Mangan Ora Mangan Kumpul&Sugih Tanpa Bandha

August 10th, 2008 by diandhra

Entah
kenapa saya kok tiba-tiba teringat alhmarhum budayawan Pak Umar Kayam
yang menulis buku-buku favorit saya, antara lain "Mangan Ora Mangan
Kumpul
" & "Sugih Tanpa Bandha"
Saya sangat suka style-nya pak Umar, dialogis & nJawani banget.
Sentilan-setilannya terasa tajam namun mampu membuat kita tersenyum
(puas dan malu). Saya harus berterima kasih kepada teman saya Nina,
yang telah memperkenalkan buku ini kepada saya.

Dua
buku ini adalah kumpulan kolom yang (hampir) secara rutin terbit Selasa
di koran Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Dalam dua buku ini (yang
kemudian diteruskan sampai menjadi empat ’sekuel’) Umar Kayam menyajikan potret keluarga yang terdiri dari Pak Ageng, seorang
dosen ‘kere’ sebuah PTN di Yogya (yang ditengarai sebagai potret dari Umar Kayam sendiri) dan keluarga pembantu setianya, yaitu Mister
Rigen, Mrs
Nansiyem dan anak-anak mereka, Beni Prakosa dan Septian Tolo-tolo.
Ngomong-ngomong soal penamaan Mister Rigen dan Mrs Nansiyem, say kira
itu merupakan parodi (pelesetan) dari nama Presiden Amerika pada medio
1980-an; Presiden Reagan dan istrinya Nancy Reagan. Almarhum Pak Umar
Kayam menulis buku itu pada tahun 1980-an hingga menjelang 1990-an
(Sugih Tanpa Bandha). Dalam Mangan Ora Mangan Kumpul juga sempat
disinggung soal isu-isu politik terpanas Amerika saat itu.

Berbagai
isu dibahas dalam tulisan-tulisan pendek ini, seperti isu politik
(utamanya masalah pemilu), kebijakan pemerintah, pendidikan, budaya
sampai hal-hal remeh seperti masalah makanan. Turut meramaikan pula
berbagai peran pendukung seperti Prof Lemahamba (dapat diterjemahkan
sebagai tanah luas) yang pinter dan kaya raya tapi suka snob dan
sombong, Prof Prasojo Legowo (bisa diterjemahkan sebagai sederhana dan
luas hati) yang pinter juga tapi hidupnya serba sederhana dan punya
hobi naik motor bebek butut, keluarga inti Pak Ageng di Jakarta (Bu
Ageng, anak-anaknya, Si Mbak & Gendut, cucu-cucunya, Kenyung &
Ancici serta pembantu setia mereka di Jakarta yaitu Madam
Belgeduwelbeh) serta Pak Joyoboyo sang penjual ayam panggang, yang punya "yel-yel" khas : ayam penggeeenggg

‘Sayangnya’,
karena dari semula terbit di koran daerah pada kumpulan kolom ini cukup
banyak simbol-simbol budaya Jawa yang merasuk dalam kumpulan kolom ini.
Seperti metafor-metafor yang mengambil simbol-simbol ketoprak dan
wayang. Sehingga mungkin agak susah dipahami oleh pembaca yang tidak
begitu familiar dengan idiom-idiom budaya Jawa. Tapi justru karena itu,
buku ini dapat digunakan untuk mengembara ke dunia Jawa. Tidak hanya
dunia secara fisik geografis tapi juga dunia antropologis, budaya dan
lain-lain.

Salam,

Kartika

MEMORI ROMADHON

August 10th, 2008 by diandhra

Allohumma baariklana fii
Rojaba wa Sya’bana wa balighna Romadhona. …

Ya alloh, berikanlah
kami keberkahan pada bulan rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada
Ramadhan…
 

 Ini
kenangan 3 tahun lalu, tepatnya Romadhon 2005. Saat itu aku masih berstatus
anak kos dan single (sekarang sudah double)
J. Masa itu adalah masa perjuangan menggarap skripsi. Jadi sudah jarang ke
kampus. Sekali-sekali ke kampus, itu pun kalau ada kepentingan dengan dosen
pembimbing atau ada seminar yang ingin diikuti. Pada masa itu pula aku sudah
jarang sekali bertemu dengan teman satu angkatan maupun teman seperjuangan di
organisasi. Praktis aku juga jarang nyambangi masjid tempat kami sering
berkoordinasi dulu.

 Meskipun
Romadhon masih sekitar 2 bulan lagi, namun nuansanya sudah terasa. Banyak
spanduk dan poster yang berisi imbauan seputar Romadhon yang ditempel di papan
pengumuman kampus dan masjid kampus. Tujuannya untuk mengingatkan kita agar
bersiap menghadapi Romadhon, bulan yang Alloh nggerujug Rahmat-Nya
sebanyak mungkin. Sayang kalau moment ini disia-siakan. Oleh karena itulah maka
begitu memasuki bulan Rojab (bulan ke-7 dalam penanggalan Hijriyah) maka kita
dianjurkan berdoa “Allohumma baariklana fii Rojaba wa Sya’ana wa balighna
Romadhona”.

 Hari
itu aku sengaja menyempatkan diri ke masjid kampus. Kangen saat-saat melakukan
koordinasi dengan teman-teman, kumpul-kumpul untuk mengikuti kajian atau bahkan
diskusi siyasah. Menjelang kelulusan semuanya seolah berakhir begitu saja.

 Keramaian
yang terjadi di sekitar masjid nyaris tidak kukenali. Keramaian itu tidak
terjadi di masjid tapi di depan Fakultas Ekonomi. Segera kulayangkan pandangan
ke arah masjid atap segi delapan. Rupanya sedang ada rekonstruksi terhadap
fisik masjid. Bangunan utama masjid ditutupi oleh seng-seng sehingga praktis
aksesnya tertutup untuk umum. Saat itu aku hanya berpikir bahwa proses
rekonstruksi ini finalnya saat Romadhon nanti. Harapan yang sia-sia sebenarnya
karena ketika meninjau kembali masjid kampus saat H-beberapa hari sebelum
Romadhon, bangunan utama masjid masih tetap seperti 2 bulan lalu. No access.

 Otakku
terus berputar. Kemana nanti aku mau sholat Tarawih dan ikuti kajian kalau
masjid kampusku ditutup seperti ini? Kenapa juga pihak Ta’mir masjid tidak segera menyelesaikan rekonstruksi
masjid padahal fungsi masjid sangat vital, apalagi di bulan Romadhon dimana
bisa dipastikan bahwa orang-orang akan berbondong-bondong pergi ke masjid untuk
sholat Tarawih atau berbuka puasa.

 Akhirnya
kuputuskan untuk “lari” ke masjid kampus milik sebuah institut teknik. Aku
sengaja “lari” ke masjid kampus karena masjid yang berada di tengah-tengah
pusat intelektualitas biasanya menggelar acara seputar Romadhon yang bagus baik
dari segi kualitas maupun kuantitas. Tiap unit kegiatan mahasiswa kerohanian
Islam yang berpusat di masjid kampus punya semacam gerakan Romadhon di kampus
yang sangat kreatif dan inovatif. Maklum, penggagas dan penggeraknya adalah
kaum muda berenergi tinggi,, terbiasa kerja terprogram dan mendapatkan banyak
input dari apa yang sudah mereka pelajari selama ini.

 Di
beberapa selebaran yang ditempel di papan I’lan (papan pengumuman) yang
terdapat di masjid kampus sebuah institut teknik, tertulis nama-nama khatib,
dengan berbagai titel yang tersandang di belakang nama mereka. Beberapa nama
aku kenal, beberapa nama tidak, tapi dari sederetan titel aku tahu bahwa mereka
bukan orang biasa-biasa saja. Jujur,
terkadang motivasi sholat Tarawih sedikit banyak terkontaminasi dengan
keinginan untuk mendengarkan ceramah dari beberapa nama yang kukenal tersebut.

 Angin
sejuk Ramadhon malam pertama akhirnya berhembus. Saat inilah kota tempat aku
tinggal terasa benar-benar “hidup”. Bukan oleh kerlap-kerlip lampu jalanan atau
sorot lampu kendaraan maupun semarak beragam manusia malam di tempat-tempat
hiburan. Energi yang terpancar dari orang-orang yang berjalan kaki atau naik
kendaraan membuat kota berdenyut kencang. Tapi ini bukan kenangan terbaikku.
Menghabiskan waktu menjelang buka di masjid kampus institut teknik, itulah
kenangan terbaikku. Mengikuti kajian, bakti sosial, worshop, pelatihan, dsb.
Moment-moment di sore hari itu memberikan kejutan-kejutan kecil, juga ilmu dan
teman baru. Ada nuansa yang syahdu yang sangat khas, tidak bisa tergantikan
oleh sore-sore di bulan yang lain. Klise memang, tapi itulah yang real kurasakan.

 Oh
iya, aku biasanya menetapkan “lagu wajib” selama Romadhon. Tahun 2005 adalah
tahun kejayaan Opick “Tombo Ati”. Pada tahun 2004 intro Tombo Ati menghiasi
layar kaca. Irama indahnya menjadi pusat perhatian. Sehingga saat peluncuran
album “Astaghfirullah” pada 2005, nama Opick langsung melejit, albumnya
dianugerahi double Platinum. Praktis, lagu Tombo Ati saat itu menjadi “lagu
wajib”-ku
J.

 Namun
untuk I’tikaf aku memilih tidak di masjid institut teknik sebab pengelolaan
kegiatan I’tikaf di masjid tersebut tidak terlalu bagus. Walhasil, aku
melakukan I’tikaf di masjid lain yang punya program I’tikaf yang bagus dan
terfokus serta terorganisir dengan baik. Surprise aja sepuluh hari terakhir
Romadhon 2005 aku bisa laksanakan I’tikaf genap 10 hari. Biasanya tidak bisa
genap karena aku disibukkan oleh rutinitas mudik
L. Alhamdulillah. Semoga pada Romadhon 2008 ini aku dan keluarga bisa
laksanakan I’tikaf sampai tuntas. Amiin.

 

Allohumma baariklana fii
Rojaba wa Sya’bana wa balighna Romadhona. …

Ya alloh, berikanlah
kami keberkahan pada bulan rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami kepada
Ramadhan…
 

Kemalasan Yang Absurd;)

August 6th, 2008 by diandhra

 Pernahkan Anda merasa malas seharian? Malas melakukan
apapun. Hanya ingin tidur dan makan. Saya pernah. Kejadiannya baru kemarin.
Kemarin ketika bangun tidur, tiba-tiba saya merasa malas sekali. Mungkin ini
adalah akumulasi rasa capek berhari-hari yang lalu. Walhasil, seharian saya
cuma nonton TV, itupun nonton tayangan-tayangan ringan semisal film kartun.
Boro-boro berita-berita berat seputar politik, berita ringan (feature) saja
saya malas menontonnya. Jam 5 pagi nonton Go! Diego Go! Selepas itu
giliran Spongebob Squarepants yang dibagi dalam 2 sesi, dari jam 05.30
sampai 06.30. Kalau yang ini film kartun favorit; selain ceritanya yang bagus
dan kreatif, skenario-nya cerdas. Ceritanya biasa menyindir atau mengkritik
fenomena politik, sosial maupun budaya di Amerika. Terlepas dari Spongebob
Squarepants
biasanya saya tidak terlalu suka sama kartun Amerika, sebab
nuansanya individual banget (biasanya para tokohnya hidup sendiri dan jarang
bersosialisasi dengan tetangga bahkan keluarga besar) dan ada ketidaksambungan
cara pandang serta budaya antara saya dan budaya Amerika. Bagi saya mereka
terlalu asing
L

 Film kartun Chalk Zone sebenarnya cukup bagus,
namun saya kok merasa ceritanya kurang greget dan terlalu monoton (jika
dibandingkan dengan Spongebob Squarepants). Namun satu hal yang membuat
saya terus menonton kartun produksi Hollywood in adalah sketsa dan gambar yang
dibuat dengan kapur selalu mengingatkan saya pada masa kecil dulu, saat menulis
di sekolah masih pake kapur putih maupun warna-warni. Kalo sekarang kan hampir
tiap sekolahan sudah pake spidol dengan white board-nya. Kapur? Jadul kaleeeee
J

 Dari sekian banyak film kartun dari negeri-negeri Barat,
mungkin cuma The Legend of Aang (Avatar) yang berkisah tentang
orang-orang dari negeri-negeri Timur. Film kartun berdurasi 1 jam ini dibuat
oleh Michael Dimartio (kalau ga salah namanya gini) dan Aaron Ehaatz.
Diproduksi oleh Nickledeon di Amerika. Filosofi serta ceritanya tentang seorang
Avatar – kalo dalam legenda Jawa sama dengan Satria Piningit kali ya – bernama
Aang yang diberi amanah sangat berat; menyelamatkan bumi dari kehancuran akibat
kekejaman negara Api serta mengembalikan keseimbangan bumi. Dibilang suka juga
enggak, dibilang ga suka juga enggak. Tampilannya sich Timur tapi cara berpikir
dan attitude para tokohnya kok Barat ya…

 Kemudian tepat pada jam 8 pagi tampillah Dora the
Explorer
. Hi hi hi…tayangan ini sebenarnya ditujukan untuk anak usia 2-5
tahun lho, tapi ya saya tonton juga, meskipun saya harus berpikir dan bertindak
layaknya penonton yang menjadi target usia. Dulu, pada medio 1990-an saya
sukaaa banget nonton Sesame Street di RCTI (kalo ga salah..udah agak
lupa). Kualitas tayangan yg satu ini top abis lah! Meskipun target penontonnya
adalah usia 5 tahunan, tapi masih bisa dinikmati oleh siapapun, termasuk saya
yang saat itu sudah menginjak remaja (SMP). Dan sampai sekarang pun saya masih
suka. Sayangnya udah ga tayang dan cuman bisa nonton yang versi Indonesia-nya :
Jalan Sesama. Ga persis-persis amat sich sama versi Amerika-nya, tapi sudah
cukup bagus lah. Sesame Street mengajarkan kita agar senang
bersosialisasi dengan sesama, tenggang rasa, toleransi dan mengajarkan kita
berhitung serta kosa kata.

 Blues Clues! Aha! Si Steve asyik banget tuhJ. Dia monolog tapi serasa hidup bangeet. Hal-hal
yang coba untuk diajarkan ke anak-anak bagus banget, dengan cara yang asyik
bangeet. Sepertinya prorgram tayangan ini sudah dirancang dengan sangat matang.

Film
kartun dimulai lagi pada pukul 17.00…Naruto! Ketika awal- awal nonton
kartun ini (sekitar 1 tahun yg lalu), saya selalu berpikir, “Pada tahun berapa
sebenarnya si Naruto ini hidup dan beraktivitas?”. Kalo dibilang hidup pada
millenium awal (awal tahun 2000-an) enggak juga sebab masih banyak tokohnya
yang berpakaian mirip orang yang hidup pada zaman Tokugawa. Tapi dibilang hidup
pada zaman Tokugawa ya enggak juga. Si Naruto & friends pake baju modern,
lengkap dengan aksesorisnya yang modern. Ga jelas….tapi hal yang paling
disoroti dalam kertun Naruto adalah aksi-aksi kekerasannya yang sudah pada taraf
sadistis, berdarah-darah, ditampilkan dengan eksplisit; begitu pun dengan tubuh
yang tersayat, terpotong dan tercincang.

 Jeda waktu sebelum nonton Naruto saya gunakan untuk
nonton sejumlah tayangan talkshow, wisata kuliner serta jelajah dunia. Sebisa
mungkin saya hindari nonton berita. Bikin bete
L. Menonton talkshow (Rachael Ray), saya
mendapat banyak pengetahuan tanpa harus berkerut kening; menonton wisata
kuliner saya dapat membayangkan makan makanan yang enak-enak dengan referensi
yg lebih banyak dan berbobot (si pembawa acara adalah mantan wartawan; dia
memberikan penjelasan yang komplit serta komprehensif tentang makanan yg dia
makan); menonton jelajah dunia saya bisa mengalami adventure virtually. TV
memang kotak ajaib! Saya yang sangat jarang nonton TV saja sampai terlena,
sampai-sampai tidak sempat menyelesaikan “Catatan Pinggir 5” yang ingin saya
baca ulang sebab penulisnya sedang menuai badai kontroversi di tanah air.

 Kembali ke Naruto. Si Naruto sedang jadi tokoh favoritnya
anak-anak di Indonesia. Heran juga, sadis gitu kok jadi idola ya. Mungkin
anak-anak terpukau dengan jurus-jurus ninja yang sering ditampilkan berlebihan
dan tampak gagah. Ditambah kostum para tokohnya fashionable dan looking good. Oh iya, mitos yang
dibangun dalam kartun ini tergolong banyak. Misal, Naruto konon adalah penjelmaan
siluman rubah yang ekornya ada 9. Kemudian banyak jurus ninja yang berhubungan
dengan mitos-mitos tertentu.

 Law of Ueki tidak jauh berbeda dengan Naruto;
dipenuhi mitos, terutama tentang  kekuatan gaib mampu mengubah sampah menjadi batang pohon dsb. Ada
penggambaran tentang neraka. Neraka memang bukan mitos, tapi cerita dan fungsi
neraka dalam Law of Ueki telah dibelokkan. Namun dalam Law of Ueki, kita
tahu Ueki hidup di zaman apa. Dari kostum dan aksesoris yang dipakai
tokoh-tokohnya disimpulkan bahwa mereka hidup sezaman dengan kita. Jam tayang Law
of Ueki
tepat setelah Naruto, durasinya sama, cuman setengah jam.

 Kayak-kayaknya kok saya pernah melihat sosok ceking
bercaping lebar yang kalo tertawa mulutnya kelihatan lebar sekali. One Piece?
Judulnya juga rada aneh. Dalam bahasa Indonesia artinya kan satu lapis. Saya
pikir kisah kartun ini seputar kehidupan anak nelayan atau anak petani gitu
(kan bercaping). Eeehhh…ga tahunya…bajak laut! Tampang para bajak lautnya
ngeri banget, gede-gede kayak binaragawan. Ampun dah. Udah gitu ceritanya nyelimur
kemana-mana (karna kebanyakan tokoh kali ya), jadinya saya terkadang ga ngerti
alurnya gimana. Tapi kartun buatan Jepang ini lumayan menghibur soalnya sang
lakon bercaping dengan tubuh cuman selapis bisa molor-molor kayak persis permen
karet hi hi hi…tarik sana-tarik sini, OK
J.

 Sekian banyak tayangan yang saya tonton ketika saya
sedang dilanda malas yang luar biasa ternyata bisa membuat saya menuliskan
paragraf panjang ini. Jadi, bukankah ini adalah suatu kemalasan yang absurd?

NB : saya masih sangat
merindukan film kartun bertema masak-memasak. Cuman satu yang tersisa; Yakitate
Japan!; itu pun adanya di Animax (pake TV kabel). Dulu di Indosiar pada medio
1990-an Born To Cook sempat tayang di Indosiar, tapi sekarang menghilang
L

 

 

DOA MENJENGUK ORANG SAKIT

July 20th, 2008 by diandhra

Akhir-akhir ini kusering menjenguk orang sakit. Lalu suami memberiku doa ini.

DOA MENJENGUK ORANG
SAKIT


Allahumma
robbinnasa adzhabannaasa isyfi wa anta syaafii laa syifaa-a illaa syifaa-uka
syifaaan laayughodiru saqoma

“Yaa
Alloh Tuhan manusia, hilangkanlah penyakitnya dan sembuhkanlah dirinya. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan
dari-Nya, kesembuhan yang tidak menimbulkan rasa sakit”.

Hujan, Ga Ada Ojek…

July 20th, 2008 by diandhra

Citra ABG 3 M di Kampung Global

 

Hujan, Ga ada Ojek, So, I Call
My Parent untuk Jemput…

Indonesia boleh krisis tapi ada
sekelompok ABG yang dengan enteng membeli tiket konser musik seharga Rp 350
ribu. Tak lagi cash, tapi memakai online banking. Mereka suka
bicara cas cis cus dengan bahasa Inggris-Indonesia. Ya, mereka adalah generasi
ABG 3 M.

 Generasi
apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton
konser “The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (4/6) malam lalu?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di
bangku SMP, atau SMA. Menonton konser pun sebagian masih harus didampingi orang
tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang sungguh luar
biasa.

 Mereka
menyanyi, berjingkrak, berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika
Serikat, yang lima personelnya muda usia itu. Kece-kece lagi. Sahutan “Kyle, I
love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey untuk si drumer
keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.

 Siapakah
gerangan para ABG yang malam itu sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat
memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam
kerumunan penonton?

 Ya,
mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp 250
ribu sampai Rp 350 ribu lewat internet atau online banking. Lalu datang
ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, atau ada yang membawa sendiri
mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya.

 Penonton
muda usia yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi. Anak-anak ini
adalah generasi yang boleh disebut “post-modern” yang sekolahnya pun di
“International School” yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di
seantero ibu kota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorit yang relatif
mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga
gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indonesia-Jerman
itu dikenal suka bicara “campursari” dalam bahasa Indonesia-Inggris. Lihat
kalimat Cinta Laura yang terkenal ini : “Mana hujan, becek, ga ada ojek…So, I
call my parent untuk menjemput”.

Anak-Anak Global

 Mereka, meminjam istilah
Thomas L. Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak
masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu
McDonald, MTV, dan Macintosh. Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya
massa global. Mereka menggemari rantai makanan siap saji dan kedai waralaba
internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idola di MTV,
serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih dan bergaul di dunia
maya melalui internet, mmebuat aktualisasi diri pada blog, dan berkawan lewat
Friendster.

 Presiden
pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik “ngak ngik ngok” dimainkan di
Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang
pernah menyatakan “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika”.

 Sedangkan
pola pikir net generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang
Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal Anda, maka pada era
globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak “bandhwith” Anda? Seberapa kuat
sinya ponsel Anda?

 Kalau
pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa),
maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi
Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.

 Dalam
kampung dunia (Global Village), semua memiliki peluang dan hak yang sama.
Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV, dan
Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia
lain, di Benua Amerika, Eropa atau Afrika.

 Anak-anak
global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan
gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di
mana saja : di Amerika, di Jepang, China, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak
kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama,
jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.

 Mereka
adalah generasi “Click Five” (Click atau Klik adalah bunyi tombol komputer
ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam pikiran modern
di masa-masa menyenangkan. Ya, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008
: “Modern Minds and Great Times”.

A Piece of Memory

July 3rd, 2008 by diandhra

Seksama kuamati ID Card yang kupasang di leherku. Di tali gantungannya tertulis I/A/L/F Education For Development. Fisik kartu sudah jauh lebih baik daripada 4 tahun lalu saat aku pertama kali mendaftarkan diri sebagai Study Center Member after spending a year as a student, from SP3 untill SP6 level. Kuperhatikan tanggal yang tertera di bagian belakang ID Card. April 23 until  June 23 2008. Berarti masa berlakunya sudah habis. Selama 3 bulan itu kuhabiskan waktu beberapa jam setiap harinya, bukan hanya melatih bahasa Inggrisku agar tidak stagnan dan mati; lebih dari itu, aku ingin menapaktilasi sejumput kenangan yang tertinggal di sana.
l
Kenangan, acapkali membuat kita terbawa ke tempat yang sama dengan feeling yang sama pula. Tak sengaja dalam sebuah pencarian by search engine kutemukan situs literary traveler yang berisi napak tilas ke tempat-tempat yang menjadi setting atau background maupun homeland para penulis besar seperti Herman Hesse, Pearl S. Buck, JRR Tolkien, CS Lewis, dll. Tempat-tempat itu umumnya memiliki nilai sejarah tinggi bagi sang penulis. Begitu pun dengan tempat yang sedang kuceritakan.

Aku berdiri di sini, memandang berkeliling, menyentuh benda-benda yang pernah menjadi bagian dari hidupku. Try to touch all things which have filled my life, all the time.  Try to feel sense of blue….ada yang berubah namun seribu senyum itu tetap abadi. I/A/L/F adalah sebuah rhapsody dalam hidupku. I/A/L/F laiknya background-ku untuk melukis hidup, dengan kenangan sebagai garis dan warnanya. Di sini aku belajar bersosialisasi dengan beragam orang dan di sini pula aku belajar menerima adagium “perbedaan adalah suatu keniscayaan”. I could improved my English ability too, of course:p. My teachers, my friends and all of staffs have given me helps I need. Seorang guru yang tidak bisa kulupakan adalah Maggy Brady. She is from Australia. I owe her for teaching me so patient and for her advising about my English and the way to teach.

My friends, ah….where are you now? Kita berbagi tawa dan tangis bersama. Seribu senyum pelipur lara mengobati rasa letihku akan kehidupan perkuliahan dengan seabrek tugas dan ujian. Release my paint. Kawan, ingatkah kau ketika kita jalan-jalan ke Al-Akbar? Dari atas menara kita teriakkan mimpi-mimpi kita. Mimpi yang hingga kini masih mencoba untuk kita raih. Aku banyak belajar darimu, kawan. Belajar untuk yakin pada diri sendiri. Belajar untuk berkata, “I can do it!”. Belajar dan terus belajar. Keep going…keep moving.

“Where is mister Faisol?”, tanyaku pada salah satu staff yang kutemui di computer room. Aku tidak melihat sosoknya yang ramah dan grapyak. Dialah satu-satunya Programmer yang paling enak diajak bicara apapun. Aku sering memanggilnya mister  because in I/A/L/F we have to speak English, even to the staffs. “He has already resigned few months ago. He applied to other company.” “Oh I see…”, jawabku basa-basi karena aku sebenarnya tidak benar-benar mengerti. Aku tidak ingin menunjukkan rasa sedihku. Kuamati beberapa staff yang hilir-mudik.Cashier, administration staff and the receptionist are still the same. But the librarians are not the same. They are so quiet now. 

Kolam ikan berisi ikan koi warna-warni indah menarik hati masih sama dengan 4 tahun lalu. Koridor kecil nan asri; yang berbunyi tok tak tok tak saat kakiku melangkah di sana; juga tidak berubah. Study Center lah yang banyak alami perubahan sana-sini. Warna cat tembok yang melatarbelakangi meja librarian kini tampak more colorful. Tatanan meja serta kursi di ruang tengah sudah berganti formasi. Ruangan itu kini terasa lebih sempit. Dan layar TV-nya….aha! Mereka menggantinya dengan yang flat, meletakkannya di atas, dan beberapa headphone wireless disediakan di meja depan TV. Kini terdapat banyak papan tulis berisi jadwal acara di luar jam belajar mengajar, iklan-iklan study dan bekerja di luar negeri, utamanya ke Australia, dan foto-foto karya fotografer terkenal jika ada pameran foto. Perubahan yang cukup signifikan adalah terdapatnya berbagai koleksi film dalam bentuk DVD. Dulu aku harus rela memutar video manually. Dan buku-bukunya sudah lebih beragam. Judul-judulnya jauh lebih up to date.  Tidak sekedar Oliver Twist atau And The Time Goes By; The Alchemist,  The Adventure of Narnia, Harry Potter, Lord of the Rings, The Devil Wears Prada, Da Vinci Code, hingga Nanny Diaries pun ada. Di dalamnya tercatat sejumlah nama besar yang very famous, such as JRR Tolkien, CS Lewis, Paulo Coelho, JK Rowling, Dan Brown, Geraldine Brooks, Meg Cabbot dan lain-lain.

Sesaat kuterhanyut terbawa arus kenangan yang sekonyong-konyong datang mendera. Sedikit meluluhlantakkan perasaanku. Ah, am I too melancholist? Let it just flow lah. Sekali-sekali melepaskan perasaan rindu kan tidak salah. Sometime we need to release our feeling blue and turn our memories again;  it’s a living process. However, life must go on.

NDESO

June 29th, 2008 by diandhra

Dari milis tetangga, menarik untuk disimak dan direnungkan….

NDESO"
oleh : Ika S. Creech *)

Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang
yang norak, kampungan, udik, shock culture,
countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami
atau merasakan sesuatu yang baru dan sangat
mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat
senang, sehingga ingin terus menikmati dan
tidak ingin lepas, kalau perlu yang lebih
dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia
atau hanya segelintir orang yang baru merasakan
dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif,
memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain
untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan
harapan orang yang diajak juga terkagum-kagum
sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain
juga mendukung terhadap langkah-langkah untuk
menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,
seperti saya juga sering mengalami hal demikian,
tetapi kita terus berupaya untuk terus belajar
dari sejarah, pengalaman orang lain, serta
belajar bagaimana caranya tidak jadi orang
norak, kampungan alias ndeso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda,
tak terkecuali dekan atau bahkan Rektorpun
ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara
pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah
apartemen yang sederhana. Ketika beberapa
pengusaha ingin memberi pinjaman kepada
pemerintah Indonesia mereka menjemput pejabat
Indonesia di Narita. Pengusaha tersebut
bertolak dari Tokyo menggunakan kendaraan
umum, sementara pejabat Indonesia yang akan
dijemput menggunakan mobil dinas Kedutaan
yaitu Mercedes Benz.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat
sebuah acara dari jarak yang sangat dekat,
yang dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka
pakai yaitu merek Holden baru yang paling murah
untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda
penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak
jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan
restoran Thailand. Dia seorang warga negara
Malaysia keturunan China, sudah menyelesaikan
Docktor, sekarang sedang mengikuti program
Post-Doc, Dia anak serorang pengusaha yang
kaya raya di negaranya. Tidak ingin menggunakan
fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan.
Dia juga sebenarnya memperoleh beasiswa dari
perguruan tingginya.

Satu bulan di Jepang, saya tidak melihat
orang menggunakan HP Nokia Communicator,
mungkin kelemahan saya mengamati. Setelah
saya baca koran, ternyata konsumen terbesar
HP Nokia Communicator adalah Indonesia.
Sempat berkenalan juga dengan seseorang yang
berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
dia anak seorang pejabat tinggi negara,
juga naik kereta. Yang tak kalah serunya
saya juga jadi pengamat berbagai jenis
sepatu yang di pakai masyarakat Jepang
ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso
siapa ya?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang
baik di jepang atau di Australia, baik dari
penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan
seseorang kalau sudah mengetahui riwayat
pekerjaan dan jabatanya di perusahaan.
Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak
ke Pondok Indah bisa pingsan melihat
rumah mewah dan berukuran besar. Rata-rata
rumah di Jepang memiliki tinggi plafon
yang bisa digapai dengan tangan hanya
dengan melompat. Sehingga untuk dudukpun
banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak
membuat istana negara dan benteng pertahanan
(khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk
perang ahzab saja), padahal Rasulullah
sudah sangat mengenal kemewahan istana
raja-raja negara sekelilingnya, karena
beliau punya pengalaman berdagang. Lalu
dimana aktivitas kenegaraan dilakukan?
Jawabannya di Masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk
bisa membangun istana. Di Mekkah menikah
dengan janda kaya, di Madinah menjadi kepala
negara, mempunyai hak prerogatif dalam
mengatur harta rampasan perang dan ada
jatah dari Allah untuk dipergunakan sekehendak
beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi
mengapa beliau sering kelaparan, mengganjal
perut dengan batu, puasa sunnah niatnya
siang hari, shalat sambil duduk menahan
perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang
sedang menumpuk, rakyat banyak yang mulai
ngamuk. Negara sedang kere, rakyat banyak
yang antri beras, minyak tanah, minyak
goreng dll. Maka harga diri kita tidak
bisa diangkat dengan medali emas turnamen
olah raga, sewa pemain asing, banyak
perayaan yang gonta-ganti baju seragam,
baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar,
dll, dsb, dst…..

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo
hutang sudah lunas, kelaparan tidak ada
lagi, tidak ada pengamen dan pengemis,
tidak ada lagi WTS, angka kriminal rendah,
korupsi berkurang, pendidikan terjangkau,
sarana kesehatan memadai, punya posisi tawar
terhadap kekuatan global, serta geopolitik
dan geostrategi yang disegani. Maka orang
Ndeso (alias norak) tidak mampu mengatasi
krisis karena tidak bisa menjadikan krisis
sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan
APBN. Nah, karena yang menyusun orang-orang
norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai
adalah negara normal atau bahkan mengikut
negara maju. Bayangkan ada daerah yang
menganggarkan dana untuk sepak bola 17
milyar Rupiah, sementara anggaran kesejahteraan
rakyatnya hanya 100 juta Rupiah, wiiieh!!!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah
yang sangat mengerikan dari atas sampai bawah :
- Orang bisa antri Raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai
untuk beli TV dan kulkas
- Orang bule mabuk karena kelebihan uang,
Orang kampung mabuk beli minuman patungan
- Pengemis bisa mendengarkan MP3 player sambil
goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang-orang dapat membeli gelar akademis di
ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah Doktor luar negeri bisa di beli sebuah
rumah petakan gang sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering
keluar masuk McDonald
- Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat
tahu detail dunia persepakbolaan
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu
untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan
kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya
dansa-dansi di acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong
bahenol ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang
dombret dan wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa
buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka harus bisa
menggandeng siapa saja, kalau perlu jin tomang
juga digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita
tidak terlihat kere, maka harus bisa tampil keren.

Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.

*) Penulis adalah Putra Indonesia Asli, kini
bertempat tinggal di Paris, Perancis dan bekerja
sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis

APALOGI

June 29th, 2008 by diandhra

“Buku apa yang terakhir kau baca?”. Pertanyaan yang gampang-gampang sulit. Aku sudah lama tidak baca buku, jadi tidak ingat lagi. Sekarang ini lebih banyak membaca artikel atau makalah. Konsumsi buku tidak sebanyak dulu. Dulu kapan? Nah, itu juga sulit untuk dijawab. Dulu itu bisa berarti masa-masa ketika masih kuliah atau masa-masa pasca kuliah atau masa-masa sebelum menikah. Ada seorang senior yang sudah menikah bilang ke aku kalau sejak dia menikah dia sudah tidak punya terlalu banyak waktu untuk melahap buku-buku. Terlalu klise atau apologi kali ya? Mungkin hanya faktor kurang tekad saja. Bu Sirikit Syah yang pakar media itu masih rajin melahap banyak buku meskipun sudah punya anak dan umurnya mendekati kepala 5. Beliau bahkan masih riwa-riwi keluar kota dan keluar negeri menghadiri undangan seminar dan sempat bekerja di sebuah media cetak internasional. Analisa-analisa dan komentar cerdasnya (serta pedas:p) masih sering nongol di milis jurnalisme. Ibaratnya, beliau tuh ga ada matinye!

Sering sekali kita menggunakan apologi sebagai legitimasi akan ketidakmampuan kita dalam hal apa pun. Yang paling sering digunakan sebagai apologi adalah ketiadaan waktu. Padahal kalau untun melakukan hal yang kurang berguna seperti nonton sinetron dan infotainment kita selalu punya waktu. Hayooooo…..
Tapi kalau untuk baca buku selalu saja tidak ada waktu.Hal iIni juga terkait dengan culture juga kali ya. Membaca masih dianggap kegiatan yang terlalu berat (bahkan buang-buang waktu?). Ah, lagi-lagi membaca, apa sih pentingnya? Lakukan saja, tidak usah banyak berteori. Learning by doing aja dech. Itu ada benarnya tapi salah besar kalau kita lantas meremehkan aktivitas membaca. Agar kita bisa melakukan sesuatu hal dengan benar, selain diperlukan praktek dan pengalaman, juga diperlukan teori atau petunjuk bagaimana melakukannya. Atau untuk memperkaya perbendaharaan kata serta pengetahuan supaya ga bego-bego amat, mau ga mau kan dilakukan dengan menyelami teks-teks yang terangkum dalam buku? Setelah aku amati, orang Indonesia tuh lebih suka nonton (visual) daripada membaca, padahal membaca akan merangsang imajinasi dan membuat kita belajar memahami cerita tanpa melihat gambarnya. Ini sekaligus melatih logiika juga kan??? Tapi apa lacur, lihat saja fenomena Ayat-Ayat Cinta. Penulisnya sendiri mengatakan bahwa salah satu alasan kesediaannya untuk memfilmkan novel best seller-nya adalah agar khalayak yang tidak suka baca bisa nonton filmnya aja. Ga usah repiot-repot baca novelnya. Syukur-syukur mereka penasaran sama novelnya trus pada akhirnya ikut membaca novelnya. Tahu ga, jika kita selalu disuguhi hal-hal yang sifatnya visual, maka tidak ada proses berpikir dan berimajinasi. Lha, semuanya sudah jadi kok. Tinggal dilihat aja. So??? Mbok ya sekali-sekali baca buku:p.

Nah, ini juga apologi nich:p. Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan proyek penulisan biografi pesanan sebuah penerbitan nasional. Agak berat kurasakan, sebab selain harus menulis riwayat hidup seorang penderita penyakit genetik (maaf aku ga bisa kuceritakan di sini), aku juga harus mendapatkan semua data dan fakta yang dibutuhkan dalam penulisan ini. Itu artinya aku harus lakukan wawancara terstruktur serta kumpulkan semua dokumen terkait objek penulisan. So? Ya wawancara lah. Bolak-balik rumah-rumah sakit yang jaraknya cukup jauh, pada malam hari pula. Therefore,  waktuku banyak tersita untuk selesaikan proyek ini. So??? Ga sempat baca buku……huuuuuuu…apologi melulu:p.

NB : setidaknya aku udah pernah khatamin trilogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor). Laskar Pelangi dinobatkan menjadi Indonesia’s the most powerful book. Yeee…. Apologi lagi:p

“Aku Akan Memakan Apa pun Yang Kau Masak”

June 29th, 2008 by diandhra

"Aku akan memakan apa pun yang kau masak”, santun belahan jiwaku menenangkan hatiku yang gundah-gulana memikirkan akan masak apa besok. Hari ini oseng manisa, kemarin oseng brokoli, kemarinnya lagi sama. Sebelumnya masak sop; sayuran paling plural, aku bisa memasukkan apa saja semauku, asal matching:p. Lalu sebelumnya lagi sop. Kali ini aja masak semur (minus kemiri). Kalau sudah suka sama 1 hal, maka aku cenderung akan mempertahankannya sampai bosan menyergap. Hal inilah yang membuatku cemas jangan-jangan kekasihku bosan dengan rupa masakanku yang itu-itu saja. Sedangkan aku sendiri sudah bosan makan yang itu-itu saja. Ketika persediaan bumbu dan bahan mentah masih lengkap, aku bisa membuat 2 jenis masakan dalam 1 waktu. “Apa kau tidak bosan dengan rasa bosanmu? Jangan mudah bosan. Semua harus dinikmati. Aku tidak pernah bosan dengan masakanmu,” katanya lembut. Kekasihku mencoba mendekontruksi sifat bosanku.

First in, first out. Persediaan bawang merah, bawang putih , salam laos serta merica masih cukup banyak untuk 1 bulan. Rencananya akan kuhabiskan dulu sebelum membeli bumbu-bumbu lain yang dibutuhkan untuk memasak makanan yang lebih spicy, seperti kare, soto, gulai, rendang, dll. Resikonya tentu saja masakanku menjadi  monoton. Yang bisa dilakukan oleh bawang merah, bawang putih, salam laos dan merica hanya mencakup oseng-oseng, sop dan semur (dengan menambahkan  kecap Bango yg dbeli di warung terdekat). Kalau ada sedikit tambahan bawang prei biasanya kubuat telur dadar ijo (sebutanku aja sich coz dominan warna ijo berkat campuran bawang prei). Aku dan kekasihku sangat suka memakannya. Mungkin karena rasanya “universal” ya.

Kekasihku tidak pernah rewel soal makanan. Dia juga bukan pembosan. Terlebih lagi tipe yang menerima apa pun yang diberikan orang lain padanya. Apapun mau asal tidak terlau pedas, perut dan percernaannya tidak kuat menerima cabe. Sedang aku suka sekali makanan pedas. Biasanya tercapai kompromi di antara kami. Kukurangi derajat kepedasan beberapa tingkat lebih rendah dari tingkatanku yang very high. Kalau pun aku kelepasan melepas cabe dalam masakanku, kekasihku tetap memakanannya, cuman kali ini disertai ucapan hohah hohah alias kepedasan:p

“Yang, tolong belanja di bakul sayur dong. Aku lagi repot nich”, pintaku. Beberapa pekerjaan rumah tangga belum kuselesaikan dan aku tidak punya banyak waktu untuk belanja sayur. Sayur dan kawan-kawannya harus sudah matang sebelum jam 8. Antrian panjang ibu-ibu di depan dan samping gerobak sayur membuatku harus menunggu. Kalau sedang ramai-ramainya bisa sampai 30 menit berdiri di sana. Tanpa banyak bertanya kekasihku pergi ngantri bersama ibu-ibu. Dia sudah mengingat di luar kepala semua item yang kupesankan padanya. Tidak ada gengsi dan malas berbagi tugas rumah tangga denganku. Sambil menenteng seplastik kerupuk kesukaanku dan kesukaannya, dia datang diiringi senyum mengembang.

Sekali waktu kekasihku ikut menyumbangkan ide dan keahliannya memasak. Kare ikan tengiri dan calamari menjadi masterpiecenya. Kekasihku belajar banyak dari temannya yang menjadi koki profesional. Dari temannya juga kekasihku tahu dimana bisa mendapatkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu lengkap dengan harga miring. Pasar Keputran adalah surga bagi pembeli sayuran dan bumbu,s edang Pasar Pabean adalah surga bagi pembeli ikan dan hasil laut lainnya. “Kalau ingin mendapatkan bahan serta bumbu instan yang murah, pergi saja ke Carefour,” katanya menambah perbendaharaanku mengenai tempat belanja terlengkap dan termurah. 

Kekasihku, uhibbuka….

An-Nakba Rhapsody

June 22nd, 2008 by diandhra

 Saat browsing kutemukan sebuah situs : www.hanina.org. Coba kubuka. Muncullah
tampilan unik. Tulisan pertama yang kutangkap adalah An-Nakba Gallery. Kucoba
buka. Muncullah foto-foto para pengungsi Palestina tahun 1948 yang seakan
menyihirku. Palestina…oh Palestina…sudah lama sekali aku melupakanmu….

An-Nakba,
sebuah kata yang baru saja kuketahui. Dalam situs itu tertulis

 An-Nakba,the
catastrophe of the Palestinian people who were ethnically cleansed from their homes,
lands, and villages by the Zionists before and after the creation of the State
of Israel on May 15th 1948! More than 750,000 Palestinians were made homeless
refugees, forced to live in inhumane conditions and squalid refugee camps that
were set up by the UN. These refugee camps were only supposed to serve as a
"temporary" solution until the refugees were permitted to go back
home according to UN Resolution 194 (The Right of Return), The Geneva
Conventions regarding refugees, and other Internationally Recognized Laws! Now
after more than 57 years, the Refugees are still living in camps while Israel
continues to ignore countless UN Resolutions. In fact, till this very day,
Israel continues to create yet more homeless refugees in Palestine, some for
the 3rd and 4th time in their lives!

 Rupanya bulan Mei adalah bulan penuh sejarah bagi bangsa
Palestina. Di bulan ini, tepatnya 15 Mei 1948 ribuan orang Palestina diusir
dari tanah airnya sendiri. Bersamaan dengan itu ribuan orang Yahudi Eropa Timur
berbondong-bondong menduduki Homeland of Palestine, Negeri yang Terluka.  

 Ada satu keinginan yang selama ini ingin sekali
kuwujudkan. Semoga Alloh SWT Mengizinkan. Aku ingin membawa anakku ke
Palestina. Akan kukatakan padanya :

 Nak, ini adalah Palestina

Negeri 1000 syahid
dan syahidah

Lihatlah nak,
batu-batu berbicara

Iringi lemparan
tangan-tangan 1000 malaikat

Lihatlah nak,
betapa negeri ini memanggilmu

Sambutlah syahid
tujuan