ROAD TO INTERVIEW
Kulirik
digital di screen HP-ku. 20.33; seharusnya wawancara dilakukan 27 menit lagi.
Tapi sebuah calling dari sekretaris sang artis memberi sebuah kepastian di
tengah ketidakpastian : wawancara tidak akan bisa dilakukan seperti yang
dijadwalkan sebelumnya. Dalam email dari sang artis yg masuk ke inbox-ku
tanggal 19 Juli, cuman membertitahu bahwa departure resmi dari maskapai
penerbangan adalah pukul 08.00 malam dari Jakarta. Kalau penerbangan Jakarta-Surabaya memakan waktu
sekitar 1 jam, maka sang artis yg menjadi narasumberku akan tiba di Surabaya
sekitar jam 9 malam.
“Ayo kita telpon para
suami,” kata bu Ririn sambil tertawa kecil. Segera saja jari-jemari kami-Bu
Ririn, Bu Lani, aku-menari-nari lincah memencet tombol-tombol yang sudah kami
hapal di luar kepala. Bagaimanapun juga
kami belum tahu akan seberapa malam wawancara ini berlangsung. Delay
yang terjadi di Bandara Soekarno Hatta bisa sampai 1 jam, 2 jam, 3 jam atau
bahkan lebih. Dan aku hanya
mengantongi izin keluar dari suami jam 9 malam dengan durasi 1 jam, tak lebih.
Sebuah SMS kulayamgkan ke phone book ’Zaujii tercinta’ (suamiku tercinta, Arabic).
”Yang, wawancarany molor. Mbak Naz masih di Jakarta. Pesawatnya delay,
ga tahu sampe jam brp. Mudah-mudahan ga lama”. Message sent and stored.
Hari ini sebenarnya tubuh dan
pikiranku letih sekali. Ingin istirahat sejenak. Mengurus rumah tangga lalu
menghadiri kursus dan berbagai undangan, ditambah mereview, memverbatim
serta menulis hasil wawancaraku dengan narasumber-narasumber yang menjadi objek
proyek penulisan buku yang kuterima dari salah satu penerbit; membuatku harus
terus dalam keadaan “on”, meskipun aku terpaksa harus absent sehari dari jadwal
mengajar TPQ di masjid kampungku.
Kalau kupikir-pikir agak aneh juga. Aku yang biasa
berkutat dengan dunia jurnalistik, liput sana-liput sini, wawancara
sana-wawancara sini, ternyata bisa juga ketika diminta ngajar TPQ yang dikelola
salah seorang dosenku yang menjadi pembina TPQ tempatku mengajar. Motivasiku
ngajar cuma 1 : biar dapat Barokah dari Alloh. Amiin. Lagian ada hadits yang
menyatakan bahwa Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al-Quran dan
mengajarkannya.
Nissan Grand Livia hijau pupus yang dikemudikan Bu Ririn
berbelok ke rumah makan Rawon Setan, yang terletak persis di depan hotel
JW.Marriott. “Seandainya orang yang mau kita wawancarai nginep di JW.Marriott,
pasti enak ya. Ga usah jauh-jauh ke Novotel”. Ucapan bu Ririn yang sedikit
disertai guyon seolah mengiyakan andai-andai yang melintas di pikiranku. Hotel
Novotel masih sekitar 5 kilometer lagi. Bu Ririn terlihat lelah. Begitu pula
aku dan bu Lani. Sekarang masih harus mengantri lama di rumah makan yang menu
utamanya konon menjadi menu favorit Presiden Sby. Tiga puluh menit yang lalu
kami masih makan tahu campur di Jl. Kalasan. Bu Ririn menyuruhku menemaninya
makan malam. Bu Lani menolak makan karena tadi sudah makan cap cay di
Magnet Zone. Sementara perutku harus memberi ruang pada sepiring tahu campur
yang, meskipun enak namun karena kapasitas perut sudah full, tahu campur
yg konon paling kesohor se-Surabaya ini akhirnya menjadi “sempalan”. Dan
beberapa menit lagi “sempalan” ini akan menjadi masalah.
“Bu, bisa tolong dikecilkan
AC-nya? Saya tidak kuat”, keluhku pada Bu Ririn. Kuraba tengkukku yang tertutup
jilbab. Segera saja telapak tanganku penuh dengan keringat dingin. Perutku yang
penuh mulai minta dikeluarkan. Sepertinya tahu campur yang baru saja kumakan
berebut ruangan dengan air. Perut kita kan sepertiga makanan, sepertiga udara
dan sepertiga air. Kurasakan jantungku mulai berdebar-debar. Kualihkan
pandangan keluar jendela mobil. Mungkin dengan begini rasa mual yang menyusul
mampu teralihkan dan hilang sesaat. Empire Palace terlihat putih bersih.
Kubahnya yg mirip kubah gedung putih menjulang seolah membelah langit malam
yang hitam. Gedung nan megah itu tampak sangat mencolok di malam hari yang
temaram. Jalan Praban tergolong salah satu jalan protokol di Surabaya, namun
irit lampu. Suasana jadi remang-remang.
Berdiri di atas tanah seluas 2
hektar, pembangunannya memakan biaya lebih dari 500 miliar rupiah. Material
bangunan dan aksesoris ruangan diimpor langsung dari Italia dan Hongkong.
Desainnya Prancis klasik. Bangunan yang bakal menjadi icon kota Surabaya dan
Jatim tersebut berlantai 10 dengan fasilitas bintang lima. Dasar Indonesia, sukanya
membangun proyek mercusuar yang tampak megah dan hebat dari luar, tapi tidak
terlalu berguna. Pembagunan SDM yang seharusnya menjadi prioritas utama malah
terabaikan. Iseng ku bertanya
pada Bu Ririn, ”pintu masuk Empire Palace itu dimana ya bu? Saya kok bingung dengan desain pintu
depannya”. Bu Ririn cuma tertawa karena dia juga ga tahu. Bagaimana tidak
bingung; pintu depan yang bertuliskan Empire Palace persis menghadap jalan
Praban, tapi mobil-mobil pengunjung datang dari arah sebaliknya, di belakang
pintu utama, begitu pula dengan orang-orangnya. Halaman belakang jauh lebih
luas dari halaman depan.
Setelah berusaha menyalip
kendaraan di depannya, Bu Ririn akhirnya bisa keluar dari kemacetan dan
sekarang kami sudah berada di Jalan Genteng Kali. Kali ini kondisi tubuhku
sudah tidak terkendali lagi. ”Saya rasanya ingin muntah. Kayaknya saya masuk
angin”, kusambar kantong plastik putih pembungkus rawon. Untung saja penjual
rawonnya melapisi rawon dengan dua lapis plastik. Jadi rawonnya tetap terbungkus
rapi. Namun tetap saja rasanya risih…..
Kucoba menahan sekuat tenaga
agar isi perut tidak keluar. Berhasil. Masih menahan rasa mual, kuberanikan
diri untuk minta izin kembali ke rumah, memulihkan kondisi. Alhamdulillah Bu
Ririn memaklumi. Aku diantar ke Magnet Zone; sebelumnya suamiku sudah ditelpon
dan diminta menjemputku di sana. Hati ini sebenarnya tak enak, namun karena Bu
Ririn bisa memastikan bahwa sang artis bersedia diwawancarai besok, hati ini
sedikit lega, meski tidak 100%; sebab aku merasa bahwa Bu Ririn hanya mencoba
menghiburku saja. Dari kata-kata yang dia ucapkan sesudahnya, tampaknya dia
tetap akan melakukan wawancara malam ini juga dan tetap aku yang harus
melakukannya.
Benar saja, setelah kurang
lebih 1,5 jam berbaring di tempat tidur, HP-ku berdering. ”Mbak, artisnya ga
bisa diwawancarai besok. Nih dia baru saja dateng. Coba aja mbak wawancarai
sekarang ya”. Kulirik angka digital di HP-ku. 23.31. Dengan kesadaran yang
belum pulih benar, kurogoh tasku. Kepala masih terasa pusing. Sudah resiko jadi
wartawan, harus siap dalam kondisi seperti apapun. ”Kemana ya MP4 untuk
wawancara?”. Agak panik kuaduk-aduk isi tas. Gadget kotak seukuran
kepalan tangan tersebut rahib. Aku baru ingat kalau benda itu tertinggal di
mobil. Dengan sedikit menyesal karena sudah bertindak ceroboh, akhirnya
kukeluarkan peralatan cadangan : tape recorder, yang karena termakan usia
kepekaannya berkurang drastis. Kalau speaker-nya tidak didekatkan ke
mulut, walhasil suara rekaman ga bakal kedengaran. Apalagi ini wawancara via
telepon, pastinya suaranya akan lebih ga kedengaran lagi.
Kulayangkan SMS ke Bu Ririn,
memintanya untuk ”mengamankan” MP4 yang tertinggal di mobilnya, dan membantuku
merekam wawancara. Hiks…hati ini kembali ga enak. Bos kok disuruh-suruh.
Tugasnya kan bukan wawancara tapi menjadi penghubung aku dengan sang artis.
Tapi daripada gagal, sekali-sekali nabrak struktural ga papa lahJ.
Kubaca ulang draft wawancara
yang sudah kususun dengan rapi. Kukabarkan pada Bu Ririn bahwa aku siap
melakukan wawancara. Beberapa jam sebelumnya aku sudah diperingatkan oleh Bu
Ririn dan Bu Lani bahwa sang artis bukan orang yang ”mudah”. Sulit sekali mewawancarai dia pada saat
dia lagi ga mood. Duh,
bener-bener deh. Jujur, baru kali ini aku mewawancari artis dan jujur, aku ga
begitu respek. Lebih mudah wawancarai politisi atau cendekiawan daripada artis.
Birokrasinya itu lho…ck…ck…ck. Tiap artis itu pasti punya manajer atau
minimal sekreataris lah, yang ngatur segala jadwal manggung, nge-MC, syuting
atau apa lah. Lagian artis pake bawa-bawa mood-nya segala. Dan ini kadang yang
bikin tambah ribetL. Untung materi yang kutanyakan tergolong
penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak, coba kalau enggak….mungkin
aku udah termasuk wartawan infotainment yang sering ngajuin
pertanyaan-pertanyaan yang ga penting sama sekali, kayak : katanya liburan ke
pulau X ya sama si anu? Kabar perceraiannya gimana? Bla bla bla…
Pertanyaan pertama dijawab
dengan agak ketus. Pertanyaan kedua dijawab dengan tambah ketus. Dan
pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dijawab dengan jawaban dan reaksi yang
meledak-ledak; membuat aku harus menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut.
Kalau dirasakan dari nada suaranya, sang artis nih naga-naganya lagi capek
banget dan ga mau diwawancaraiL.
Wawancaranya cuma 8 menit.
Tapi perjuangannya sulit banget. Sudah berlalu, dan aku tidak ingin terlalu
menyesal sebab sesudah diverbatim, ternyata jadi 2 halaman folio. Lumayan lah
meski sempat ”berdarah-darah” he he he….
salam,
Kartika
August 11th, 2008 at 8:10 pm
mbak..yg sabar kl ngadepin mb naz..
aku dah lmyn srg wwcrai dia soalnya, jd ya sdkt bnyk tau lah
tp berhasil kan???
emng orangnya rada moody tp buaeekkkkkkkkkkkkkk bgt kok…
pd dsrnya dia seneng bgt ditanya2..cm pertanyaannya jg musti cerdas sih
August 13th, 2008 at 7:05 pm
Berhasil sich:). Besoknya Mbak naz langsung banjiri HP-ku dengan SMS-SMS berisi idea-ideanya…buanyaaaaak:)
August 13th, 2008 at 7:33 pm
bgitulah Naz….
org yg antusias kl dah tau kitanya antusias..tp lgs jutek kl ngliat kitanya ga meyakinkan..huehehe
basicly, dia buaek bgt kok..