TERBANGAN
Simfoni nan rancak menggema di dalam masjid
terbesar di daerah tempat tinggal saya. Baru kali itu bisa menghadiri undangan Istighosah (saling memohon) dari dosen
saya yang sekaligus menjadi Ta’mir
masjid (pengurus masjid) dan pembina TPQ. “Kamu
setiap Kamis legi ba’da Isya datang ya ke masjid. Ada Istighosah. Ada
makan-makannya juga,” kata dosen saya. Salut saya sama perhatian dosen saya
yang satu ini. Kalau saya terpaksa tidak bisa menghadiri Istighosah (entah sudah berapa kali saya diundang tapi tak pernah
datang, sampai malu saya dibuatnya), dosen saya pasti tidak pernah absen ngirim
makanan yang dihidangkan saat Istighosah,
lewat para pembantunya atau bahkan putri kesayangan dosen saya dan saya (saya
dan ibunya sama-sama sangat menyayangi anak ini karena alasan yang sangat wajar
: sholehah, dewasa, pintar, luwes). Saya dan suami sering terharu oleh
perhatian beliau. Apalagi beliau di sela-sela kesibukan menjadi dosen di sebuah
perguruan tinggi ternama masih sempat dan bersedia mengurusi masjid (mengurusi
umat). Tidak banyak orang kaya dan berpendidikan tinggi bersedia nggelibet dengan urusan masjid. Atau
mungkin banyak juga, saya saja yang tidak tahu.
Acara inti belum juga
dimulai. Masih sekitar 1,5 jam lagi. Masih lama. Ibu-ibu jama’ah tetap masjid
ini masih sibuk menata makanan dan minuman serta kertas berisi wirid yang sedianya akan
dibagikan kepada para peserta Istighosah,
yang umumnya berasal dari jama’ah tetap, santri-santri TPQ di masjid ini, serta
masyarakat umum sekitar masjid. Hiburan pembuka segera dimulai. Beberapa orang
anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan yang terletak di dekat masjid menabuh
terbang dan rebana. Dua orang anak menjadi
lead vocal. Usia mereka rata-rata belasan tahun. Masih ABG. Mereka
melantunkan Sholawat kepada Rasulullah SAW. Kata ibu di sebelah saya, mereka
memang sudah biasa diundang oleh masjid ini dan pihak-pihak yang hendak
mengadakan hajatan. Tradisi Terbangan
(membaca Sholawat sambil menabuh alat musik terbang
dan rebana) sudah mendarah daging
dalam warga Nahdliyin. Saya tidak begitu mengetahui cikal-bakal tradisi Islam
yang satu ini, tapi menurut sumber yang dapat dipercaya, tradisi ini sebenarnya
tercantum dalam kitab berjudul Diba’an yang
dikarang oleh Syaikh Ad-Diba’i. Memang ada yang tidak sepakat terhadap tradisi
ini, namun saya pikir hal ini sifatnya hanya furu’ (cabang), tidak qath’i (pasti).
Apa bedanya alat musik terbang dan rebana? Menurut salah satu narasumber yang menggeluti tradisi Terbangan ini, terbang bentuknya mirip rebana
tapi di sekelilingnya tidak dilengkapi dengan maracas (logam bulat tipis) sehingga bunyinya hanya tung tung tung…sedangkan rebana adalah sejenis alat musik
berbentuk bulat (mirip gendang tapi pipih), di sekelilingnya dipasangi maracas sehingga bunyi yang ditimbulkan tung tung tung dan kricik kricik kricik. Begitulah.
Cara memainkan terbang dan rebana-kalau dari kacamata awam, termasuk saya-kelihatannya mudah. Kan cuma dipukul-pukul saja. Setelah
saya tanyakan ke para pelaku sejarah Terbangan
ini, mereka mengatakan bahwa butuh keahlian khusus untuk bisa memainkan
alat musik ini. Terlebih lagi butuh tangan yang kuat sekaligus luwes. Yang
lebih dibutuhkan lagi ialah keselarasan antara otak kiri dengan tangan kanan.
Itu kalau ditinjau dari individunya. Jika ditinjau dari individu dengan
individu dalam kelompok atau grup, maka kesulitan terbesar adalah menyelaraskan
permainan tiap pemain. Mencapai komposisi yang indah itu membutuhkan
kekompakan, sebuah sinergisitas.
Saya amat terkesan
dengan atraksi Terbangan malam ini.
Antara lantunan Sholawat dan tabuhan terbang
serta rebana sangat sinergis
sehingga menghasilkan komposisi yang sangat indah. Masih kata ibu yang duduk di
sebelah saya, anak-anak yatim piatu tersebut memiliki jadwal latihan khusus.
Berbagai lomba Terbangan sering
mereka ikuti. Mereka juga memberikan pelatihan gratis bagi siapapun yang ingin
belajar Terbangan. Tidak ada wanita
dalam grup tersebut. Memang tidak diperbolehkan ada wanita terlibat di sana.
Tapi hal itu tidak mengurangi keindahan atraksi yang disajikan. Saya teringat
film Baran produksi Iran. Sama sekali
tidak ada wanita yang bersuara. Hanya laki-laki, bahkan dalam percakapan
sehari-hari pun sama sekali tidak ada suara wanita, meski salah satu tokoh
sentralnya adalah seorang wanita. Juga ketika para buruh bangunan tersebut
butuh hiburan. Mereka menghibur diri sendiri. Dengan apa? Dengan bernyanyi dan
menari. Membosankan? Tidak juga. Justru sangat unik dan tetap bisa menghibur
penonton.
Salam,
Kartika