RAMADHANIC RITUAL COMPLEX
RAMADHANIC
RITUAL COMPLEX
Bagi masyarakat Muslim Jawa, berpuasa dalam Ramadhan bukan sebuah ibadah
semata, tapi lebih dari itu. Andre Moller, seorang pakar Antropologi menyatakan
dalam buku Ramadhan in Java : The Joy and Jihad of Ritual Fasting (Department
of History and Anthropology of Religions, Lud University, Sweden), bahwa ibadah
puasa dalam masyarakat Jawa merupakan ‘ritual complex’, karena ia
mengandung banyak ‘sub-ritual’. ‘Ramadhanic Ritual Complex’ itu
sebagiannya mungkin tidak ada hubungannya dengan berrpuasa secara fisik, tetapi
ia merupakan bagian dari selebrasi Ramadhan.
Ramadhanic Ritual Complex
dalam masyarakat Muslim Jawa bermula sejak bulan Ruwah (Sya’ban). Dalam
bulan ruwah (dari bahasa Arab, arwah) ini, berbagai ruwahan dilakukan
untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Ruwahan itu bisa berbentuk pengajian, slametan
(dalam bahasa Arab, tasyakuran), saling mengirim makanan, ziarah ke
kuburan (dalam bahasa Jawa, nyekar), dan lain-lain. Acara nishf Sya’ban juga semakin populer.
Sub-ritual yang disebut megengan
merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan betapa mengakarnya Ramadhanic
Ritual Complex dalam masyarakat Muslim Jawa. Sub-ritual ini masih banyak
dilakukan, terutama di desa-desa. Di kota mungkin masih ada yang melakukan,
namun jumlahnya sangat sedikit. Hal ini mungkin dikarenakan faktor pola
interaksi masyarakat kota yang individual, yang kurang mendukung
terselenggaranya sub-ritual megengan ini di tengah-tengah masyarakat
kota.
Masyarakat Muslim Jawa
menyelenggarakan megengan 1 hari menjelang Ramadhan. Pada sore hari
biasanya mereka melakukan ziarah ke kuburan, sedang malam harinya menyelenggarakan
slametan. Sub-ritual slametan ini diiringi dengan aktivitas membawa
makanan yang dilakukan oleh tiap orang, dan uniknya, kue apem menjadi menu
wajib. Mengapa harus kue apem? Konon kata ‘apem’ berasal dari bahasa Arab ‘afwan’
yang berarti ‘maaf’. Jadi, sub-ritual megengan ada kaitannya dengan sub-ritual
saling memaafkan satu sama lain sebelum Ramadhan, yang disimbolkan dengan kue
apem. Pemanjatan doa bersama yang dilakukan setelah makan bersama, merupakan sebuah
aktivitas ibadah yang bertujuan memohon
keselamatan dan kebahagiaan kepada Alloh Subhanahu Wata’ala.
Walloohu’alam bishshawwb
Kartika Pemilia Lestari