….jadi Fahmi menganggap
menyimpan kertas di saku baju adalah perilaku yang elegan. Entah dari mana dia
memperoleh istilah ‘elegan’ dan pemahaman bahwa memasukkan kertas ke saku baju
adalah ‘elegan’.

 Seringkali kita tercengang dan merenung setelah mendengar
celoteh anak kecil. Memang, cara berpikir mereka masih sederhana, namun justru
kederhanaan itu mengandung kerumitan yang tak pernah kita duga sebelumnya.  Saya pernah mendapat “teguran” dari
seorang murid saya yang beranjak ABG. Murid saya yang satu ini terkenal cerdas
sekaligus kritis. Dia pandai membaca situasi dan menyampaikan apa yang ada di
hatinya dengan bahasa yang terkadang saya merasa….sangat dewasa. Putri bungsu
dosen saya ini juga terkenal keras kepala. “Teguran” yang dia sampaikan
redaksionalnya kurang lebih begini, “Ustadzah, jangan bilang ‘belajar keras’
ke teman-teman. Mereka tuh ga ngerti apa arti ‘belajar keras’. Teman-teman
mikirnya ‘belajar keras’ tuh ‘belajar dengan suara keras’…”.

  Lama saya
tercenung, terkejut dengan “teguran”-nya. Kemudian dalam benak saya terbayang
kejadian beberapa malam yang lalu, yang kembali saya ingat setelah terlupakan
oleh beratus, bahkan beribu kata yang mampir di benak saya setiap hari, setiap
jam, setiap menit, setiap detik. Malam itu, salah seorang murid saya yang masih
kelas 1 SD (pipinya montok sekali), bertanya pada saya, “Ustadzah, ‘belajar
keras’ itu apa…?”.
Ada juga yang bertanya, “Gugup itu apa sich…?”.

 Rupanya pemilihan diksi dan bahasa yang saya gunakan dalam
berkomunikasi dengan murid-murid saya belum tepat. Artinya saya belum bisa
komunikatif, belum bisa berbicara sesuai dengan usia mereka. Bukankah
Rasulullah SAW pernah memberi semacam tips, bahwa kita hendaknya berbicara
dengan bahasa yang digunakan oleh lawan bicara kita (melihat segi usia, latar
belakang pendidikan, suku, dsb). Dengan kata lain, beradaptasilah dengan baik
supaya kita dipahami dan dicintai lawan bicara kita. Ternyata saya masih harus
banyak belajar, belajar dari celoteh anak.

Leave a Reply