Sketsa Perjalanan
Saya punya kisah tentang orang-orang luar biasa (tanpa
tanda kutip), yang tinggal di tempat yang “luar biasa”. Suatu kali saya
ditugaskan liputan di sebuah desa, yang hingga menginjak era milenium, belum
punya listrik. Mereka masih mengandalkan lampu petromak- yang lebih beruntung
bisa memakai aki-dan yang “lebih luar biasa”, mereka tidak punya kamar mandi
dan WC yang uncivilized. Semua tatanan di desa tersebut nyaris sama
dengan tatanan di era Orde Lama. Yang membedakan cuma kendaraan yang
lalu-lalang di desa tersebut. Motor merk Honda atau Yamaha keluaran era
milenium berseliweran. Bahkan mobil keluaran era milenium juga ada (mobil yang
membawa saya dan rombongan, red).
Saya
sebenarnya sudah pernah mengunjungi kawasan yang namanya pedesaan. Dulu-waktu masih
SD-saya pernah ke sebuah desa di pelosok Banyumas. Belum ada listrik, tapi
orang sana sudah terbiasa memakai aki. Dan sudah ada kamar mandi serta WC yang civilized.
Tapi kali ini beda. Kawasan yang saya kunjungi ini benar-benar terpencil.
Bukan saya ingin mendiskreditkan suatu kawasan terpencil. Tapi ini sebuah ironi
di era milenium, abad 21, di pulau Jawa yang katanya paling maju, masih ada
kawasan yang uncivilized. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Letak
desa tersebut di lereng gunung, termasuk salah satu wilayah sebuah kabupaten di
timur Jawa Timur. Dekat dengan Banyuwangi. Saya merasakan mobil yang saya
tumpangi perlahan berhenti, setelah menanjak beberapa kilometer. Saya mencoba
membuka mata; ngantuk banget karena perjalanan dilakukan pada malam hari.
Gelapnya malam tidak menggagalkan mata saya menangkap rombongan kabut setelah
lampu mobil mengirimkan cahaya pada mata saya. “Wah, pasti dingin nih”, batin
saya.
Begitu
turun dari mobil, badan saya langsung menggigil. “Pimred kok ga bilang sich
kalo tempatnya dingin. Mana ga bawa jaket lagi” keluh saya dalam hati, ngomel
sendiri. Tentu saja dingin. Desa tempat saya liputan mengenai pesantren virtual
ini berada beberapa ribu meter di atas permukaan air laut. Brrrrrrr….saya
tangkupkan kedua tangan saya ke tubuh saya yang saat itu cuman memakai kaos
yang lebih cocok dipakai di tempat yang panas. “Ini kan bukan liputan ke
Lapindo. Kok ya aku pake kaos beginian,” lagi-lagi saya mengomel dalam hati.
Alhamdulillah, pemilik rumah tempat saya menginap berbaik
hati meminjamkan saya selimut dan saya diberi tempat tidur –yang meskipun
sangat sederhana tapi sangat hangat. Paginya saya dibuatkan kopi handmade yang
sangat sedaaaap. Kopi ini dijemur dan digiling sendiri oleh sang pemiliki
rumah. Masyarakat di desa ini tidak terbiasa minum kopi instan rasa pabrik.
Jauh lebih enak kopi handmade (dan kopi instan distribusinya mungkin ga
nyampe kesini). Berbagai panganan dihidangkan. Duh, ramah sekali
masyarakat desa ini. Mereka totalitas melayani tamunya. Waktu itu saya bawa
bekal beberapa batang coklat. Dan semua tentu sudah mafhum, bahwa angka
kelahiran di Indonesia tergolong tinggi, termasuk di desa ini. Lalu, apa
hubungannya? Sebentar, baru saja ingin saya jelaskan. Jadi waktu itu banyak
anak kecil yang imut muncul di depan saya, tersenyum malu-malu. Saya harus tahu
diri lah, ada beberapa batang coklat di tas saya, dan warga desa ini sudah
sedemikian baik mau menerima saya dan rombongan. “Adek-adek, mbak bawa coklat
nich. Dibagi-bagi sama teman-temannya ya..”. Nah, itu maksud saya. Bagi-bagi
coklat ke anak-anak sang pemilik rumah dan anak-anak tetangganya sang pemilik
rumah. Seru juga.
Di awal tadi kan sudah saya sebutkan, bahwa di desa tempat
saya liputan kamar mandi dan WC-nya uncivilized. Lalu bagaimana saya
berkompromi dengan fenomena itu? Ya sudah, saya dan teman-teman saya saling
“menjaga”. Maksudnya? Ya kami saling mengawasi saat mandi atau buang air. Memang harus begitu, lha wong kamar
mandi dan WC-nya tidak beratap, bahkan ada yang nyaris tidak bertembok. Mana
air sulit lagi. Duh….
Tapi liputan lancar-lancar saja. Saya pulang dibawain
seplastik biji kopi dan bertandan-tandan pisang. Rupanya sang pemilik rumah
tahu kalau saya suka makan pisang (sebenarnya bukan suka pada pisang, tapi saat
itu saya merasa pisang lah makanan yang paling bisa masuk ke mulut) dan jatuh
cinta pada kopi handmade mereka (nah, kalau yang ini betul banget), yang
bagi saya merupakan masterpiece. Belum pernah saya rasakan kopi seenak
itu sebelumnyaJ
08:45, Study Center
Menapaktilasi HUT
Kemerdekaan RI ke-63…Apa yang sudah kita lakukan?